Dia datang untuk menemui saudara kembarnya tapi kenyataan pahit harus dia terima, saudara kembarnya sudah meninggal dua hari sebelum bertemu dengannya.
Lila meninggal karena kecelakaan, mobil yang dia kendarai masuk ke dalam jurang.
Luna hadir ke dalam keluarga tersebut, dan menyamar menjadi seorang pembantu, dan dia menemukan fakta bahwa saudara kembarnya meninggal tidak wajar. Ada sekelompok orang yang sengaja ingin melenyapkan nya.
Luna marah dan bersiap untuk balas dendam, satu persatu informasi dia dapat dan perlahan dia memberikan hukuman kepada para penjahat tersebut.
Bagaimana Luna membalas mereka semua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamie kembar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Miranda
"Non Luna kenapa?"
Deg, jantung Luna seakan berhenti berdetak, siapa lagi ini?" batinnya
Tak kehabisan akal, Gadis itu berbalik masih dengan cara yang lama, memejamkan mata dan berusaha senatural mungkin jika dia sedang tertidur.
"Aneh, tadi kayaknya lagi ngomong, kok sekarang tidur ya?" ucap bik Anne pelan.
Bik Anne mendekat dan menggoyang goyangkan tangannya di depan wajah Luna, namun tak terjadi apa-apa.
Luna makin berakting, dia berjalan lurus dan sengaja menabrak Bik Anne hingga dia terjatuh begitu juga dengan wanita paruh baya itu.
"Auw..." ucap Luna dan bibik bersamaan.
Luna membuka matanya dan berpura-pura terkejut, "Bibik? Di.. dimana ini?" tanyanya dengan gaya panik.
"Bibik?" lagi dia bertanya dan terlihat kaget seolah begitu terkejut. "Bibik enggak apa-apa? aduh pasti ini ulahku?" ucapnya penuh penyesalan dan menolong bibik untuk bangun.
"Non Luna kenapa?"
"Maaf ya Bik, Luna punya kebiasaan buruk, kalau..kalau Luna sering tidur sambil berjalan, maafin Luna ya Bik."
Bibik diam dan menatap Luna, gadis itu kembali bersuara, "Aku pasti sudah merepotkan bibik, tapi aku nggak merusak apa-apa kan bik? nyonya nggak tau kan?" ucapnya lagi masih dengan gaya paniknya.
"Kenapa?" tanya bibik memicingkan mata.
"Aku takut di pecat Bik, padahal ini baru hari pertama aku bekerja, tolong ya Bik jangan bilang sama nyonya, aku mohon, aku butuh sekali pekerjaan ini." mohon Luna
"Bagaimana jika nyonya tahu,Atilah aku," ucap Luna dengan ekspresi sangat sedih,
"Mau tinggal dimana aku ini?" hiks...hiks... lagi Luna semakin berakting.
"Tenanglah, bibik enggak akan bilang ke siapapun, ya sudah sana kamu balik ke kamarmu."
"Beneran Bik!" ucap Luna dengan mata berbinar
"Iya," sahut Bik Anne sambil tersenyum lucu.
"Makasih Bik." sahut gadis itu dan memeluk Bik Anne. "Eh maaf ya Bik," ucapnya cengengesan lalu berlari menuju kamar nya.
Bik Anne hanya geleng kepala melihat tingkahnya, "Gadis yang lucu, dia polos sekali," ucap bik Anne pelan.
"Hampir saja aku lupa, aku ingin melihat tuan" ucapnya pelan. Lalu dia naik keatas untuk melihat tuannya, dan seperti biasa dia harus menjaga dan mengawasi Surya Atmaja, seperti yang diperintahkan oleh Miranda.
"Malam Nyonya?" ucap bik Anne memberikan hormat.
"Apa kau tadi bertemu gadis bodoh itu?"
"Iya nyonya, dia juga menabrak saya,"
"Apa itu benar? atau dia sengaja membohongi kita?" tanya Miranda dengan tatapan curiga.
"Saya rasa tidak nyonya, memang ada penyakit seperti itu, tapi tidak berbahaya, dia hanya suka berpindah tempat saat tidur."
"Ya sudah, kau jaga tuan, saya mau istirahat."
Setelah itu Miranda melangkah keluar kamar, menuju kamar pribadinya.
***
Jam setengah tujuh pagi. Rena telah duduk di meja makan, dia berteriak karena belum ada makanan tersedia disana.
"Luna.. Luna.." panggil gadis itu berteriak-teriak.
"Ya non?"
"Hei bodoh, mana sarapannya? apa yang kau lakukan di dapur, sampai sarapan pun tidak tersedia, enak banget lo, ngapaian aja Lo dari tadi, dasar lelet!!"
"Maaf non, biar saya ambilkan." Luna berjalan ke dapur, dan kembali dengan membawa nasi goreng, sepiring omlette, dan sosis goreng.
"Ini non sarapannya." Luna meletakan nasi goreng di depan Rena, namun dengan cepat gadis itu menepisnya hingga nasi goreng itu terjatuh ke lantai dan berserakan.
Rena berdiri dan mendorong Luna hingga gadis itu terjatuh ke bawah, "Dasar kampungan? makanan apa ini!! kau pikir aku mau sarapan itu?" ucapnya membentak Luna.
"Maaf non,"
"Ada apa ini?" tanya Miranda yang keluar kamar karena mendengar suara ribut-ribut.
Wanita paruh baya itu, sudah terlihat cantik, berpakaian rapi dan wangi.
" Ada apa ini, sayang. Kenapa pagi-pagi sudah ribut," tanya nya lagi pada Rena yang terlihat cemberut.
"Ini loh Ma, aku lagi kesel banget, tuh lihat pembantu bodoh ini nggak becus buat sarapan, pokoknya aku nggak mau, pecat dia!!"
"Luna mana kopi saya?" tanya wanita itu.
"Maaf Bu, sebentar akan saya buatkan," Luna berlari ke dapur.
"Sudahlah Ren," ucap Miranda lalu duduk di samping anaknya.
Rena yang masih kesal membuang muka, "Dari mana sih, Mama bisa merekrut pembantu bodoh, dan kampungan seperti dia, masak sarapan aja nggak becus kayak gini, bisa-bisa ntar dia ngeracunin kita."
"Sudahlah Ren, jaman sekarang susah cari pembantu, kamu terima aja ya!" bujuk Miranda
Sementara di dapur Luna menggeram kesal dan mengepalkan tangannya menahan emosi. Ingin sekali dia membalas dan meremas mulut pedas Rena.
'Sabar lun, sabar. Permainan baru dimulai, berarti selama ini mereka juga menyiksa lila.'
Setelah mengatur napas dan merasa lebih baik, Luna membawa kopi ke hadapan Miranda.
"Lelet!" ejek Rena, Luna tak menjawab, dia meletakkan kopinya dan bersiap pergi, namun tidak hanya sampai disitu, Rena sengaja menjulurkan kakinya hingga Luna tersandung dan jatuh. Luna terduduk di lantai di samping meja makan bahkan tubuhnya membentur kursi.
"Jalan aja nggak becus, cih!!!!" ejeknya
Luna kembali mengepalkan tangannya, mendengar hinaan dari Rena dan Miranda, namun dia belum berani bertindak karena dia masih membutuhkan pekerjaan ini. Hanya ini jalan untuknya mencari tau dimana dan mengapa saudara kembarnya menghilang.
"Sabar Luna, sabar..." berulang kali kata itu dia ucapkan di dalam hati untuk menenangkan jiwanya.
'Pasti hal yang sama yang di lakukan mereka kepada Lila."
"Bangun, ngapaian Lo disitu?" bentak Rena lagi
"Rena sudah," ucap Miranda
"Luna kau bersihkan itu, lalu setelah itu bereskan kamar saya."
"Iya nyonya." sahut Luna berjalan menuju dapur.
"Mama ih..."
"Mama membutuhkan dia sayang, mama punya rencana baru."
"Rencana apa Ma?"
"Nanti juga kamu tau. Sudah cepat habiskan makananmu."
Luna kembali membawa sapu dan kain untuk membersihkan lantai, dia menahan amarahnya agar tidak segera mengamuk.
Setelah selesai, Rena berjalan keluar, bersiap untuk pergi. Miranda masih betah duduk dan menikmati makanannya.
"Mama.. Mama..." terdengar suara Rena menjerit dari luar.
Miranda meletakkan sendoknya dan berjalan keluar,
dengan wajah kesal, melihat apa yang telah terjadi pada putrinya, mengapa dia berteriak.
"Ma..." terdengar lagi teriakan Rena
"Apa sih Ren, masih pagi udah teriak-teriak," sahut Miranda kesal
"Lihat nih!" ucapnya menunjukkan ban mobilnya yang kempes.
Miranda menoleh, dia juga kaget karena tak hanya satu tapi ada dua ban mobilnya yang kempes.
"Lun...Luna..." panggil Rena
Luna yang sedang mengintip di dekat jendela pun tertawa, "rasain Lo, emang enak, itu baru permulaan." ucapnya dalam hati.
"Luna..." lagi terdengar suara Rena memanggil bahkan lebih kuat dari sebelumnya.
"Ya.." gadis itu berjalan tergopoh keluar menemui sang majikan, sengaja berdiri di dekat Miranda.
"Kamu apakan mobil ku?" teriak Rena berjalan kearah Luna dan menarik rambut nya.
"Auw...ampun non, sakit. Saya tidak melakukan apapun, beneran, nyonya bukan aku yang melakukan nya." mohon Luna pada Miranda.
"Ren, udah. Sejak tadi kan Luna di dapur, mungkin memang ban mobil kamu yang bocor."
"Tidak mungkin, ngaku kamu?" lagi Rena menarik rambut Luna dengan kuat.
"Ampun non, bukan saya." ucap gadis itu memohon, padahal di dalam hatinya dia sangat kesal.
"Rena lepas," ucap Miranda menarik tangan Rena, hingga jambakannya terlepas.
"Rena..." ucap Miranda lagi
"Gimana ni Ma, aku bisa telat, gara-gara pembantu sialan ini!" lagi dia menunjuk Luna masih dengan wajah penuh amarah.
"Ya sudah naik taksi aja."
"Tapi Ma," ucapan terhenti kala melihat sebuah mobil hitam masuk kedalam pekarangan rumahnya,
"Daren" panggil Rena dengan senyum manis, wajahnya berubah 180 derajat menjadi manis.
"Maaf aku telat," ucap Daren lagi
"Tidak masalah untung kamu datang, jika tidak bagaimana aku bisa ke kantor, mana ada rapat penting lagi." sahut Rena bergelayut manja.
"Kita berangkat yuk?" ajak gadis itu lagi
"Sebentar aku pamitan pada Tante Mira dulu," sahut Daren melepas kan cekalan tangan Rena dan berjalan kearah Miranda.
"Pagi Tante,"
"Pagi,"
Jangan ditanya wajah Luna, gadis itu sangat terkejut melihat sikap Rena yang mesra pada Daren.
"Bukan kah semalam dia menangis histeris di depanku, kenapa dia tiba-tiba bermesraan dengan Rena. Apa mereka punya hubungan spesial. Tapi bukan kah dia kekasih Lila? ada apa ini sebenarnya?" tanya Luna dalam hati.
Rena yang buru-buru langsung menarik Daren dan mengajaknya pergi.
"Sayang aku udah telat, ayo."
"Iya sebentar,"
"Tante, kami pergi dulu.."
"Hati-hati dijalan," sahut Miranda
'Apa dia panggil sayang, aku yakin ada yang tidak beres diantara mereka, kasihan sekali Lila memiliki pacar seperti itu.' batin Luna geram
Daren berjalan disamping Rena, namun dia masih sempat melirik Luna yang berdiri di belakang Miranda. Daren sedikit terkejut melihat wajah Gadis itu yang tidak berbeda jauh dengan wajah Lila kekasihnya.
Muncul pertanyaan di hati Daren 'Siapa gadis itu kenapa sangat mirip dengan Lila? '
"Ren,"
"Ya..."
"Perempuan tadi siapa?"
"Oh itu, pembantu baru, kenapa?"
"Enggak tapi aku merasa dia mirip dengan Lila, iya nggak sih?"
"Awalnya sih aku kira iya, tapi dia orang yang berbeda, dia berasal dari kampung yang sangat jauh dan biro jasa ART yang mengirimkannya ke rumah."
"Oh.."
"Kenapa sih mas?"
"Bukan apa-apa, aku hanya takut dia itu mirip Lila, bisa gawat rencana kita."
"Kamu tenang aja mas, Lila nggak mungkin kembali aku yakin dia sudah mati, "
"Syukurlah, kalau tidak bisa gawat rencana kita."
"Iya mas, aku juga berpikiran begitu, tapi kamu tenang saja sebentar lagi si tua bangka itu juga akan mati menyusul anaknya, jadi tidak ada lagi orang yang menghalangi kita menguasai semua hartanya."
"Kau benar sayang" sahut Daren tersenyum lebar.
Dirumah, Luna berjalan masuk ke dalam mengikuti langkah majikannya.
"Luna bereskan semuanya, setelah itu kau ikut dengan saya."
"Iya nyonya."
Miranda tersenyum licik, dia memikirkan ini sejak semalam, Miranda ingin memanfaatkan wajah Luna yang mirip dengan Lila dan dia ingin mempermak Gadis itu serta membawanya menemui Surya, dan memintanya menandatangani surat wasiat yang baru.
"Apa yang dia pikirkan? mengapa dia tersenyum seperti itu,"batin Luna
"Cepatlah,"
15 menit kedua kemudian Luna keluar dengan menggunakan pakaian rapi, pakaian yang diberikan oleh Miranda tadi.
"Maaf Bu, saya rasa saya tidak cocok pakai baju ini. Saya rasa saya tidak pantas memakainya,"
"Tidak masalah, ayo ikut aku!" ucapnya berjalan menaiki tangga.
othor fokus 1 novel aja spy g salah, yg baca jd bingung & byk typo lho SMP part ini
hpmu jgn lupa diambil, lumayan merekam smua obrolan bs jd bukti
skip" obrolan pas nenek lampir & anak'a
siapa hayo yg kepoin Luna...