NovelToon NovelToon
Mahendra'S Possessive Love

Mahendra'S Possessive Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa
Popularitas:992
Nilai: 5
Nama Author: Sonya_860

"Hidup itu bagaikan ilusi, kadang nyata kadang tak nyata. Namun kita dipaksa untuk menerima takdir, walau pun takdir itu melenceng jauh dari apa yang kita harapkan. Tugas kita hanya menerima dan menjalaninya. Mengeluh itu boleh tapi jangan terlalu sering, yang paling sering harus kita lakukan adalah berdoa pada Tuhan. Satu lagi, jangan pernah percaya akan ucapan manusia, karena sejatinya manusia itu punya dua watak yang bertolak belakang."

^^​Ziva Alqueena A.^^

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sonya_860, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

"Dan jika ada pilihan untuk pergi dan menyerah mungkin gue bakal pilih nyerah dan kabur dari masalah, nyatanya gue cuma manusia yang lemah! Gue bukan robot yang nggak punya perasaan. Dan semuanya akan pergi jika kita sudah tak tahan lagi."

~Ziva Alqueena

​Prag,

​"Heh apa - apaan kamu hah! Beraninya kamu buat baju mahal saya kotor! "

​"Maaf - maaf saya nggak sengaja "

​"Maaf kamu bilang hah! Kamu nggak bisa ganti baju mahal saya! Dasar pelayanan rendahan! "

​"Sekali lagi saya minta maaf nyonya, saya benar - benar tidak sengaja "

​"Maafkan rekan saya nyonya, teman saya tidak sengaja menumpahkan minuman ke baju anda nyonya" Bela teman kerjanya,

​"Nggak sengaja nggak sengaja saya nggak peduli. Kamu harus tanggung jawab atas apa yang kamu lakukan! Mana manajer Cafe ini! "

​"Permisi ada apa yah ribut - ribut di Cafe saya? "

​"Kamu manajer Cafe ini? "

​"Iya saya manajernya, ada apa ya? "

​"Lihat! Baju mahal saya kotor kena jus murahan anda karena ulah karyawan tak becus anda ini! "

​"Apa benar itu Ziva? "

​"Maaf buk, Ziva nggak sengaja numpahin minuman dan kena baju pelanggan buk, " Ucap Ziva menunduk, banyak pasang mata yang melihat ke arahnya dengan berbagai tatapan.

Ya yang tak sengaja menumpahkan minuman itu adalah Ziva, karena tak sengaja dirinya bersenggolan dengan rekan kerjanya yang lain, entah rekan kerjanya sengaja atau tidak ia tak tahu. Dan sialnya yang kena tumpahan minuman itu adalah seorang wanita paruh baya atau tante -tante dengan gaya mencolok jangan lupakan wajah julit dan arogan nya.

​"Saya selaku pemilik Cafe ini meminta maaf atas ke teledoran karyawan saya saat bekerja nyonya, saya akan menganti baju anda nyonya"

​"Lima belas juta! " Tak hanya sang pemilik Cafe yang terbelalak semua pengunjung dan karyawan cafe juga ikut membelalakkan matanya, mereka terkejut 15 juta hanya untuk sebuah baju? Untuk beli motor setengah pakai saja sudah dapat satu batin mereka. Sekaya apa orang itu?

​"Mohon maaf nyonya untuk uang sebesar itu saya tidak punya, "

​"Hehh sudah saya tebak kau tak akan punya uang segitu, kau hanya pemilik Cafe kecil dan karyawan mu sangat tidak memenuhi standar! "

​"Jaga bicara anda nyonya! " Sunguh ia tak suka cafe dan harga diri karyawannya di rendahkan oleh salah satu pengunjung Cafe nya.

​"Begini saja jika anda tidak mampu membayar saya dengan harga 15 juta, saya akan kasih pilihan ke dua untuk anda "

​"Apa itu? "

​"Pecat orang ini! " Ucapnya menunjuk ke salah satu pelayanan Cafe,

​Ziva menegakkan tubuhnya saat jari telunjuk itu mengarah pada dirinya, apa dirinya akan di pecat? Apa ia sudah tak bisa bekerja di sini lagi?

​Sang manajer pun tak kalah terkejut, apa yang harus dirinya lakukan sekarang?

​"Apa tidak ada pilihan lain? "

​"Tidak ada! Pilihan mu hanya ada dua, bayar 15 juta atau memecat dia! " Ucapnya memandang Ziva dengan tatapan tajam nya.

​Mendapati bosnya yang binggung, sementara semua pasang mata terus mengarah pada mereka membuat Ziva merasa bersalah dan tak nyaman akan tatapan yang mereka berikan.

​"Pecat saya saja buk, " Perkataan itu terlontar keluar dari mulut Ziva,

​Sang manajer menoleh ke arah Ziva dengan spontan, " Tapi nak Zi-"

​"Tak apa - apa buk, Ziva akan cari pekerjaan lain, mungkin ini belum jalannya untuk Ziva bekerja menjadi karyawan tetap, " Ucap Ziva dengan tersenyum walau dengan paksaan, dirinya juga tak rela ketika bosnya harus mengeluarkan uang sebesar 15 juta untuk sebuah harga baju, lebih baik dirinya mengundurkan diri lagian ini juga karena kesalahannya karena tidak bisa membawa minuman itu dengan benar. Pendapatan 15 juta itu adalah penghasilan cafe selama sebulan, walaupun ia tahu bosnya punya uang cadangan tapi ia sudah cukup merepotkan beliau untuk sekarang dirinya akan menyerah.

​"Kamu yakin nak Ziva? "

​"Ziva yakin buk, " Ucap Ziva yakin tak yakin semoga keputusannya benar.

​"Cepat pecat dia! Tunggu apa lagi kamu! " Sentak wanita itu dengan sinis.

​"Maaf Ziva ka kamu di pecat, " Ucap sang manajer pelan, bahkan dadanya rasanya sesak harus memecat karyawan yang sudah dirinya anggap seperti anak sendiri, jika di izinkan biarlah dia membayar 15 juta agar Ziva tak berhenti bekerja, karena dia tau kebutuhan Ziva lebih banyak dari nya tapi apa daya Ziva sudah memiliki keputusan sendiri.

​"Bagus bagus pilihan yang tepat! " Ucap wanita itu tersenyum mengejek ke arah Ziva.

​"Saya pergi dan ingat besok saya akan datang ke sini lagi dan yah pastikan bahwa dia sudah tak ada lagi di sini! " Ucapnya dan berlalu pergi keluar cafe,

​"Nak Ziva kamu bisa merubah pikiran kamu, nggak papa ibu kehilangan uang 15 juta asal kamu masih bisa bekerja di cafe ini. Uang masih bisa di cari nak Ziva, tapi pekerjaan? Cari pekerjaan sekarang susah nak, " Ucap sang manajer yang bernama Maria dengan tatapan lembutnya.

​"Jangan pikirkan hutang nak Ziva, ibu ikhlas bantu kamu asal kamu semangat kerja dan sekolah, "

​"Bener Ziva, kita juga akan ikut bantu ngumpulin uang tabungan kita buat ganti baju wanita itu yang penting lo nggak berhenti kerja, " Ucap salah satu dari mereka dan di angguki oleh yang lain.

​Ziva terharu akan ucapan teman kerjanya , "Sebelumnya Terima kasih, tapi kayaknya nggak perlu deh aku kayaknya kedepanya harus fokus ke sekolah apa lagi aku udah kelas 11 sebentar lagi pasti ada PKL, dan tugas sekolah lain nya" Ucap Ziva di sertai senyum manisnya,

​"Kamu yakin Dek? "

​"Aku yakin mbak, "

​"Kalau kamu berhenti kerja kita bakal kesepian nggak ada lawakan dari kamu lagi dek, " Ucap mbak Ratih dirinya sudha menganggap Ziva sebagai adiknya sendiri, bahkan dia selalu bercerita pada Ziva tentang kehidupan tau pun kisah asmaranya.

​"Nak kalau kamu butuh pekerjaan lagi kamu datang ke ibu saja yah, kamu masih punya kan nomer kontak ibu? "

​"Iya buk, Ziva masih ada suatu saat nanti kalau Ziva kangen atau pun butuh bantuan ibu Ziva bakal telfon ibuk, "

​"Sering - sering dateng ke sini ya dekk, " Mereka mendekap tubuh kecil Ziva dengan pelukan hangatnya, air mata mereka menetes tanpa diminta, mereka sekarang harus kehilangan salah satu rekan kerja bahkan teman curhat yang selalu membuat mereka tertawa akan tingkahnya dan kini hanya tinggal sebuah kenangan.

​"Sudah jangan pada mewek lah, lagian gue berhenti kerja bukan berhenti hidup. Gue pergi dulu yah kalian baik baik disini satu lagi jangan lupain teman cantik dan unyuk kalian ini yah tata.... " Ziva berjalan mundur dan melambaikan tangannya ke arah mereka semua,

​Perpisahan selalu membawa sebuah luka,

Perpisahan membawa sebuah kebahagiaan itu tidak ada! Kecuali kamu tertekan orang orang lain maka bisa saja perpisahan itu membawa kebahagian karena kamu bebas dari tekanannya. Tapi kamu tidak akan tahu bahwa lama perjalanan yang kamu lalui itu akan terus tersimpan di memori otak kamu, sejauh apapun kamu melupakannya kamu tida akan pernah bisa melupakan nya kecuali kamu amnesia, biarpun kamu amnesia lambat laun kamu juga akan kembali ingat. Ingat hidup itu terus berputar seperti jarum jam, jarum jam akan berhenti jika baterainya habis begitupun dengan kehidupan jika sudah waktunya kita juga akan berhenti dengan versi berbeda.

​.....

​Setelah memutuskan berhenti dari bekerjanya sebagai karyawan cafe kini Ziva duduk sendiri di taman memandangi arah depan dengan mata berkaca - kaca, jika dirinya sudah tidak bekerja di sana lagi lalu bagaimana dirinya mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhannya? Bayar sekolahnya?

​"Apa yang harus gue lakuin sekarang? Entah kenapa nasib sial selalu ada sama gue? Apa salah gue? Apa bener kalau gue anak pembawa sial? " Lirih Ziva dengan air mata mengenang di pelupuk matanya,

​"Dari orang rumah dan sekarang orang yang nggak gue kenal juga ikut dalam nasib gue? Apa takdir gue seperti ini? "

​Tak lama ponsel yang ada di saku roknya bergetar, Ziva mengambil ponselnya dan melihat notif pangilan yang masuk ke ponselnya, "ayah" Lirih nya dirinya langung mengangkat pangilan dari ayahnya.

​"Ha-"

​"PULANG KAMU ANAK SIALAN! " Belum selesai Ziva menyapa ayahnya namun ayahnya langsung menyerobot dengan perkataan kasar, dari nada bicaranya sepertinya ayahnya tengah marah.

​"Iya Ziva pulang, " Ucapnya dan langsung mematikan pangil annya sepihak.

​"Cobaan apa lagi ini tuhan? " Dengan gusar Ziva bangkit dari duduknya dan berjalan menuju tukang ojek pangkalan untuk sampai ke rumah.

​Saat sudah sampai di rumah Ziva melangkahkan kakinya dengan langkah berat, entah kenapa hatinya gelisah tak tenang namun sebisa mungkin dirinya berpikir positif.

​Ceklek,

Plak,

​Ziva menoleh ke samping saat tamparan keras itu mengenai pipinya tepat saat dirinya membuka pintu.

​Ziva mendongakkan kepalanya dengan jari mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah segar,

"Ayah,"

​"APA YANG KAMU LAKUKAN SAMA ANAK SAYA HAH! " teriak ayahnya penuh amarah,

​"Apa maksud ayah? " Tanya Ziva binggung, apa yang di maksud oleh ayahnya bahkan dari tadi dirinya hanya sendiri.

​"MASIH TANYA KAMU? LIHAT SANYA DIA BABAK BELUR ULAH KAMU!! "

​Ziva lantas melihat ke arah Sanya yang duduk di sofa bersama ibunya, wajah Sanya terlihat memar kebiruan, pipi bengkak, rambut dan baju berantakan jangan lupakan perban di tangan kanannya. Oke Ziva tau sekarang,

​"Bukan Ziva yang ngelakuin" Ucap Ziva, dia tak melakukan apapun dengan Sanya bahkan menemui atau bertemu di sekolah saja tidak,

​"ANAK SAYA BILANG KAMU YANG MELAKUKANNYA ZIVA! KETERLALUAN KAMU!! "

​"Jika anda lupa saya juga anak anda tuan. " Ucap Ziva, Ziva harus melawan walaupun ujungnya tak sesuai dengan apa yang dirinya harapnya.

​"Jangan pernah bermimpi jika kamu anak saya! "

​"Apa maksud ayah? " lirih Zea memandang ayahnya dengan bingung,

​"Kamu bukan anak saya Ziva! Kamu hanyalah anak tak dinggap oleh orang tua mu kamu di buang di semak - semak saat masih bayi. Tapi karena istri saya kasihan akhirnya dengan berat hati saya dan istri saya merawat kamu!! Jika bukan kemauan istri saya saya tak sudi merawat kamu dan lagi saya hanya berpura - pura menyanyangi kamu di depan istri saya. Anak kandung saya hanya SANYA DAN GOVAN mereka adalah anak kandung saya sebelum saya menikah dengan ibu mu!! Ibu mu hanya lah wanita bodoh yang tergila - gila akan ketampanan saya tanpa melihat status saya. " Ucap sarkas tuan Pandu ayah Ziva.

​Degh,

​Ziva mematung seakan percaya dan tidak percaya akan apa yang ayahnya ucapkan, ini seperti sebuah mimpi?

Apa benar dirinya bukan anak kandung dari ayahnya?

Dirinya hanya anak buangan yang tak di anggap oleh orang tua kandungnya?

​"Hahaha pasti anda berbohong kan! " Ucap Ziva tak percaya,

​"Apa yang saya ucapkan semuanya benar!! "

​Tes,

​Air mata Ziva menetes tanpa di minta kepalanya mengeleng, tubuhnya melemah bagaikan daging tanpa tulang.

​"Enggak ini pasti mimpi, iya ini pasti mimpi! " Ucap Ziva memegangi kepalanya yang berdenyut, pengakuan seperti apa ini!

Tolong jelaskan pada Ziva sekarang!

​"Harusnya saya mengatakan hal ini sejak dulu agar kau tau lebih awal dan tidak berbuat sesukamu! Ingat kamu disini hanya numpang. Rumah ini milik istriku dan nantinya akan menjadi milik ku! Saya akan menghukummu akibat kamu berani melukai putriku anak sialan! "

​Crass.

​Crass

​Crass

​Bruk

​Ayahnya terus mencambuk tubuh Ziva mengunakan ikat pinggangnya, tak ada rasa kasihan saat memberika cambukan di tubuh Ziva, di matanya hanya ada dendam yang dalam akibat putrinya kembali terluka akibat orang yang ada di hadapannya.

​Ziva hanya diam tak melawan dan tak menghindar dirinya diam menerima cambukan dari ayahnya dengan kepala terus berpikir keras untuk mencerna ucapan ayahnya,

​Bruk,

Ziva terjatuh ke lantai dingin dengan tubuh mengeluarkan darah segar yang merembes keluar dari bajunya,

​"Bangun kamu anak sialan! " Sentak nya

​"Ayah, apa aku boleh mencobanya juga? " Ucap Sanya mendekat ke arah ayahnya,

​"Ah tentu sayang kamu boleh mencobanya ini sangat menyenangkan " Ucap Pandu menyerahkan ikat pinggang nya pada Sanya Putrinya, sementara sang istri tetap duduk di sofa dengan tersenyum senang memandangi pemandangan di depannya.

​"Terima kasih ayah" Ucap Sanya saat sudah menerima ikat pinggang itu, dirinya mendekat ke arah Ziva dan bersiap mengayunkan ikat pinggang itu ke atas.

​Ctraas

​Crass

​Crass

​"Ini sangat menyenangkan ayah, " Pekik Sanya dengan tersenyum lebar,

​"Aargghhhh,, " Rintih Ziva kesakitan, Sanya mencambuk nya sangat keras tak main - main.

​"He hentikan, " Lirih Ziva sungguh tubuhnya sudah lemah sekarang,

​"Sayang sudah kasihan " Ucap sang istri

​"Tapi Sanya masih ingin bermain " Rengek nya pada sang ibu,

​"Sekarang sudah sampai sini dulu, bisa mati nanti anak orang, "

​"Huh baiklah"

​Ziva menghela nafasnya lega, akhirnya Sanya menghentikan kegiatannya.

​Brak!

​Ziva mendongak melihat tas serta koper miliknya ada di hadapan nya, dirinya mendongak melihat ke arah ayahnya yang baru saja melempar kedua tasnya.

​"Pergi kamu sari sini! Ini bukan rumah kamu lagi keluarga kami, kita tidak ada hubungan darah apapun! " Usir sang ayah,

​"Ziva harus tinggal dimana yah? " Tanya Ziva memelas, sementara apartemen yang biasanya dirinya tempati sudah di ambil alih oleh Govan kakak tirinya dan sekarang dirinya di usir dari rumah?

​"Saya tidak mau tau kamu mau tidur di long jembatan pun saya tak peduli! Yang lebih tinggi kamu keluar dari rumah saya! "

​"Tapi yah Zi–"

​"CEPAT PERGI ANAK SIALAN!! SAYA MUAK LIAT MUKA KAMU!! " Bentak ayahnya dengan lantang,

​"Baik jika itu mau ayah, Ziva akan turuti Ziva akan pergi jauh sangat jauh dari kehidupan ayah. " Ucap Ziva lirih, dirinya tak pernah berfikir jika dirinya akan di usir oleh ayahnya, Ziva dengan perlahan bangkit dan meraih kedua tasnya dengan sedikit merintih kesakitan.

​"Bagus, jangan pernah kembali! " Ucap Ayah Pandu acuh tak acuh.

​Sementara istri dan anak perempuannya tersenyum penuh kepuasan saat melihat langkah gontai Ziva meninggalkan rumah.

​.

.

.

.

Tepat jam 8 malam Ziva meninggalkan rumah yang dirinya tempati selama 16 tahun lamanya dengan penuh suka nan duka, tak ada pikiran jika dirinya bukan anak kandung ayah nya Pandu, dan pantas saja ayahnya lebih menyanyi Sanya dari pada dirinya.

Nyatanya Sanya adalah anak kandungnya sementara dirinya dirinya adalah anak orang asing bahkan dia tak tahu dimana orang tua kandungnya. Kenyataan ini sangat pahit untuk Ziva masalah satu belum selesai dan kini ada lagi masalah yang lebih besar?

​Langit malam seperti mengerti akan perasaan yang Ziva hadapi sekarang, terbukti hujan mulai turun ke bumi dengan deras, membuat Ziva yang tak mau harus berteduh di halte bus yang jaraknya tidak terlalu jauh dari dia berdiri.

​"Lucu ya takdir yang gue jalani sekarang, semua masalah menjadi satu dan dalam satu hari penutup hari lagi hahaha, " Tawa Ziva dengan air mata terus mengalir,

"ARGHHHHH GUE BENCI DUNIA INI GUE BENCI!! Hikss... Hiks.. Bundaa"

​Dirinya harus kuat apa lagi sekarang? Dan lagi ini sudah malam kemana dirinya harus mencari tempat tinggal? Sementara uang saja dirinya tak ada. Pergi ke rumah Karlota? Tak mungkin Ziva sudah banyak merepotkan keluarga Karlota untuk saat ini Ziva tak ingin merepotkan keluarga Karlota kembali.

​Ziva meraih ponselnya dan mencari kontak nomor Karlota, dia perlu bicara dengan Karlota sekarang.

​Drett,

Tak lama telfon langsung tersambung dengan ponsel milik Karlota, Ziva menghapus air matanya dan menarik nafasnya dalam - dalam.

​"Hai besty kuhh "

​"Hai Kar" Balasnya dengan tersenyum kecil walau Karlota tak akan bisa melihatnya.

​"Lo habis nangis?? "

​"Iya gue habis nangis, drakor nya sad banget mana perempuannya di bikin meninggal lagi sama selingkuhannya, gimana nggak nangis coba"

​"Ye gue kirain lo nangis apaan ternyata drakor, eh lo lagi dimana sih kok suara hujannya keras banget? "

​"Gue lagi ada di balkon kamar ini, "

​"Ouh gitu gue pikir lo lagi di luar"

​"Kar gue mau bilang sesuatu, "

​"Mau bilang apa Ziv? "

​"Kalau besok gue nggak berangkat sekolah lo gantiin gue jadi bendahara ya Kar besok kan hari sabtu waktunya kas, "

​"Kok gue? Emangnya lo mau kemana nggak masuk sekolah? "

​"Yakan lo galak tuh lo bisa dengan mudah suruh mereka bayar kas, besok gue ada urusan bentar Kar, "

​"Sialan lo! Urusan apa sih?"

​"Kepo yahh?? "

​"Nggak gue cuma penasaran aja"

​"Adalah pokoknya, yaudah yah gue matiin dulu gue di suruh tidur. "

​"Ouh Oke, "

Ziva memutuskan pangilan telfonnya dengan Karlota,

​"Maaf Kar gue harus bohong sama lo, tapi mungkin gue ngak akan kembali lagi kesekolah.... gue udah nggak punya apa apa lagi Kar," Lirih Ziva,

​"Gue harus apa sekarang? " Ucap Ziva, rasa sakit pada tubuhnya kian terasa mungkin akibat angin yang berhembus kencang menerpa tubuh nya,

​"Mahendra, " Entah kenapa bayang - bayang sosok yang selalu membuat dirinya nyaman hinggap di kepalanya,

​Ziva bangkit dari duduknya dan berjalan ke pinggir jalan raya, jemari lentiknya bergerak aktif dibatas layar ponsel mencari kontak Mahendra,

​"Mahendra, gue nggak yakin lo mau angkat telpon dari gue tapi gue berharap lo angkat Mahendra. "

​Ziva kembali melakukan pangilan telpon dengan Mahendra cowok yang mengejarnya di sekolah dan bahkan status mereka adalah sepasang ke kasih.

​"Malam sayang tumben telpon kangen hmm?? "

​"Mahen maaf... gue nyerah, selamat tinggal..." Ucap Ziva dengan bergetar menahan tangisnya,

​"Maksud kamu apa sayangg?? Kamu lagi di ma—"

​TIINNNNNN...... Tiinnnn....

​Di seberang sana mata Mahendra terbelalak mendengar tlakson mobil, tubuhnya menegang seketika pikiran negatif memenuhi kepalanya,

​"Mahendra terima kasih waktunya, jaga diri baik - vaik ya.., aku pamit, selamat tinggal.... "

​BRAKK,

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!