Dina Syifa Galbie.
Seorang gadis berusia 25 tahun, tiba-tiba di nikahi oleh seorang pria bermarga Assegaf yang tak lain adalah kerabatnya sendiri.
Cerita ini di mulai dari, acara Haul kakek buyut mereka yang di adakan di kediaman orang tua Syifa.
Di saat seharusnya acara sudah di mulai, tiba-tiba terdengar suara Ijab Qabul dari dalam Masjid tempat acara berlangsung.
"Qobiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkuur wa radhiitu bihi, wallahu waliyyu taufiq"
"Sah" teriakan menggema dari dalam Masjid.
Gadis cantik dengan balutan abaya hitam itu nampak terkejut saat mendengar kata 'Sah'.
Dan dalam hitungan detik seorang pria berparas rupawan khas negara Arab pun berdiri di depannya dan tersenyum padanya.
Gadis itu masih tercengang di tempatnya sambil mendongak menatap pria di depannya.
"Apa-apaan ini?!!" Jeritnya dalam hati.
Bagaimana hari-hari yang Syifa lalui setelah dia menjadi istri? dan rahasia apa yang di sembunyikan pria yang saat ini menyandang status sebagai suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galbia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semakin Dekat Hanya Dengan Semalam
30 menit kemudian.
"Dek" panggil Husein.
"Dek"
Husein menoleh ke arah istrinya karena tak mendapat sahutan.
"Dek" panggil Husein lagi sambil menepuk pelan pipi istrinya.
"Hmmm"
"Bangun, mandi dulu" ucap Husein dengan lembut.
"Duluan saja" ucap Syifa sambil membenarkan posisi tidurnya.
Husein terkekeh.
"Kalau kamu memelukku begini bagaimana caranya aku mandi?" Tanya Husein dengan lembut.
Seketika Syifa membuka matanya. Dia baru sadar bahwa saat ini dia tengah berada di kamar mandi dan berada di dalam bathub.
Syifa menjauhkan tubuhnya dari dada bidang Husein.
"Maaf bib" ucap Syifa.
Husein mengangguk sambil tersenyum.
"Kamu duluan atau aku duluan?" tanya Husein.
"Anda duluan saja" ucap Syifa.
Husein mengangguk, kemudian keluar dari dalam bathub.
30 menit kemudian Husein keluar dari kamar mandi, Syifa pun keluar dari bathub dan menyucikan diri.
"Hiss..." ringis Syifa saat dia melangkah ke arah shower.
"Kok masih perih sih" gumamnya.
Syifa menyalakan air hangat di shower.
"Pegal sekali pinggang ku" lirihnya sambil memijat pelan pinggangnya.
"Awas aja, aku gak bakalan kasih jatah lagi" gumam Syifa dalam hati yang dongkol.
Dia bersuci sambil menahan rasa pegal di seluruh tubuhnya..
Tak lama Syifa keluar dari kamar mandi dan sang suami pun sudah menunggunya untuk shalat subuh bersama.
Wajah pria rupawan itu nampak sangat cerah berbeda dengan wajah Syifa yang nampak menekuk cemberut.
Husein sungguh di buat gemas dengan wajah istrinya, kalau saja dia tidak punya Wudhu' sudah pasti Husein akan mengecup pipi istrinya yang cemberut itu.
Tapi mereka tidak punya waktu untuk itu, karena waktu shalat subuh sudah hampir habis.
Beberapa saat kemudian tepat di Pukul 6 pagi.
"Bagaimana ini cara jalan ku kayak pinguin" jerit Syifa yang sudah tidak tahan dengan keadaannya sekarang.
"Kenapa dek?" Tanya Husein saat mendengar jeritan Syifa.
"Habib tanya kenapa? ini karena anda, cara berjalan saya persis seperti pinguin." ucap Syifa mengomel.
Husein nampak terkekeh pelan.
"Maaf dek" ucap Husein.
"Ihhh nyebelin deh gimana ini" rengek Syifa.
"Maaf habisnya semalam kamu terlihat sangat menggoda." ucap Husein menggoda Syifa.
"Ihhhh nyebelin, Habib itu nyebelin. Katanya jalani saja dulu tapi Habib malah minta jatah! apa anda tidak tahu seberapa merindingnya saya semalam? kita tidak pernah kenal sebelumnya tapi Habib sudah minta jatah duluan." ucap Syifa mengeluarkan uneg-unegnya
Pria itu lagi-lagi terkekeh mendengar kekesalan hati istrinya.
"Maaf dek" ucapnya sambil memeluk Syifa.
"Ihhh apaan peluk-peluk lepasin" ucap Syifa sambil memberontak.
Namun Husein tak melepaskan pelukannya.
"Maaf istri ku, tapi dengan begitu bukankah kita semakin dekat hanya dengan semalam." ucap Husein.
"Dih!" sewot Syifa.
"Kekeke" Husein terkekeh.
"Jangan tertawa" ucap Syifa kesal.
Bukannya berhenti Husein semakin mengeraskan tawanya. Sedangkan Syifa semakin meradang.
"Salah sendiri tidak nolak semalam" ledek Husein.
"Apa?! tidak nolak?! jadi itu salah saya?!" teriak Syifa di dekat telinga Husein.
Husein sampai-sampai harus menjauhkan kepalanya dari dekat Syifa.
"Ya itu salah mu" jawab Husein sambil terkekeh.
Syifa yang kesal pun mencubit pinggang Husein.
"Adududuh sakit sayang" keluh Husein sambil melepaskan pelukannya.
"Tck" decak Syifa yang sudah sangat dongkol.
"Tidak boleh begitu sama suami, dosa." ucap Husein sambil tersenyum ke arah istrinya.
"Hah... ini nih, ini nih. Gara-gara ini nih saya tidak bisa nolak semalam" ucap Syifa kesal.
"Semalam saya sudah menolak tapi anda bilang, dosa jika istri menolak ajakan suami, kamu mau jadi istri durhaka?" Ucap Syifa mengulang ucapan Husein semalam dengan nada yang sudah sangat kesal.
Husein nampak terkekeh, benar dia yang mengatakan itu dan membuat Syifa pasrah saja semalam.
Syifa melangkah ke ranjang dan naik ke ranjangnya setelah memaksa Husein agar melepaskan pelukannya.
Dia tidak sanggup untuk berdiri terlalu lama.
"Habibati" panggil Husein.
Syifa menoleh ke sekitar nampak mencari seseorang.
"Habib panggil siapa?" tanya Syifa.
"Memangnya siapa lagi selain kita di sini?" tanya Husein.
"Habib panggil saya?" tanya Syifa sambil menunjuk dirinya.
"Iya siapa lagi selain istri ku di sini" ucapnya sambil tersenyum.
"Bukankah tadi panggilnya Dek?" ucap Syifa.
"Kenapa apa kamu tidak suka di panggil Habibati?" tanya Husein sambil melangkah mendekat ke arah syifa.
"Bukan begitu." jawab Syifa acuh.
"Pakai kerudung mu ya" ucap Husein.
"Hah?" tanya Syifa tak paham.
"Bentar lagi Umi sama Abi datang" ucap Husein.
"Apa?! Kenapa?" tanya Syifa terkejut.
"Tentu saja Umi mau lihat menantunya." ucap Husein sambil terkekeh saat melihat raut wajah Syifa yang terkejut.
"Kalau gitu kenapa anda tidak bilang dari tadi" ucap Syifa dan langsung turun dari ranjang.
"Awww"
BBRUUUKKK
"Habibati!" pekik Husein dan langsung membantu istrinya yang jatuh.
"Hisss perih" keluh Syifa.
"Sakit sekali ya?"
"Habib nanya?" kesal Syifa.
"Kekeke"
Bukannya marah dengan cara bicara istrinya, Husein malah nampak terkekeh.
"Bisa bangun tidak?" tanya Husein.
Syifa mencoba bangun di bantu Husein
"Awww" ringis Syifa sambil menyentuh pergelangan kakinya.
Husein segera mengecek kaki Syifa
"Sepertinya kaki saya terkilir" ucap Syifa sambil meringis kesakitan.
Husein segera mengalungkan lengan kanan istrinya di lehernya dan mengangkat tubuh istrinya kemudian menurunkannya dengan perlahan di ranjang.
"Tunggu sebentar ya" ucap Husein.
"Mau kemana?" tanya Syifa.
"Ambil es batu untuk mengompres kaki mu" ucap Husein.
Husein keluar dari kamar menuju dapur untuk mengambil es. Tak lama kemudian Husein kembali ke kamar dengan sebaskom kecil es batu.
"Ada handuk kecil?" Tanya Husein pada Syifa.
"Di lemari" ucap Syifa.
Husein melangkah ke lemari milik istrinya kemudian mengambil sebuah handuk kecil di dalam sana.
Husein kembali ke ranjang dan mengompres kaki istrinya yang terlihat mulai bengkak.
"Biar saya saja bib" ucap Syifa hendak meraih handuk berisi es batu dari tangan Husein.
"Biar aku saja" ucap Husein.
Beberapa menit kemudian.
Ting
Sebuah pesan masuk ke ponsel Husein. Husein membaca pesan yang masuk ke ponselnya.
Setelah mengetikkan beberapa kata untuk membalas pesan itu, Husein melangkah ke lemari istrinya.
Syifa yang melihat itu hanya diam mengamati apa yang di lakukan Husein.
"Ini kerudungnya, kamu tidak mau kan bekas di leher mu di lihat orang lain" ucap Husein sambil menyodorkan sebuah kerudung pada istrinya.
"Hah? bekas apa?" tanya Syifa tak paham.
"Ini sayang" tunjuknya pada leher Syifa yang merah-merah.
"Mana?" tanya Syifa yang tidak melihat apapun.
"Sebentar" ucap Husein lalu dia membuka fitur kamera di ponselnya kemudian memberikannya pada sang istri.
Syifa nampak membulatkan matanya saat melihat lehernya.
"HABIB HUSEIN!!!" Pekik Syifa sambil menatap tajam suaminya.
Sedangkan tersangka pembuat bekas di lehernya pun nampak tertawa melihat reaksi sang istri.
"Ihhh anda kok buatnya sebanyak ini sih, ini gimana hilanginnya coba? malu tahu." keluh Syifa.
.........