Rumah tangga yang kelihatan harmonis hanya topeng belaka.
Hutang orang tua yang menumpuk kepada mertua, membuat terjadinya perjodohan yang terpaksa dan membuat Jihan terpenjara oleh kekerasan bathin dan fisik.
Sakit hati yang dialami jihan, sampai melupakan apa arti cinta yang sesungguhnya.
Dari rasa nyaman saling bertukar cerita, membuat dua insan yang dimabuk asmara terjebak oleh cinta terlarang, sehingga membuat keduanya susah untuk berpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhang zhing li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketahuan
Hari ini adalah hari libur mengajar, maka tugas adalah membersihkan segala ruangan dirumah. Segala pekerjaan kukerjakan sedirian tanpa ada bantuan dari suami, walau dia sedang nganggur dirumah sekalipun.
Tangan sekarang sedang sibuk menyiapkan beberapa makanan. Masakan diatas meja serba kering alias tumis sebab itu yang disukai suami, jika masak berkuah pasti tidak akan termakan dan ujung-ujungnya mubazir dibuang saja.
"Pagi!" sapa Satria.
"Pagi juga."
Satri langsung duduk ingin menyantap makanan saja. Netra melirik sebentar saat hari ini dia begitu rapi berpakaian.
"Kamu kok rapi banget?" tanyaku kepo sambil tangan sibuk menata peralatan untuk makan.
"Ada urusan sebentar bersama kepala sekolah."
"Ooh."
Aku tidak makan duluan sebelum suami ada dan mendahului.
"Kamu tidak libur?" tanya Mas Bayu yang sudah datang dan sekarang ingin bergabung makan.
"Libur, Mas. Ada urusan sebentar sama kepala sekolah diluar nanti," jawab Satria sudah sibuk mengunyah makanan.
"Oh begitu."
"Memang urusan apa, kok libur begini harus pergi?" imbuh suami.
"Mau musyawarah tentang beberapa keperluan sekolah saja."
"Ooh."
"Ya sudah, Mas. Aku tidak bisa berlama-lama menemani kamu makan, sebab sekarang harus berangkat, takutnya nanti sudah ditunggu," ucap Satria sudah berdiri menyudahi sarapan.
"Emm. Berangkatlah."
"Bye, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Bye ... bye, juga."
Satria sudah pergi dan tubuhnya sudah hilang dari pandangan kami. Akupun segera menemani suami untuk sarapan. Mulut jarang sekali menganjak ngobrol dengannya, walau kami hanya berdua saja seperti ini. Hanya detingan suara sendok mengiringi sarapan yang hening ini.
"Baju sudah rapi sekali, apakah Mas Bayu akan kerja? Tapi bukankah biasanya ini adalah hari libur dia berkerja?" guman hati yang merasa curiga.
"Kenapa lihat-lihat kayak ngak suka gitu?" tanya Mas Bayu yang mengangetkan saat mencuri-curi melihat.
"E'eh ngak ada, Mas. Hanya penasaran sama Mas saja. Hari ini kok rapi sekali, padahal bukankah hari ini libur bekerja juga?" tanyaku memelankan suara sambil menundukkan kepala, takut jika suami akan marah sebab banyak tanya.
"Apa urusanmu jika aku rapi dan tidak?."
"Jangan sok kepo. Urus saja urusan kamu sendiri, bila perlu tugasmu harus membersihkan semua seisi rumah ini, paham!."
"Iya, paham. Maaf."
Mulut tidak berani menjawab maupun membantah lagi. Memang selama ini harus melakukan kewajiban menjaga kebersihan rumah.
"Aah, aduh ... duh!" keluh Mas Bayu sudah kesakitan sambil memegang perutnya.
"Ada apa, Mas?" tanya khawatir.
"Perutku mules banget, nih!" terang suami sambil memringiskan wajah.
Mas Bayu langsung saja berlarian meninggalkanku yang gagal paham. Sepertinya dia memang lagi ingin buang air besar, saat sudah masuk ke kamar mandi yang kelihatan sudah tidak tahan lagi.
Drzzzt ... deerrrrt, gawai Mas Bayu sudah bergetar, yang sepertinya ada sebuah pesan masuk.
Gawainya jarang sekali kusentuh, sedangkan pemiliknya saja dari sehelai rambut sampai ujung mata kaki tidak pernah tersentuh oleh tanganku, apalagi barang pribadi miliknya.
Drzzt ... drrrrt, lagi-lagi gawai bergetar.
Rasanya begitu kepo ingin melihat pesan dari siapa itu.
"Mungkin itu adalah pesan penting dari kantornya. Mungkin tidak apa-apa kalau aku baca sebentar dan membalasnya. Semoga saja Mas Bayu tidak akan marah besar," rancau hati yang kini menyudahi makan untuk segera memeriksa gawai suami.
Klik, gawai sudah kugeser untuk melihat pesan itu dan untung saja tidak ada kata sandinya sehingga mudah membuka.
[Hai sayang. Kenapa lama banget kamu jemputnya? Aku sudah kangen banget nih sama kamu, apalagi ingin merasakan rasa kehangatan saat-saat kita bersama]
"Sayang? Apa maksudnya ini?" Kekagetan hati saat melihat tulisan yang menurutku tidak pantas dibaca.
Jari terus saja kepo membuka pesan lagi.
[Apa kamu sudah berangkat, sehingga tidak bisa membalas pesanku? Kalau sudah sampai langsung saja kerumah, ya! Aku tunggu nih]
"Rumah? Apa maksudnya ini?" rancau hati yang penasaran.
Sebuah emot kiss lima buah telah terselip dipesan itu. Rasanya bergindik ngeri saja membaca pesan itu, yang kelihatan centil dan kegatelan sekali perempuan yang mengirimkan pesan itu.
Suara deru langkah mulai mendekat, yang sepertinya Mas Bayu telah menyudahi aktifitasnya dari kamar mandi. Handphone segera kutaruh ditempat semula, agar suami tidak marah dan merasa curiga.
Posisi sudah balik ke tempat semula, yaitu berpura-pura sedang sarapan lagi.
Berkali-kali suami sudah menghembuskan nafas kelegaan.
"Telephone kamu tadi berbunyi," cakapku memberitahu.
"Emm, nanti saja aku baca!" jawab suami yang masih ingin meneruskan untuk sarapan.
"Untung saja Mas Bayu tidak langsung membuka gawainya itu. Bisa mati jika ketahuan notif pesannya tadi sudah kubuka," Kelegaan hati merasa aman.
"Ya sudah, aku berangkat dulu. Jangan lupa untuk membersihkan semua seisi rumah ini," pamit suami memperingatkan.
"Iya, Mas."
Walau kami tidak saling akur, namun acara menyalami tangan tetap kujalankan dan beruntungnya mas Bayu tidak mempermasalahkan itu.
"Ya Allah, apa yang harus kulakukan sekarang? Apakah pesan itu sungguhan?."
"Tidak ... tidak, itu tidak mungkin. Aku tidak percaya jika mas Bayu akan tega melakukan itu, tapi dari sikapnya yang aneh sepertinya dia memang mempunyai perempuan lain."
"Apa yang harus kulakukan sekarang? Apa aku harus mengikutinya, untuk membuktikan tentang firasatku yang tidak enak ini. Iya, aku harus mengikuti dia agar semuanya jelas," guman hati yang merasa aneh.
Semua makanan dan peralatan bekas sarapan kutinggalkan begitu saja, sebab ingin segera mengikuti suami yang sudah hilang dari pandangan.
Kaki sudah berlarian kecil, ingin segera membuntuti suami yang sudah menghidupkan mesin mobilnya. Gawai terus saja sibuk menyambungkan telephone kepada pemilik taxi.
"Semoga saja firasatku ini hanya rasa prasangka kekhawatiran saja. Aku masih percaya pada mas Bayu kalau tidak akan tega melakukan itu."
Saat mobil sudah melesat perlahan ketika mulai menjauhi rumah, taxi yang kupesan untung saja sudah secepatnya datang, sehingga aku tidak akan ketinggalan jejak suami.
come on sattt selidiki kuyyy
hmmz bawa kabur jihan sat wkwkwk