ini cerita sedih tentang seorang istri yang tak di cintai suami nya, karena dia hanyalah istri yang di pilih keluarga nya bukan hatinya.
setelah perceraian terjadi, pria itu baru menyadari betapa pentingnya gadis itu untuknya.
perjuangannya untuk mendapatkan cintanya kembali akankah berhasil? menikahinya untuk kedua kalinya. atau malah cintanya tak terbalas karena si gadis mencintai pria lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rniehamizan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13
Reva rasanya ingin sekali membanting apapun yang ada di dekatnya sekarang. baru juga pulang sudah disuguhi pemandangan yang menjijikan. dia lupa, kalau malam ini adalah malam pertama bagi suami dan madunya. sungguh, Reva merasa sangat bodoh. kenapa menolak ajakan venty untuk bermalam di rumahnya.
Jessy memasang wajah pura-pura terkejut saat melihat Reva tengah sibuk memasak di dapur.
"oh.. ku pikir kau tak pulang. istri tua."serunya sedikit terkikik mencoba menyulut emosi Reva.
"kau..jangan sebut aku.."
"aku lapar." seru Adam membuat Reva menghentikan ucapannya.
Adam dan Jessy dengan seenaknya duduk di kursi menunggu Reva menyelesaikan acara memasaknya. mereka sudah seperti tuan dan nyonya sementara Reva lebih terlihat seperti pelayan saja.
Adam mengerang. "apa kau masih belum selesai, waktu makan malam hampir habis." marahnya.
Reva menarik napas dalam. menjawab pun percuma tak akan ada gunanya. dia segera meletakkan semua piring yang penuh masakan di atas meja.
Reva mendudukkan diri nya diseberang Adam, lalu menyendok nasi beserta lauk untuk dirinya sendiri. matanya melirik Jessy yang kini tengah menyuapi Adam dan sesekali terkikik geli karena Adam menggodanya.
Dengan mati-matian Reva menahan detak jantungnya yang tak beraturan. menghembuskan napas mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"re...."
"Reva..."
Reva mengeryit saat mendengar Adam memanggil namanya.
"kau melamun?" tanya Adam membuat Reva tak percaya dengan apa yang di dengar nya. sejak kapan adam memperhatikan nya. lebih terkejut lagi saat melihat Adam kini tengah menatapnya.
"ah.. maaf. aku sudah selesai." Reva membawa piringnya lalu membuang sisa makanan nya ke dalam tempat sampah.
Adam meremas sendok yang di pegang nya, melihat sikap Reva yang seperti ini membuatnya sedikit terganggu. pasalnya Reva selalu cerewet tapi malam ini dia begitu pendiam bahkan terkesan sangat cuek.
Jessy mendengus tak suka dengan suasana ini. dia merasa Adam terlalu peduli pada Reva hingga melupakan keberadaan nya.
"aku sudah kenyang. kita kembali ke kamar." rajuk Jessy membuat Adam tersadar dan segera merangkulnya.
"ayo.. ini malam pertama kita.." bisik Jessy yang mampu di dengar jelas olah Reva.
"aahh.." Jessy terpekik saat Adam mengangkat tubuh nya dengan cepat, membopong nya ke luar dari ruang makan.
Jangan tanyakan Reva sekarang, tentu saja dia sangat terluka. sebagai istri tertua di rumah ini bahkan di peluk saja belum pernah apa lagi melewati malam pertama bersama suaminya, statusnya masih saja virgin. belum terjamah sedikit pun. Reva meringis mengetahui kenyataan itu, dia tak bisa menyangkalnya dadanya sesak dan ulu hatinya begitu berdecit sakit.
Setelah mencuci piring kotor Reva mencoba untuk mengistirahatkan tubuhnya. tapi langkahnya terhenti saat melewati kamar utama, tempat Adam dan Jessy sekarang.
"ahhh.. adammm...aaah."
"nggnngghh...."
Reva menahan napas saat sadar suara apa yang di dengar nya. dia masih setia berdiri dibalik pintu dengan tangan yang terkepal dan wajah yang pucat pasi.
"aaaaahhh.. jes, bhaagguuss...." itu suara Adam. Reva semakin menegang dibuat nya.
hatinya hancur, airmatanya meleleh deras.
Btuk...
Reva terduduk di lantai. dia merasa dunianya hancur sekarang, kakinya lemas tak kuat lagi menopang tubuhnya.
Airmata nya mengalir deras membasahi kedua pipi nya, tanpa isakan karena dengan kuat menutup mulutnya menggunakan tangan. denyutan menyakitkan di ulu hatinya semakin membuat tak bisa menahan semuanya.
Cukup lama Reva menangis dengan posisi itu. hingga tak terdengar lagi suara desahan dari kamar Adam.
Ceklek..
Pintu kamar Adam terbuka, membuat Reva mendongak dengan cepat.
"re..Reva...ap..apa yang kau lakukan di sini?" Adam terkejut melihat Reva yang bersimpuh di lantai dan jangan tanyakan seperti apa wajah Reva sekarang. dia begitu kacau.
"a..aku hanya tak sengaja terpeleset dan jatuh di sini."
Reva menunduk saat melihat Adam menatapnya dengan tatapan yang datar. tangannya saling bertautan karena merasa gugup.
"bangunlah." Adam menyentuh pundaknya dengan maksud untuk membantu nya berdiri, tapi dengan cepat reva menepisnya dan bangun dengan sendirinya.
"aku masuk ke kamar dulu." ucap Reva seraya membalik tubuhnya.
"kau mendengarnya bukan?" tanya Adam membuat Reva menghentikan langkahnya.
"a...aku.." Reva menelan ludahnya gugup. "tak sengaja lewat."
Adam menatap datar ke arah Reva, sebelah tangannya ia selipkan di kantong celana. berjalan mendekati Reva dan berdiri tepat di belakangnya.
"jika kau tak ingin mendengarnya lagi, pindah lah ke kamar yang ada di dekat dapur."
Reva memejamkan matanya mencoba menahan airmata yang kembali menggenang.
"tenang saja aku tak terganggu oleh itu. santai saja, wajar saja jika aku mendengar nya. lagian ini malam pertama kalian."
Adam terkejut dan memundurkan langkahnya dengan reflek. perkataan Reva membuat nya tak karuan, hatinya terasa tertohok.
"aku masuk dulu." ucap Reva lalu masuk kedalam kamarnya yang berada di depan kamar Adam.
Adam masih mematung di tempatnya, dia benci dengan ke adaan seperti ini. dia merasa mulai terganggu setiap hatinya merasa bersalah terhadap Reva. Adam menghela napas.
Beberapa menit kemudian Adam sudah berada di ruang tamu. duduk merenungi semuanya. dia sadar sebagai suami yang sudah menikahinya selama hampir setahun lebih ini tak pernah melakukan ke wajibannya sama sekali pada Reva. bahkan dia tak pernah memeluk tubuh kecil itu.
Berbeda dengan Jessy, hampir setiap waktu dia menyentuhnya bahkan sudah melakukan semua nya sebelum menikah.
"maafkan aku..reva.." gumam Adam. "ibu maafkan aku.."
Dua nama itu berputar di kepalanya. dia merasa menjadi pria yang begitu kejam, tapi apa salahnya dia hanya ingin mendapatkan kebahagiaan nya. pernikahan nya dengan Reva hanyalah karena sebuah paksaan. dia tak bisa dengan mudah menerima nya. meskipun sekarang perlahan mungkin Adam mulai menerima kehadiran nya.
Kamar Reva terlihat begitu gelap karena sengaja lampu nya tak di nyalakan. Reva meringkuk di atas kasurnya. airmatanya kembali menetes saat mengingat kejadian beberapa menit yang lalu. suara-suara desahan yang bersautan memenuhi kepala Reva, membuatnya menjambak rambut dengan brutal.
"ini..sakit mas.. sangat sakit." isaknya.
kau hanya istri di atas kertas.
karena mu aku gagal menikah dengan kekasihku
Air mata Reva semakin mengalir saat mengingat perkataan Adam di saat awal pernikahan mereka.
"ini semua memang salah ku sejak awal."
tok..tok
Ketukan pintu membuat Reva tersadar dari lamunannya. membangunkan dirinya dengan cepat, berjalan mendekati pintu seraya memegang kepalanya yang berdenyut. karena terlalu banyak menangis.
Ceklek..
"Reva ada yang ingin..." adam menggantungkan kalimatnya begitu melihat wajah Reva yang pucat.
"kau sakit?" Adam mengulurkan tangannya tapi dengan cepat Reva mundur.
"aku hanya ingin mengecek suhu tubuhmu." jelas Adam menarik kembali tangannya yang terulur.
"aku baik-baik saja. ada apa?" suara Reva begitu parau. Adam mengurungkan niatnya setelah melihat keadaan Reva yang seperti ini.
"besok saja. kembali lah istirahat."
"mm.. iya." Reva kembali menutup pintunya. menyisakan Adam yang masih berdiri dengan hatinya yang bergemuruh. pria berkulit Tan itu merasa aneh saat melihat Reva yang begitu kacau, hatinya merasa berdenyut dan ingin sekali memeluk tubuhnya. perasaan yang ingin dia tepis tapi sulit rasanya. semakin melihat wajah yang sendu itu hati nya semakin berontak.
Apa Adam mulai mencintainya? atau hanya rasa kasihan saja?