NovelToon NovelToon
THE BLACK HUNTER

THE BLACK HUNTER

Status: tamat
Genre:Komedi / Detektif / Diam-Diam Cinta / Identitas Tersembunyi / Romansa / Dendam Kesumat / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Tamat
Popularitas:303.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: poppy susan

Valerie adalah seorang detektif handal dan cantik, selain handal memecahkan masalah, Valerie juga seorang wanita yang tangguh dan kago beladiri.

Suatu saat, Valerie mendapatkan tugas untuk memecahkan sebuah masalah pembunuhan berantai yang terjadi di sebuah sekolah menengah atas dengan korbannya hanya para siswi perempuan saja.

Valerie menyembunyikan identitasnya dan menyamar sebagai siswi SMA yang culun dan polos untuk menemukan siapa dalang di balik pembunuhan berantai itu.

Akankah, Valerie menemukan pelakunya atau justru nyawa dirinya sendiri yang akan terancam?



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedatangan Jesika

🕵‍♀

🕵‍♀

🕵‍♀

🕵‍♀

🕵‍♀

Dion, Valerie, dan Julian sampai di kantor The Black Hunter. Valerie dan Julian langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa, sungguh saat ini mereka sangat lelah.

Dion terduduk dan terdiam. "Siapa orang itu? Kenapa aku curiga sama tetangga baru Valerie," batin Dion.

Tiba-tiba pintu terbuka, menampilkan sosok wanita cantik.

"Dion!" teriak Jesika dan langsung memeluk Dion membuat Dion terdiam.

Valerie dan Julian yang baru saja memejamkan matanya langsung terbangun dan mendongakan kepalanya.

"Jesika."

"Aku rindu sekali sama kamu, Dion."

"Jesika, kapan kamu pulang?"

"Baru saja dan aku langsung ke sini karena rindu banget sama kamu," sahut Jesika dengan manjanya.

Valerie dan Julian saling pandang, hingga keduanya pun mengangkat bahunya tanda tidak peduli dan melanjutkan tidurnya.

"Ayo, ke ruanganku jangan di sini," ajak Dion dengan menarik tangan Jesika.

Jesika adalah teman masa kecil Dion, sudah sejak lama Jesika menyukai Dion tapi Dion hanya menganggapnya sebagai adik saja. Dion sangat menyayangi Jesika layaknya saudara, bahkan apa pun yang Jesika mau, Dion akan mengabulkannya.

"Dion, ini perusahaan apa sih? Kok pakaian karyawannya aneh gak formal, kaya yang mau jalan-jalan saja," seru Jesika.

"Sama seperti perusahaan-perusahaan yang lainnya, cuma aku tidak mau semua karyawanku memakai pakaian formal, biar beda aja daripada yang lain," sahut Dion santai.

Jesika tidak tahu kalau Dion seorang detektif, begitu pun dengan keluarga yang lainnya. Papa Dion juga seorang detektif legendaris, dan semua keluarga tidak ada yang tahu, hanya Dion dan Mamanya yang tahu karena kalau sampai semua orang tahu, akan berbahaya bagi dirinya sendiri.

Jesika hanya tahu kalau Dion mempunyai sebuah perusahaan, tapi Jesika tidak tahu kalau itu hanya penyamaran semata. Orang-orang hanya tahu itu sebuah perusahaan, tapi mereka tidak tahu kalau di dalamnya merupakan markas besar The Black Hunter.

"Kok, peraturannya aneh banget."

Dion hanya tersenyum menanggapi ocehan Jesika.

"Oh iya, Dion, Mami sama Papi aku ingin bertemu denganmu bahkan orangtuaku sudah mengundang Tante Helen dan Om Lion untuk bertemu di sebuah restoran nanti malam, kamu datang ya?"

"Pasti dong."

Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 16.00 sore.

"Val, Jul, bangun sudah sore," seru Rossa dengan menepuk pipi keduanya.

Valerie dan Julian pun terbangun. "Ini jam berapa, Mbak?" tanya Valerie.

"Jam 16.00 sore."

"Bos Dion sudah pulang?"

"Sudah, tadi sama wanita itu."

"Wanita itu siapa, Mbak?"

"Mbak juga gak tahu, pacarnya mungkin."

"Beruntung banget ya Mbak, dia bisa mendapatkan Bos Dion, sudah tampan, kaya, jago beladiri, pokoknya Bos Dion idaman banget," seru Valerie dengan senyumannya.

"Hooh Val, kapan ya kita punya pasangan kaya Bos Dion," seru Rossa.

"Halah, kalian lupa ya kalau di sini ada pria tampan? Aku juga gak kalah tampan kok sama Bos Dion," seru Julian.

"Modal tampan doang mah gak ada apa-apanya."

Valerie bangkit dan mengambil jaketnya..

"Kamu mau ke mana, Val?"

"Pulanglah, memangnya mau ke mana lagi."

"Ayo, aku anterin kamu pulang."

"Harus dong."

Julian pun bangkit dan mencari-cari kunci mobilnya.

"Mbak lihat kunci mobil?"

"Enggak."

Julian terdiam sejenak dan memikirkan di mana kunci mobilnya, hingga akhirnya Julian menepuk jidatnya sendiri.

"Astaga."

"Kenapa, Panjul?" tanya Valerie.

"Mobilnya kan ditinggal di rumah kosong itu, berarti aku harus balik dulu ke sana dong? Val, anterin aku ya ke sana."

"Ogah...."

Valerie langsung berlari meninggalkan Julian tapi Julian pun menyusul Valerie. Julian terus saja membujuk Valerie, hingga akhirnya Valerie pun mengalah dan ikut Julian mengambil mobilnya.

Setelah mengambil mobil, Julian pun mengantar Valerie pulang. Di saat Valerie hendak membuka pintu rumahnya, terdengar bunyi benda jatuh dari rumah sebelah.

"Suara apaan tuh?" gumam Valerie.

Valerie awalnya tidak mau memperdulikan suara itu, tapi Valerie mendengar suara kembali kali ini terdengar pecahan kaca. Jiwa detektif Valerie muncul, akhirnya Valerie memutuskan untuk masuk ke rumah sebelah.

"Lah, gerbangnya di gembok, bagaimana aku bisa masuk," gumam Valerie.

Tapi lagi-lagi Valerie mendengar benda berjatuhan membuat Valerie semakin curiga dan takut terjadi kenapa-napa, hingga akhirnya Valerie memutuskan untuk memanjat gerbang itu.

Setelah berhasil memanjat gerbang, Valerie pun segera mengetuk pintu.

"Maaf, apa di rumah ada orang?" teriak Valerie.

Tidak ada jawaban sama sekali, tapi Valerie merasa sangat khawatir. Valerie pun memutuskan untuk mendobrak pintu rumah itu, butuh beberapa kali Valerie mendobrak pintu rumah, hingga untuk kesekian kalinya, Valerie pun berhasil mendobraknya.

Valerie mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan, Valerie pun naik ke lantai dua. Suara benda jatuh itu terdengar dari salah satu kamar, dengan penuh kewaspadaan, perlahan Valerie membuka pintu kamar itu.

Betapa terkejutnya Valerie, saat melihat seorang pria kurus yang kaki dan tangannya terpasung. Pria itu terjatuh dari tempat tidur, terlihat piring yang berisi makanan pecah berseraka.

Valerie menghampiri pria itu. "Anda, tidak apa-apa?" tanya Valerie.

Pria itu mendongakan kepalanya dan menatap tajam ke arah Valerie, mata yang penuh kebencian seakan pria itu ingin membunuh Valerie.

Pria itu menendang Valerie sehingga Valerie terjungkal ke belakang.

"Kamu harus mati," seru pria itu.

Valerie membelalakan matanya, tidak tahu maksud dari ucapannya.

"Anda kenapa? Aku tidak mengenal anda, tapi kenapa anda ingin membunuhku?" seru Valerie.

"Kamu harus mati."

Pria itu mengeluarkan pisau lipat dari laci di sampingnya, padahal tangan dia di pasung tapi dia bisa dengan mudahnya mengambil pisau itu karena pasung di pakai tidak memakai rantai, jadi hanya tangannya seperti di borgol cuma bedanya kalau borgol polisi itu terbuat dari besi sedangkan ini dari kayu.

Valerie mulai mundur perlahan, dia yakin kalau pria di hadapannya itu tidak main-main dengan ucapannya. Tanpa aba-aba, pria itu langsung melempar pisau lipat itu ke arah Valerie, untuk Valerie dengan sigap menghindar dan pisau lipat itu menancap di dinding.

Valerie memperhatikan pisau itu, dan dia ingat betul kalau pisau lipat itu mirip sekali dengan pisau yang tadi si pelaku bawa. Valerie semakin terkejut saat seseorang datang.

"Kamu sedang apa di sini?" seru pria satu lagi.

Valerie langsung membalikan tubuhnya, terlihat pria tinggi dengan kulit hitam manis dan Valerie bisa menebak kalau usianya pasti sepantaran dengan Julian.

"Maaf, tadi aku mendengar suara benda jatuh, aku khawatir takut terjadi kenapa-napa, makanya aku masuk ke rumah ini, maaf," sahut Valerie.

"Pergi!"

"Hah..."

"Aku bilang pergi dari sini, dan aku harap ini terakhir kali kamu masuk ke rumah ini, jangan pernah kamu masuk lagi ke sini tanpa seizin aku, walaupun kamu mendengar sesuatu dari rumah ini!" tegas pria itu.

"Ah iya, maafkan aku, kalau begitu aku pergi dulu."

Valerie pun hendak melangkahkan kakinya, tapi sebelum Valerie pergi, Valerie sempat menoleh lagi ke belakang terlihat pria itu berjalan dengan kaki yang diseret.

"Apa jangan-jangan dia---?" batin Valerie.

Valerie dengan cepat meninggalkan rumah itu, sesampainya di rumah, Valerie terduduk di sofa.

"Pertama di sana ada pisau lipat yang sama persis dengan pisau lipat yang dipakai pelaku, kedua, pria tadi jalannya di seret sepertinya kakinya terluka, dan bukanya tadi aku sudah berhasil menembak kaki si pelaku, apa jangan-jangan dia pelakunya? Aku harus menyelidiki orang itu, sepertinya orang itu mencurigakan," gumam Valerie.

***

Malam pun tiba....

Di sebuah restoran mewah, dua keluarga sedang melakukan makan malam bersama. Jesika selalu saja bersikap manja kepada Dion membuat kedua orangtua mereka tersenyum.

"Lion, bagaimana dengan perjodohan itu, apa kamu sudah setuju?" tanya Ferdinan yang merupakan Papa Jesika.

"Kalau aku terserah Dion saja, soalnya aku tidak suka memaksakan kehendak anak," sahut Lion.

"Bagaimana Dion, apa kamu setuju kalau kami menjodohkan kamu dengan Jesika putri kami?" seru Ferdinan.

"Maaf Om, dari dulu Dion hanya menganggap Jesika seperti saudara Dion sendiri jadi Dion tidak punya perasaan apa-apa kepada Jesika," sahut Dion.

"Dion, tapi aku sudah menyukaimu dari dulu, masa kamu tidak peka akan perasaanku?" seru Jesika dengan kesalnya.

Dion mengusap kepala Jesika dengan senyumannya.

"Kita itu lebih cocok jadi saudara, Jes, dibandingkan jadi pasangan, jadi aku tidak setuju kalau harus dijodohkan."

"Jangan-jangan, kamu sudah punya wanita yang kamu cintai?" seru Jesika.

"Sudah, eh."

Dion kaget sendiri, kenapa mulutnya jadi bilang dia sudah punya pasangan padahal boro-boro pasangan, calon wanita yang dia sukai pun tidak ada.

Jesika tersenyum licik. "Aku tahu kamu belum mempunyai pacar, tapi itu alasan kamu saja untuk menolakku," batin Jesika.

"Oke, begini saja selama waktu 3 bulan beri aku kesempatan untuk membuatmu jatuh cinta kepadaku, tapi kalau selama 3 bulan itu aku tidak berhasil membuatmu jatuh cinta kepadaku, aku akan mundur dan tidak akan mengganggu kamu lagi," seru Jesika.

"Oke."

Kedua orangtua mereka hanya saling pandang satu sama lain, mereka hanya tersenyum karena mereka tidak mau ikut campur masalah pribadi anak-anaknya.

1
aas
seruu banget ka ceritanyaaa 😍😍😍 mau liat tulisa kk yg laiin
aas: siiapp.. nanti ku baca yg lain 🤗
total 2 replies
aas
laaah dia pengen lagi 😂😂
aas
dahlah anak bapak sama aja 😡
aas
hidiiiih kakak adik sama aja. org kelakuannya begitu 😡
aas
tebakanku benar 👍
aas
ah si Papi ganggu aja 🤭🤭
aas
syedihnya Vale 😭😭 semoga jadi sama Dion yaa jd bisa punya Mami Papi yg baik ortunyaa Dion 😍😍
aas
wkwkw sorry Dion Papi Mami kamu lebih berkuasa 😂😂😂
aas
hayooo lhooo 😆😆😆
aas
langsung keselek aaah baru sayang doang 😂😂
aas
waduuuh ini bapaknyaa 😩 sekeluarga rada2 gitu??
aas
kayanya pria yg smlm itu yaa
Ajeng Sripungga
Luar biasa
ꪻ꛰͜⃟ዛ༉🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ🌸
nggak kelanjutan nya ya Thor? cerita sebagus ini aq baru baca di THN 24
ꪻ꛰͜⃟ዛ༉🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ🌸: terimakasih author 🌹
total 2 replies
ꪻ꛰͜⃟ዛ༉🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ🌸
ini yang di hotel dan penjual cilok sprtinya the black Hunter bosnya Julian dan valeri
Ratu Fadira
valerie kúrang hebat malah terkesan ceroboh
Ratu Fadira
pasti ketua black hunter cowo yg ada di hotel yg berkelahi sm valery
lily
kasian jesikaaa,,, kena semburan 🤣
lily
mang Udin kah? atau kepsek
lily
kalo disekolah itu sudah nggak aman, para ortu siswa siwi bukannya ketar ketir ya ada demo atau ada apa gtu kan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!