NovelToon NovelToon
Milik Sang Iblis Sisilia

Milik Sang Iblis Sisilia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / CEO / Tamat
Popularitas:75
Nilai: 5
Nama Author: Kakamy

Andrea hanya gadis yatim piatu yang hidup menumpang di rumah bibinya, dijadikan pembantu, dihina, dan diajari untuk tidak berharap apa pun. Sampai suatu malam di Catania, tatapan seorang pria mengubah segalanya.

Fabrizio Lutero, Don mafia Sisilia yang dijuluki Sang Iblis, bisa membuat musuhnya memohon mati hanya dengan satu perintah. Tidak ada yang berani menolak, tidak ada yang berani melawan. Namun di depan gadis kecil bermata ketakutan itu, pria paling dingin di Sisilia justru kehilangan kendali.

Dia menginginkannya. Dia akan menjaganya. Dan siapa pun yang berani menyentuhnya akan menyesal pernah dilahirkan.

Tapi dunia Fabrizio berlumuran darah, penuh pengkhianat, dan musuh yang mengintai dari balik bayang-bayang. Bisakah Andrea bertahan di sisi pria yang memilikinya sepenuhnya, dan menjadi ratu di dunia yang tak kenal ampun?

Posesif. Berbahaya. Panas. Dan tak ada jalan keluar.

"Dia milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kakamy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

Fabrizio Lutero

Seminggu berlalu begitu cepat, setiap hari aku pergi ke Caffe untuk melihat gadis kecilku. Aku terobsesi pada perempuan ini, memimpikannya setiap malam, dan tidak sabar membaca apa yang Pepi temukan tentang dia.

Hari ini Sabtu dan perusahaanku tidak buka di hari Sabtu, tapi sekitar pukul 15.00 aku mengambil mobil dan pergi ke Caffe untuk melihatnya. Yang mengejutkan, dia tidak ada. Aku duduk minum kopi, dan dari obrolan para pegawai kudengar hari ini dia kerja setengah hari dan pulang pukul 14.00. Saat aku sedang minum kopi, ponselku berdering. Kulihat dari Pepi, dan langsung kuangkat.

"Apa yang kamu punya untukku, Pepi?"

"Selamat sore juga untukmu. Kelihatannya kamu tidak sabar. Di mana kamu? Biar aku yang ke sana."

Aku kesal dengan komentar Pepi, tapi kenyataannya aku memang tidak sabar. Aku belum pernah terobsesi pada perempuan mana pun seperti ini.

"Aku di Caffe."

"Tentu saja! Aku sampai dalam beberapa menit." Dia menutup telepon.

Pepi bicara dengan senyum dalam suaranya, sudah jelas dia akan mengerjaiku.

Apa pun hasil penyelidikan Pepi, aku sudah punya rencana di kepalaku. Aku akan menculik Andrea, mendoktrinnya, dan menikahinya. Kurang dari 15 menit Pepi tiba di Caffe dan menyerahkan amplop itu.

"Wih... Bro! Sekarang aku paham kenapa kamu tidak sabar, cewek itu cantik sekali. Kalau kamu tidak tertarik, aku mau."

Aku menatap Pepi, dan dia tahu apa yang akan kukatakan hanya dari tatapanku. Dia mengangkat tangan tanda menyerah.

"Tenang! Tidak perlu seposesif itu."

Katanya sambil tertawa. Aku mulai membaca dokumen itu sementara Pepi menceritakan apa yang dia temukan.

"Sejauh yang bisa kutemukan, dia lahir di sini, di Italia, dari keluarga kaya. Pada umur 5 tahun dia mengalami kecelakaan mobil yang menewaskan kedua orangtuanya. Anehnya, sehari sebelum meninggal, orangtuanya menandatangani surat kuasa yang memberikan kendali penuh atas perusahaan mereka kepada satu-satunya kerabat, saudara laki-laki ayahnya, Francesco Gutierrez. Francesco punya istri bernama Pilar dan dua anak, Ester umur 22 tahun dan Richard umur 25 tahun. Richard di tahun terakhir kuliah hukum, dan Ester di tahun kedua kuliah hukum juga. Ester berpacaran dengan konglomerat itu, Ricardo Solano. Sepupunya Richard suka menikmati hidup dan sering ada di klub-klub kita. Paman Francesco membiayai sekolahnya sampai SMA. Dia tinggal bersama pamannya sampai minggu lalu, dan sekarang tinggal di apartemen bersama sahabatnya, Sara Montessori."

"Kenapa nama belakang itu terasa tidak asing?"

"Karena dia adik Caio Montessori, Don mafia Sisilia."

"Apa rencanamu dengan gadis ini, hah, Don Fabrizio?"

"Aku tidak berencana apa-apa. Sekarang aku pulang mandi dan bersiap, ada klub yang harus dibuka, dan kalau jadi kamu, aku juga akan melakukan hal yang sama."

Aku berdiri dan pergi meninggalkan Pepi di sana. Ketika sudah beberapa meter jauhnya, kukirim pesan ke ponsel Pepi.

Pesan

*Fabrizio:* wkwkwkwkwk

*Pepi:* Maksudnya?!

Pepi

Aku duduk melihat Fabrizio pergi, tiba-tiba ponselku berbunyi dan ternyata ada pesan dari Fabrizio. Kukira dia melupakan sesuatu, tapi pesannya berisi tawa berderet-deret. Kubalas bahwa aku tidak paham, lalu pelayan menghampiriku.

"Ini tagihannya, Tuan."

"Tapi aku tidak pesan..."

Sekarang aku paham maksud pesan itu. Kadang Fabrizio ini seperti bocah. Kubayar tagihannya dan keluar sambil tertawa sendiri. Seperti katanya, kami punya klub yang harus dibuka.

Fabrizio Lutero

Dalam perjalanan pulang aku terus memikirkan semua yang dikatakan Pepi. Kurasa menculik gadis kecil itu bukan ide bagus. Karena dia sahabat adik Caio Montessori, itu bisa membawa masalah yang tidak perlu. Aku harus memikirkan cara lain agar perempuan ini jadi milikku seorang.

Sampai di rumah, Solange menungguku di pintu.

"Selamat malam, Tuan."

"Selamat malam, Solange."

"Tuan akan makan malam?"

"Tidak, Solange, aku mau istirahat sebentar, nanti malam aku harus membuka klub."

"Tuan perlu makan sesuatu, kalau begini Tuan akan lemas."

Kusadari Solange tidak akan membiarkanku pergi tanpa makan, jadi kuberi dia senyum dan kubilang aku akan makan sesuatu sebelum berangkat. Aku naik ke kamar dan langsung melepas pakaian untuk mandi. Keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggang, kulihat di atas meja kecil ada sandwich dan jus markisa.

Aku tahu senyumku tidak akan bisa membohonginya.

Aku makan lalu langsung naik ke ranjang untuk beristirahat sebentar. Aku terbangun pukul 21.30.

Pasti Solange menaruh obat tidur di jus sampai aku tidur selama itu.

Aku langsung ke kamar mandi dan mandi cepat untuk menyegarkan diri. Keluar dari kamar mandi, aku masuk ke ruang ganti. Kupakai celana bahan abu-abu dan kaus berwarna salem dengan dua kancing teratas dibiarkan terbuka, blazer abu-abu, dan sepatu kets putih di kakiku. Rambutku kusisir ke belakang. Kubuka kompartemen lain di ruang gantiku dan kupilih parfum beraroma kayu. Aku menatap cermin dan merasa siap. Aku menuruni tangga dan pergi ke garasi untuk memilih mobil. Kuputuskan memakai Ferrari 458, salah satu kesayanganku yang berwarna merah, dan berangkat ke klub.

Sampai di klub, aku langsung ke kantor. Pepi sudah menungguku, dia memberiku laporan umum, perkiraan laba, dan segala urusan birokrasi itu. Aku menandatangani beberapa dokumen yang masih tertunda soal operasional tempat itu, lalu beberapa saat memeriksa kamera keamanan, dan kami naik ke area VIP, karena aku ingin melihat keramaiannya dari dekat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!