Aster Jung adalah gadis cantik dan satu-satunya putri dalam keluarga Jung. Aster memiliki teman masa kecil bernama Zian Rey. Awalnya semua baik-baik saja tapi persahabatan mereka perlahan merenggang saat keduanya beranjak remaja hingga Rey dan Aster menjadi musuh bebuyutan.
"Zian Rey, aku tidak akan pernah kalah darimu. Akan ku buktikan pada dunia jika aku lebih baik darimu."
Banyak yang menyayangkan renggangnya persahabatan mereka termasuk keluarga besar Rey dan Aster. Mereka ingin mereka bisa bersatu. Hingga sebuah keputusan besar pun diambil, Aster dan Rey menjadi saudara tiri.
Dan seiring berjalannya waktu benih-benih cinta tumbuh di hati mereka berdua. Rey dan Aster saling mencintai namun sama-sama tidak ada yang menyadari perasaan masing-masing. Dan Rey baru menyadari betapa besar arti kehadiran Aster setelah wanita itu pergi dari hidupnya.
Enam tahun kemudian Aster kembali dengan seorang gadis kecil bernama Hanyeon.
"Sebenarnya dia adalah Putri kandungmu. Benih yang malam itu kau tanam di dalam rahimku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 "Aster Penakut"
Di sini mereka sekarang. Mereka berada di ruang kesehatan. Rey menurunkan Aster dari bopongannya. "Tunggulah di sini sebentar, aku akan segera kembali." Ucap Rey namun segera dihentikan oleh Aster.
"Kau mau kemana? Kau terluka, Rey." Ucap Aster melihat darah melumuri wajah Rey.
"Aku tau," jawab Rey datar. Rey melepaskan genggaman Aster pada pergelangan tangannya dan pergi begitu saja. Rey hendak pergi ke toilet untuk mencuci mukanya yang berlumur darah.
Tak lama setelah kepergian Rey, Choa datang dengan wajah setengah panik. Gadis bertubuh mungil itu menghampiri Aster. "Aster." Seru Choa dan langsung memeluk sahabatnya tersebut. Choa merasa lega karna sahabatnya itu baik-baik saja. Bahkan dia tidak terlihat trauma sedikit pun meskipun melihat ada jejak air mata diwajahnya.
Choa melepas pelukkannya. "Ganti pakaianmu. Aria, menghubungiku dan meminta supaya aku membelikan pakaian untukmu." Ucap Choa seraya menyerahkan sebuah dress pada Aster. Gadis itu berjalan ke arah pintu kemudian menguncinya, Choa tidak ingin ada yang masuk saat Aster mengganti pakaiannya.
Tak sampai sepuluh menit Aster sudah selesai dan sebuah dress bermotif bunga membalut tubuh rampingnya.
"Buka pintunya, aku sudah selesai." Pinta Aster yang kemudian di balas anggukkan oleh Choa.
Choa meminta Aster menceritakan semuanya dari awal sampai akhir dan bagaimana bisa Hoya sampai ingin melakukan hal itu padanya. Choa sangat penasaran, dan Aster pun menceritakan yang sebenarnya pada Choa tanpa ada satu pun yang dia lewatkan. Mendengar cerita seter membuat Choa geram sendiri
"Laki-laki itu benar-benar ya, rasanya aku ingin sekali memenggal kepalanya dan memutilasi tubuhnya. Untungnya yang datang, Rey, dan teman-temannya, jika saja aku yang datang pasti laki-laki itu sudah aku cincang menjadi makanan hiu di laut." cerocos Choa panjang lebar.
Aster mendengus geli. "Kau mengerikan, Park Choa." Ucapnya. Dan perbincangan mereka terintrupsi oleh kedatangan Rey. Pemuda itu menghampiri Aeter serta Choa
"Kau sudah tidak apa-apa?" Tanyanya memastikan, Aster menggeleng
"Aku baik-baik saja tapi kau yang tidak baik-baik saja. Aku akan mengobati dan menutup luka-lukamu." Ucap Aster yang kemudian dibalas anggukan oleh Rey. Merasa keberadaannya tak lagi dibutuhkan. Choa memilih pergi karna tidak ingin menjadi obat nyamun.
Sepanjang Aster mengobati luka-lukanya. Tak sedetik pun Rey meloloskan pandangannya dari sosok jelita dihadapannya. Mengamati wajah cantiknya mulai dari mata, hidung sampai bibir ranumnya. Bibir itu sedikit terbuka seolah memanggil seseorang untuk segera melahapnya. Rey menggeleng, menepis pikiran kotor dari kepalanya.
Dan setelah hampir lima belas menit, akhirnya Aster menyelesaikan pekerjaannya. Sebuah kasa menutup pelipis kanannya dan plaster sebelar dua jari orang dewasa menutup luka di bawah mata kirinya.
"Maaf, lagi-lagi kau terluka karna diriku." Ucap Aster penuh sesal. Jari-jari lentiknya mengusap permukaan kasa yang menutup luka dipelipis kanan Rey tanpa melepaskan kontak matanya. "Aku tidak mungkin bisa memaafkan diriku sendiri jika sesuatu yang buruk sampai menimpamu. Bagaimana aku harus mengatakan pada Ayah, Zian, jika dia kembali." Ujar Aster seraya mengunci iris abu-abu milik Rey.
Rey menggenggam jari jemari Aster dan meremasnya pelanl "Justru akulah yang tidak bisa memaafkan diriku jika hal buruk itu sampai menimpamu apalagi papa dan ibumu menitipkan dirimu padaku." Aster melepaskan genggaman Rey kemudian memeluknya.
"Terimakasih karna sudah menjagaku dengan baik, meskipun terkadang kau begitu menyebalkan tapi aku tidak bisa memungkiri jika kau itu adalah kakak tiri terbaik yang ada diseluruh dunia." Tutur Aster panjang lebar.
Rey mendengus geli, mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukkan Aster.
Hangat dan nyaman...!
Itulah yang Aster rasakan ketika Rey memeluknya. Meskipun saat masih kecil mereka sering sekali berpelukkan, tapi rasanya tidak pernah sehebat ini. Bahkan jantungnya tidak sekencang saat ini.
Kemudian Aster melepaskan pelukkannya. "Aku ingin pulang, kepalaku pusing. Dan bisakah kau mengantarkanku?" renggek Aster memohon, Rey mengangguk. Bukan hanya Aster yang merasa pusing tapi Rey juga, sedari tadi kepalanya serasa ingin pecah mungkin akibat pukulan-pukulan yang dia terima.
🌹🌹🌹
Satu minggu telah berlalu. Tapi semua penghuni rumah belum ada yang kembali. Kris yang katanya hanya pergi selama dua hari saja tapi belum kembali juga sampai hari ini.
Berdua saja di rumah bersama Rey membuat Aster merasakan berbagai warna dalam hidupnya. Terkadang hitam, abu-abu sampai warna pelangi. Sikap Rey yang labil membuat gadis itu tidak bisa memahaminya dengan baik.
Terkadang Rey begitu menyebalkan jika penyakit dinginnya kambuh, tak jarang dia membuat Aster naik darah dengan sikap jahilnya dan merasa begitu istimewa ketika pemuda itu dalam mode normal. Pribadi Rey memang sulit ditebak, dan sebenarnya dia adalah laki-laki yang penuh misteri.
Rey yang merasa haus terpaksa bangun ditengah malam. Dengan enggan dan sedikit malas. Pemuda itu bangkit dari posisi berbaringnya dan pergi ke dapur yang berada di lantai satu.
Pemuda itu memicingkan matanya melihat suara gaduh berasal dari dapur, dengan langlah tanpa suara, Rey menuju dapur untuk melihat siapa yang ada di sana. Bukannya maling, tapi Aster-lah yang ia dapati di sana.
"Apa yang sedang kau lakukan, Aster Jung?" Tegur Rey dan membuat Aster terlonjak kaget.
"Ayam,, ayam,, ayam,,,! Yakk! Zian Rey, apa kau ingin membuatku terkena serangan jantung dadakan. Eo? Tidak bisakah saat muncul tidak mengejutkan orang lain. Dasar patung es menyebalkan." Omel Aster pada pemuda didepannya.
Tapi ocehan Aster diabaikan begitu saja oleh Reyl Pemuda itu melewatinya begitu saja kemudian mengeluarkan sebotol air mineral dari lemari pendingin dan meneguknya. "Sebenarnya apa yang kau lakukan malam-malam begini di dapur?" Tanya Rey setelah cukup lama diam.
"Aku lapar tapi tidak ada makanan apapun yang bisa aku temukan di dalam kulkas. Aku mencoba menggoreng telur tapi minyaknya meletuk-letuk." Tutur Aster menjelaskan.
Rey mendengus berat. Ia tidak tau terbuata apa perut Aster sebenarnya, padahal dia baru makan beberapa jam lalu tapi sudah merasa lapar lagi. Anehnya tubuhnya tidak melar sama sekali meskipun makannya banyak
"Dasar tidak berguna, memasak telor saja tidak bisa. Minggirlah." Aster mencerutkan bibirnya, rasanya dia ingin sekali menimpuk kepala Rey dengan sekilo telur mentah.
"Dasar manusia kutub menyebalkan." Aster melipat kedua tangannya di depan dada sambil memalingkan wajahnya.
Rey mendengus geli. Mengabaikan Aster yang penyakit kekanakannya kambuh, pemuda itu melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertundah.
"Hiks, hiks, hiks!"
Perhatian Rey yang sedang sibuk menggoreng telur teralihkan karna suara isakan yang berasal dari sisi kanannya, terlihat Aster berjongkok di depan kulkas sambil membenamkan wajahnya dilipatan tangannya. "Apa lagi kali ini, Aster Jung?"
Aster mengangkat wajahnya yang sembab. "Aku merindukan, ibu.." Jawabnya sesegukan. Rey fikir Aster menangis karna apa, ternyata karna merindukan ibunya. "Biasanya saat aku kelaparan ditengah malam, ibu selalu membuatkan makanan untukku kemudian menyuapiku. Dan sejak ibu pergi berbulan madu tidak ada lagi yang memasakkanku ketika aku kelaparan ditengah malam apalagi menyuapiku." Ujar Aster panjang lebar.
Rey memijit pelipis kanannya yang masih terbalut perban dan menghela nafas untuk yang kesekian kalinya. Ia benar-benar tidak habis fikir dengan gadis yang satu ini. Pemuda dalam balutan jeans belel hitam dan kaus oblong tanpa lengan itu menghampiri Aster.
"Bangunlah, aku akan menyuapimu." Aster menyusut ingusnya dan mengangkat wajahnya.
"Benarkah?" Ucapnya seraya menatap Rey tak percaya. Pemuda itu mengangguk. Aster langsung berhenti menangis , gadis itu beranjak dari posisinya kemudian berjalan ke arah meja makan.
Melihat Rey yang menyuapi Aster terlihat seperti seorang ayah yang menyuapi anak gadisnya.
Aster kemudian menggulirkan pandangannya pada rumah lamanya. Gadis itu mengerutkan dahinya melihat beberapa kamar di rumah itu lampunya menyala dan salah satu lampu kamar miliknya. "Ada apa?" Tanya Rey kemudian mengikuti arah pandang Aster.
"Lihatlah, Rey. Aneh bukan melihat lampu di beberapa kamar rumah lamaku menyalah padahal tidak ada penghuninya. Atau mungkin saja Ibu sudah menyewakanhya pada orang lain? Tapi kenapa kita tidak melihat aktifitas apapun di rumah itu saat siang hari." Tutur Aster panjang lebar
"Mau memastikannya?"
Buru-buru Aster menggeleng. "Tidak-tidak, bagaimana jika yang ada di sana adalah hantu? Amit-amit tujuh turunan, aku tidak mau bertemu dengan setan." Ujar Aster dengan ekspresi yang begitu menggelikan.
Aster bangkit dari duduknya. "Aku mau tidur, kau ingin tetap di sini atau..!!"
"Aku ikut...." seru Aster menyela ucapan Rey. Gadis itu mengekor dibelakang Luhan sambil sesekali menenggok kebelakang.
Aster takut jika tiba-tiba ada hantu yang mengikutinya. Dan mereka berpisah di depan kamar masing-masing.
Aster segera enyelimuti sekujur tubuhnya dengan selimut. Gadis itu membayangkan jika tiba-tiba ada hantu yang merangkak dan naik ke atas tempat tidurnya.
'Kretekk..! Kretekk..!' Kedua mata Jessica membelalak
"Kkkyyyyaaa.!" Gadis itu histeris dan berlari meninggalkan kamarnya. Aster fikir itu suara hantu padahal hanya suara ranting kering yang bersentuhan dengan jendela kamarnya.
Baru saja Rey menutup matanya tapi pemuda itu dikejutkan dengan kemunculan Aster yang sekarang bersembunyi di dalam selimutnya. "Apa-apaan kau ini?" Bingung Rey seraya menyibak selimut tersebut. Aster menarik selimut itu lagi kemudian menakupkan pada kepalanya
"Ada hantu dikamarku. Dan malam ini saja ijinkan aku tidur di sini bersamamu." Renggek Aster memohon. Aster menahan lengan Rey saat pemuda itu hendak turun dari tempat tidurnyal "Jangan pergi, aku benar-benar takut. Malam ini kita berbagi tempat tidur saja." Mohon Aster sekali lagi, Rey mendesah untuk yang kesekian kalinya. Dengan terpaksa dia menuruti kemauan Aster
"Baiklah."
.
.
.
"KKKKYYYYYAAAA...!"
Aster menjerit sekencang-kencangnya saat membuka matanya dan mendapati Rey berbaring di sampingnya
'Brugg!!'
Aster terjatuh dari atas tempat tidur. "Aduh." Ringis gadis itu sambil mengusap pantatnya yang terasa nyeri. Rey membuka matanya dan menatap bingung pada Aster yang sedang berbaring di lantai
"Apa yang sedang kau lakukan di sana, Aster Jung?" Tanya Rey bingung.
Aster bangkit dari pososinya kemudian naik ke atas tempat tidur Rey. "Jelaskan padaku, Zian Rey? Apa yang terjadi semalam dan bagaimana aku bisa berada di sini?" Tanya Aster meminta penjelasan. Rey memicingkan matanya dan menatap Aster tak percaya
"Kau sungguh-sungguh tidak mengingatnya?" Aster menggeleng, sebuah ide jahil muncul dikepala Rey. Pemuda itu mendekatkan bibirnya pada telinga Aster dan berbisik. "Semalam kau begitu liar, Aster Jung." Sontak kedua mata Aster membelalak. Baru saja gadis itu hendak bertanya tapi sosok Rey sudah menghilang dibalik pintu kamar mandi.
Beberapa waktu kemudian Rey keluar dari kamar mandi hanya dengan berbalut handuk putih dan bertelanjang dada. Aster masih menunggunya, gadis itu menghampiri Rey dan meminta penjelasan
"Jelaskan, Rey. Apa yang sebenarnya terjadi semalam dan maksudmu liar itu apa?" tanya Aster menuntut sebuah penjelasan. Rey mendengus kemudian menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Aster kenapa dan bagaimana dia bisa berada dikamarnya.
"Sekarang kau puas, keluarlah. Aku mau ganti baju." Rey mendorong Aster menuju pintu dan memintanya keluar.
Gadis itu berdecak sebal. "Iya-iya aku keluar, tidak perlu mengusirku juga. Dasar rusa jelak." Aster menjulurkan lidahnya pada Rey kemudian sosoknya menghilang di balik pintu.
Setelah berpakaian lengkap. Rey bergegas turun dan mendapati Aster tengah sibuk menata makanan di atas meja. "Kau memesan makanan dari luar?" Aster mengangguk
"Dan kurirnya masih menunggu di luar. Bayar gih tagihannya." Rey menatap Aster tak percaya.
Yang memesan siapa yang bayar siapa, fikir Rey. Pemuda itu beranjak dan menemui sang kurir untuk membayar semua makanan yang Aster pesan.
Setelah sarapan, langsung pergi kekamarnya yang berada di lantai dua untuk berganti pakaian. Hari ini dia berencana untuk pergi bersama Choa. Sudah lama mereka berdua tidak pergi berbelanja, sementara Rey pergi untuk bertemu teman-temannya.
.
.
BERSAMBUNG.
Dan typo lain . ada Jian juga. haduh
typo Thor 🙏
Rey akan selalu merasa bersalah mengingat beratnya perjuangan Aster. berbahagialah sekarang
rengekan sang putri akhirnya membuat Naluri seorang Ibu luluh..
keputusan yang tepat Aster.
putrimu berhak tahu siapa ayahnya
Choa ternyata laki laki