NovelToon NovelToon
Jangan Jatuh Cinta Lagi, Altair

Jangan Jatuh Cinta Lagi, Altair

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Romantis / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Mengubah Takdir / Pernikahan Kilat
Popularitas:84
Nilai: 5
Nama Author: Ladies_kocak

Altair seorang eksekutor miskin di rumah Andrea's. Motifnya untuk balas dendam kepada kepala keluarga itu karena sudah menghilangkan nyawa kedua orang tuanya. Tapi dia malah jatuh cinta kepada anak kesayangan keluarga itu membuatnya dijebak dan mati di tangan mereka.

Dia di beri kesempatan kedua untuk tidak menjadi bodoh dan jatuh cinta. Di kehidupan ini dia menuntaskan dendamnya. Dan siapa sangka dia malah berhubungan dengan anak angkat keluarga itu, Aquilla.

Akankah dendamnya terbalaskan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 : Tugas baru dari bos baru

Sore menjelang malam di pinggiran Jakarta kelihatan lebih lengang. Langit oranye keabu-abuan mulai gelap, bercampur bau asap kendaraan dan aspal panas. Lampu-lampu rumah satu per satu menyala.

Sebuah Ducati melambat lalu berhenti di depan rumah sederhana bercat putih pudar. Pagar besinya berderit pelan waktu dibuka. Rumahnya sederhana tapi terawat, ada pot bunga kertas di teras dan gorden biru muda di jendela.

Altair menurunkankan standar motornya. Cowok tinggi berjaket kulit itu melepas helm pelan-pelan, memperlihatkan rambutnya yang agak lepek kena keringat.

Di belakangnya, Aquilla ikut turun sambil merapikan rambut panjangnya yang berantakan tertiup angin. Dia liat Altair belum ada tanda-tanda mau turun dari motor, matanya masih sibuk di layar ponsel.

"Lo gak ikut masuk?" tanya Aquilla.

Altair mendongak, alisnya terangkat. "Gak bisa. Gue ada urusan penting. Bos baru saja nge-chat."

"Siapa? Daniel?" tanya Aquilla heran, soalnya baru aja tadi mereka ketemu Daniel sama istrinya.

Altair menggeleng. "Bukan. Gak usah kepo. Sana masuk!"

Bibir Aquilla langsung cemberut. Dia melipat tangan di dada. "Jangan pulang kemalaman, ya. Gue penakut. Lagian gak ada tempat kabur, Nenek Sari sama Bian kan lagi gak ada di rumah."

Altair menghela napas, terus turun dari motor dan berdiri di depan Aquilla. "Ada kerjaan mendadak. Berani-beraniin deh, udah gede masa takut di rumah sendiri."

"Lo gak tahu rasanya takut!" balas Aquilla makin cemberut, sengaja buang muka. "Rumah ini sepi banget kalau malam. Bunyi kulkas aja kedengeran kayak langkah orang."

Altair maju selangkah, nepuk jidatnya sendiri sambil menggeleng. "Iya, gue tahu. Kecoak kecil aja lo takutin. Gimana entar ketemu Mbak Kunti, Mas Pocong, sama tuyul? Berantakan nih rumah."

Mata Aquilla langsung melotot. Dia mukul lengan Altair pelan. "Gue gak takut kecoak, cuma geli! Lagian ngapain panggil Mbak Kunti segala sih? Makin takut tahu! Sengaja ya lo?"

Altair malah tersenyum tengil. "Nah, takut kan? Makanya biasain."

"Biasain apaan?" Aquilla melipat tangannya lagi. "Lo tuh gak pernah paham. Coba lo tinggal di rumah ini sendirian seminggu. Berani gak?"

"Gue?" Altair menunjuk dirinya sendiri. "Berani lah. Rumah kosong enak, gak ada yang ngomel, gak ada yang minta ditemenin nonton drakor sampe subuh."

"Enak di jidat lo," sentak Aquilla. "Itu namanya sepi, beda sama tenang. Lo gak bakal paham."

"Terus maunya gimana?" Altair menaikkan alisnya. "Gue batalin kerjaan demi nemenin lo yang takut kecoak?"

"Bukan gitu!" suara Aquilla agak meninggi. "Gue cuma minta lo jangan pulang kemalaman. Gitu doang susah?"

"Susah kalau kerjaan gue urusan hidup mati," jawab Altair pelan. Nadanya mendadak serius.

Aquilla terdiam, mengigit bibir bawahnya. "Urusan hidup mati lagi? Emang lo kerja apa sih sama bos baru lo itu? Kurir maut?"

"Gak usah nanya yang gak perlu," potong Altair cepat, terus balik bercanda. "Pokoknya gue janji pulang cepet. Asal lo janji gak usah asal buka pintu buat orang aneh."

"Gak janji," Aquilla palingin muka. "Kalau yang ngetok tuyul, gue buka. Siapa tahu dia mau minjem duit."

Altair nahan tawa. "Gila lo. Tuyul mana ada duit, yang ada dia minta pesugihan ke lo."

"Lo mah!" Aquilla meninju dada Altair pelan. "Udah sana pergi, gak usah becanda terus."

Perdebatan kecil itu makin seru. Altair menyebut Aquilla sebagai 'bayi besar', sedangkan Aquilla menyebut Altair 'batu'. Sampai akhirnya Aquilla menyerah, menghembuskan napas kencang, terus balik badan mau masuk.

Sebelum benar-benar masuk, Altair menahan lengan Aquilla pelan.

"Illa, dengerin," kata Altair. Suaranya berubah serius. "Jangan buka pintu buat orang yang gak dikenal, paham? Kunci semua jendela. Kalau ada apa-apa, telepon gue. Jangan telepon orang lain."

Aquilla cuma mengangguk pelan. Dia menatap mata Altair sejenak, menemukan raut cemas yang jarang kelihatan di sana. Abis itu dia masuk ke dalam rumah tanpa ngomong apa-apa lagi.

Cklek.

Pintu tertutup rapat.

Altair menghela napas berat, melihat pintu itu beberapa detik.

"Sialan, ngerepotin aja," gumamnya. "Biasanya tinggal pergi. Sekarang malah kudu ngurusin bayi besar."

Tapi sudut bibirnya malah terangkat. "Tapi seru juga godain Illa."

Sambil tersenyum tengil, dia mamasang helmnya lagi, mengaitkan tali di dagu, terus menyalakan Ducatinya. Suara mesin meraung membelah jalanan sore yang mulai padat.

Tujuannya adalah markas geng Raven Claw. Gedungnya tidak terlalu besar, tapi kelihatan mewah dan bersih bernuansa hitam doff dengan penjagaan ketat. Dua orang berbadan tegap di pintu menyapa Altair pakai anggukan. Altair memarkir motornya terus masuk gitu aja.

Dia jalan lewat koridor bermarmer yang remang-remang. Suasananya tenang, beda sama area bar di lantai bawah. Dia berhenti di depan pintu kayu tebal, lalu mengetok dua kali.

"Masuk," terdengar suara dari dalam.

Altair membuka pintu. Di dalam ruangan pertemuan itu udah ada dua orang. Zander, bos barunya yang berumur sekitar tiga puluhan dengan tatapan tajam, duduk di kursi utama. Di sebelahnya ada Albert, tangan kanannya yang kekar dan bertato.

Tanpa basa-basi, Zander menggeser foto seorang pria setengah baya berkacamata di atas meja kaca. Latar belakang fotonya di pelabuhan.

"Kenal?" tanya Zander pendek.

Altair mengambil foto itu, memperhatikan sebentar, terus mengangguk. "Kenal. Namanya Hendra. Dulu sering ngintilin Daniel."

"Gue butuh lo jadi eksekutor," kata Zander sambil bersandar. "Beresin anak buahnya Daniel ini."

Altair mengetuk jarinya di meja. "Sebahaya apa dia sampai harus dibunuh? Setahu gue dia cuma pengawal biasa yang gak pernah bawa senjata."

Zander tersenyum tipis. "Otaknya yang bahaya. Dia bisa ngerusak kita lewat sistem. Sekali gerak di keyboard, semua rekening kita bisa dibekukan. Makanya harus dihabisi. Dia orang kepercayaan Daniel, papa lo juga tahu seberapa bahayanya dia."

Altair mengangguk pelan. "Oke, gue urus."

Zander mengacungkan satu jari. "Tunggu dulu. Risiko tinggi, bisa gampang ketahuan. Dia dikawal dua orang mantan militer 24 jam."

Altair menatap Zander santai. "Lo tenang aja. Gue main bersih, gak bakal ada jejak atau saksi."

Di dalam hatinya, Altair menambahkan, "Gue udah belajar dari kehidupan sebelumnya. Gak bakal ulangin kesalahan konyol yang sama."

Zander memperhitungkan Altair sebentar, lalu mengangguk. "Sip. Albert ikut sama lo, dia tahu titik lemah pengawalannya."

Altair cuma mengangguk pendek. Sebenarnya dia lebih suka jalan sendiri, tapi Albert lumayan bisa diandalkan.

"Malam ini dia ada di pelabuhan selatan," lanjut Zander sambil ngunjukin tabletnya. "Jam 11 malam dia inspeksi gudang. Pengawalnya ganti shift jam 11 lewat 10. Ada jeda tiga menit."

"Paham," jawab Altair singkat.

Pas mau keluar, Altair mendadak berhenti di ambang pintu. Tangannya masih di gagang pintu waktu dia menoleh ke Zander.

"Cari tahu soal eksekutor lamanya Daniel," kata Altair dingin. "Orang yang ngebunuh orang tua gue lima tahun lalu."

Zander menaikkan alis. "Buat apa? Itu kan udah lewat."

"Balas dendam," jawab Altair datar. "Gue butuh nama sama wajahnya."

Zander terkekeh sinis. "Mau main balas dendam lewat keluarganya? Lo mau ikutan cara kotornya Daniel?"

Altair tidak merespon. Dia cuma menatap Zander dua detik, terus keluar ruangan. Pintu tertutup rapat.

"Semoga dia berhasil"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!