Kakek Abraham mempunyai cara licik untuk menjodohkan cucu ketiganya sekaligus cucu perempuan satu-satunya, Zemira Pieters.
Ia pura-pura mengajak Zemira taruhan. Taruhannya adalah jika Zemi bisa hidup tanpa fasilitas dari Kakek Abraham selama setahun, maka Kakek Abraham tidak akan lagi memaksa Zemi untuk menikah. Tapi jika Zemi tidak bisa, maka Zemi harus menikah dengan laki-laki pilihan Kakek Abraham.
Padahal tujuan sebenarnya Kakek Abraham membuat taruhan adalah untuk mendekatkan Zemi dengan laki-laki pilihan Kakek Abraham.
Tapi ternyata laki-laki yang ingin Kakek Abraham adalah laki-laki yang pernah menolak Zemi waktu SMA.
Akankah rencana Kakek Abraham berhasil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_Les, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
Tok... Tok... Tok...
Tiba-tiba saja pintu kamar Zemi terketuk.
"Apa kamu memesan makanan?" tanya Camel.
"Tidak." jawab Zemi.
"Coba buka pintunya." perintah Zemi.
Camel pun berdiri dari duduknya dan berjalan menuju pintu dan diikuti Zemi dari belakang dengan langkah tertatih.
Mata Camel membulat lebar begitu ia membuka pintu, begitu juga dengan Zemi yang ada di belakang Camel.
"Nona Zemi, Tuan Abraham sedang sibuk, jadi beliau tidak bisa datang untuk menjenguk Anda, tapi Tuan Abraham mengirimkan kursi roda untuk Nona Zemi." ucap Leo.
"Kakeeeeek!!!!" teriak Zemi.
Sangking kerasnya suara teriakan Zemi, Camel sampai menutup telinganya, sedangkan Leo malah menggelembungkan pipinya menahan tawa melihat ekpresi Zemi.
💋💋💋
"Hahahaha... Hahahaha..." Camel tak henti-hentinya tertawa melihat kursi roda pemberian Tuan Abraham.
"Kamu bilang Kakek tidak sayang lagi padamu dan sudah membuang mu, tapi itu buktinya dia mengirimkan kursi roda untuk mu." ejek Camel.
"Diam kamu! Ini bukan perhatian namanya, ini sama saja Kakek menyumpahi aku tidak bisa jalan lagi!" kesal Zemi.
"Hahahaha..." Camel terus tertawa.
Awas saja kamu, Kek! gerutu Zemi dalam hati.
"Sudah lah aku pulang dulu. Sepertinya kamu tidak membutuhkan seseorang membantumu, kan Kakek sudah mengirim kursi roda untuk mu, jadi kamu bisa melakukan semuanya sendiri." ucap Camel.
"Hus hus hus, pergi sama pergi!" usir Zemi.
Camel terus saja tertawa lalu keluar dari kosan Zemi.
Setelah Camel pergi, Zemi terus memandang kursi roda itu dengan tatapan kesal.
"Menyebalkan!" gerutu Zemi.
TRING. Tiba-tiba ada bunyi notifikasi pesan di ponsel Zemi.
Zemi mengambil ponsel itu dan melihat nama Ravin yang ternyata mengirim pesan. Zemi pun membuka pesan itu.
[Ravin] : Bagaimana dengan kaki mu? Apa bengkak?
"Perhatian sekali." gumam Zemi sambil senyum-senyum sendiri. Wajah cemberut Zemi gara-gara kursi roda langsung berubah menjadi sumringah hanya karena pesan dari Ravin.
[Zemi] : Sudah lebih baik. Tapi sekarang hati ku yang bermasalah.
[Ravin] : Ada apa?
[Zemi] : *mengirim foto kursi roda*
[Zemi] : Kakek malah mengirimkan aku kursi roda. Apa dia menyumpahi aku tidak bisa jalan selamanya? Menyebalkan!
Ditempatnya berada, Ravin senyum-senyum sendiri membaca pesan Zemi.
[Ravin] : Apa kamu mau aku datang untuk menghilangkan kekesalan mu?
Blush. Wajah Zemi memerah membaca pesan dari Ravin.
[Zemi] : Tidak perlu. Tapi kalau kamu memaksa ingin datang, ya sudah aku bisa apa.
[Ravin] : Sebentar lagi aku datang. Aku sedang membahas tentang program game yang kamu rancang.
[Zemi] : Santai saja, aku juga tidak akan menunggu.
Lain di jari lain di hati, begitulah makna pesan yang Zemi kirim untuk Ravin. Padahal sebenarnya Zemi sangat menantikan kedatangan Ravin.
Ravin tak lagi membalas pesan Zemi. Karena Ravin tidak lagi membalas pesan Zemi, Zemi pun meletakkan ponselnya diatas meja lalu membereskan kamarnya.
💋💋💋
Ganesh Production.
Saat ini Ravin dan anggota Tim A sedang berada di ruang meeting untuk membahas tentang program game baru yang Zemi rancang. Harusnya game itu Zemi presentasi kan langsung, tapi karena Zemi tidak masuk, jadi Ravin lah yang mempresentasikan game itu. Ravin tau jelas program game baru yang Zemi buat karena delapan puluh persen, Ravin lah yang sebenarnya mengerjakan program itu saat mengajari Zemi program dasar membuat game sedangkan Zemi hanya menuangkan ide.
"Bos... Apa Bos sedang jatuh cinta?" tanya Juan saat melihat Ravin senyum-senyum saat membaca pesan.
"Kenapa? Apa kelihatan sekali?" tanya Ravin.
"Hooooooo." anggota Tim A langsung bersorak mendengar pertanyaan Ravin. Secara tidak langsung Ravin ingin mengatakan kalau dirinya memang sedang jatuh cinta.
"Apa Bos berencana ingin melamar Vivian?" tanya Kenzie.
Mendengar nama Vivian, wajah Ravin langsung berubah.
Ravin menghela nafasnya kasar.
"Sepertinya sekarang aku harus memberi klarifikasi. Aku dan Vivian tidak pernah punya hubungan apa-apa. Kami hanya sekedar teman dari kecil." ucap Ravin.
"Benarkah? Tapi Vivian bilang kalian..." Juan tidak melanjutkan kata-katanya.
"Tidak ada! Intinya kami tidak punya hubungan apa-apa." ucap Ravin tegas.
"Lalu kalau bukan dengan Vivian, Bos jatuh cinta dengan siapa?" tanya Kenzie.
"Dengan gadis yang sudah lama menghilang. Gadis yang tidak pernah mau pergi dari hatiku, walau raganya aku tidak tau dimana, tapi wajahnya selalu terngiang-ngiang dalam otak ku dan namanya selalu bertahta dalam hati ku." jawab Ravin dengan tatapan penuh cinta.
"Huuuuuuu...." Anggota Tim A langsung bersorak mendengar ungkapan isi hati Ravin yang romantis.
"Ternyata selama ini Bos kita memendam cinta dalam hati." celetuk Juan.
Ravin tersenyum tipis.
"Jadi sekarang sudah bertemu dengan gadis itu Bos?" tanya Amara.
Ravin menganggukkan kepalanya.
"Kalau sudah bertemu, langsung ungkapkan saja perasaan mu Bos, jangan sampai gadis itu di tikung laki-laki lain karena Bos lama sekali mengungkapkan perasaan Bos." saran Amara.
"Aku sedang menunggu saat yang tepat." jawab Ravin.
"Ya sudah, rapat hari ini selesai. Mulai besok kalian sudah mulai kerjakan program game baru ini." ucap Ravin lalu berdiri dari duduknya kemudian keluar dari ruang rapat.
Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Zemi.
💋💋💋
Kosan Zemi.
Kini Ravin sudah berada di kosan Zemi.
Melihat kursi roda pemberian Tuan Abraham, Ravin tersenyum tipis. Sebenarnya ia juga ingin tertawa seperti Camel tadi, tapi ia takut Zemi ngambek.
"Kalau mau ketawa, ketawa aja, gak usah di tahan!" ucap Zemi saat melihat ekspresi Ravin seperti sedang menahan tawa.
Ravin tidak membalas dan malah berjalan mengambil es batu, handuk kecil dan kotak P3K lalu kembali berjalan menuju sofa.
"Sini, aku kompres lagi kaki mu." ucap Ravin sambil mengambil kaki Zemi yang terkilir.
Dengan hati-hati Ravin membuka balutan perban di kaki Zemi.
Zemi terus menatap wajah Ravin yang menurutnya semakin hari semakin ganteng.
"Ravin..." panggil Zemi.
"Hemh..." jawab Ravin.
"Apa kamu pernah melakukan ini pada Vivian?" tanya Zemi.
Ravin mendongakkan wajahnya menatap Zemi sesaat.
"Kenapa bertanya seperti itu?" tanya Ravin sambil lanjut mengompres kaki Zemi.
"Vivian kan-"
"Dia bukan siapa-siapa ku." potong Ravin yang tau apa yang ingin Zemi katakan.
"Bukan siapa-siapa? Tapi dia bilang kalian akan segera menikah." balas Zemi.
"Yang bilang siapa?" tanya Ravin.
"Dia. Dan kamu juga diam saja saat dia bilang begitu waktu itu. Itu berarti kamu membenarkan kata-katanya." jawab Zemi.
"Aku diam karena aku mau melihat ekspresi seseorang. Apa dia cemburu saat mendengar kata-kata Vivian atau malah biasa saja." jawab Ravin.
Zemi memanyunkan bibirnya. Zemi tau siapa seseorang yang Ravin maksud, siapa lagi kalau bukan dirinya.
"Apa kamu cemburu?" tanya Ravin.
Zemi menatap wajah Ravin.
"Tidak." Jawab Zemi berbohong.
Ooh.. Ravin membulatkan mulutnya.
"Kalau begitu aku akan mulai memikirkan pernikahan dengan Vivian." ucap Ravin.
Zemi yang kesal mendengar itu langsung menepis tangan Ravin yang sedang mengompres kakinya.
"Ya sudah sana pikirkan saja pernikahan mu dengan Vivian." ucap Ravin.
Ravin terkekeh kecil lalu meletakkan kompres di kaki Zemi lagi tapi Zemi kembali menepis tangan Ravin.
"Aku bisa sendiri, pulang lah!" ucap Zemi sambil mengambil kompres es batu dari tangan Ravin.
"Kamu cemburu?" tanya Ravin sambil menatap wajah Zemi dengan tatapan mengintimidasi.
"Gak!" jawab Zemi ketus.
"Yakin?" tanya Ravin lagi.
"Iya! Lagi pula untuk apa aku cemburu, aku juga bukan siapa-siapa dan kita juga tidak punya hubungan apa-apa. Hubungan kita hanya sebatas atasan dan bawahan." jawab Zemi.
"Aku sadar diri, aku tau dari dulu kamu tidak pernah menyukaiku, jadi untuk apa aku cemburu. Kamu dan Vivian sangat cocok kalian pasangan yang serasi." kata Zemi lagi.
"Zem, kamu-"
"Pulanglah, aku mau tidur." potong Zemi.
Ravin terdiam.
Padahal niatnya tadi hanya ingin menggoda Zemi tapi kenapa Zemi jadi marah betulan padanya.
"Ya sudah aku pulang. Kamu istirahatlah." pamit Ravin lalu berdiri dari duduknya kemudian keluar dari kamar Zemi.
💋💋💋
Bersambung...
😂😅
lucu bangat thoor
menarik sekali karya mu ini
aku sangat suka