Follow Instagram Author @tulisan_bee 😘
Musim satu dan dua sudah tamat ❤️
~ Perjalanan seorang gadis bernama Diandra Lee, dipertemukan dengan dua lelaki luar biasa, Bram Trahwijaya dan Gionard Butcher.
Ketika keduanya sama-sama menawarkan tempat bersandar, sisi mana yang akan Diandra pilih? ~
Terima kasih sudah mampir dan membaca cerita ini, semuanya. Semoga suka 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NadiraBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Kamar Kami
"Kuharap kau menikmati perjalanan ini." ~Bram Trahwijaya.
.
.
.
Maskapai Garuda Indonesia mendarat dengan mulusnya di bandara internasional Suvarnabhumi, Bangkok.
Diandra dan Bram juga ikut dalam antrian orang-orang yang berbondong menuju konter imigrasi, menyerahkan paspor dan menunggu cap izin masuk ke negara gajah putih itu.
Beres urusan izin masuk, Bram memesan sebuah taksi online untuk mengantarkan mereka ke hotel tempat mereka akan menginap selama berada di Bangkok.
Diandra tak berhenti berdecak kagum, tidak menyangka akhirnya dia dapat menginjakkan kakinya di Thailand. Sungguh gadis yang aneh, fikir Bram. Diandra telah lama menetap di Paris, tetapi sangat terpukau dengan Thailand. Menarik, fikir Bram lagi.
"Bram, ayo nanti kita beli baju khas Thailand ya," ujarnya riang, mereka berada di dalam sebuah taksi yang melaju menuju hotel tempat mereka tinggal.
"Siaap tuan putri," balas Bram cepat. Tersenyum.
Taksi yang mereka tumpangi membelah ibukota Thailand, Bangkok. Hiruk pikuk khas ibukota. Tidak ada perbedaan waktu antara Bangkok dan Indonesia, dan kini telah menunjukkan pukul delapan malam lebih beberapa menit. Gemerlap lampu-lampu jalan semakin menambah suasana malam ibukota ini. Thailand memiliki sistem transportasi yang cukup baik. Banyak pilihan untuk para pelancong yang berkunjung, mulai dari taksi, bus, atau BTS (Bangkok Train System) yang selalu dipadati orang-orang khususnya saat jam berangkat dan pulang kerja. Bram memilih untuk naik taksi menuju penginapan mereka, karena dia telah menyewa sebuah mobil untuk membawa Diandra berkeliling Bangkok beberapa hari ke depan.
"Apakah kalian kesini untuk honeymoon?" tanya sang supir taksi kepada Bram, menggunakan bahasa Thailand.
Diandra yang dari tadi melihat ke luar kaca mobil kemudian melihat ke supir tersebut, menunggu jawaban Bram. Dia tak mengerti apa yang supir itu katakan. Bram tersenyum.
"Khap (iya)," jawab Bram. Sang supir yang sepertinya sudah paruh baya itu juga ikut tersenyum.
"Nikmati malam-malam kalian di Bangkok, semoga menyenangkan," lanjutnya lagi.
Diandra menyenggol lengan Bram yang duduk di kursi belakang bersamanya.
"Bram, apa katanya?" tanyanya penasaran.
Bram memutar bola matanya.
"Katanya apa kita datang untuk kerja,"
"Oohh ... Kirain apa," jawab Diandra lagi.
Bram tersenyum kecil. Diandra kembali sibuk melihat pemandangan yang semakin menggelap, hingga akhirnya taksi tersebut tiba di hotel mereka.
Bram mengucapkan terima kasih dan memberikan beberapa ribu Baht kepada supir taksi tadi, sang supir pun pergi setelah berpesan pada Bram untuk tidak menggunakan pengaman, biar cepat jadi orangtua, katanya. Bram hanya tersenyum kecut dan buru-buru menutup pintunya. Untung saja Diandra tidak paham apa yang diucapkan supir itu. Kalau tidak bisa bahaya.
Bram menuju meja resepsionis dengan mendorong dua buah koper di samping kanan dan kirinya. Pria itu sudah memesan sebuah kamar deluxe suite dengan ranjang extra king.
Bisa saja dia memesan ranjang double queen, tapi bukankah mereka sudah terbiasa tidur satu ranjang?
"Ayo!" kata Bram lagi, menunjukkan kunci hotel yang berupa card pada Diandra. Diandra mengikuti Bram menaiki lift dan tiba di lantai empat.
Bram mencari petunjuk untuk kamar mereka dan berhenti di sebuah kamar. Tertulis 408 di pintu besar itu, dan Bram menempelkan kartu yang dipegangnya ke detector tepat di gagang pintu.
Kamar itu terbuka dan voila, sebuah deluxe suite yang mewah. Bram berdecak kagum.
Tidak salah aku memilih hotel ini. Sungguh mewah sekali.
Ranjang yang besar dan menawan, interior yang bagus. Semoga Diandra suka, batinnya.
Diandra memasuki kamar itu dan ikut berdecak kagum.
"Waah, bagusnya," gumamnya pelan sambil melihat-lihat interior kamar.
"Kamu suka?" tanya Bram.
"Pasti mahal ini kan, Bram. Kalo di Paris model begini bisa kena puluhan juta kalo dirupiahkan," jawab Diandra terkekeh.
"All the best for the best one (hal baik untuk yang terbaik)," kata Bram lagi, membuat Diandra malah tersipu.
"Alah, bisa aja!" katanya menutupi rona merah yang mulai tampak di pipinya.
"Kamu capek enggak? Kalo capek kita istirahat aja, habis ini kita makan dulu ke restoran. Atau mau pesan room service (layanan kamar) aja?" Bram berbicara sambil membuka sepatunya, menggantinya dengan sendal hotel. Diandra sedang sibuk membongkar kopernya.
"Enggak. Aku gak capek. Ayo kita mulai jalan-jalan malam ini, aku mandi duluan," jawabnya seraya mengambil handuk dari tumpukan bajunya di koper. Dia lalu melenggang indah menuju kamar mandi.
Bram menelan ludah. Dia sudah sebulan sekamar dengan gadis itu. Tapi menunggu gadis itu mandi selalu menjadi momen horor untuknya. Bram membuka kopernya, menyusun pakaiannya sambil terus menguatkan diri.
Kuatkan hatimu, Bram. Dia bukan milikmu.
.
.
.
🌾Bersambung🌾
~Dukung dengan like, vote dan tinggalkan komen ya kak Readers.. Makasih sudah mampir 🙏
AQ mmpir again kesekian kalinya bee😍