Anggun yang mengira hidupnya sudah bahagia dengan mendapat cinta Adrian,, namun ternyata itu hanya mimpi sesaat baginya. Kenyataan pahit menghempaskannya kembali pada kehancuran dimana Adrian harus terjerat kembali pada wanita di masa lalunya.
Dan kali ini dia harus menghadapi badai yang lebih berat dari sebelumnya. Adrian melayangkan gugatan cerai padanya di saat dia sendiri sudah menanggalkan cintanya pada pria tersebut. Dan disaat yang bersamaan,, muncullah pria yang sebelumnya selalu memberikan dukungan untuknya. Apa yang akan terjadi selanjutnya?? Akankah Anggun memperoleh kebahagiaannya kembali?? Simak kisahnya di "Anggun Bidadariku Season 2"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Adrian sudah menanti Andini sejak lima belas menit yang lalu di depan parkiran rumah sakit. Di lihatnya jam yang melingkar di pergelangan tangannya masih menununjukkan angka 17.30, dan itu berarti wanita itu sudah akan segera keluar sesaat lagi.
Adrian termenung sesaat dalam penantiannya. Ingatannya kembali pada kejadian tadi pagi saat bertemu Dion di kantor. Sungguh, Adrian takkan menyangka kalau sahabatnya itu akan datang lagi. Terlebih tak percaya lagi kalau kedatangannya akan secepat ini. Adrian merasakan sebuah kegelisahan jauh dalam sudut hatinya.
Kenapa? Apa yang ku pikirkan?
Pada saat itulah sebuah seruan halus membuyarkan lamuannya. "Hei, sudah menunggu lama?" Andini menyapa dari luar mobil.
"Hmmm, tidak juga. Ayo, naiklah!" Dan perempuan itupun memutari mobil lalu membuka pintu dan segera masuk ke dalamnya.
"Sepertinya tadi kau melamun? Apa ada masalah?" tanyanya kemudian sambil menarik sabuk pengamannya untuk ia ikatkan.
"Ahhh, hanya teringat sesuatu hal di kantor tadi." Ya. Adrian memang tidak sepenuhnya berbohong. "Baiklah, jadi kita mau kemana?" Andini yang ditanya tampak berpikir sejenak.
"Apa kau sudah makan malam?" Gadis itu menyelidik.
"Belum."
"Baiklah. Kita makan malam saja. Ehmmm, aku ingin makan bebek bakar di warung bu Sarmi. Bagaimana, kau mau?"
"Ya. Sepertinya aku juga sudah lama tidak makan disana."
Dan mereka pun segera berlalu menuju tempat yang di maksud. Sekitar setengah jam lebih akhirnya mereka sampai di lokasi. Peminat makanan bebek bakar disana memang sangat banyak. Semua kursi bahkan hampir penuh. Tapi untungnya masih tersisa satu meja yang menyisakan dua kursi. Pas sekali untuk mereka berdua.
Adrian memesan terlebih dahulu sebelum akhirnya ia menyusul Andini ke mejanya berada. "Tempat ini masih saja ramai seperti sebelum-sebelumnya," ujar Adrian berbasa-basi.
"Ya. Kau tau sendiri kalau sambel dabu-dabu disini yang bikin ketagihan." Andini mengutarakan pendapatnya.
Tak beberapa lama kemudian makanan yang mereka pesan pun datang. Sambil menikmati makan malam, mereka akhirnya terlibat pembicaraan yang serius. "Jadi, kapan Kita akan meneruskan hubungan kita, Adrian?" Andini memulai.
"Maksudmu?" Adrian kelihatan masih asik dengan makanannya dan belum mengerti maksud perkataan wanita di hadapannya.
"Kau tidak akan berfikir kalau hubungan kita hanya begini-begini saja kan?" Kali ini Adrian yang mulai mengerti maksud pembicaraan itu, berhenti sejenak. Menatap Andini dengan seksama.
"Ya. Tentu saja kita akan melanjutkan hubungan kita, Andini."
"Maaf, bukannya aku mendesakmu. Tapi rasanya aku sudah lelah menunggu. Aku takut, kalau nanti kita menunda-nundanya sekali lagi, kejadian sama akan terulang lagi seperti dulu. Semua gagal." Gadis itu tertunduk lesu, teringat masa lalu dimana acara lamaran sudah siap, namun sesuatu hal terjadi. Adrian membatalkan acara lamaran itu mendadak. Dan yang lebih menyakitkan lagi adalah dia memutuskan hubungan mereka.
"Tidak!! Itu tidak akan terjadi lagi, Andini. Percayalah!" Adrian mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan gadis itu.
"Aku percaya padamu, Adrian. Tapi aku juga perlu bukti dan bukan hanya sekedar janji." Untuk sesaat Adrian terdiam.
"Baiklah. Tunggulah sebentar lagi, setidaknya untuk beberapa hari ini. Kau tau kalau aku baru saja bercerai, dan perceraianku sangat di tentang orang tuaku."
"Lalu? Apakah aku harus menunggu mereka menerimaku lagi dan merestui kita berdua?"
"Aku akan mencoba meyakinkan mereka. Tapi tentunya aku perlu waktu. Ku mohon, percayalah padaku." Adrian mengeratkan genggamannya berusaha meyakinkan. Dan gadis itu hanya mengangguk ringan di sertai senyum tipis.
👇
👇
👇
👇
Sementara itu di rumah Dion....
Anggun keluar dari kamarnya dengan sebuah gaun cantik berwarna kuning keemasan. Disana sudah menanti Dion yang juga sudah berpenampilan rapi dengan jas silvernya.
"Aku tidak tau kenapa kau menyuruhku berdandan seperti ini. Kau bahkan membelikanku sebuah pakaian mewah." Anggun masih menggerutu karena sejak awal Dion memaksanya untuk memakai pakaian yang baru ia belikan dan menyuruhnya berdandan secantik mungkin.
"Hmmm, so you're beautiful...." Dion bersiul menggoda. Anggun memutar bola matanya kesal.
"Jadi, kau mau mengajakku kemana, tuan Dion Putra Mahendra?" Anggun mempertegas pertanyaannya sembari melipat kedua tangan.
"Kita akan menemui keluargaku."
"Apa?" Anggun terperanjat seketika. "Kau mau membawaku kesana? Ke rumah orang tuamu?"
"Ya." Dion mengangguk sambil mengangkat kedua alisnya bersamaan.
"Tidak...tidakkk...untuk apa kau membawaku kesana? Kau pergilah sendiri." Anggun hendak berbalik dan melangkah pergi, namun dengan cepat Dion menyambar tangannya.
"Eeiiittss, kau mau pergi kemana? Setelah lama menunggumu bersiap, kau malah mau pergi begitu saja?"
"Diooonnn, untuk apa kau membawaku ke tempat orang tuamu?"
"Tentu saja untuk memperkenalkanmu pada mereka."
"Cckkk, jangan bercanda kau."
"Siapa yang bercanda? Aku serius. Kau tau, sejak aku datang ke Indonesia lagi, belum sekalipun aku menemui mereka. Dan baru malam ini aku kesana. Ahhh...sudahlah, jangan banyak protes lagi. Kalau kau mengulur-ulur waktu, kita akan semakin kemalaman." Dan pria itu menyeret langsung tangan Anggun.
"Dion...Dion...kau tidak bisa membawaku seperti ini. Bagaimana nanti aku disana? Bagaimana kalau orang tuamu menanyaiku macam-macam? Apa yang harus...."
"Ssstttttt!" Dion mengacungkan jari telunjuknya di depan bibir wanita itu. "Kau terlalu banyak bicara. Sebaiknya kau simpan tenagamu untuk berbicara disana saat menghadapi calon mertuamu nanti."
"Apa?"
👇
👇
👇
👇
Dion sudah sampai di rumah mamanya. Setelah mendengar ocehan plus omelan Anggun sepanjang perjalanan menuju rumah tersebut, akhirnya kini pria itu bisa bernapas lega karena Anggun benar-benar berhenti mengeluh setelah mereka menginjakkan kakinya di halaman besar rumah mewah itu.
Sungguh benar-benar ajaib. Padahal wanita itu sebelumnya seperti seseorang yang baru merapal mantra sepanjang perjalanan mereka. Dionpun tak bisa menyembunyikan tawanya. Ini benar-benar menggelikan.
"Kenapa kau tertawa?" Anggun mendelik tajam. "Tidak ada yang lucu yang bisa kau tertawakan!" lanjutnya lalu melengos kesal.
Masih dalam tawa derainya, "Kau benar-benar lucu, Anggun."
"Hiihhh, aku bukan badutmu."
"Kau bidadariku, Beauty." Tawa Dion serasa tertelan bumi dalam sekejap saat mengucapkan itu. Berganti sebuah keseriusan yang tak lagi mengandung bahan candaan. Dan kali ini Anggun menjadi tertegun. Bagaimana bisa pria ini berubah sikap dalam waktu sekejap. Seperti bunglon saja.
Tiba-tiba terdengar sebuah suara deheman dari arah pintu rumah. "Ehemm....ehem...." Seorang wanita paruh baya dengan penampilan yang benar-benar elegan dan kelihatan masih sangat muda jika di lihat dari usia sesungguhnya, berdiri di ambang pintu dan mengejutkan dua orang insan yang tengah bercekcok ria dalam gurauan. "Apakah kalian akan berdiri di situ terus?"
Seketika Anggun berubah sikap. Tak menunjukkan kekesalan seperti sebelumnya, bahkan saat Dion mengulurkan tangannya dan mengajaknya masuk, dia pun menyambut uluran tangan itu sembari tersenyum.
Rumah itu memang benar-benar megah. Indah. Mewah. Dion memang terlahir dalam golongan keluarga konglomerat. Aneh dan istimewa saja jika dia sama sekali tak menyombongkan diri atas kekayaannya itu. Anggun merasa gugup saat memasuki rumah tersebut. Disana ternyata sudah menunggu keluarga besar Dion.
"Begitu ya, kau pulang tanpa menemui mama terlebih dahulu," ujar wanita paruh baya sebelumnya sambil menjewer kecil telinga Dion dan pria itu hanya meringis layaknya anak kecil yang baru mendapat hukuman dari sang ibu.
"Aduuhh Ma, kenapa mama jahat sama anak sendiri? Bukannya memeluk, tapi malah menjewer telingaku," pria itu bersungut.
"Biarin. Eh, itu belum cukup ya. Mungkin Mama akan ngasih hukuman lain sama kamu setelah ini."
"Yup. Hukuman untuk menghabiskan masakan Mama kan?" Dion menaik turunkan alisnya, menggoda. Dan sang mama melengos karena apa yang di pikirkannya bisa di tebak dengan mudah oleh sang anak. Mata perempuan itu lalu berpindah pada Anggun kemudian tersenyum lebar.
"Jadi, siapa namamu, Sayang?" Anggun yang kini menjadi target incaran mama Dion menjadi gugup kembali.
"Ehm, saya...Anggun, tante."
"Hmmm, namamu secantik wajahmu. Pantas putraku tergila-gila padamu sampai dia lupa makan dan tidur. Kau tau dia bahkan hampir melupakan orang tuanya sendiri," bisiknya, namun masih terdengar oleh Dion.
"Mamaaa....." Dion memberontak. Anggun di buat salah tingkah karenanya. Ah, suasana macam apa ini?
"Jadi kau tak mau memperkenalkan dia pada kami semua, Dion?" Sebuah suara berat muncul dari balik pintu di susul beberapa anggota keluarga lainnya.
Dion menghambur pada pria itu seketika. Memeluknya penuh kerinduan. "Bagaimana keadaan Papa, sehat?" Sang ayah membalas pelukan anaknya dengan penuh sayang.
"Ya. Seperti yang kau lihat sekarang. Jadi, apakah kau tak mau memperkenalkan dia pada kami?" Sekali lagi pertanyaan yang sama keluar dari mulut pria paruh baya itu.
"Ehm....Anggun, ini adalah mamaku. Wanita tercantik setelah kau." Sang mama melotot seketika dan mencubit kecil pipi putranya. "Awwww, Mama!!!" Perempuan itu mencibir, namun tak urung kemudian dia tertawa.
Dion lalu melanjutkan kalimatnya yang sempat tertunda akibat ulah sang mama. "Dan ini papaku." Anggun tersenyum lalu menyalami orang tua Dion bergantian.
"Salam kenal Tante, Om." Anggun mencium tangan keduanya di balas dengan anggukan dan senyuman tulus dari mereka.
"Dan yang dua ini adalah adik-adikku. Rangga dan Desta." Mata Anggun berpindah pada dua orang pemuda. Yang satu nampaknya tidak jauh beda dari usia Dion. Dan yang satunya terpaut cukup jauh. Seperti masih pelajar SMA.
Mereka menyalami Anggun bergantian.
"Rangga," ujar pemuda yang umurnya hampir sebaya dengan Dion.
"Desta." Anak muda yang satunya tak mau kalah. Anggun mengembangkan senyumnya menyambut uluran tangan mereka. "Mbak Anggun....cantikk," seru si bungsu, usil. Membuat Anggun merona seketika. Dan itu mendapat tinjuan kecil dari kedua kakaknya.
"Huuuuu.....dasar anak kecil. Tau saja ada wanita cantik," Rangga menimpali.
"Eh...eh...biarin. Lagian, aku sudah bukan anak kecil lagi tau. Sudah gedhe gini masih saja di anggap anak kemarin sore. Dan sudah boleh juga pacaran dong?" Desta menaik turunkan alisnya berkelakar.
"Eh, kamu tuh ya harusnya belajar yang rajin dan jangan mikirin soal cewek dulu," semprot Rangga lagi.
"Iddiihhh, masa cuma kenalan atau temenan saja nggak boleh? Emangnya aku ini bang Dion yang selalu suka gonta ganti cewek."
"Ehhh....eh....kok jadi bawa-bawa namaku segala sih? Awas ya kamu, bocah!" Dion lalu mengalungkan tangannya ke leher adiknya dan mengapitnya di ketiak.
"Hei, mentang-mentang aku ini anak bungsu jadi bisa di perlakukan seperti ini ya..." Desta mencoba meronta. "Mbak Anggun, ku bilangin ya...jangan mau pacaran sama orang satu ini. Percuma. Dia selalu makan hati orang. Akkkhhh....." Dion semakin mengeratkan rengkuhannya. Anggun tak lepas dari gelak tawa yang mendera.
"Sudah! Sudah! Kalian ini seperti anak kecil saja. Yuk ah, masa tamunya di anggurin gini? Kita langsung makan malam saja ya." Sang mama melerai perdebatan kecil itu. Dan merekapun berjalan bersama menuju meja makan.
Anggun tak akan menyangka kalau keluarga Dion akan semenarik ini. Sungguh berbeda dengan keluarga Adrian yang cenderung pendiam. Disini serasa banyak tawa yang menguar sehingga menambah hangatnya suasana keluarga.
🌺🍃🌺🍃🌺🍃🌺🍃🌺🍃
kecuali klo ada bonus nya
tapi seru c
semua dpt porsinya, Andini & andrian g bersatu,, Andini suka mempermainkan, andrian blm dewasa, cepat kebawa emosi, labil, kasih yg jadii pasangannya, gampang terombang ambing. baca ceritanya yg ending part 1 aja udah jelas hambar rumahtangga nya, cuma main² aja. memang baik anggun sama dion, cuma agak aneh, klo habis kena serangan jantung atau apalah yg keliatan sakit, knp habis ijab kabul gak istirahat aja?
dulu bagas dan niken skrg rian dan andini