Akhirnya ku menemukanmu
Saat hati ini mulai merapuh
Akhirnya ku menemukanmu
Saat raga ini ingin berlabuh
Ku berharap engkau lah
Jawaban sgala risau hatiku
Dan biarkan diriku
Mencintaimu hingga ujung usiaku
Jika nanti ku sanding dirimu
Miliki aku dengan segala kelemahanku
Dan bila nanti engkau di sampingku
Jangan pernah letih tuk mencintaiku
Sepasangan kekasih yang harus terpisah karena keadaan. Namun, dengan berbagai cobaan yang datang, akhirnya mereka di pertemukan kembali dan di satukan dengan keadaan yang berbeda pula.
Raditya Purnomo ♥️ Winda Wulandari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tarti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Radit duduk termangu di ruang keluarga. Matanya terus menatap wajah Winda yang ada di ponselnya. Hatinya masih bertanya-tanya, siapa sebenarnya Winda, kenapa fotonya ada di galeri ponselnya bersama laki-laki lain.
"Sedang apa kamu nak?" suara lembut mama Ami, mama dari Radit, mengagetkan Radit. Radit tersenyum dan menggeser duduknya untuk memberikan tempat duduk untuk mamanya.
"Gak ngapa-ngapain, ma."
"Itu foto siapa. Cantik banget."
"Gak tau, ma."
"Lho kok gak tau. Ini ponsel kamu, kan?"
"Iya. Tapi Radit gak tau kenapa foto ini ada di ponselku."
"Kamu kenal dengan wanita itu?"
"Gak tau, ma. Tapi wajah dan namanya sih sepertinya dia karyawan Radit di kantor."
Mama Ami memperhatikan foto Winda.
"Kenapa, ma?"
"Cantik ya. Cocok jadi pendamping hidup kamu."
"Ish, mama ini. Kenal juga gak."
"Namanya juga jodoh, Dit. Sekarang bilang gak kenal karena belum pernah bertemu."
"Mama godain Radit aja."
Radit merangkul pundak mama Ami. Tidak di pungkiri, Radit mulai mengagumi sosok Winda. Kecantikannya yang alami, semakin membuat Radit kagum.
####
Hari Minggu. Winda tengah mengunjungi tempat kediaman Septi. Septi tinggal di sebuah rumah kontrakan yang sangat asri. Banyak tanaman bunga di pekarangan. Winda sangat kagum melihatnya.
"Ayo masuk, Win."
"Terimakasih, mbak."
Winda masuk ke dalam rumah. Winda semakin kagum. Isi rumah itu tersusun sangat rapi.
" Mbak Septi tinggal di sini sendirian?"
"Tadinya sama temen. Tapi temen ku pulang kampung dan gak balik lagi."
"Mbak gak kesepian tinggal sendirian?"
"Kesepian sih. Biasa ada teman ngobrol sekarang gak ada. Minum dulu, Win."
Septi menyerahkan segelas air teh manis. Winda meneguknya.
"Bagaimana kalau kamu tinggal di sini sama aku, Win?"
"Maksud mbak Septi?"
"Ya daripada kamu kost sendirian, dan aku di sini sendirian, kamu tinggal di sini saja. Biar kita sama-sama ada temannya."
"Apa gak ngerepoti mbak Septi?"
"Ngerepoti apa sih. Ya gak lah. Gimana, kamu mau?"
"Hmmmm...iya, mbak. Aku mau."
Septi tersenyum senang.
"Makasih ya. Kapan pindah ke sini?"
"Kalau besok sepulang dari kerja gimana, mbak?"
"Ya udah gak apa-apa. Perlu bantuan?"
"Gak usah. Aku gak punya barang banyak kok."
Septi mengangguk. Lalu mereka terlibat dalam obrolan ringan. Menjelang sore, Winda pulang menuju tempat kost nya.
####
Sore itu, Winda dan Gito duduk di sebuah taman. Taman itu ramai oleh orang-orang Bu yang sedang berjalan-jalan. Winda dan Gito melepas kangen setelah sekian lama berpisah..
"Mas, aku kangen." kata Winda. Gito tersenyum dan mengenggam jemari tangan Winda.
"Iya, sayang. Mas juga kangen sama kamu. Maaf ya sudah ninggalin kamu."
"Mas Gito kemana sih kok pergi gak bilang-bilang."
"Aku lagi ada keperluan."
"Jangan pergi lagi ya..."
Gito mengangguk. Tak lama kemudian dari sebrang jalan terdengar suara penjual es krim lewat. Winda segera berdiri.
"Kamu mau ke mana?"
"Mau beli es krim. Mas mau?"
"Boleh. Rasa coklat ya."
"Oke."
"Hati-hati."
Winda tersenyum dan berjalan menuju ke tempat penjual es krim di seberang jalan. Gito pun mengambil ponselnya dan membaca beberapa chat. Tiba-tiba...
Ciiiiitt !!!
Braaakk !!
Terdengar suara benturan. Gito mendongak ke arah suara itu. Beberapa saat dia terdiam. Banyak orang-orang yang berlarian menuju ke arah sumber suara.
"Mas ada apa? Kok ramai-ramai begitu?" tanya Gito pada seorang laki-laki yang melewatinya.
"Ada kecelakaan."
"Di mana?"
"Di depan situ."
Gito memandang ke arah kerumunan. Dia teringat akan Winda.
"Winda."
Gito berlari ke arah kerumunan. Dia menyibak orang-orang yang mengelilingi korban. Begitu melihat siapa korbannya, Gito menjadi shock.
"Windaaaaa...."
Radit terbangun dengan nafas terengah-engah. Keringat mengucur deras dari dahinya. Vika menghampiri Radit yang ternyata tertidur di sofa ruang keluarga.
"Radit, kamu kenapa?"
Radit tak menjawab. Dia masih terengah-engah. Vika mengambil segelas air putih dan di berikan kepada Radit.
"Nih, minum dulu."
Radit menerima gelas itu dan meminum isinya sampai habis lalu dia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan pelan.
"Kamu kenapa kok teriak-teriak nyebut nama Winda?" tanya Vika.
"Kak, aku mimpi tentang Winda."
"Mimpi? Mimpi apa?"
Radit menceritakan tentang mimpi yang baru saja di alami. Vika terdiam mendengar cerita Radit.
"Kak, tolong ceritakan siapa sebenarnya Winda? Kenapa aku bisa memimpikannya? Apakah dia ada hubungannya dengan aku?"
Vika menarik nafas dalam-dalam.
"Mungkin saatnya kamu mengetahui yang sebenarnya, Dit. Winda itu adalah kekasih mu."
Radit terkejut mendengar perkataan Vika.
"Apa? Kekasih ku? Maksud kak Vika apa?"
"Iya, dia kekasih mu. Kekasih yang dulu selalu kamu ceritain ke kakak."
"Tapi laki-laki yang ada di foto bersama Winda itu..."
Vika tersenyum.
"Ayo ikut kakak."
Radit mengikuti langkah Vika menuju kamarnya. Sesama di kamar, Vika menyuruh Radit duduk di depan meja riasnya. Dengan perasaan heran, Radit pun menuruti perintah kakaknya itu. Vika mengeluarkan perlengkapan makeup nya.
"Kak, ngapain sih harus di make-up segala?" protes Radit ketika Vika mulai merias wajahnya.
"Sstt...diam. Nanti kamu akan tau."
Vika melanjutkan riasannya di wajah Radit. Tak berapa lama kemudian, Vika selesai merias Radit. Tak lupa dia memasang gigi palsu pada gigi Radit.
"Selesai. Sekarang kamu lihat wajah kamu di cermin dan kamu bandingkan dengan foto laki-laki yang ada di dalam foto itu."
Radit menatap wajahnya di cermin lalu menatap foto laki-laki yang bersama Winda. Dia terkejut melihatnya.
"Kak, ini..."
Vika mengangguk.
"Iya. Itu kamu. Dan wanita itu Winda, kekasih kamu, yang sekarang bekerja di kantor kita."
Radit memejamkan matanya, mencoba mengingat kenangan masa lalu nya yang telah hilang. Perlahan, kenangan masa lalunya itu pun kembali. Radit tersentak dan membuka matanya.
"Winda..."
"Kenapa, Dit?"
"Sekarang aku ingat, kak. Dia Winda. Anak pak Kirno. Aku ketemu dia waktu aku pura-pura jadi pekerja di proyek yang kakak buat. Gito. Ya nama aku Gito. Benar kan kak?"
Vika menatap Radit dan mengangguk. Matanya berkaca-kaca. Dia sangat bahagia Radit telah pulih kembali ingatannya. Radit memeluk Vika.
"Terimakasih ya kak. Kakak telah membantuku untuk mengingat semuanya. Aku sayang sama kakak."
"Iya, Dit. Kakak juga sayang sama kamu."
Radit melepaskan pelukannya.
"Mama pasti senang ingatan ku sudah kembali. Aku ke mama dulu ya kak."
Vika mengangguk. Radit keluar kamar Vika menuju kamar mama Ami. Sementara itu Vika merapikan alat makeup nya. Namun tiba-tiba
"Vikaaaaa... tolong mama, nak. Vika cepat kesini..."
Terdengar suara mama Ami berteriak minta tolong. Vika bergegas menuju ke kamar mamanya.
"Ada apa sih ma. Kok teriak-teriak begitu." tanya Vika setelah sampai kamar sang mama.
"Itu ada orang aneh masuk ke kamar mama."
Mama Ami menunjuk ke arah Radit yang berdiri mematung. Dia terkejut mendengar mamanya berteriak. Vika tertawa melihat yang sebenarnya terjadi.
"Ya ampun Radit, kamu bukannya bersih-bersih dulu baru menemui mama. Bersihin dulu makeup nya."
Radit masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamar mamanya dan membersihkan wajahnya. Vika duduk di samping mamanya.
"Mama jangan takut. Itu Radit."
"Radit? Kenapa dia berdandan aneh seperti itu?"
Sebelum Vika menjawab, Radit telah keluar kamar mandi dengan wajah tampannya. Radit langsung memeluk mamanya dan menanggis.
"Mamaaa..."
"Radit, kenapa kamu menanggis, nak? Ada apa?"
Radit terdiam. Masih terhanyut dalam tanggis bahagianya. Tak berapa lama dia melepaskan pelukannya dan menatap mama Ami.
"Ma, Radit sudah ingat semuanya." kata Radit.
"Ingat? Maksud kamu apa?"
"Radit sudah ingat semuanya, ma. Ingatan Radit sudah pulih kembali." kata Vika. Mama Ami terkejut dan menatap Radit.
"Benar itu, nak?"
"Iya, ma. Radit sudah mengingat semuanya. Bahkan Radit juga ingat siapa wanita yang fotonya mama lihat kemarin."
"Memangnya siapa dia?"
"Calon menantu mama."
"Oh ya? Kalau begitu secepatnya kamu bawa ke mari, kenalkan ke mama."
Radit mengangguk. Kembali dia memeluk mama Ami. Hatinya sangat bahagia karena tak lama lagi akan bertemu dengan Winda.
meluncur ke cerita lainnya