"Menikahlah denganku, aku akan memberikanmu uang untuk balas dendam. Habiskan semua uang, bahkan semua uang yang ada di rumahku..." Kalimat yang diucapkan oleh seorang pemuda rupawan, dengan tubuh sempurna, mengecup bibirku. Harum parfumnya yang maskulin telah menyatu dengan tubuhku.
Semalam kami memang melakukannya, benar-benar melakukannya. Pria yang paling sempurna di kantor tempatku bekerja, tampan, pintar, karier cemerlang. Apa yang kurang darinya? Kenapa dia mau-maunya tidur dengan si cupu muka jerawatan sepertiku.
Keberuntungan yang gila-gilaan!
*
Namaku Valentino, manager pemasaran. Tidak memiliki ambisi maupun cinta. Tapi ketika gadis berkacamata ini berani menentang dan menamparku di hadapan umum, saat itulah aku sadar. Aku membutuhkan gadis ini, predator yang akan aku bawa ke dalam rumah untuk melawan ayah dan ibu angkatku.
Memberinya cinta, dia akan menjadi kesatria. Sedangkan aku akan memeluknya dari belakang. Itulah aku, yang ingin bersembunyi di bawah rok istriku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cara
Hanya omong kosong, itulah yang ada dalam benak Zizy saat ini. Tidak mungkin Valentino akan bertanggung jawab dan menikahinya.
Pemuda yang kini menyetir mobilnya dengan tenang. Sedangkan Zizy telah menggunakan baju baru yang dibelikan Valentino. Pakaian terbagus yang pernah dimilikinya. Selera ulat karung tentang penampilan tidak perlu diragukan lagi. Tapi kenapa ulat karung dapat menidurinya? Segalanya belum dimengerti sepenuhnya oleh Zizy.
"A...aku ingin minta maaf karena sudah menampar anda. Keluargaku terlilit hutang, jadi ijinkan aku bekerja kembali di perusahaan. Tolong bantu aku untuk bicara pada bagian HRD." Pinta Zizy menunduk pada akhirnya.
"Baik! Aku akan menghubungi general manager. Agar mendapatkan ijin cuti satu minggu ini." Ucap Valentino dengan tenang.
"Ijin cuti?" Zizy mengenyitkan keningnya.
"Tentu saja untuk menikah. Sudah sampai." Jawaban dari makhluk tidak masuk akal ini menghentikan mobil sportnya di depan rumah Zizy.
"Aku ingin lagi ..." lanjutnya, kala Zizy melepaskan savety belt-nya. Valentino menariknya paksa. Mencium bibirnya, ada apa dengan orang ini mengapa dapat sebrutal ini.
Hingga jembatan liur terbentuk. Kala ciuman itu terlepas, tapi diluar dugaan Valentino kembali mengecup bibirnya beberapa kali.
"Ini enak," kalimat yang diucapkan Valentino membuat Zizy menutup mulutnya sendiri. Ada yang salah dengan orang ini. Benar-benar ada yang salah, biasanya kata-kata bagaikan semburan api akan terucap dari mulutnya. Tapi kenapa sekarang lebih manis? Tidak, ini hanya tipuan, pasti hanya tipuan.
"Aku ingin mengulanginya lagi setelah pernikahan. Nanti akan ada seseorang bernama Jaka datang. Jangan berani-berani menerima lamarannya." Kalimat dari Valentino, membuat Zizy yang hendak keluar mobil menoleh padanya.
"Tapi---" Kalimat Zizy disela. Pemuda itu merogoh sakunya, mengeluarkan 50 lembar uang bergambar tokoh proklamator. Bisa dibilang semua uang cash yang ada di dompet Valentino.
"Dalam waktu 3 jam persiapkan semuanya. Rias wajahmu! Beli pakaian baru! Panggil beberapa tetangga dan keluarga besarmu. Siapkan hidangan! Dalam 3 jam semuanya harus siap!" Valentino meninggikan nada bicaranya terkesan membentak.
"Ta...tapi pak---" Kalimat Zizy disela.
"Apa uangnya kurang?" tanya Valentino kali ini mengeluarkan phonecellnya.
"Tidak, tapi untuk apa?" Zizy menghentikan kalimatnya. Kala Valentino melajukan mobilnya, suara notifikasi terdengar di ponselnya. Uang dengan nominal 100 juta rupiah masuk ke rekening pribadi miliknya.
"A...apa dia serius!?" gumam Zizy tidak mengerti. Melamar dirinya? Mana ada orang yang melamar dengan cara membentak seperti tadi. Ditambah dari sikapnya Valentino tidak menyukai dirinya, ini sudah pasti ulat karung sedang dalam keadaan mabuk atau pengaruh obat saat melakukannya.
Tapi menikah dengan Valentino? Wanita itu menelan ludahnya sendiri. Dapat dibayangkan olehnya, kehidupan disiplin yang harus dijalaninya.
Bahkan ketika bernapas pun mungkin harus diatur oleh seorang Valentino. Wanita yang bingung harus bagaimana, hanya dapat menurut. Berharap tidak menanggung malu, kala Valentino tidak datang.
Wanita yang masuk ke dalam rumahnya. Tanpa beberapa olahan nangka yang kemarin dijajakannya.
"Kamu sudah pulang? Semua pergi mencarimu. Karena kamu tidak pulang semalaman. Zizy kenapa? Zizy kemana?" tanya Juni, sang ibu benar-benar cerewet.
Jantayu dan Rusli yang baru datang dari mencari Zizy pun juga ikut mendekat."Kenapa semalaman tidak pulang? Bapak cemas," ucap Rusli memeluknya.
Karena inilah Zizy tidak bisa marah pada kedua orang tua atau saudaranya. Mereka memang memanfaatkannya, memerasnya seperti kain pel. Namun, lebih dari itu mereka menyayanginya. Hanya saja keadaan yang membuat mereka seperti ini. Sudah berusaha tapi tidak bisa.
"Aku fikir kakak kabur dari rumah," celetuk Ernest, tersenyum pada kakaknya. Sedangkan Sita hanya melihat mereka dari jauh, menyuapi anak-anaknya.
Beban hidup yang benar-benar berat ada di punggungnya. Tapi setidaknya iblis bernama Valentino sudah berjanji akan membuatnya kembali bekerja. Tapi satu yang ada di fikirannya, bagian pangkal pahanya masih perih hingga saat ini.
Makhluk ganas itu tidak mengijinkannya istirahat semalaman. Dirinya bingung saat ini, sudah tidak perawan lagi, bagaimana jika yang dikatakan Valentino benar, dirinya akan segera mengandung. Mengambil kemungkinan di permalukan karena Valentino yang tidak datang. Pada akhirnya Zizy angkat bicara.
"Bisa bicara di ruang tamu. Ada hal penting yang mau Zizy sampaikan," ucapnya tertunduk.
*
Teh hangat tersaji, udara terasa cukup dingin walaupun siang telah menyapa. Hari ini Jantayu yang biasanya bekerja serabutan sengaja tidak bekerja, untuk mencari adiknya Zizy yang semalaman tidak pulang.
Wanita itu terlihat ragu, mengigit bagian bawah bibirnya sendiri mulai angkat bicara."Nanti siang sekitar tiga jam lagi ada orang yang akan datang melamar Zizy. Bisa ibu, bapak, Ernest dan kakak bantu persiapkan?"
Zizy tertunduk, jika Valentino tidak datang. Malu juga tidak apa, lagipula setelah ini dirinya akan kembali bekerja di kota. Mengapa tidak melaporkan Valentino pada pihak kepolisian? Tentu saja karena dirinya tidak melawan saat Valentino melakukannya. Entah s*tan jenis apa yang merasukinya, tapi idola sejuta umat itu memang terlihat sempurna. Tidak heran banyak wanita yang hanya dapat berimajinasi menghabiskan malam dengannya.
Masih trauma? Tentu saja, dirinya dibuat tidak berdaya di tempat tidur bahkan untuk berdiri saja susah. Kehormatannya hilang, dirinya tidak menangis lagi seperti semalam. Lagipula nasi sudah menjadi bubur, tinggal ditambah kerupuk dan suiran ayam, diberi kecap dan seledri serta bawang goreng. Dengan kata lain, tidak usah dipikirkan. Pasti akan ada jalan lain yang didapatkannya.
Banyak wanita kota yang masih SMU tapi tidak perawan. Dirinya sudah berumur 30 tahun, tidak membenarkan. Tapi bagaimana? Ini sudah terjadi. Melakukan dosa, namun jika menghukum diri sendiri juga salah.
"Siapa?" tanya Rusli antusias.
"Nanti dia akan memperkenalkan diri. Dan ini uang darinya. Belikan kue kering dan panggil tetangga serta anggota keluarga terdekat. Sita kamu punya bedak dan lipstik?" Zizy menoleh pada adiknya. Dengan cepat sang adik yang memang pas-pasan menggeleng.
Zizy memijit pelipisnya sendiri, dirinya memang harus ke salon. Hanya menuruti perintah Valentino meskipun dalam hatinya Zizy yakin 200% Valentino tidak akan datang.
Hingga beberapa jam berlalu, seluruh persiapan sudah selesai dalam waktu 2 setengah jam. Seperti yang ditekankan Valentino ketika di kantor. Semuanya harus disiplin terhadap waktu, itulah yang ada dalam benak Zizy.
Hingga kala dirinya yang sudah di rias salon murah duduk menunggu di ruang tamu kakaknya Jantayu datang berlari dari luar sana."Zizy! Yang mau melamar kamu Jaka?" tanya sang kakak menatap heran. Pasalnya Jaka dan orang tuanya sudah masuk ke pekarangan rumah mereka.
Zizy memijit pelipisnya sendiri. Kemana sebenarnya ulat karung bernama Valentino?
*
Harus tampil maksimal? Itu yang ada dalam prinsipnya. Pemuda yang kini tengah diikuti beberapa pramuniaga. Membawa benda-benda yang akan dibawanya untuk menikahi anak orang. Susah payah orang tuanya membesarkan anak mereka, tapi diambil begitu saja tanpa modal? Itu bukan prinsip seorang Valentino.
"Dan yang itu..." Ucapnya menunjuk ke arah benda yang akan membuat lamarannya tidak dapat ditolak. Sebuah pakaian panas bagaikan saringan tahu, jika lamarannya di tolak. Tinggal katakan terus terang di depan umum tentang hal yang terjadi semalam. Itulah gunanya mengundang tetangga bukan?
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
sukses ya kak💪