Petik pelajaran dari setiap isi cerita
...
1. Kamu hanya mencintai seragamku dan bukan diriku. Dua tahun pernikahan dengan istriku hanya penuh pertikaian, hingga karenanya kamu memintaku memiliki anak dengan dengan seorang gadis anak almarhumah mantan pengasuhmu sejak kecil.
Dengan kacaunya aku menuruti keinginanmu karena aku sayang kamu Bianca. Namun semakin lama, sebagai seorang suami, aku tidak bisa memaafkan kesalahanmu
Tahukah kamu.. keegoisanmu ini membuat cerita baru dalam rumah tangga kita Bianca.
...
Kamu sungguh menghancurkan isi hatiku Bianca.. Pecah dan hancur sampai ke akarnya tapi aku masih mencintaimu hingga kesalahan fatal itu terjadi memporak porandakan rumah tangga kita.
Dan akhirnya aku berkali-kali merasakan kenangan pahit karenamu Bianca hingga sosok itu datang didalam hatiku tanpa sengaja. Dia......... ( by Ghara )
#
2. Dan disisi lain kamu berbeda dengan dia. Dirimu sudah membalikan seluruh duniaku.
Awalnya aku hanya bermain-main, tapi semakin kusadari.. ada rasa berbeda dalam hatiku. Perasaanku pun bukan sekedar permainan.
Nindy bayangan terindah masa laluku. Jujur memang caraku mendapatkan mu adalah sesuatu yang salah. Hanya aku yang tau itu semua di sengaja atau tidak. Hanya kamu.. hanya kamu saja di hati ini. Diajeng Amarilys Sahna . Kamu hidup matiku, sehidup sesurga ku. ( by Bayu )
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Demi bumil.
"Kenapa kamu tanya hal itu? Kenapa tidak boleh? Kamu istri Abang. Apa selama ini kamu tidak merasakan sayangnya Abang sama kamu?" tanya Bang Ghara.
"Apa secepat itu Abang melupakan Mbak Bianca?"
"Ini bukan masalah cepat atau tidak. Perasaan Abang untuk dia sudah mati sejak lama. Hanya Abang menutup mata dan telinga tak mau mengakuinya. Jujur belakangan Abang menginginkan dia hanya sebatas nafsu saja. Tapi setelah Abang menikahimu.. Abang sadar, tidak ada tempat lagi untuk dia di dalam hati Abang" ucap jujur Bang Ghara.
"Abang minta maaf untuk kejadian malam ini. Sungguh tidak ada niat Abang menyakiti hatimu"
"Kenapa Bang.. kenapa Abang tidak menyadari kalau itu mbak Bianca??" tanya Nada.
Bang Ghara bersimpuh meminta maaf pada Nada.
"Abang salah. Maaf.. Abang rindu kamu sejak tadi dek. Abang pulang berharap sampai di rumah bisa memelukmu dan melepas rindu, tapi siapa sangka malah dia ada di dalam kamar kita."
Nada terdiam tak sanggup menjawab. Setelah menikah dengan Bang Ghara apalagi setelah sang suami 'mengesahkan' dirinya sebagai seorang istri, Nada memiliki perasaan sayang terhadap suaminya itu apalagi perlakuan sang suami padanya sudah tentu membuatnya selalu terbayang bagaimana gagahnya pria yang sudah menitipkan janin padanya.
"Abang tau kamu sakit hati. Maaf..!!!" Bang Ghara menunduk pasrah. Perkara rumit ini memang ia juga salah.
"Lampiaskan marahmu sampai hatimu lega..!!"
Nada hanya bisa menangis memeluk Bang Ghara tanpa kata. Segala perasaan ia tumpahkan hingga hatinya merasa lega.
"Abang sudah pernah bilang. Bianca itu licik. Kamu yang seperti ini tidak akan sanggup melawan jalan pikirnya yang di luar batas wajar. Kalau sudah seperti ini, Abang hampir kelepasan.. kamu salah paham" ucap Bang Ghara.
"Pertanyaan Nada hanya satu. Kenapa Abang nggak bisa mengenali istri sendiri??" tanya Nada lalu bangkit dan meninggalkan Bang Ghara yang masih duduk bersimpuh.
Bang Ghara duduk penuh sesal mengacak rambut cepaknya. Sungguh ia begitu bodoh karena terlalu bernafsu hingga tidak menggunakan logika untuk berpikir.
...
Petir menggelegar, hujan deras membasahi bumi. Angin kencang menyapu sekitar Batalyon.
Ghara memberanikan diri untuk masuk dan melihat keadaan Nada. Ia masuk membawa segelas susu ibu hamil berharap bujukannya dapat melunakkan hati sang istri.
"Dek.. Bangun dulu minum susu" Bang Ghara membangunkan Nada.
Ghara melihat Nada memejamkan mata dengan wajah sembab. Sakit rasanya melihat Nada terus bersedih.
"Bangun dek..!! Kamu belum makan malam juga khan?" Bang Ghara membelai rambut Nada.
"Ya Allah dek.. Panas sekali badanmu??" Ghara terkejut melihat Nada demam tinggi sampai menggigil.
"Buka mata dulu dek..!!" Bang Ghara menepuk pipi Nada pelan agar Nada bisa membuka matanya.
"Abang jahat.." ucapnya lirih sambil terisak.
"Iya dek.. Abang jahat. Maaf..!!" Bang Ghara mencium kening Nada lalu segera keluar kamar menyiapkan air hangat untuk mengompres Nada.
...
Ghara duduk di tepi ranjang menunggui Nada sampai tidak berani untuk tidur. Di saat tubuhnya lelah, tangannya terus mengusap rambut sembur coklat milik Nada.
Nada terbangun dari tidurnya dan melihat sang suami membelai lembut dirinya meskipun mata itu terpejam. Wajah Bang Ghara terlihat sangat lelah dan letih seolah menyimpan banyak beban pikiran.
"Bang.." sapa Nada tak ingin mengingat kesedihan itu lagi.
"Iya dek.. Gimana?? Apa yang sakit?? Abang pijat ya?" Bang Ghara cemas, bingung harus merespon darimana dulu.
"Nada mau minum, tapi mau yang segar" pinta Nada.
"Apa dek? Ini dingin sekali. Sudah malam" kata Bang Ghara.
"Mau es teler panas"
"Haahh.. apa itu????"
-_-_-_-_-
"Simple syrup di buat fresh aja pak. Tolong..!!" pinta Bang Ghara pada sebuah restoran yang cukup ternama di kota.
"Istri saya sedang hamil pak. Berapapun pasti saya bayar" ucap Bang Ghara tak punya pilihan lain karena hanya restoran itu yang masih punya stok es teler.
Pemilik restoran itu tersenyum lalu menyetujui permintaan
"Santai saja pak. Biar koki saya buatkan"
...
Bang Ghara menelan air liurnya dengan kasar.
"Apa yo enak to dek??" tanya Bang Ghara tidak bisa membayangkan rasa es teler panas. Hujan deras tengah malam harus menemani bumil menuruti ngidam antik bumil tercinta.
"Enak. Abang mau coba?" tanya Nada.
"Abang ngopi aja" jawabnya sambil menyeruput kopi panas.
Bang Ghara memperhatikan raut wajah Nada yang sudah berangsur baik-baik saja meskipun tadi sempat bersitegang dalam tangis.
"Masih marah nggak sama Abang" Bang Ghara menyentuh punggung tangan Nada dan mengusapnya.
"Masih..!!" jawab Nada singkat.
"Jalan-jalan ke Malang yuk..!! Kita belum bulan madu khan? Mau atau tidak?" ajak Bang Ghara.
"Ya.." jawab Nada singkat tapi jelas sekali terdengar kalau istrinya itu pasti senang.
"Besok Abang ambil cuti. Sore kita berangkat"
Nada hanya mengangguk mengiyakan ucapan Bang Ghara.
***
"Terima kasih banyak Komandan..!!" ucap Bang Ghara sesaat setelah mendapatkan surat jalan cutinya.
...
"Kelihatannya senang betul Pak" sapa Frans saat melihat senyum sumringah sahabatnya.
"Jelas donk.. Mau honeymoon. Tau honeymoon nggak??" Ghara meledek Frans yang sampai saat ini belum punya pacar.
"Apa maksudnya? Sepertinya saya mendengar ada usaha untuk menyindir makhluk lemah" jawab Frans mulai sebal.
"Boleh ikut nggak?" tanya Frans.
"Nggak lah, jadi beban gue aja lu" jawab Bang Ghara.
"Please.. siapa tau di tempat yang jauh disana tersimpan sosok bidadari yang merindukan gue" kata Frans memelas.
"Hanya sosok bidadari khilaf yang mau sama kamu" jawab Bang Ghara.
"Waahh.. itu sih jawaban untuk menyindir dirimu sendiri. Nada itu contoh nyata bidadari khilaf yang suka sama lu. Coba dah ngaca.. lu mana ada bagusnya.. dari manapun tetap gue yang tiada tanding" ucap Frans dengan sombongnya.
"Hiiihh.. sialan" kesal sekali Bang Ghara mendengar celotehan Frans yang cerewet ini.
"Sekarang mana cewek lu??" tanya Bang Ghara lagi.
"Sudah gue bilang mau gue jemput dulu"
"Terserah.. asal ingat. Kita tidak saling kenal. Kalau bisa kita jaga jarak minimal radius lima ratus meter" ucap Bang Ghara.
"Siap bro...."
-_-_-_-_-
"Sudah siap semua dek?" tanya Bang Ghara.
"Sudah Bang"
"Vitamin sudah di bawa?"
"Sudah semua" jawab Nada.
Bang Ghara mengulurkan tangannya.
"Mari Nyonya Ghara.. Honeymoon nya kita mulai sekarang"
Senyum Nada mengembang. Bang Ghara ikut tersenyum melihat istrinya tersenyum bahagia.
***
"Hooeeee Broooo...!!!" sapa seseorang yang suaranya menggelegar di bandara.
"Ya Tuhankuuu.." Bang Ghara menepuk dahinya saking malunya melihat penampilan Frans.
"Gimana penampilan gue???"
Nada dan Bang Ghara menatap Frans dari atas kepala hingga ujung kaki. Topi abstrak berwarna biru, baju motif pantai berwarna merah, celana pendek berwarna hijau dan sepatu berwarna kuning tak lupa memakai kacamata berwarna ungu.
"Tau nggak Malang itu kota Apa?? Itu pegunungan.. Bukan daerah pantai. Lu mau guling-guling di kaki gunung??????" tegur Bang Ghara tak tau lagi bagaimana memikirkan fashion kawannya yang super nyeleneh.
"Dimana kita punya keyakinan, di situlah kita nyaman untuk hidup" jawabnya dengan santai.
"Benar..!! Kita harus yakin dek. Yakin ini bocah mikirnya sudah nggak genep lagi" ucap Bang Ghara sambil mengajak Nada pergi.
.
.
.