Kaoru menghabiskan malam panas dengan CEO Organisasi tempat Sang Kakak menjualnya. Tanpa diduga peristiwa di malam tersebut memberikan Kaoru anak kembar yang sangat genius.
Sakaki Akira, CEO dingin dengan tatapan mata rajawali. Pria tampan yang menguasai alam semesta, menundukkan siapa saja yang berani menatapnya, menyibak habis semua status dan menjadikan mereka rakyat jelata.
Terjadi kesalahpahaman tentang peristiwa 8 tahun lalu diantara Si Kembar dan Sang Ayah...
Si kembar akan membalas dendam Kaoru. Hancurkan Organisasi Sakaki Akira, beri hukuman terberat pada Sang Kakak yang berani menjual ibu mereka.
Perang yang sebenarnya menanti, kita hidup dalam different world, tak ada yang tak mungkin dalam dunia Paralel. Petualangan balas dendam Twins menjadi kunci penghubung antar dunia.
Dimulailah perjalanan mereka melakukan pembalasan dan mencari kebenaran...
Novel ini adalah karya pertama dan masih dalam tahap pengembangan.
Genre: Action, Adventure, Comedy, Drama, Fantasy, Romance, School, Slice of Life, Thriller, Supernatural, Super power.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nagi Sanzenin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Penyelamatan
"Apa?!" Yuki menahan hembusan angin yang bertiup dengan tangannya.
DUARR! DOR! DOR! DOR! BLARR!
Sekarang bagunan di gurun itu sudah hancur setengahnya. Debu dan pasir bertebaran dimana-mana akibat angin Amunisi.
Dipuncak bangunan berdiri seorang anak perempuan yang memakai topeng elang, jubahnya berkibar-kibar tertiup angin ditengah badai pasir angin Amunisi, tangan kanannya memegang senjata Amunisi F-8, Rin!
Rin kembali mengangkat senjata dan membidik tempat yang mungkin mengurung Rei.
DOR! DOR! DOR! DOR! BUMM! BLARR! DUARR!
Setelah puluhan tembakan lagi, Rin melihat Rei diikat dilantai, ada pula Yuki dan Nico. Mereka saling beradu pandang. Rin membidik Yuki lalu menembaknya.
DUARR!
Roket Amunisi F-8 melesat melewati Yuki dan menghancurkan gudang tangki di belakangnya.
"Rei, sudah bangun?" Tanya Rin, dia menekan tombol calling di jepit rambut setengah bintang dengan tangan kirinya. Terus membidik dengan senjata Amunisi F-8 ditangan kanannya.
"Kau benar-benar agresif, bagaimana kalau tadi aku juga kena?" Rei balas bertanya, menekan tombol jepit rambut setengah bintang yang ada di dalam saku celananya dengan susah payah, tentu saja karena tangannya diikat...
DOR! DOR! BLARR! Rin kembali menembak seisi ruangan tempat Rei diikat.
"Kenapa Rei? Kok kau jadi lemah. Mana gaya mu yang biasa itu?"
DOR! DOR! BUMM! SSHHH! DOR! BLAARR!
"Enak saja! Kau sendiri juga membiarkan mereka membawaku! Sama tidak becusnya! Aku tidak bisa bergerak tahu!" Rei berseru jengkel, menghindari puing bangunan yang jatuh didekatnya.
Rei diikat menggunakan kawat besi, sama sekali tak bisa diputus...
"Bocah! Berani sekali menghancurkan markasku!" Teriak Yuki sambil mengeluarkan pistol dari dalam saku jas putihnya, "Jangan tembak lagi! Kalau tidak kupecahkan kepala anak ini!"
Yuki menempelkan laras pistol di kepala Rei, menjadikan sandera sebagai tameng, pengecut sekali...
"Siapa kau?!" Yuki berteriak ke arah Rin yang berdiri di puncak bangunan dengan jubah putih berkibar.
"Kau tidak dengar dari anakmu yang disana?" Rin menunjuk Nico dengan senjata Amunisi F-8, "Rei punya saudara kembar."
"Kau sama sekali tidak mirip dengannya!" Yuki membentak, sekarang dia mengangkat Rei berdiri sambil tetap ditodong pistol.
Yuki tahu kalau Rei punya saudara kembar, tapi dia hanya fokus menangkap Rei karena dia sangat mirip Presdir Akira... Dan saat di pesta ulang tahun dia melihat Rei berjalan bersama Rin. Yuki mengira itu gebetan Rei... Dia pikir Rei tidak membawa saudara kembarnya.
"Memang tidak mirip! Kau pasti langsung mengenalku kalau kulepas topengku." Seru Rin, melepas topeng elang dengan tangan kirinya.
Dan terlihatlah seorang anak perempuan yang sangat cantik berambut hitam panjang yang lurus dengan mata biru terang yang memandang tajam. Yuki mematung, terbayang olehnya wajah cantik Kaoru 8 tahun yang lalu.
"Kau anaknya?!" Teriak Yuki dengan nada menghina, "Jadi kalian anak haram si brengsek dan si bodoh?!"
"Aku tidak suka kau menyebut kami anak haram. Dan jangan menghina ayah dan ibuku dengan mulut kotormu itu!" Rin berseru kesal, dia menyimpan topeng didalam jubahnya. "Yah bisa di bilang ini balas dendam... Akan kami balas perbuatanmu 8 tahun lalu! Rei, sekarang!"
Rei menghantam Yuki dengan kepalanya, lalu melakukan gerakan kunci lutut yang diajarkan padanya saat shooting film Pankration.
[*Pankration: sebuah pertandingan olahraga yang diperkenalkan di Yunani dan merupakan olahraga penyerangan dengan tangan kosong seperti menendang dan memegang, mengunci dan mencekik di tanah.]
BRUK!
Yuki jatuh ke lantai berpasir. Rei menekan leher Yuki dengan kakinya, cekikan segitiga.
DOR! BUM! Rin menembak Yuki dengan senjata Amunisi F-8, dan kena telak.
"UAGHH!" Yuki berteriak kencang, merintih sakit karena perutnya kena tembakan roket ledak.
"Jangan khawatir, aku sudah mengganti pelurunya dengan bahan ledak kecil." Kata Rin santai, "Kalau kugunakan peluru Amunisi F-8, kau pasti sudah sampai akhirat."
Rin melompat turun dari puncak bangunan dan mendarat tepat di samping Yuki dan Rei.
"Nah, sekarang ringkus ke penjara." Rin mendekati Yuki dan mengeluarkan borgol dari dalam jubah putihnya... Sepertinya dari tadi dia membawa borgol dan alat-alat apa saja yang mungkin dibutuhkan.
"Ayo, tangannya..."
DOR!
"Ahh!" Rin meringis, tangan kanannya ditembak saat dia mengulurkan tangan ke arah Yuki. Senjata Amunisi F-8 dan borgol yang dia pegang langsung terjatuh.
"Rin!!" Rei langsung melepas cekikan segitiga-nya dan menghampiri Rin. Rei menoleh ke arah sumber tembakan dan yang menembak adalah Nico.
"Ayo... Berlutut disini dan mohonlah ampun. Kalian berada dalam radius tembak." Kata Nico dengan kejam, "Ikuti saja semua kemauan ayahku dengan tenang, maka nyawa kalian akan selamat untuk sesaat."
Nico memegang pistol milik Yuki yang terlempar waktu Yuki kena roket Amunisi.
Seketika suasana langsung sunyi, mereka saling beradu tatapan mata.
Nico menatap dengan dingin seperti mayat hidup. Rei menatapnya tajam bagai rajawali yang menemukan anak ayam. Terasa sekali aura pembunuh pada saat itu... Harus ada orang yang mati disini...? Sementara itu darah terus mengalir dari tangan Rin akibat peluru panas yang menembus tangannya.
Dilain pihak...
Presdir Akira sudah menutup semua kegiatan yang ada di provinsi Xinjiang. Tapi tak ada satupun helikopter yang mendarat pada saat itu. Hanya pesawat pribadi milik Presdir Akira yang mendarat dibandara internasional Diwopu Urumqi.
"Benar-benar tidak ada disini?" Presdir Akira bertanya dengan cepat pada anak buahnya begitu turun dari pesawat.
"Ya Tuan Sakaki! Kami sudah menyapu habis kegiatan di provinsi Xinjiang tapi tak menemukan tanda-tanda adanya Yui Yuki."
"Berarti hanya ada satu tempat... Gurun Gobi. Pergi dan cari mereka di gurun Gobi. Kirim semua helikopter Organisasi ke sana." Perintah Presdir Akira, sekarang berjalan masuk ke dalam helikopter yang telah disediakan anggota Organisasi Sakaki di China.
"Siap!" Anak buah Presdir Akira langsung berlari, beberapa dari mereka memberi perintah lewat woki-toki.
"Bagus sekali Nico..." Yuki bangkit dari lantai, masih meringis menahan sakit di perutnya.
"Bunuh anak berambut merah itu dan kita jadikan sandera anak perempuan bermata biru ini." Perintah Yuki.
Yuki sekarang sudah berdiri tegak, dia menepis debu dan menyeka darah dari mulutnya.
"Jangan melawan kalau mau adikmu tetap selamat." Yuki menarik rambut Rei dan menyeretnya ke depan Nico, "Ayo, bunuh dia." Yuki melempar Rei di hadapan Nico.
"Aku...?" Nico memandang Yuki dengan tatapan kosong.
"Ya, benar, tembaklah dia, kau menyukainya? Kalau iya tembaklah dia sebagai tanda cinta, jangan ragu-ragu." Yuki memasang tatapan sinis pada Nico.
Disaat yang bersamaan...
"Tuan! Kami menemukan sebuah bangunan runtuh ditengah-tengah Gurun Gobi!" Maskapai penerbangan China melapor pada Presdir Akira yang duduk di kursi penumpang helikopter.
"Semua unit helikopter terdekat harap segera mendarat di koordinator 57-301-2980!" Presdir Akira memerintahkan semua orang Organisasinya dengan woki-toki.
Segera semua helikopter mengepung reruntuhan bangunan itu. Suara helikopter terdengar di tempat Rei, Rin, Yuki, dan Nico.
"Orang itu sudah menemukan kita! Diluar dugaan cepat sekali! Tembak anak ini sekarang!" Seru Yuki memberi perintah pada Nico. Nico masih diam mematung, sepertinya sedang berpikir...
"Kenapa?! Cepat tembak! Tembak saja!" Yuki sekarang berteriak panik. Nico mengerutkan kening, tangannya yang memegang pistol sedikit bergetar takut.
"Kubilang tembak!! Tembak sekarang! Bunuh saja! Cepat tembak! Nico!! Tembak!! TEMBAK!!!"
DOR!!
Nico menembak Rei, tapi sesaat sebelum Nico menembak, Presdir Akira melompat dari helikopter dan melindungi Rei dengan memeluknya.
Presdir Akira tertembak, punggung Presdir Akira berlubang dan mengeluarkan banyak darah. Rei mematung di dalam pelukannya. Darah hangat mengalir jatuh ke tubuh Rei.
Anak buah Presdir Akira berdatangan menangkap Nico, Nico menembak membabi buta. Untung anak buah Presdir Akira sudah memakai baju anti peluru, Nico diborgol.
"Anak bodoh... Kau... Tidak apa-apa... Sekarang..." Kata Presdir Akira putus-putus, sepertinya sudah berusaha sangat keras untuk mengeluarkan beberapa kalimat.
Darah Presdir Akira makin banyak jatuh ke tubuh Rei, darah cair yang terasa sangat panas. Rei benar-benar membeku, dia sama sekali tidak bergerak dan tidak bisa bergerak.
"Huh! Kalian sangat bodoh!! Akan ada yang mati disini! Jangan mendekat! Akan kubunuh dia!"
Yuki menarik Rei dari pelukan Presdir Akira, Presdir Akira yang tidak memiliki tenaga lagi tak dapat menahan Rei. Yuki masih memiliki sebilah pisau, dia meletakkan pisau dileher Rei.
"Jangan mendekat! Ayo kalian mundur!"
Yuki semakin mendekatkan pisaunya ke leher Rei, ada beberapa tetes darah mengalir dari lehernya.
"... Mundur..." Perintah Presdir Akira pada anak buahnya, jangan sampai dia membunuh anakku... Pengecut...
Yuki keluar dari bagunan itu lalu membawa Rei ke dalam helikopternya, sebagai sandera.
"Kalau kalian berani mengikutiku, aku akan membunuh anak ini!" Teriak Yuki, kemudian lepas landas meninggalkan Gurun Gobi.
"... Rei..." Presdir Akira mengulurkan tangannya ke arah helikopter tempat Rei disandera yang berjarak 5 meter dari situ. Bisa-bisanya seorang penguasa dunia dipermalukan dengan kaburnya Sang penjahat... Dan kami tak bisa apa-apa melihat hal itu...
"Tidak apa-apa, aku sudah menyiapkan perangkap di dalam helikopter itu." Bisik Rin, dia menangkap tangan yang diulurkan Presdir Akira. "Bawa Presdir ke rumah sakit! Cepat!" Rin memberi perintah pada anak buah Presdir Akira.
Presdir Akira di bawa ke dalam helikopter dan langsung lepas landas menuju rumah sakit China terdekat dengan kecepatan penuh... Sebenarnya Presdir Akira tidak mau pergi sebelum mendapatkan Rei, tapi Rin memaksa, tidak apa-apa, aku akan membawa dia pulang.
"Sebaiknya kau ikut juga nak, kau tertembak." Seorang pria berjas hitam berbicara pada Rin.
"Tidak... Aku masih ada yang harus diselesaikan..." Rin berjalan sempoyongan sambil memegang tangannya yang berlumuran darah karena tertembak.
Rin mengeluarkan sayap lipat dari dalam jubah dan melesat dengan kecepatan tinggi menuju lokasi Rei.
Dilain pihak...
"HAHAHA!! Ternyata bisa lolos juga darinya! Hei bocah! Kubawa kau ke markas rahasia lain dan ku-tenggelamkan kau di dalam sebuah pipa!"
Yuki tertawa jahat, suaranya bergema di dalam helikopter. Rei masih mematung seperti melamun, hangatnya darah masih terasa di tubuhnya yang berlumuran darah segar. Sekarang mereka sedang melintas di atas laut China Selatan.
Tiba-tiba helikopter yang di naiki Yuki dan Rei mengeluarkan asap. Kemudinya tak bisa digerakkan dan mesinnya mati. Keluar banyak sekali es dari dalam kemudi helikopter... Es itu juga membekukan Yuki dikursi pengemudi.
"Apa?!! Kenapa ada es di dalam helikopter?!!" Seru Yuki dengan panik, berusaha membebaskan diri dari es yang semakin tinggi.
"Rei!! Lompat!" Teriak Rin, helikopter itu sudah terkejar dengan sayap jet roket. Rin berada di bawah helikopter.
Tanpa di suruh dua kali, Rei menendang pintu dan melompat. Saat itu mereka berada dalam ketinggian 3.450 meter dari permukaan air laut... Bahkan Rei tidak takut terjun bebas dari atas sana.
Rin menangkap Rei yang melesat jatuh. Helikopter itu baling-baling-nya pun membeku, dan akhirnya berhenti bergerak...
BYURRR! Helikopter itu jatuh ke laut, bersama-sama dengan Yuki di dalamnya.
"Bagaimana bisa..." Kata Rei pelan, merasa sangat heran dengan hal itu...
"Aku memasang mobil es ciptaanmu di dalam mesinnya. Sudah di setel otomatis aktif kalau helikopter di jalankan, ayo..."
Rin melesat ke rumah sakit tempat ayah mereka dibawa. Mereka sampai dalam waktu lebih kurang 5 menit, dan sekarang sudah masuk ke dalam rumah sakit itu.
"Gawat! Persediaan darah golongan A+ sudah habis!" Suster rumah sakit melapor pada dokter.
"Kita lakukan donor darah! Siapa yang bergolongan darah A+?!" Dokter bertanya tepat saat Rei dan Rin masuk keruang operasi.
"Aku bergolongan..."
"Aku saja, golongan darahku A+." Rei memotong kalimat Rin.
Rin menoleh ke arah Rei, apakah Rei merasa berhutang nyawa? Tapi jelas dia tak boleh menyumbangkan darah sendiri...
"Baiklah, lekas keruang operasi!" Dokter membawa Rei ke dalam ruang operasi tanpa pikir panjang lagi, keadaan gawat darurat dan tidak bisa di toleransi lagi.
Rumah sakit mereka akan di tuntut kalau Sang penguasa dunia itu mati... Benarkah?
To be continued...
Gubrak!