NovelToon NovelToon
Dewa Pedang Di Dunia Modern

Dewa Pedang Di Dunia Modern

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi Isekai / Dunia Masa Depan
Popularitas:485
Nilai: 5
Nama Author: R. Seftia

Zhang Lin dikenal sebagai "Dewa Pedang" dari Dinasti Yin; ketika dia sedang menjalankan sebuah misi, dia tiba-tiba dihadapkan dengan sebuah pengkhianatan dari negerinya sendiri hingga membuatnya meregang nyawa.

Namun, bukannya langsung meninggal dan pindah ke alam baka—Zhang Lin justru mendapatkan kesempatan kedua untuk kembali hidup di dunia modern yang di mana semua orang hidup dengan cara yang cepat.

Di dunia modern, Zhang Lin bertemu dengan Li Na—seorang asisten editor di salah satu penerbit besar.

Kehidupan kerja Li Na begitu berat, dan sejak kecil dia telah terkenal karena nasib buruknya; namun, ketika bersama dengan Zhang Lin, nasib buruk itu berganti dengan keberuntungan—namun, keberuntungan itu datang bersamaan dengan bayangan kematian yang mengintainya dan Zhang Lin dari kejauhan.

...
Untuk mendapatkan update ilustrasi karakter, bisa follow akun sosmed author, ya!
FB : Refinawriters
IG : Refinawriters_
TT :refinawriters

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. Seftia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengalahkan Pria Itu

Zhang Lin hanya berdiri diam di pintu gudang saat melihat pria yang wajahnya sangat mirip dengan pangeran di masa lalunya itu kini berdiri tegak. Tali yang sebelumnya mengikat tubuh pria itu sudah tergeletak hancur di atas lantai, terkoyak oleh sisa bilah tajam yang tergeletak di dekatnya. Pria itu menggenggam sebuah pedang berbilah panjang dengan sangat erat, sementara matanya memancarkan kilat amarah dan niat membunuh yang mendalam.

Tanpa mengalirkan satu patah kata pun, pria itu tiba-tiba menggerakkan tangan kanannya. Dengan satu kibasan kuat, ia melemparkan sebilah pedang lain yang ada di atas meja kayu ke arah Zhang Lin.

WUSSS!

Bilah besi itu berputar cepat di udara, membelah keheningan gudang yang pengap. Zhang Lin tidak panik sedikit pun. Dengan satu gerakan refleks yang tenang, ia menggeser langkah kakinya ke kiri, melayangkan tangan kanannya, dan dengan presisi yang sempurna, jemarinya langsung menyambar gagang pedang yang terlempar ke arahnya tersebut.

Denting besi terdengar halus saat Zhang Lin menggenggamnya. Berat pedang di tangannya terasa sangat pas, seolah-olah senjata itu memang sengaja disiapkan untuk dirinya.

Pria berjas rapi itu tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh keangkuhan yang sangat dibenci oleh Zhang Lin sejak kehidupan lamanya.

"Pegang senjatamu dengan benar, Jenderal," ucap pria itu dengan suara yang dingin dan berwibawa. "Di masa lalu, kamu selalu berada di barisan paling depan dengan ribuan prajurit di belakangmu. Tapi hari ini, di ruangan tua yang kotor ini, hanya ada kamu dan aku. Kita selesaikan urusan yang tertunda di antara kita tanpa ada gangguan dari siapa pun."

Zhang Lin perlahan mengangkat pedangnya. Ujung bilah tajam itu menunjuk lurus ke dada pria di hadapannya. Raut wajah Zhang Lin benar-benar datar, namun sepasang matanya memancarkan aura membunuh yang jauh lebih pekat daripada atmosfer di dalam ruangan itu.

"Aku tidak peduli siapa kamu di era modern ini," sahut Zhang Lin dengan nada suara yang begitu dalam dan menekan. "Tetapi jika kamu pikir kamu bisa menyakiti orang-orang di sekitarku demi memancingku keluar, maka kamu sudah membuat kesalahan besar yang tidak akan pernah bisa kamu perbaiki."

Pria itu tidak membalas lagi. Ia menghentakkan kakinya ke lantai beton secara tiba-tiba, melesat maju dengan kecepatan yang luar biasa.

TRANGG!!

Suara benturan besi yang pertama menggelegar hebat di dalam gudang. Serangan pembuka dari pria itu sangat cepat dan bertenaga, mengincar langsung ke arah leher Zhang Lin. Namun, Zhang Lin menangkis tebasan tersebut tepat pada waktunya, menciptakan percikan api yang menyala singkat di udara yang berdebu.

Pertarungan satu lawan satu itu pun pecah seketika.

Pria itu bergerak seperti bayangan yang sangat terampil. Setiap ayunan pedangnya teratur, memiliki pola pertempuran tingkat tinggi yang jelas hanya bisa dikuasai oleh seseorang yang dilatih secara keras untuk membunuh. Ia terus melancarkan tebasan bertubi-tubi: menebas dari atas, menusuk lurus ke depan, lalu mengibaskan pedangnya secara horizontal untuk memotong perut Zhang Lin.

Namun, Zhang Lin bukanlah seorang komandan perang biasa. Pengalaman bertarungnya selama bertahun-tahun di medan perang masa lalu telah membentuk refleks tubuhnya menjadi seperti benteng kokoh yang tak mudah ditembus. Zhang Lin melangkah mundur secara konstan, memiringkan tubuhnya untuk menghindari tusukan berbahaya, dan menangkis setiap tebasan dengan tangkisan yang sangat solid.

TRANGG! TRANGG! BUMM!

Setiap kali pedang mereka saling beradu, tekanan dari dentingan besi itu bergema keras menembus dinding-dinding pabrik tua yang retak. Ujung pedang musuh sempat menyayat sedikit kain baju Zhang Lin di bagian dada, tetapi goresan kecil itu sama sekali tidak memengaruhi konsentrasi bertarung sang Dewa Perang.

"Kenapa kamu hanya bertahan, Jenderal?!" teriak pria itu sambil melayangkan tebasan diagonal dari bahu kanan ke pinggul kiri. "Apakah kemampuanmu bertarung sudah tumpul karena terlalu lama hidup santai di zaman yang serba mudah ini?!"

Zhang Lin membelokkan tebasan itu dengan putaran bilah pedangnya sendiri, lalu mempergunakan momentum tersebut untuk melayangkan tendangan keras tepat ke arah perut pria itu.

BUKK!

Pria itu tersentak dan mundur beberapa langkah ke belakang. Sejenak, ia tampak menahan napasnya yang mulai memburu karena kejutan dari dorongan fisik Zhang Lin.

"Aku hanya sedang memperhatikan teknarmu," jawab Zhang Lin dingin. "Dan gerakanmu ... benar-benar sama persis dengan teknik pedang istana kerajaan dari zamanku."

Mendengar hal itu, tatapan mata pria tersebut semakin menggelap. Tanpa banyak bicara lagi, ia kembali memacu langkahnya dengan kecepatan yang lebih tinggi dari sebelumnya. Kali ini, ia bertarung lebih nekat, memanfaatkan sisa tenaga dan emosinya untuk menghancurkan pertahanan Zhang Lin.

Bilah pedangnya menyambar dari berbagai sudut yang sangat sulit diprediksi. Gerakannya menjadi semakin liar namun tetap mematikan. Pria itu memutar tubuhnya di udara, menebas dari atas ke bawah secara berturut-turut demi memaksa Zhang Lin untuk kehilangan keseimbangan.

Namun, Zhang Lin mulai mengubah gaya bertahannya menjadi pola serangan balik yang agresif.

Zhang Lin tidak lagi melangkah mundur. Ia mulai merangsek maju, memotong ritme tebasan lawan di titik terlemahnya. Begitu pedang musuh terayun terlalu jauh ke kiri, Zhang Lin maju satu langkah besar, menangkis bilah besi itu dengan pangkal pedangnya, lalu menggunakan sikut tangannya untuk menghantam wajah pria itu dengan sangat telak.

BUKK!!

Darah menyembur keluar dari hidung pria itu. Pria itu terhuyung-huyung ke belakang dengan pandangan yang sempat mengabur. Tetapi sebelum ia sempat memulihkan posisi tubuhnya atau mengangkat kembali senjata di tangannya, Zhang Lin sudah melesat maju seperti seekor harimau yang siap mencengkeram mangsanya.

SREETT!

Zhang Lin mengibaskan pedangnya secara mendatar, memotong gagang pedang di tangan pria itu hingga patah menjadi dua bagian. Senjata milik pria itu terlempar bebas dan jatuh menghantam lantai gudang yang berdebu dengan bunyi yang kencang.

PLAK!

Zhang Lin mencengkeram erat leher baju pria itu dengan tangan kirinya, lalu membanting tubuh pria itu ke tanah berdebu dengan hentakan yang luar biasa keras.

BUMM!!

Tubuh pria itu terhempas ke lantai beton hingga napasnya tersengal-sengal dan dadanya naik turun dengan cepat. Rasa sakit yang menjalar di seluruh tulang belakangnya membuat pria itu tidak mampu lagi untuk langsung bergerak bangun.

Seluruh pertarungan sengit yang menguras tenaga itu kini telah usai. Keheningan yang mencengkeram kembali menguasai gudang tua tersebut, menyisakan suara deru napas berat dari mereka berdua.

Zhang Lin berdiri tegak di atas tubuh pria yang terlentang tak berdaya itu. Pakaian Zhang Lin berdebu dan terdapat beberapa sobekan akibat tebasan senjata, namun postur tubuhnya masih terlihat begitu tegap dan dominan.

Secara perlahan, Zhang Lin menurunkan ujung pedangnya yang masih berkilau tajam. Ia mengarahkan dan menempelkan mata besi dingin itu tepat di atas kulit leher pria tersebut. Hanya butuh satu tekanan kecil saja dari tangan Zhang Lin, maka tenggorokan pria itu akan langsung bocor terpotong.

Pria yang tergeletak di lantai itu menatap ujung pedang di lehernya, lalu mengalihkan pandangannya ke arah wajah Zhang Lin. Di balik rasa sakit di tubuhnya dan darah yang mengalir dari hidungnya, pria itu justru menyunggingkan tawa kecil yang terdengar sangat pahit.

Zhang Lin menatap pria itu dengan pandangan mata yang sangat tajam dan dipenuhi oleh tumpukan pertanyaan yang sudah ia tahan sejak lama.

"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Zhang Lin dengan suara yang begitu berat dan bergetar oleh rasa curiga yang mendalam. "Kenapa kamu terus mengincarku dan orang-orang di sekitarku? Apa jangan-jangan ... kamu juga datang dari masa lalu? Sepertiku?"

...

-BERSAMBUNG-

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!