Rumah tangga diibaratkan sebuah perahu yang tengah berlayar di lautan lepas! Dimana suami sebagai nahkodanya, sementara isteri dan anak berperan sebagai penumpangnya. Nahkoda bertugas mengemudikan perahu agar perahu bisa sampai ditujuan dengan selamat, sementara penumpang akan mengikuti kemanapun perahu itu berlayar.
Terkadang dalam perjalanan berlayar kita dibuat bahagia dengan keindahan di lautan, angin sepoi-sepoi dan ikan-ikan yang berenang di lautan menjadi kebahagiaan yang akan kita dapatkan selama berlayar.
Lalu bagaimana jika ditengah perjalanan perahu dihadapkan dengan hantaman keras gelombang ombak dan juga badai di lautan?
Sama halnya dengan rumah tangga, gelombang ombak bisa kita artikan pihak ketiga atau wanita idaman lain.
Perahu akan bisa bertahan dari terjangan badai dan ombak besar, jika nahkoda sekuat tenaga mempertahankan kemudinya agar tetap seimbang, meski dihantam ombak dahsyat sekalipun. Tapi jika nahkoda memutuskan untuk tidak mempertahankan kemudi perahunya.
Maka yang akan terjadi adalah! Badan perahu akan retak lalu perlahan akan dimasuki oleh debit air laut yang semakin lama akan semakin menenggelamkan perahu hingga membuat PERAHU KARAM.
Begitu juga dengan rumah tangga, jika ditengah perjalanan dalam kehidupan berumahtangga, seorang suami tidak bisa tahan dengan godaan dari wanita lain, dan tidak mau mempertahankan pernikahannya!
Membiarkan wanita idaman lain untuk terus memasuki kehidupan rumah tangganya.
Maka yang akan terjadi adalah pernikahan itu akan hancur dan berujung dengan perceraian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopi_sopiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Saat Qiara tengah berada di depan rumah untuk menunggu taxi yang akan mengantarkan Mbok Tin dan Mbok Ning ke Bogor! Suci segera mengeluarkan handphone keluaran terbaru yang khusus untuk berkomunikasi dengan Dimasta, bahkan Mbok Tin sendiri sebagai Ibunya tidak mengetahui Suci memiliki handphone semahal itu.
Suci segera melakukan panggilan telepon pada Dimasta yang saat ini tengah berada di kantor. Setelah memastikan Mbok Tin dan Mbok Ning masuk ke dalam taxi, Qiara segera pergi menuju gudang untuk melihat wajah wanita yang sudah berani merusak rumah tangganya itu.
📞"Yap, hallo," kata Dimasta.
"Mas, kamu buruan pulang deh ke rumah," kata Suci.
"Pulang ke rumah? Kenapa si, kan tadi udah kamu masih pengen apa?" ledek Dimasta.
"Ih, serius aku engga lagi bercanda mas! Bu Qiara, masa nyuruh aku pindah ke gudang gara-gara keluarganya mau berkunjung ke sini," kata Suci.
"Keluarga Qiara mau berkunjung? Kok Qiara engga ngasih tau aku ya! Oke aku pulang sekarang ya," kata Dimasta.
"Iya mas, pokoknya aku engga mau mas tidur di gudang! Disini banyak banget debu, kotor terus panas mas," kata Suci dengan wajah kesal.
"Iya kamu sabar dulu! Nanti aku akan tanyakan pada Qiara kapan keluarganya mau dateng ke rumah," kata Dimasta.
"Ya udah, kamu hati-hati ya mas," kata Suci.📞
Suci pun menyimpan kembali handphone mahal miliknya di dalam tas yang berisi pakaian-pakaiannya. Sementara Qiara yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan Suci dengan suaminya dibalik pintu, sampai tak habis pikir Suci mengadu pada suami majikannya sendiri.
Qiara pun tidak jadi menghampiri Suci, dan membiarkannya membereskan gudang sendirian. Qiara memilih untuk menunggu kepulangan Dimasta dari kantornya, Qiara penasaran apa yang akan dilakukan oleh Dimasta mengetahui selingkuhannya diperlakukan seperti itu oleh Qiara.
Qiara memainkan handphone dan bersantai di sofa, sedangkan Suci masih bersusah payah memindahkan barang-barang di gudang. Setelah hampir setengah jam, Dimasta sampai di rumah, dan langsung keluar dari mobil dengan terburu-buru untuk masuk ke dalam rumah.
Klek..
Pintu terbuka, dan Qiara berpura-pura terlihat serius sibuk dengan ponselnya dengan kedua telapak tangannya yang masih diperban.
"Mi, aku pulang," kata Dimasta sambil kedua matanya larak-lirik mencari Suci.
"Hai mas, ini kan masih jam segini ko udah pulang aja! Oh aku tau, kamu pasti kangen sama aku ya?" tanya Qiara.
"Em, iya aku jelas kangen sama kamu Mi," kata Dimasta dengan tatapan mata yang tidak fokus.
Tak lama, Suci yang di gudang mendengar suara mobil Dimasta, segera berlari dan berpura-pura menghampiri Qiara.
"Bu, gudang sudah saya keluarkan semua barang-barangnya!" kata Suci sambil melirik Dimasta.
"Oh sudah, ya sudah semoga kamu nyaman ya!" kata Qiara.
"Mi, ini Suci kok tidur di gudang? Kita kan banyak kamar tamu yang kosong," tanya Dimasta.
Wajah Qiara langsung berubah, sebisa mungkin Qiara tak terpancing karena Dimasta bahkan tidak sadar sama sekali, kedua tangannya diperban. Sebagai seorang suami, harusnya dia melihat dan bertanya ada apa dengan tangannya hingga harus diperban, apa luka parah? Atau sakitkah? Itulah yang Qiara harapkan keluar dari mulut Dimasta.
Bahkan Dimasta tidak menanyakan kemana anak-anaknya, justru kalimat yang dia ucapkan adalah kekhawatirannya terhadap si pelakor. Qiara pun mengedipkan kedua matanya, dan menarik nafas.
"Suci, tolong kamu gantikan tugas Mbok Tin dulu ya untuk cuci pakaian kotor saya dan mas Dimas!" kata Qiara.
Suci pun melirik Dimasta, sementara Dimasta langsung memalingkan wajahnya karena tak ingin Qiara curiga.
"Baik Bu! Kalau begitu saya permisi dulu," kata Suci.
Qiara pun tersenyum manis pada Suci. Lalu kembali fokus pada pertanyaan Dimasta.
"Gini mas, aku belum sempet bilang sama kamu, kalau mamah papah aku mau berkunjung ke sini ya sama beberapa saudara aku," kata Qiara.
"Emm, begitu ya!" Dimasta kebingungan harus bagaimana menghadapi Qiara.
"Kenapa si mas? Kok kamu kaya bingung gitu? Masa aku harus nyuruh Suci pindah ke kamar kita si mas?" sindir Qiara.
"Jangan dong! Engga aku engga bingung si, ya emang harusnya di gudang aja, kan kamarnya mau dipakai keluarga kamu nanti! Ya udah aku mau mandi dulu ya sayang," kata Dimasta dengan wajah masih bingung harus bagaimana menolong Suci.
"Oke, aku siapin baju ganti!" kata Qiara tersenyum.
Dimasta pun pergi ke kamarnya, dan tidak bisa berbuat apa-apa melihat selingkuhannya ditindas oleh Qiara, Dimasta masih sangat takut jika Qiara akan curiga, karena dipikiran Dimasta dia belum siap sama sekali jika harus kehilangan Qiara.
Qiara menyiapkan pakaian santai untuk Dimasta, setelah Dimasta selesai mandi! Dimasta pun berpikir untuk segera pergi mencari Suci, namun baru saja keluar dari dalam kamar dan berjalan hendak menuju dapur, Qiara langsung menemui Dimasta.
"Mas itu si kembar lagi engga mau belajar kalau engga kamu yang nemenin katanya!" ujar Qiara.
"Oh, iya ini aku juga emang mau ke kamar si kembar," kata Dimasta.
"Oh ya!" tanya Qiara.
"Iya dong, aku paling seneng bisa nemenin si kembar belajar," kata Dimasta.
"Oke, tapi kamu salah arah mas! Kamar si kembar sebelah sana! Masa lupa si, kamar anaknya sendiri," ledek Qiara.
"Oh iya! Ini tadi aku tuh mau ngambil minum dulu ke dapur sayang," kata Dimasta dengan wajah gugup.
"Biar aku yang ambilin ya mas! Nanti aku antar ke kamar si kembar," kata Qiara.
"Oke, Mi ya udah," kata Dimasta.
Qiara pun pergi untuk mengambilkan Dimasta air putih, saat itu Suci tengah berjemur di halaman belakang rumah. Qiara pun menghampiri Suci.
"Ci, nanti habis ini kamu bisa kan sapu sama pel lantai rumah! Udah kotor banget soalnya," kata Qiara.
Hati Suci kembali dibuat kesal oleh Qiara, karena sejak tadi dirinya belum istirahat sama sekali, ingin rasanya Suci membongkar saja hubungannya dengan Dimasta agar Qiara tidak bisa semena-mena terhadapnya! Tapi apalah daya, Dimasta masih belum juga mentalak Qiara.
"Baik Bu, nanti setelah ini saya akan sapu dan pel juga," kata Suci.
"Aduh kamu itu emang asisten rumah tangga sekaligus pengasuh yang paling bisa saya handalkan! Kamu penurut, makasih ya," ledek Qiara.
"Iya Bu," kata Suci sambil menahan kesal di hatinya.
Qiara pergi berlalu meninggalkan Suci, dengan tersenyum puas! Sambil membawa gelas berisi air putih untuk Dimasta, Qiara memesan satu set audio dan kamera pengintai yang ukurannya kecil agar bisa diselundupkan di gudang yang saat ini akan menjadi tempat tidur Suci.
"Tunggulah, aku akan buat kamu dan mas Dimas menyesal sudah melakukan ini terhadapku!" Gumam Qiara.
Suci yang kesal dengan sikap Dimasta yang tidak melakukan apapun untuk membantunya, menendang satu buah keranjang yang berada tepat disamping kakinya.
Brughhttttt.
"Sampai kapan aku harus diposisi seperti ini terus mas? Kenapa kamu diam saja melihat isteri kamu semena-mena begini terhadap aku? Sebenarnya kamu beneran niat atau engga untuk menceraikan isteri kamu mas." Batin Suci dengan perasaan sedihnya.
Jangan Lupa Like, Komen, Votenya biar semangat buat up.lagi🙏
Please yang kelupaan like di Bab awal, minta tolong untuk like ya kakak cantik dan ganteng, Yang weekendnya rebahan di rumah, yuk sini gabung sama othor kita baca aja novel PERAHU KARAM tapi mudah-mudahan novel ya gak Karam dan tetap disukai semuanya😁
memang ya pelakor semakin di depan
cerita enak' di baca
pisah adalah jalan yang terbaik.
yang menabur benih kejahatan dia juga yang menuai hasilnya siapa yg berselingkuh dia juga yg nemuin kehancuran dihidupnya.