NovelToon NovelToon
Cinta Paksa Berujung Bahagia

Cinta Paksa Berujung Bahagia

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Sci-Fi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Di mata publik, Rania hanyalah anak bungsu Keluarga Baskara yang manja, dan menjadi beban keluarga. Semua orang lebih memuja kakaknya, Resti, yang merupakan model sukses. Padahal di balik layar, Rania adalah gadis mandiri yang membangun toko rotinya sendiri dari nol tanpa bantuan siapa pun.Malam pernikahan megah tiba, namun Resti justru kabur ke Prancis demi karier modelnya. Demi menyelamatkan nama baik Keluarga Baskara, Rania dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Rangga, CEO dingin pewaris Pratama Group.
Rangga murka karena merasa ditipu. Dia mengira Rania adalah gadis manja yang sengaja menjebak kakaknya demi harta. Namun, saat Rangga mulai tahu kemandirian Rania—dan aroma roti buatan Rania justru menyembuhkan penyakit mag kronisnya—sang CEO mulai cemburu buta dan gengsi untuk mengaku bucin.Sanggupkah Rania membungkam mulut semua orang yang dulu meremehkannya?

UP SETIAP HARI JAM 06.00

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Pintu kayu mahoni berukir klasik di kamar utama Penthouse milik Rangga Pratama tertutup rapat, Rangga sengaja membeli Penthouse ini untuk mereka tinggal setelah menikah, agak jauh memang dari kedua orang tua mereka. Dan mereka kesini mengendarai mobil pernikahan mereka.

Suasana di dalam kamar mendadak terasa begitu kontras dengan kemegahan luar. Ruangan luas berdesain modern minimalis itu kini disulap menjadi tempat peristirahatan malam pertama yang sangat romantis.

Aroma aromatherapy beraroma lavender dan white musk menguar lembut di udara, berpadu dengan pijar ratusan lilin aromaterapi yang diletakkan di atas nakas, sudut ruangan, dan meja rias. Di atas ranjang king-size berseprai sutra hitam legam, kelopak bunga mawar merah dan putih ditaburkan memenuhi permukaan kasur membentuk pola hati yang besar. Lampu ruangan diredupkan sengaja, menciptakan temaram cahaya keemasan yang hangat dan intim.

Bagi seorang pria yang sedang mabuk kepayang dalam asmara, tempat ini adalah surga dunia. Namun, bagi Rania, ruangan ini terasa seperti ruang interogasi berkedok kamar pengantin.

Rania melangkah masuk dengan gaun pengantin megah yang terasa semakin berat menghimpit tubuhnya. Kakinya terasa kaku. Kain cadar putih berenda tebal masih menutupi wajahnya rapat-rapat, sengaja ia pertahankan karena ia tahu malapetaka besar akan segera meledak begitu kain tipis itu tersingkap.

Rangga berjalan di belakangnya, melepas jas tuksedo hitamnya dan melemparkannya begitu saja ke atas sofa tunggal dekat jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan lampu Kota Jakarta dari ketinggian. Pria itu menghela napas panjang, merenggangkan otot-otot lehernya yang kaku setelah berjam-jam berdiri menyalami ribuan tamu undangan. Meski penat, senyum tipis masih menghiasi bibir indahnya. Di dalam kepala Rangga, malam ini adalah awal dari babak baru kehidupan indahnya bersama wanita yang selama tiga tahun terakhir bertahta di hatinya.

Rangga berbalik, lalu melangkah mendekati Rania yang berdiri kaku di tengah kamar. Dengan gerakan lembut yang penuh kehangatan, Rangga meraih tangan Rania yang terbalut sarung tangan renda putih. Kulit tangan itu terasa sedikit berbeda—lebih dingin dan tidak selentur biasanya—tetapi Rangga lagi-lagi menepis kecurigaan itu sebagai akibat dari kelelahan fisik istrinya.

"Kemarilah, sayang," ucap Rangga dengan suara baritonnya yang lembut dan menghanyutkan.

Ia menuntun Rania perlahan untuk duduk di atas kasur king-size yang bertaburan kelopak bunga mawar harum. Rania menurut dengan ogah-ogahan, pantatnya mendarat hati-hati di tepi tempat tidur, berusaha menjaga jarak sejauh mungkin dari tumpukan bunga tersebut.

Rangga tidak langsung duduk di sampingnya. Pria itu justru berlutut di lantai tepat di hadapan Rania, menyamakan tinggi wajah mereka. Kedua tangan Rangga menggenggam jemari Rania erat-erat, memancarkan binar ketulusan yang luar biasa dari matanya yang tajam.

"Kau tahu, Resti, aku sangat gugup setengah mati hari ini." Ujarnya dengan antusias dengan mata yang berbinar cerah.

Rania di balik cadarnya langsung memutar bola matanya malas.'Gugup? Huh, kalau kau tahu siapa aku sebenarnya, bukan cuma gugup yang kau rasakan, tapi serangan jantung mendadak,' batin Rania mendengus tajam.

Rangga meneruskan kata-katanya, sama sekali tidak menyadari badai sinisme yang sedang berkecamuk di balik cadar putih itu. "Dari tadi siang di altar, jantungku tidak berhenti berdegup kencang. Aku takut mengecewakanmu, aku takut ada hal yang kurang dari penyambutan keluargaku. Tapi melihatmu berdiri anggun di sampingku tadi, semua keteganganku menguap begitu saja. Aku merasa menjadi pria paling beruntung di muka bumi ini karena akhirnya kau resmi menjadi milikku, Resti."

Rangga mendongak, menatap lekat-lekat kain cadar yang masih menutupi wajah istrinya. Ada antusiasme yang membara di matanya.

"Sudah waktunya sekarang, kan?" bisik Rangga lembut, sebelah tangannya perlahan terangkat hendak meraih ujung kain cadar pengantin tersebut. "Buka cadar ini, istriku. Izinkan aku menatap wajah wanita yang paling aku cintai di malam pertama kita yang suci ini."

Jantung Rania berdetak sedikit lebih cepat, bukan karena cinta, melainkan karena bisnisnya di ambang batas eksekusi. Sebelum tangan Rangga sempat sepenuhnya mencengkeram kain penutup wajah itu, Rania dengan sengaja menepis tangan Rangga secara kasar, lalu menarik kain cadar di wajahnya dengan satu gerakan cepat.

Srek!

Kain cadar putih itu terlepas sepenuhnya, melayang jatuh ke atas tumpukan kelopak mawar.

Cahaya temaram dari lilin aromaterapi menyinari wajah wanita yang duduk di hadapan Rangga saat itu juga. Alih-alih wajah lembut, manis, dan penuh keanggunan milik Resti yang menyapa pandangannya, Rangga justru mendapati sepasang mata tajam yang sedang menatapnya dengan seringai sinis, alis yang terangkat sebelah, dan rahang tegas yang sangat familiar baginya.

Rangga tertegun. Detik berikutnya, napas pria itu tercekat. Seluruh darahnya mendesak naik ke kepala, membuat wajahnya memerah padam dalam sekejap.

"RA-RANIA?!" teriak Rangga histeris, spontan melompat mundur dari posisi berlututnya hingga hampir tersandung tepian tempat tidur. Pria itu menunjuk wajah wanita di hadapannya dengan jari yang bergetar hebat karena syok luar biasa. "K-Kau?! Apa-apaan ini?! Di mana Resti?!"

Rania dengan santainya mengubah posisi duduknya, menyilangkan kedua kaki dan melipat tangan di depan dada. Ia bahkan tidak menunjukkan secuil pun rasa bersalah atau ketakutan di wajahnya.

"Halo, suami tercinta," sapa Rania dengan nada suara yang sengaja dibuat semanis racun tikus. "Selamat malam pertama ya. Wah, kamarnya harum sekali, banyak bunga. Cocok untuk malam penyambutan kita."

"JANGAN BERCANDA, SIALAN!" bentak Rangga, suara dingin dan berwibawanya langsung pecah digantikan oleh amarah yang membakar dada. Pria itu maju dua langkah, mencengkeram seprai kasur dengan buku-buku jemari yang memutih. "Bagaimana bisa kau yang ada di sini?! Di mana Kakakmu, Resti?! Apa yang kau rencanakan untuk menjebakku hah?!"

Rania mendengus pelan, memutar bola matanya jengah menghadapi ledakan emosi pria di depannya. "Ck, kecilkan sedikit suaramu itu, Kak. Bikin sakit gendang telingaku saja. Kakak kesayanganmu itu sudah kabur ke Paris sejak siang tadi untuk jadi supermodel. Dia meninggalkan surat cinta yang romantis sekali, mau kulihatkan fotonya di ponselku?"

"Jangan mengalihkan pembicaraan! Dia tidak seperti itu." murka Rangga. Urat-urat di pelipis dan leher pria itu menonjol keluar menahan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun. Harga dirinya sebagai seorang CEO muda yang cerdas mendadak hancur berkeping-keping setelah menyadari dirinya telah ditipu mentah-mentah di hari pernikahannya sendiri di depan seluruh relasi bisnis penting.

Rangga maju dengan langkah menghentak, mencengkeram kedua bahu Rania dengan kasar dan mengguncangnya kuat-kuat. "Kau! Gadis licik, tidak tahu malu! Kau pasti sengaja merencanakan sandiwara menjijikkan ini agar kau bisa menguras harta Pratama kan? Kau yang mengusir Resti kan? Jawab aku Rania!"

Rania tidak bergeming. Meski bahunya dicengkeram kuat, ia justru menatap tajam mata Rangga tanpa rasa takut sedikit pun. Alih-alih menangis atau merengek seperti gadis manja pada umumnya, Rania justru balas menatap dengan pandangan meremehkan.

"Hei, Tuan CEO yang terhormat," ucap Rania dingin, tangannya dengan berani mencengkeram pergelangan tangan Rangga yang ada di bahunya, lalu menepisnya kasar. "Pertama, jangan sentuh aku pakai tangan kotor itu kalau tidak mau kukasih nota tagihan laundry. Kedua, sadar diri sedikit! Memangnya kau pikir aku sudi menikah dengan pria sinis, sombong, dan tukang tuduh sepertimu. Aku juga terpaksa melakukannya bodoh."

"Kau—!" Rangga terperangah, kehabisan kata-kata sesaat mendengar jawaban blak-blakan yang sama sekali tidak tahu malu dari wanita di depannya. "Jadi benar! Kau memanfaatkan situasi ini demi uang! Dasar wanita rendahan! Matre!"

"Matre? Halo? Istilah ekonomi yang benar itu efisiensi aset dan perlindungan modal , bukan matre," koreksi Rania dengan wajah tanpa dosa, bahkan sempat-sempatnya merapikan lipatan gaun pengantinnya yang kusut. "Asal kau tahu ya, aku rugi ratusan juta hari ini karena harus meninggalkan oven dan adonan roti yang sedang mengembang demi melayani drama keluarga kalian di altar! Jadi, berhentilah berteriak seperti orang kesurupan."

Kemarahan Rangga mencapai puncaknya. Harga diri dan gengsinya sebagai pria tertusuk telak oleh sikap dingin, cuek, dan sama sekali tidak merasa bersalah dari Rania. Dada bidang Rangga naik turun dengan cepat, napasnya memburu menahan benci yang teramat sangat.

"Cukup!" bentak Rangga lantang, menunjuk tepat di depan wajah Rania. "Aku tidak peduli dengan alasan konyolmu atau toko roti murahanmu itu! Dengar baik-baik sumpahnya, Rania... Hari ini, detik ini, aku bersumpah Aku tidak akan pernah sudi menyentuh wanita rendah sepertimu! Jangan pernah berharap ada cinta, kehangatan, atau kemesraan di antara pernikahan palsu ini. Di mata hukum kita suami istri di atas kertas demi menjaga reputasi keluarga, tapi di dunia nyata, kau bukan siapa-siapa bagiku!"

Rania mengangkat sebelah alisnya, sama sekali tidak ciut. "Baguslah kalau begitu. Syukur kalau kau tidak mau menyentuhku. Aku juga jijik disentuh pria galak sepertimu."

"Tutup mulutmu!" tukas Rangga tajam, nafasnya memburu. Pria itu menunjuk ke arah sudut kamar di dekat jendela besar. "Mulai malam ini, dan seterusnya selama kita terikat pernikahan neraka ini, tempat tidur itu adalah wilayah kekuasaanku mutlak! Jangan pernah berani tidur di kasurku! Kau ambil bantal dan selimut tipis, lalu tidur di sofa keras itu!"

Rangga berbalik dengan geram, menendang kecil sebuah vas bunga kecil di dekat meja rias karena luapan emosinya, lalu berjalan dengan langkah menghentak menuju kamar mandi untuk membanting pintu di sana dengan sangat keras hingga dinding penthouse bergetar.

Di atas ranjang yang bertabur kelopak mawar merah, Rania menghela napas panjang. Ia sama sekali tidak menangis. Sebaliknya, sebuah senyum penuh kemenangan terukir di bibirnya.

Rania turun dari kasur, melangkah anggun menuju sofa empuk panjang di dekat jendela. Ia mengambil selimut beludru dan bantal tambahan, merebahkan tubuh lelahnya dengan santai sambil meraba ponsel di saku gaunya.

'Bagus Tuan Rangga Pratama,' batin Rania sambil membuka aplikasi perbankan di ponselnya dengan senyum penuh rencana bisnis.

''Silakan kau kuasai kasurnya. Selama rekening bersama dan bisnisku berjalan dengan lancar tanpa gangguan, tidur di sofa adalah liburan gratis untukku,'

Selamat membaca! Maaf kalau kaku soalnya aku pemula dan mohon beri saran jika ada yang salah. Makasih😉

1
fanny tedjo pramono
mampir baca guys
Rian Moontero
lanjuutt,,👍🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!