NovelToon NovelToon
NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama
Popularitas:509k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Nu Yayan

"Ningrat?? kok miskin?"

Pertanyaan itu sudah sering dilontarkan orang- orang pada Ning, saat mereka tahu nama asli Ning . Akan tetapi karena keadaan nya yang tak sesuai dengan namanya, seringkali menjadikan namanya sebagai ejekan baginya.


Tak hanya itu, bahkan ia memiliki kebiasaan aneh yang lain dari yang lain.

Akankah Ning bertemu dengan kebahagiaannya dibawah bayang- bayang cemoohan orang?



Ning juga dihadapkan pada dua pilihan tersulit dalam hidupnya.

"Yang satu ku sayangi, yang satu kucintai ...."

Pada siapakah hati dan hidupnya akan ia serahkan ...?

Nantikan kisahnya dalam NINGRAT Antara Dia dan Duda ...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Nu Yayan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan Culik Hamba ....

Ning masih setia menunggu anak asuhnya di luar kamar Athar. Beruntung Dino tidak berlama- lama di dalam sana. Setelah ia keluar, Ning kembali mengekorinya dari belakang.

“Mana nomor kontak mu?” tanya Dino saat akan masuk ke dalam kamarnya.

“Untuk apa?” tanya Ning heran.

“Tentu saja untuk menghubungi mu.”

“Kan saya ada di depan kamar Tuan Muda, tinggal panggil saja apa susahnya,” ucap Ning yang masih merasa heran.

“Tunggu … jangan bilang kalau Tuan Muda naksir sama saya ya, makanya pengen teleponan nanti malam ya sama saya …” ucapnya menduga- duga.

“Cih, seandainya pun tinggal kau wanita satu- satunya di dunia ini, aku tidak akan sudi tertarik pada mu!!” ucapnya dengan percaya diri.

“Yakin?” goda Ning.

“Heh, apa kau tidak sadar siapa aku dan kau siapa, hah? Lihat dirimu, seorang kacung saja begitu percaya diri berharap aku menyukai mu. Jangan mimpi!!!”

“Baiklah kalau begitu, berarti Tuan Muda tidak memerlukan nomor saya. Dan jangan harap saya akan memberikannya. Bisa- bisa saya diteror malam- malam disuruh ini itu.” Ning melengos begitu saja, namun Dino menarik lengannya dengan kasar.

“Cepat berikan nomor mu!!” bentaknya memaksa.

“Gak mau!!” Ning pun tetap pada pendiriannya.

“Berikan nomor mu atau aku minta Mama memecat mu detik ini juga!!” Dino akhirnya mengeluarkan ancaman.

“Ihhh … dasar dinosaurus, beraninya mengancam ku ….” Ning menggerutu dalam hati.

“Kok maksa sih … Wah ini mah sih benar- benar naksir ya.” Ning kembali menggodanya.

“Diam kau!! Cepat berikan momor mu!” Dino semakin kesal.

“Untuk apa memangnya? Jika kau memerlukan bantuan tinggal keluar kamar. Saya ada disini kok.”

“Memangnya kau akan berjaga di sini sampai 24 jam, hah?” bentak Dino.

“Ya enggak lah ….”

“Yasudah cepat sini berikan nomor mu!”

“Gak!!”

“Baiklah … jika itu mau mu. Aku akan mengambil sendiri ponsel dari dalam saku celana mu.”

“Memangnya kau berani?” Ning malah menantang.

“Kau pikir aku takut.” Dino semakin mendekat pada Ning.

Tangan kanan dino masih memegang lengan Ning, sementara tangan kirinya mulai menyentuh paha Ning untuk mengambil ponsel dari saku celana Ning. Hal itu membuat Ning terkejut sekaligus takut.

“Hei, jangan kurang ajar kau ya! singkirkan tangan mu!!” Ning termakan tantangannya sendiri.

Tangan Dino tak berhenti dan berlanjut meraba paha Ning hendak masuk ke dalam saku celana Ning. Sementara matanya menatap mata Ning dengan memberi senyuman menyeringai.

“Berhenti!! Iya iya saya akan memberikannya ….” Ning akhirnya menyerah.

“Berapa?” tanya Dino dengan tangan yang masih dalam posisi semula.

“Singkirkan dulu tangan mu dari paha ku!! Bentak Ning.

Dino pun melepaskan tangan Ning dan berhenti meraba paha Ning. Ia mengambil ponsel dari dalam saku celananya.

“Dasar pria mesum menyebalkan!” Ning tak hentinya menggerutu. Sebagai seorang wanita, ia merasa dilecehkan.

“Berhenti mengoceh … Berapa nomor mu?”

“Kenapa kau begitu menginginkan nomor ku,sih?”

“Aku tidak mau kau berlama- lama di sini. Bisa- bisa mencemari kamar ku.”

“Maksud Tuan apa bicara seperti itu?”

“Aku yakin kau yang membuat Om ku sampai sakit seperti itu. Kau ini kan wanita jorok yang suka kentut sembarangan.”

“Hah? Apa jangan- jangan si dinosaurus ini juga alergi bau kentut?” gumamnya dalam hati.

“Tapi masa iya cuman gara- gara mengidap penyakit aneh itu sampai dicarikan pengasuh, sekolah di rumah, bahkan tidak boleh keluar rumah,” lanjutnya berdialog dalam hati.

“Heh … kenapa kau malah melamun … mana nomor mu?” Dino menagih.

“Iya iya.” Ning pun menyebutkan nomor hape-nya pada Dino. “Pastikan nomor mu selalu aktif.”

“Iya.”

“Sudah pergi sana!”

“Maksudnya?” Ning semakin heran.

“Apa kau tuli? Aku menyuruh mu pergi dan menjauhlah dari kamar ku!”

“Tapi kata kepala pelayan, saya harus stand by di depan kamar tuan muda.”

“Oh astaga … Kalau aku bilang pergi ya pergi. Jika aku membutuhkan mu aku akan menghubungi mu.”

“Serius? Berarti saya boleh kembali ke kamar?” tanya Ning memastikan.

“Iya … cerewet sekali kau ini!”

“Baiklah, Tuan Muda yang manis manja. Saya pamit undur diri. Wassalam …” Ning membalikan tubuhnya lalu beranjak pergi.

“Akhirnya terbebas dari pekerjaan sebagai patung penjaga pintu dan aku bisa santai- santai di kamar ku ….” ucapnya merasa senang. Ia pun bergegas kembali ke kamarnya.

**

Sesampainya di kamar, Ning langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia menghela nafas panjang beberapa kali, seolah melepas penat setelah melewati hari yang melelahkan dengan berbagai intrik yang terjadi.

“Kenapa aku inget terus sama si tuan Om ya? Apa karena aku belum meminta maaf padanya setelah dua kali membuatnya sakit seperti itu? atau karena dia sangat tampan, hihihihi,” ucap Ning lalu cekikikan sendiri.

“Jadi ingat perkataan si Ocha … " ucapnya senyam senyum.

"Sadar sadar Ning … Jangan pernah bermimpi terlalu tinggi ….” Ning menjitak kepalanya sendiri. Ia melihat jam tangannya.

“Ya ampun, ternyata ini sudah jam empat sore … Aku melewatkan shalat dzuhur,” ucapnya baru menyadari. Ia bangun dan bergegas pergi ke kamar mandi.

Ia merasa tidak nyaman dengan celananya. Dan benar saja, saat membuka celana ternyata ia sedang datang bulan. Karena pakaiannya terlanjur kotor setelah terkena bercak darah dan terjatuh di taman tadi, ia akhirnya mandi.

“Aduh, pinggang ku pegal sekali ….” ucapnya setelah selesai berpakaian. Ia berjalan ke arah jendela kamar. Ia lalu membuka jendela kamar itu.

“Baru nyadar, ternyata dari kamar ini bisa melihat ke arah taman halaman samping yang lumayan luas itu.” Ning menghela nafas panjang, menghirup udara segar dari tanaman hijau dan bunga- bunga dari luar sana.

“Hayati lelah rasanya, setelah melewati hari yang begitu menguras tenaga, jiwa dan raga,” ucapnya sembari bersandar pada dinding jendela.

“Kenapa aku bisa sampai lupa kalau ini sudah masuk tanggal mens-ku. Pantas saja hari ini aku ingin memakan semua orang.”

Ceklek …

“Ning, koki menyuruhmu menanyakan menu makanan untuk makan alam tuan muda,” ucap Tini yang masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu.

“Iya ….” Ning pun segera beranjak untuk melaksanakan tugas yang diberikan padanya.

Baru saja ia menutup pintu kamar, ponselnya berdering. Terlihat nomor baru yang memanggil. Ning pun menerima panggilan tersebut.

“Hall____” belum selesai Ning menyapa, Dino langsung nyamber.

“Tidak usah menanyakan aku ingin makan apa.”

“Tuan Muda ??” ucap Ning yang mengenal suara anak asuhnya.

“Iya … aku tidak akan memesan makanan apa pun.”

“Apa? Maksudnya tuan muda tidak akan makan malam?” tanya Ning memastikan.

“Aku bilang tidak usah ya tidak usah!”

“Tapi____”

Tut tut tut tut

Dino mematikan sambungan telponnya begitu saja.

“Sialan … gak di telpon gak ngomong langsung. Sama saja suka seenak jidatnya,” maki Ning kesal.

“Apa tadi katanya … tidak akan memesan makanan apa pun? Apa dia akan puasa makan malam?”

“Sudahlah, aku tidak perlu ke sana, toh itu juga perintahnya kan. Biarkan saja dia tidur dalam keadaan lapar.”

Ceklek … Blam …

Ning membuka pintu dan kembali menutupnya setelah ia masuk.

Sore telah berganti malam, langit pun sudah menggelap. Lampu- lampu pun dinyalakan sebagai cahaya yang menerangi rumah- rumah.

Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Seluruh anggota keluarga berkumpul di meja makan untuk makan malam bersama. Begitu pun dengan wanita yang dipanggil nyonya besar ikut bergabung di meja makan. Di sana ada pula Rosmala, suami dan kedua putrinya, serta Athar.

“Athar, Aufar bilang tadi alergi mu kambuh lagi … bagaimana sekarang keadaan mu?” tanya Nyonya besar.

“Aku sudah tidak apa- apa, Mami.”

“Syukurlah, lain kali kamu harus lebih hati- hati, nak.”

“Iya, Mami."

Terdengar suara derap langkah seseorang yang berjalan menuju meja makan. Semua mata tertuju pada orang itu dan membuat semuanya terkejut Bukan hanya anggota keluarga saja, namun para pelayan pun terkejut melihatnya.

“Dino??” ucap Rosmala dan suaminya yang merasa tak percaya.

“Selamat malam semua,” sapa nya pada semua orang.

“Apa mama tidak salah lihat?” Rosmala masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Anak nakal … ayok sini duduk dekat dengan Oma.”

“Iya, Oma ….”

“Woah … ini sangat mengejutkan … Akhirnya kakak tersayang ku keluar dari sarangnya dan ikut makan malam bersama … Apa aku sedang bermimpi?” ucap Diasri putri kedua Rosmala yang usianya tidak jauh dengan Dino.

“Dias mau Om cubit biar tahu mimpi atau tidaknya?” Athar malah menggoda keponakannya.

“Jangan Om, aku baru aja habis medicure pedicure dan luluran. Nanti kulit ku merah.”

“Papa senang, akhirnya kamu bisa bergabung dengan kami di sini.” Aufar yang merupakan ayahnya Dino ikut senang menyambut putranya.

“Kapan makan nya ini? Perut ku sudah keroncongan … Aku semakin bersemangat makan kalau semua bisa kumpul seperti ini.” ucap nyonya besar.

Semua orang mulai menyantap berbagai macam hidangan yang sudah disajikan di atas meja makan. Sementara Rosmala yang sejak tadi terkejut pun, kini tersenyum sumringah.

“Aku memang tidak salah memilih Ning menjadi pengasuh putra ku … Baru sehari bekerja saja sudah membuat Dino keluar kamar, bahkan ikut makan malam bersama setelah bertahun- tahun ia selalu makan di kamar,” gumam Rosmala dalam hati.

Setelah, para majikan selesai makan dan pelayan membereskan bekas makannya. Kini giliran para pegawai yang makan di tempat makan khusus untuk para pegawai di rumah itu, tak terkecuali Ning. Ia tak ingin terlambat lagi, karena jika itu tejadi maka ia hanya bisa minum air putih saja seperti pagi tadi.

Terdengar desas-desus sebagian pelayan wanita membicarakan Dino yang tiba- tiba makan bersama keluarganya. Mereka seolah tak takut membicarakan cucu kesayangan sang pemilik rumah.

“Apanya yang aneh … si dinosaurus ikut makan malam di meja makan saja sampai menghebohkan sekumpulan pelayan ini,” gumam Ning dalam hati.

**

Keesokan harinya pagi- pagi sekali Ning sudah bersiap dan segera pergi menuju kamar Dino. Ia berjalan sembari bernyanyi- nyanyi kecil dengan suara pelan. Saat ia melihat Athar yang sudah berpakaian rapi sedang berjalan menuju ke arahnya, dengan segera ia berlari menaiki tangga.

Ternyata ia benar- benar menepati janjinya sendiri yang tak akan menampakan diri di hadapan Athar. Dan hal itu terjadi hingga beberapa hari. Ning berusaha sebisa mungkin menghindar Athar.

Ning yang menjalankan tugasnya dengan baik dan mendapat pujian dari Rosmala, bahkan ia memberikan Ning bonus uang tunai karena Ning sudah mampu membuat Dino tak pernah makan di kamarnya lagi, dan selalu makan di meja makan bersama anggota keluarga lainnya.

“Hei tuan muda … apa kau tidak bosan terus- terusan bermain games? Selama seminggu ini aku hanya mengawasi bayi besar yang sedang bermain games di laptop atau di hape,” ucap Ning menggerutu karena yang sudah merasa pegal terus berdiri di samping sofa tempat Dino duduk.

“Bukan urusan mu!”

“Pantas saja kau tidak lulus ujian … kerjaannya hanya main games, makan dan marah- marah.” Ning mulai mengejek.

“Hentikan ocehan mu! Lama- lama kau seperti Mama-ku saja!”

“Main games itu hanya membuat mu jadi bodoh,” ucap Ning tak hentinya mengganggu Dino.

“Aku bukan orang bodoh!” sangkal Dino.

“Kalau tidak bodoh, kenapa kau tidak lulus ujian? Apa karena kau terlalu jenius? Hahahaha … lucu sekali …” Ning menertawakan dengan renyahnya.

“Hei tuan muda … asal kau tahu, orang- orang menganggap murid yang tidak lulus ujian itu orang yang bodoh.” Lanjutnya.

“Tapi lain halnya dengan ku!” Dino masih saja ngeles.

“Halahh, bodoh mah bodoh aja kali.”

Dino menghentikan jemarinya yang sibuk bermain game. Ia menatap tajam pada Ning.

“Aku sudah bilang, aku ini bukan orang bodoh.”

“Tapi bukti berkata demikian, Tuan Muda … Eng … kecuali jika tuan muda bisa membuktikannya.”

“Hah, untuk apa aku membuktikannya pada mu?” Dino tersenyum ketir.

“Baiklah, jadi kau benar- benar orang yang bodoh … sekolah homeschooling aja muridnya cuman sendiri di rumah sampai gak lulus. Padahal tidak ada saingan tuh.”

“Diam kau!”

“Aku tidak mau diam, bodoh bodoh bodoh bodoh ….” Ning terus mengatai Dino.

“Kau!!” Dino berdiri dan menunjuk wajah Ning.

Ning menjurkan lidahnya tanda mengejek, ia lalu bergegas pergi keluar kamar sebelum anak asuhnya mengamuk.

“Hahahaha … target sudah mulai terpancing … Oh one hundred million … Come to me come to me, please.” Ning cekikikan sendiri di luar kamar Dino. Tiba- tiba tangan Ning ditarik hingga menyeretnya mengikuti orang itu.

“Eh, apa- apaan ini? Kenapa kau menarik ku … lepaskan tangan ku, lepaskan … Jangan culik hamba ….” Ning berontak minta dilepaskan.

“Sssssttt diam!! Tutup mulut mu!!” ucapnya sembari terus menarik Ning ikut dengannya berjalan entah dibawa kemana.

---------------- TBC --------------

**************************

1
Chintya
1 tahun lebih gada kelanjutanya sayg bgt
Chintya
kpn endingnya
ziya
udah 2024 Thor
N_ariya
galau" tuh si ning
anjurna
Ketawa
N_ariya
Mimi peri pake baju daun kelapa,,,,,😂😂😂
Sebastian Clements
lanjut thor
Sebastian Clements
Lanjut thor
Sebastian Clements
lanjut thor
Asngadah Baruharjo
patah hati Ning 😀
Asngadah Baruharjo
om tamvan 🤣🤣🤣
Asngadah Baruharjo
hadeehhhhhhh,bikin sakit perut 🤣🤣🤣
Asngadah Baruharjo
ngakak paraahhh
Asngadah Baruharjo
asyiiikk asyik
Asngadah Baruharjo
sakit perut kebanyakan ngakak
Asngadah Baruharjo
ningrat kok miskin wa ha ha 🤣🤣🤣🤣, ngakak paraahhh 😀
Asngadah Baruharjo
Ning sabar ya
Asngadah Baruharjo
aduh Ning Ning
Asngadah Baruharjo
semangat thoorrr 🌹🌹🌹
Asngadah Baruharjo
hoalah Ning Ning apes temen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!