Niat awal menolong pria paruh baya dari pencopet justru membuatku berakhir di dalam pernikahan. Aku di lamar oleh anak pria yang kutolong, calon suamiku hampir mendekati sempurna. Namun pria keturunan Jerman- Solo itu bertolak belakang dengan kepribadian aslinya yang beku. Pernikahan ini aku kira indah seperti kelopak bunga di taman. Namun semua ini hanya kepalsuan, hidupku seperti di dalam penjara sangkar emas, aku memiliki rumah mewah tapi tidak di beri uang. Aku memiliki suami yang hampir sempurna tapi tidak pernah di anggap ada.
Akankah aku dapat melewati bahtera rumah tangga yang pelik ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dea Sismala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rival
Morning
Menyenangkan sekali bisa kembali ke rumah ini. Nyamannya batinku, aku sampai lupa bahwa kakiku masih tidak bisa untuk digerakkan, harusnya aku terapi menurut saran dokter. Dokter bilang ini hanya lumpuh sementara, bukan lumpuh total. Aku bersyukur karena ada kemungkinan besar untuk sembuh.
Kulihat kamar ini masih sama seperti sebelumnya dengan wangi bunga Jasmine kesukaanku. Aku senang sekali sekarang, harusnya aku mengucapkan terima kasih karena ia telah menjemputku, tapi mulai sekarang aku harus bersikap acuh agar ia tidak mengusirku kembali. Pria brengsek itu memang menyebalkan. Matahari telah bersinar malu- malu menampakkan kecantikannya, aku melihatnya sangat cantik seperti seseorang yang saat ini sangat kurindukan, ibuku.
Suara pintu terbuka membuat ku menoleh, siapa itu? batinku apakah si mbok. Aku salah besar kulihat pria arogan itu melangkah menghampiriku. Cepat- cepat aku membuang muka agar tidak terlihat betapa senangnya aku sekarang. Harusnya sekarang aku kegirangan dan mengucapkan seribu ungkapan cinta. Namun aku harus bersikap acuh agar ia tidak keterlaluan padaku.
"Bagaimana tidurmu semalam?" Tanyanya seperti mengintrogasi pasien yang mencuri inpus. Ayolah apakah tidak ada kalimat yang tidak baku untuk hubungan suami istri, misalnya honey apa aku bisa menemani pagimu? Ia benar- benar pria membosankan.
"Menurutmu," ucapku dingin tanpa menatapnya.
"Perempuan kampung ini....! " ungkapnya kesal menatapku. Aku hanya diam mengabaikan celotehannya. Biarkan saja sekarang ia seperti pitbull yang di abaikan.
Mungkin karena kesal kini ia berdiri tepat di hadapanku, seksi sekali dengan setelan jas kantor. Pemikiran mesum macam apa ini! Sebaiknya aku harus segera ke dokter untuk memeriksa otakku, siapa tau ada yang salah.
"Pria kota diamlah, aku sangat tidak ingin di ganggu." Ucapku kembali acuh menatap lurus ke arah televisi yang berisi tayangan Boboiboy.
"Ling..!! Yaya..!! Dan super hero kita...!! Boboiboy...!!! "
Baru saja aku ingin melihat Adudu merebut coklat atok Abah. Tiba- tiba Adam mematikan televisi.
"Kenapa wanita ini sekarang sangat menyebalkan dan membuatku kesal." Teriak Adam perustasi dalam hati.
"Ada apa dengan otakmu selama di Apartemen Hamzah..! " Adam kembali menatapku kesal.
"Diamlah ... pria tidak punya tanggung jawab yang tega meninggalkan wanita di halte sunyi dalam keadaan tanpa membawa uang sepeserpun. Apalagi ponsel, Benar- benar berengsek ". Adam semakin kesal saja harga dirinya seperti tercabik- cabik aku yakin sekarang. Bahkan wajahnya sudah merah padam mendengar ucapan ku karena rasa malu.
"Kenapa wajahmu! beraninya sama wanita lemah sepertiku. Dimana harga dirimu?"
"BERANINYA KAUU...!!!" teriaknya menggema dikamar ku.
"Mengapa aku harus takut, sebaiknya kamu keluar dari kamarku. Aku tidak ingin melihat wajahmu membuatku kesal saja." Ungkapku berapi- api menatapnya yang juga sama kesal denganku.
(ponsel berdering)
"Angkatlah ponselmu, mungkin kekasihmu rinduu.." ejek ku padanya, namun kali ini ia mengabaikan ku.
"Urusan kita belum selesai..! " ungkapnya berjalan menuju pintu kamarku.
"Jangan lupa tutup pintunya."
"Benar- benar menyebalkan..!! " Adam yang kesal menuruti perintahku tanpa sadar. Ia sangat menggemaskan.
****
Permintaan aneh
"Jam berapa sekarang..?! " tanya Adam padaku. Aku hanya menarik napas malas melihatnya.
"Lalu yang di tanganmu itu, apa!" Ungkapku sambil memutar bola mataku malas.
Ia tampak malu melihat di tangannya melingkar jam tangan bermerk, benar- benar pria aneh batinku. Mengapa ia sekarang betah di dekatku aku rasa ia terkena penyakit jiwa seperti Angelyn.
"Jam 10 ternyata." Ucapnya lihatlah sekarang wajahnya memerah. Aku baru tau pria arogan masih mempunyai rasa malu. Harusnya ia tidak punya perasaan, benar- benar aneh.
"Mengapa melihatku seperti itu. Jangan gila kau..! " ia balik menatapku.
"Aku ingin mandi." Ungkap ku jujur karena tubuhku sudah sangat risih sekali, sudah 2 hari tidak mandi. Ayolah, dari Apartemen pak Hamzah itu kan belum mandi.
"Lalu..?! " tanyanya heran menatapku.
"Ya gendong aku dong. Kalau kakiku bukan karena pacarmu aku juga tidak mau meminta bantuan dengan orang sepertimu."
"Benar benar kau! " teriaknya kesal mau tidak mau membantuku.
"Diamlah mulutmu bau." Ucapku berbohong tentu saja wangi, malah ini sangat membuatku ingin terbang dengan aroma daun mint.
Lihatlah sekarang wajahnya sangat memerah sambil memapah ku ke kamar mandi. Pasti ia pikir ucapan ku benar, oleh sebab itu ia tidak rewel dan mengatakan apapun. Benar- benar pria aneh, covernya saja yang horor.
"Sudah, mandilah jika sudah selesai panggil saya. Saya aku tutup pintunya. "
Dengan perasaan geli aku langsung mengangguk dengan wajah datar.
"Terimakasih. "
Aku mengatakannya tulus sekarang karena ia tumben sekali baik.
"Of course. Sudah seharusnya kau mengatakannya."
Benar- benar tidak tau malu, sebenarnya dia itu terbuat dari manusia apa, mengapa terlalu percaya diri sekali. Menyebalkan.
****
"Sudah selesaikan, aku sangat sibuk sekarang."
"Ya, pergilah tapi pesankan aku makanan enak pada si mbok. Aku lapar." Ia kontan melotot menatapku. Benar- benar seram, tapi untungnya aku sekarang sudah tahu kartu kelemahannya.
"Sudahlah sana pergi." Usir Ku, ia langsung berjalan ke bawah. Meskipun terlihat arogan namun aku pikir ia memiliki hati yang baik.
Afternoon
Ini adalah hal yang sangat membosankan, Adam sungguh pria yang arogan. Namun ketika aku menatap poto prewedding kami. Aku jadi ingat saat Adam terpaksa memelukku seperti calon istri yang paling beruntung di dunia ini serta orang yang ia dambakan. Aku mengingat jelas kebohongan dari senyuman bahagia di matanya, aroma itu aku sangat ingat. Aroma tumbuhnya dan suara seraknya membuatku menyukainya berkali- kali lipat, itu sungguh membuatku semakin mencintainya. Cinta ini ada dari awal aku melihatnya, namun kesadaran diri siapa aku. Bagaimana mungkin tokoh utama yang paling kotor bisa di cintai oleh pria menuju sempurna seperti Adam. Adam sangat tampan, terkenal di majalah bisnis dan sangat kaya raya. Tidak mungkin memilih gadis kampung sepertiku.
(Seseorang di balik pintu tampak memperhatikan wanita yang sedang duduk menangis dengan poto prewedding nya).
"Kenapa ia sangat menyedihkan, aku seperti merasakan begitu banyak luka yang ia tanggung sendiri."
"Pak Hamzah..?! " tanyaku kaget. Bagaimana Pak Hamzah bisa tahu aku disini dan dari mana pak Hamzah tahu ini kamarnya.
"Hapuskan air matamu, lihatlah sekarang dirimu sangat jelek."Mendengar ucapannya cukup membuatku kesal dan mengerucutkan bibirku.
"Heii ... gadis, maksudku wanita cantik bisakah berhenti mengerucutkan bibirmu. Lihatlah dirimu seperti ikan koi." Tawa Pak Hamzah pecah ia sungguh menghiburku.
"Jadi tujuanmu ingin membuatku kesal Pak Tua." Ejekku padanya pura- pura marah.
Ia tampak tersenyum, sungguh sangat manis.
"Hei adik kecil beraninya mengatai ku. Aku kesini ingin membawamu kerumah sakit, ada kemungkinan besar kakimu akan sembuh dan bisa kembali normal." Mendengar ucapannya aku langsung senang dan berbinar.
"Benarkah..?! " tanyaku ragu- ragu.
"Tentu saja Mahasiswi nakal, ayo saya aku membawamu kerumah sakit."
"Siap pak dosen."
"Hei..! Berhenti memanggilku dosen sini. Aku terlihat tua 70 kali lipat sekarang."
"Ternyata pria ini bisa ngambek juga". Godaku padanya langsung mengalunkan tanganku di lehernya. Ia tersenyum padaku.
"Berat sekali kamu, padahal tubuhmu seperti caca." Ucapnya pura- pura keberatan.
"What is Caca..?! " tanyaku penasaran.
"Caca coklat mungil warna- warni, keponakanku sering memintaku membelikannya itu aku jadi teringat dirimu." Ternyata dosen ini sangat lucu dan menggemaskan. Ya ampun pak dosen jangan buat aku baper dong.
"Apa kamu sudah siap..? " tanyanya setelah menutup mobil Lamborghini-nya.
"Of course sir, " jawabku lembut.
"Jangan lupa pakai sabuk pengamannya lady."
"Tentu saja tapi ini sulit," ucapku sedikit mengeluh.
"Kenapa..?! " ia langsung memperbaiki sabuk pengaman ku tanpa menunggu jawabanku.
"Sudah bersiaplah lady¿. " aku yang gugup hanya menganggukkan kepalaku mengisyaratkan iya.
🏳️🌈Benar- benar dosen aneh, bisa- bisanya ia seperti kekasihku sekarang. Mimpi apa aku.
****
"Ayo biar saya bantu. " pak Hamzah menyemangatiku menjalani terapi. Kakiku sungguh seperti jelly sangat sulit untuk berdiri.
"Tenanglah semua akan baik- baik saja." Ungkapnya lembut.
"Yes sir."
Dokter Candra mengatakan akan memberikan perawatan terbaik padaku. Ya ampun lagi- lagi aku merepotkan pak Hamzah dengan biaya perawatan yang bisa di bilamg lumayan mahal.
"Hei ada apa Vinnie..? Mengapa wajahmu terlihat murung. Apa aku menganggumu..?! " tanya khawatir padaku.
"No sir, hanya saja aku sangat merasa berhutang budi padamu." Ucapku jujur dengan wajah sedih.
"Sudahlah jangan dipikirkan, yang terpenting kesehatanmu." Jawabnya dengan lembut sambil merapikan surai rambutku.
"Maafkan aku."
"Lihat saya." Dengan wajah sedih aku menatap matanya. "Saya sangat senang menolongmu, yang terpenting kamu sembuh dulu jangan pikirkan hal lain. Karna teman- teman kampusmu sangat merindukanmu. "
"Baiklah sir."
"Good gril. Ingin pulang? " tanya lembut.
"Of course."
"Baiklah cantik alunkan tanganmu agar tidak kembali jatuh."
"Kau sungguh menggodaku sekarang." Ucapku geli sambil mengalunkan lenganku di lehernya.
******
Home
"Berapa kali kukatakan jangan pernah menganggu ketenanganku." Adam menatap dingin Hamzah yang duduk di ruang tamu aku dapat mendengar percakapan sengit mereka dari dalam kamar.
"Saya tidak menganggu anda." Jawab Hamzah tidak kalah dingin.
"Menyangkal ya." Adam mendekat dengan amarah yang tertahan.
"Sebenarnya saya yang harus bertanya pada anda. Berani sekali anda membawa orang yang telah anda campakan kembali. Padahal anda sudah mengatakan ingin pisah."
Adam nampak kesal mendengar ucapan Hamzah yang memang ada benarnya.
"BERANINYA KAUU..!!! " Teriak Adam menggema.
"Sudahlah saya masih banyak urusan sebaiknya anda beristirahat."
Bukannya Hamzah tidak gentle, namun ada hal penting yang harus ia selesaikan dibandingkan harus berdebat dengan orang gila.
Mohon maaf ya thor sampai disini aja,susah dipahami. 🙏🙏🙏
salam dari Jodoh Takkan Kemana dan Bahasa Kalbu 🤗
di tunggu feedback nya di novelku
tiba" dah disini dan tiba" dah disana
capek deh ak