(Baca Ulang, Sudah aku edit)
Harap Bijak karena beberapa episode mengandung adegan dua puluh satu plus. Thankyou 😘😘
***
Nasta Ayruma
Gadis itu sedang duduk bersimpuh diatas tempat tidurnya. Bahu nya bergetar hebat merasakan sakit yang menusuk dalam kerelung hatinya. Kedua tangannya mencengkram kuat sprei yang terlihat mulai lusuh.
Tangis yang seharusnya terdengar keras, kini hanya tercekat didalam tenggorokan.
Tak mampu dia bagikan.
Langkah nya tidak bisa mundur. Tak ada pilihan dalam situasi yang sulit ini untuk mengatakan Tidak ataupun Menolak.
Dia tidak punya kuasa saat harus terpaksa menikah dengan laki-laki penguasa yang arogan itu.
Pandu Bragistandara.!
Nasta : Bagaimana bisa aku egois memilih masa depanku sedangkan ibu sedang membutuhkan bantuan ku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AioraAghfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berkelana
Anggun.
Nasta keluar dari ruang ganti dengan kebaya yang melekat pas ditubuhnya. Gadis itu berjalan pelan mendekati Pandu yang tengah duduk disalah satu ruangan. "Gimana mas? Pas kan ditubuh aku?"
Bukannya menjawab, lagi-lagi Pandu tersihir dengan pesona tubuh Nasta yang indah. Tanpa berkedip, lelaki itu menatap Nasta yang tengah berdiri didepannya, dengan memutar-mutar tubuhnya memperlihatkan kebaya yang ia pakai kepada Pandu.
Kenapa Pandu mendadak panas dingin begini?
Pinggulnya yang kecil, dengan bokong yang berisi membuat siapa saja pasti suka menatap lama-lama. Ya, termasuk Pandu. Apalagi, ukuran buah dada yang sintal, yang tercetak jelas dalam balutan kebaya nya itu.
Ah, gila.! Jelas saja. Pandu lelaki normal. Untuk sesaat pikirannya berkelana. Membayang kan sesuatu yang tidak seharusnya dibayangkan. Bukit kembar penuh keindahan dibalik kain bordir itu sangat membuatnya penasaran. Itu sangat nyaman kan didalam genggaman tangannya?
Sebelum, kesadarannya kembali. Jangan ngaco, Pandu!
Kebaya berwarna putih lace, dengan ekor yang indah menyapu lantai. Pada bagian punggung juga dihiasi rangkaian payet yang menambah kesan mewah. Memiliki motif bordir berupa bunga-bunga kecil, ditambah aksen-aksen mutiara dan kristal itu membuat kebaya yang Nasta pakai terkesan simple tapi mewah. Dan pastinya, sangat cocok di pakai oleh gadis itu.
Ditambah, Mode kerah u-neck yang dibuat agak melebar memperlihatkan bagian bawah leher Nasta yang putih mulus itu terlihat jelas, dimata Pandu. Membuat Pandu kesusahan menelan saliva-nya.
Ya Tuhan, bisa kah dipercepat saja pernikahannya?
"Mas?" Tatapan Pandu, sontak membuat Nasta menyilang kan kedua tangannya didepan dada. "Ih, lihat apa sih? Jangan mesum ya?"
Ciuman yang tidak sengaja didalam mobil tadi saja, masih membekas jelas diingatan mereka, sekarang, Pandu ketahuan lagi sedang melihat Nasta dengan tatapan lapar.
"Jangan ge-er" Memalingkan muka kesamping, Pandu sengaja menyembunyikan kegugupan dan rasa panas di pipinya.
Lagi-lagi, Pandu merutuki dirinya sendiri, yang tidak bisa menahan diri dari gadis pemilik mata yang indah itu.
"Lha kamu lho mas, ngelihatin nya begitu banget.." Perlahan Nasta turunkan tangannya yang tadi menyilang. "Ingat mas, kita belum sah lo. Jangan aneh-aneh." Nasta menyipitkan matanya kearah Pandu memberi tanda peringatan.
"Ck.." Pandu hanya menjawab dengan decakan.
Kemudian Nasta berjalan maju, lebih dekat lagi kearah Pandu. Gadis itu, sama sekali tidak sadar dengan ekspresi gelisah dari lelaki yang ia dekati.
Debaran jantung Pandu belum sama sekali mereda. Sejak kejadian mencium pipi tanpa sengaja di mobil tadi, ia jadi sangat mudah berdebar saat berada di dekat Nasta.
Gadis manis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
Ah, Nasta. Kenapa gadis itu begitu menggemaskan?
Andai, Pandu adalah lelaki yang benar-benar doyan bermain wanita, mungkin ia akan mengulang kejadian di mobil tadi disini.
Atau, bisa saja Pandu melakukan lebih.
Apalagi, kini mereka berada di ruangan itu hanya berdua saja. ruangan yang cukup tertutup karena pemilik butiq hanya mempergunakannya untuk pelanggan pemilik kartu eksklusif.
Setelah membantu Nasta memakai kebaya rancangannya tadi, pemilik butiq memang sengaja meninggalkan mereka berdua. Katanya,agar lebih nyaman dalam berdiskusi dan mengambil keputusan tentang kebaya rancangannya, perlu diperbaiki lagi atau sudah sesuai pesanan.
"Mas, gimana? udah pas belum di aku?"
Dengan tanpa melihat ke arah Nasta, Pandu menjawab asal. "Sudah ."
Gadis itu tidak terima pertanyaannya dijawab asal-asalan seperti itu. Lantas, Nasta berkacak pinggang menampilkan ekspresi galaknya. "Heh, dilihat aja belum lho, mas. Yang serius dong, kasihan tante Maria sudah repot-repot mempersiapkan ini semua. Gak menghargai banget usaha mama sendiri. Ganteng boleh mas, tapi yang sopan dong"
Oh, Ya Tuhan, calon istrinya itu, kenapa cerewet sekali?
Tapi, Pandu suka. Ia suka dengan tingkah cerewet gadis manis itu.
Iya, Pandu suka.
Eh,
Apa? Suka?
Pandu menggerak-gerakkan kepalanya mengusir segala pikiran aneh yang hadir. Lelaki itu juga memukul pelan kepalanya dengan tangannya sendiri.
"Mas Pandu kenapa? Orang ditanyain, bukannya dijawab malah.."
"Kan aku sudah bilang, cocok." Menjawab dengan datar sambil terpaksa mengalihkan pandangan kearah Nasta. Pandu bahkan sempat menghela nafas panjang. Lelaki itu merasa kesal, bukan pada Nasta melainkan kepada dirinya sendiri.
"Tapi kan, belum kamu lihat, mas."
"Sudah kok."
"Kapan?" Sambil berkacak pinggang, Nasta menaikkan sedikit dagunya. Terlihat galak dan menantang, yang malah semakin membuat Pandu gelisah menahan dada yang bergemuruh lebih hebat lagi.
Menggemaskan sekali !
"Tadi, waktu kamu jalan kesini."
Alis nya berkerut, diikuti dengan bibir Nasta yang mencebik. Menampilkan ekspresi tidak percaya. "Masak?"
"Udah deh. Jangan ngajak berantem ditempat orang." Pandu mendengus sebal. "Buruan ganti baju lagi. Udah pas dan cocok."
"Beneran ya?"
"Ck.." Berdecak kesal, sekarang gantian Pandu yang menatap Nasta dengan tajam. Membuat gadis itu bergidik takut. "Ganti baju nggak?"
"Iya udah iyaa, ganti baju nih.." Ucapnya dengan berjalan cepat menuju ruang ganti baju. Langkah kaki ia ia hentak-hentakkan menunjukkan ekspresi kesalnya. "Gitu aja loh melotot. Belum nikah aja udah galak, apalagi sudah nikah"
Tanpa Nasta ketahui, dibelakangnya Pandu lagi-lagi sedang tersenyum tipis, penuh makna. Dan hanya dia sendiri yang tahu.
Ruangan ber-AC itu ternyata kalah dingin dengan perasaan Pandu yang tiba-tiba menghangat. Dan penyebabnya adalah, Nasta. Gadis itu mampu membangkitkan lagi perasaan cinta yang sudah lama Pandu tahan.
Detik jam berdenting. Sudah lima belas menit Nasta berada didalam ruang ganti baju. Namun, tanda-tanda kemunculannya belum juga tercium.
Pandu kembali duduk ke sofa. Bersikap tenang setenang mungkin untuk menunggu wanita itu berganti pakaian. Oke, Pandu sabar kok. Tenang.
Nasta benar-benar wanita hebat. Selama ini, mana ada wanita yang berani membuat Pandu menunggu? Selain Maria tentunya. Ah jangankan menunggu. Pandu malahan yang biasanya ditunggu.
Ponsel Pandu bergetar menandakan ada pesan masuk. Lelaki itu membukanya. Dan didapatinya pesan dari sang sekretaris. Abraham sekedar mengingatkan jadwal meeting sore yang harus pimpin langsung oleh Pandu.
Selesai membaca pesan di gawainya, pandu melirik jam. Terhitung dari sekarang masih ada tenggang waktu sekitar dua jam lagi untuk meeting itu dimulai.
Dilihatnya pintu ruang ganti yang belum juga terbuka, membuat Pandu mendesah kesal karena harus menunggu terlalu lama. "Nas, lo ngapain sih di dalem? lama banget"
"Bentar mas.." Ucap gadis itu dengan sedikit berteriak.
Tak lama kemudian, pintu ruang ganti terbuka.
Menampilkan sosok kepala yang nyengir kaku ke arah Pandu. "Mas, nyangkut ini.. boleh minta tolong nggak?"
"Apa?"
"Panggilin mbak-mbak nya pemilik butiq tadi.." Hehe,. masih tersenyum kaku.
Pandu ingin menolak. Tapi, enggan berdebat dan malah membuang waktunya sia-sia. "Tunggu.." Lantas, lelaki itu keluar dari ruangan, memanggil kembali pemilik butiq.
buat mas ato kak Arya,ntar sama Rista aja ya,dia ga kalah cantik n baik ko ma nasta🤭
please..Jan lama² ya ndah resign nya🤭