Follow IG-Airlangit9
Nekat pergi ke kota, bermodalkan Ijazah SMA untuk mengadu nasib. Siapa sangka, sebuah insiden membuatku terperangkap dalam hubungan tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Airlangit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternyata penolong itu adalah
Di balik punggung pria yang memboncengnya, Dilara terus bergerak gelisah. Ia belum mengetahui siapa pria tersebut. Tadi, tak ada kesempatan melihat wajah pria itu..
"Diam, napa?" Si pria menegur Dilara yang duduk tak mau diam. "Nanti motornya oleng."
"Kamu siapa?" Akhirnya Dilara menyuarakan keresahan hatinya.
Pria itu tak menyahut, motor masih melaju dengan kecepatan sedang.
"Berhenti saja di jalanan itu." Mengingat para perampok tadi, Dilara khawatir yang memboncengnya juga pria yang tak baik.
Pria itu tak juga menepikan motor, Dilara mulai ketakutan, ia memukul punggung pria tersebut sambil memekik kecil, "Berhenti saya bilang!"
Motor langsung berhenti dadakan, dada Dilara pun menabrak punggung pria itu.
Bergegas Dilara turun dari motor dan pria itu pun turun langsung memerhatikan wajah Dilara yang tampak panik dan pucat. Jalanan di tempat tersebut tampak sepi, dan dekat ke arah jembatan yang di bawahnya sungai mengalir deras. Gadis itu mulai berpikir hal-hal yang negatif.
"Kamu pikir saya akan merampokmu, apa?" Pria itu bertanya.
"Lalu siapa kamu?" Dilara menatap sengit pria yang belum melepaskan helmnya itu.
"Apa yang mau saya rampok darimu. Bahkan penampilanmu saja tak menarik."
Dilara langsung mendelik dan bertolak pinggang.
Pria itu membuka helmnya, menampilkan paras rupawan yang tampak kelelahan. Wajah putihnya terlihat kemerahan, mungkin lelah tadi bergulat dengan tiga preman.
"Bos Daniel!" seru Dilara setelah sekian detik termangu mengetahui siapa gerangan yang menolongnya. "Bos, maafkan saya, dan terima kasih."
Pria tinggi itu terkekeh dan membuang muka. "Saya kira saat kamu menurut digandeng, kamu mengenali saya. Benar-benar perempuan ceroboh dan gampangan. Mau-mau saja digandeng oleh siapapun."
Mendengar perkataan pedas Daniel, hilang sudah rasa segan Dilara. Ia mengangkat wajah dan menatap tajam atasannya itu. "Saya pergi!" ujarnya kemudian mulai melangkah meninggalkan Daniel.
Dilara berjalan tergesa tanpa menoleh lagi ke belakang. Dia benar-benar jengkel dengan sikap ketus Daniel. "Benar-benar lelaki tak punya empati. Mentang-mentang kaya."
Langkah gadis berkerudung hitam itu terhenti, begitu melihat di tepi jalanan itu, kawanan lelaki tampak berjoget-joget sambil membawa botol. Ada juga yang terlihat minum langsung dari botol.
Dilara bimbang antara meneruskan perjalanan dan kembali lagi ke belakang.
"Hay! Ada cewek!" Salah satu dari lelaki itu berseru. Beberapa orang lelaki tampak mulai melangkah ke arah Dilara. Gadis itu langsung membalikkan badan dan berlari ke arah Daniel. Untung saja bosnya itu masih ada.
"Ayok pergi!" pekik Dilara pada Daniel dan sesekali ia menoleh ke belakang. Para lelaki yang mengejarnya itu melangkah semakin mendekat.
"Kenapa saya harus membawamu?" Dengan santainya Daniel bertanya.
"Astaghfirullah, Bos. Anda tidak lihat, itu preman berbadan besar. Mereka bukan orang baik-baik."
"Sepertinya mereka ingin berurusan dengamu bukan saya." Daniel naik ke motornya dan Dilara langsung menarik ujung jaketnya.
"Bos, tolong saya kali ini saja!"
Daniel tak merespon. Sementara para lelaki mabuk itu nyaris tiba dekat mereka berdua.
"Saya akan melakukan apapun apa yang bos inginkan. Apa saja! Saya janji! Tapi tolong saya, Bos!" Dilara memperlihatkan wajah memelasnya sambil menyatukan tangan depan wajah.
"Benarkah?" Daniel menyahut tanpa menoleh.
"Iya, Bos. Sumpah, demi Allah. Saya sungguh-sungguh, langit menjadi saksi."
"Kalau begitu, naiklah."
Dilara langsung duduk di belakang Daniel dan motor pun melaju kencang meninggalkan jalanan sepi itu.
Saking kencangnya laju motor itu, kerudung Dilara sampai mengapung-ngapung hampir terlepas.
"Bos, pelan-pelan, saya khawatir jatuh. Tangan saya pegal megang besi belakang."
Tanpa diduga, tangan kanan Daniel meraih tangan kanan Dilara dan menaruh di pinggangnya sendiri. Gerakan mendadak tersebut membuat Dilara tertegun. "Pegang pinggang saya erat-erat. Agar kamu tak terjatuh," ujar Daniel dengan nada tinggi agar Dilara mendengar.
Meskipun malu, Dilara mengangguk dan melingkarkan tangan ke pinggang pria itu.
"Di mana rumahmu?" tanya Daniel.
Dilara kemudian menyebutkan alamat kontrakannya.
Beberapa jam berlalu, akhirnya Daniel sampai di depan kontrakan Dilara. Kontrakan itu tanpa pagar dan tampak kumuh.
"Terima kasih, Bos." Begitu turun dari motor, Dilara merasa sangat berterima kasih. Ternyata pria dingin dan arogan itu memiliki sisi baik juga.
Daniel turun dari motornya, dan bertanya, "Di mana kamarmu? Saya kebelet pipis, cepat tunjukkan."
"Taa-pi."
"Gak usah tapi-tapian. Cepat tunjukkan!" Daniel terus bergerak-gerak sambil mengepalkan tangan.
Dilara melangkah lebar menuju gang sempit yang diapit dua bangunan. Kemudian menaiki tangga diikuti Daniel. Setelah gadis itu membuka pintu kamarnya, Daniel langsung masuk ke dalam ruangan begitu saja.
Dilara masuk ke dalam ruangan dan duduk di atas karpet plastik menunggu pria itu keluar dari kamar mandi.
Pintu terdengar dibuka, Dilara langsung berdiri.
"Saya pergi," ujar pria itu kemudian keluar begitu saja dari dalam ruangan tanpa menutup pintu. Terdengar langkah kakinya menuruni tangga kemudian deru suara motor terdengar meninggalkan halaman kontrakan.
Dilara menghela nafas panjang, ia bangkit dari duduknya, menutup pintu kamar lantas menjatuhkan dirinya di atas lantai sambil menarik kerudungnya yang sudah tak karuan bentuknya sampai kerudung itu terlepas dari kepala.
***
Tak ingin mengalami kejadian seperti kemarin, Dilara tak menghiraukan permintaan bantuan rekannya untuk mengerjakan tugas mereka. Ia pulang bersama rekan kerjanya yang lain tepat jam lima sore.
"Tumben, Dil. Pulang sore-sore?" Di perjalanan menuju halte bis, Arsi bertanya.
"Mulai dari sekarang, saya harus pulang jam segini. Tak baik anak gadis pulang malam."
"Haha, betul sekali." Arsi memaksakan tawa. "Kapan kamu pindah, Dil? Saya sudah gak sabar punya teman sekamar."
"Makanya nikah." Dilara menjawab asal.
"Issh, ogah. Gue mah mau menikmati kehidupan dulu sebelum tersiksa jadi budak suami seumur hidup. Meningan kalau suaminya baik, kalau buruk prilakunya bagaimana hidup saya? Dil."
"Kebanyakan nonton sinteron, kamu, Ars."
"Tidak, yang saya lihat beberapa suami tetangga di kampung kelahiran begitu."
"Semoga kamu mendapatkan jodoh yang baik, " sahut Dilara.
"Aaamiin, makasi, ya." Arsi langsung tersenyum lebar.
Tiba di depan pintu kontrakannya, Dilara terhenyak melihat barang-barangnya diletakkan asal di depan pintu. Bergegas gadis itu menghampiri pintu dan membukanya, akan tetapi, kunci di tangannya tak berfungsi.
Beberapa orang keluar dari balik pintu kontrakan kanan dan kiri Dilara.
"Mengapa barang-barang saya dikeluarkan, Bu?" tanyanya sangat kecewa.
"Pemilik kontrakan yang mengeluarkan." Salah satu dari orang-orang itu menjawab.
"Mengapa?"
"Kami mendapatkan laporan dari saksi mata, kamu membawa lelaki tengah malam ke kamarmu."
Dilara terkejut, kejadian semalam tak seperti yang mereka duga. Gadis itu menggeleng. "Dia bos, saya, Bu! Hanya mampir sebentar!"
"Bohong! Mana ada tengah malam mampir!"
Dilara menggigit bibir bawahnya, bagaimana ia menjelaskan agar mereka percaya. Sebenarnya ia ingin mencegah Daniel malam itu.
Terdengar langkah-langkah kaki menaiki tangga, Dilara menoleh dan melihat pemilik kontrakan datang.
"Pergi kamu dari sini, pelacur! Tak sudi tempat saya dipakai buat berzina."
"Tak seperti yang Anda pikirkan, Bu!" Dilara merasa frustrasi. "Pria itu adalah--"
"Mana ada pelacur yang mau ngaku!" Suara perempuan memotong ucapan Dilara.
"Suruh pergi secepatnya! Nanti kita ketularan dosa! 40 rumah dan seisi kampung kena sial saat penghuni kampung ada yang berzina!"
"Betul!"
"Astaghfirullah! Kenapa kalian asal menuduh!" Dilara menjerit emosi.
"Pergi kamu! Cepat pergi!"
Salah satu dari mereka menendang barang Dilara.
"Kalian akan mendapatkan karma karena telah menuduh orang yang tak bersalah berzina!" Dilara berkata lantang kemudian meraih beberapa barang-barangnya yang tak banyak lantas melangkah gontai menuruni tangga melewati orang-orang yang menatapnya hina itu.