Clara Adelin Dewangga, seorang siswi SMA berusia 18 tahun yang ceria namun sering terlibat masalah, tidak pernah membayangkan bahwa kehidupan remajanya akan berubah drastis dalam semalam. Karena perjodohan keluarga yang terikat janji masa lalu, Clara terpaksa menikah muda di usianya yang masih duduk di bangku sekolah.
Pria yang dijodohkan dengannya adalah Arka Samudra, seorang dokter muda berparas tampan, cerdas, namun terkenal sangat dingin, kaku, dan penuh aturan. Di depan publik dan di rumah sakit, Arka adalah sosok dokter profesional yang disegani. Namun di rumah, ia menjadi sosok suami super protektif yang menyebalkan bagi Clara.
Kehidupan pernikahan rahasia mereka penuh dengan pertengkaran kecil yang menggelitik:
Clara sangat membenci Arka, karena dia menerima perjodohan tersebut, tanpa syarat.
Di balik sikap Arka yang dingin dan membuat kesal, perlahan terkuak perhatian-perhatian kecil yang membuat jantung Clara berdebar tak menentu. Hal itu yang membuat Clara tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keramahan adik ipar
Suasana SMA Garuda pagi harinya tampak seperti biasa, namun tidak bagi Clara. Berita bahwa mobil Range Rover hitam mewah terparkir di depan gerbang kemarin sore rupanya sudah menyebar bagai api menyambar jerami kering.
"Sumpah, Ra! Teman-teman sekelas pada heboh!" bisik Fani antusias seraya menggeser kursinya merapat saat jam istirahat. "Katanya kemarin ada cowok ganteng banget, vibes-nya kaya CEO di novel-novel, nungguin anak sekolah kita. Mereka gak tau kalau yang masuk ke mobil itu kamu, soalnya kamu jalannya kayak maling ketahuan!"
Clara meringis, mengaduk-aduk baksonya tanpa selera. "Baguslah kalau gak ada yang tau. Kalau sampai ada yang tahu aku ada hubungan sama Om-Om kaku itu, mau ditaruh mana mukaku?"
"Tapi Ra... serius deh, kamu beneran mau pasrah Sabtu ini?" Fani menatap sahabatnya prihatin, nada suaranya berubah serius. "Maksudku, ini nikah, Clara. Bukan cuma acara ikutan balap liar yang kalau kalah bisa pulang gitu aja. Kamu bakal tinggal seatap, melayani dia, dan... ya ampun, kamu bahkan belum pernah pacaran!"
Wajah Clara memerah padam mendengar kata 'melayani'. Pemikiran itu menyentil logikanya secara paksa. Selama ini ia hanya memikirkan kemarahannya pada Papah dan Arka, namun bayangan menjadi seorang istri di usia tujuh belas tahun belum benar-benar tercerna.
"Aku gak bakal tinggal diam, Fan," bisik Clara mantap, matanya berkilat penuh tekad nekat. "Papah ngancam mau nahan beasiswa dan fasilitas aku kalau aku kabur sekarang. Tapi kalau aku bikin ulah pas hari H... di depan Papa Nathan dan keluarga besarnya..."
Fani membelalakkan mata, memegang bahu Clara kuat-kuat. "Ra! Kamu gila ya?! Mau bikin kekacauan di acara akad?!"
"Bukan kekacauan yang bikin malu Papah," potong Clara cepat. "Tapi perjanjian baru. Kalau dia pikir dia bisa menguasai hidupku cuma gara-gara selembar kertas akad, dia salah besar. Aku punya rencana."
Sebelum Clara sempat menjelaskan rencananya, ponselnya kembali bergetar di atas meja kantin. Nama pengirimnya membuat selera makan Clara menguap total.
Dokter Es:
Izin keluar sekolah sudah diurus. Temui saya di parkiran samping sekarang. Kita ke rumah sakit untuk cek darah dan fitting baju terakhir.
"Baru jam satu siang!" umpat Clara pelan. Ia menatap Fani dengan tatapan memohon bantuan, namun Fani hanya bisa memberikan gestur prihatin sambil menepuk-nepuk pundaknya.
Di dalam mobil, atmosfer tegang kembali tercipta. Arka mengenakan kemeja biru tua yang digulung hingga sebatas siku, memperlihatkan jam tangan perak dan urat-urat tegas di lengan tangannya. Ia mengemudi dengan satu tangan, sementara tangan satunya sesekali mengetuk kemudi mengikuti irama lagu klasik yang berputar pelan.
"Kemarin malam kamu tidak memakai salepnya," ujar Arka mendadak tanpa menoleh.
Clara yang sedang bersedekap dada dan menatap keluar jendela langsung terperanjat. "Kok kamu tau?! Kamu pasang kamera pengintai di kamarku, ya?!"
Arka meliriknya sekilas melalui kaca spion, sudut bibirnya terangkat amat tipis—sebuah gestur yang lebih mirip cemoohan halus. "Cara berjalanmu masih sedikit pincang saat keluar dari gerbang tadi. Menandakan peradangan di jaringan otot lututmu belum mereda. Seorang dokter tidak butuh kamera untuk melihat pasiennya yang membangkang."
"Aku bukan pasienmu!" semprot Clara galak.
"Mulai Sabtu ini, kamu adalah tanggung jawab total saya. Pasien, istri, dan apa pun sebutannya, perintah saya adalah hukum untuk kesehatanmu." Suara Arka terdengar tenang, namun menyiratkan dominasi yang tak terbantahkan.
Arka memutar kemudi memasuki pelataran butik perancang busana ternama di kawasan Senopati. Tempat itu sudah disewa secara privat untuk mereka berdua.
Seorang perancang wanita paruh baya bermerek ternama menyambut mereka dengan senyum mengembang. "Selamat sore, dr. Arka, Mbak Clara. Gaun dan jasnya sudah siap di ruang fitting utama."
Clara diseret lembut oleh dua orang asisten menuju ruang ganti berukuran luas dengan cermin raksasa yang mengelilingi ruangan. Ketika tirai beludru dibuka, sebuah kebaya modern berwarna putih gading dengan ekor sutra yang menjuntai indah tampak memikat. Payet-payet mutiara dan kristal kecil berkilau diterpa lampu hangat.
"Silakan dicoba, Mbak Clara. Ini desain khusus yang dipesan langsung oleh dr. Arka dua minggu lalu," ujar sang perancang.
Clara tertegun. Dua minggu lalu? Batinnya berteriak. Jadi pria itu sudah merencanakan jebakan ini jauh sebelum ia ditangkap di bengkel balap?
Dengan bantuan asisten, Clara mengenakan kebaya tersebut. Ukurannya sangat pas meliuk di tubuhnya yang ramping seolah sang pembuat baju tahu persis setiap inci ukuran tubuhnya tanpa perlu mengukur ulang.
Saat tirai pembatas dibuka, Arka sedang berdiri menunggunya. Pria itu sudah mengenakan beskap perak modern yang sangat padu. Begitu matanya menangkap sosok Clara, langkah Arka terhenti.
Pandangan mata kaku di balik kacamata minus itu meredup sejenak. Tatapan Arka terkunci pada Clara. Rambut gadis itu yang biasa dikuncir kuda kini terurai, berpadu dengan gaun anggun yang mengubah imej gadis SMA pemberontak menjadi seorang wanita yang benar-benar mempesona.
Clara merasa risih ditatap selekat itu. Ia berdehem keras untuk mencairkan kecanggungan yang mulai membuat pipinya memanas. "Apa lihat-lihat? Jelek, kan? Kelihatan kayak anak kecil maksa pakai baju ibunya, kan?"
Arka melangkah mendekat. Sepatu kulitnya mendenting halus di atas lantai marmer. Ia berhenti tepat di hadapan Clara, mengangkat tangannya, lalu dengan lembut merapikan helai rambut yang menutupi leher Clara. Sentuhan jemari Arka yang hangat dan dingin secara bersamaan membuat bulu kuduk Clara berdiri.
"Kamu cantik, Clara," bisik Arka, suaranya dalam dan bergetar halus di telinga Clara. "Sangat cantik. Dan tidak ada yang salah dengan gaun ini."
Jantung Clara serasa melompat dari dadanya. Pujian yang dilontarkan dengan nada datar tanpa basa-basi itu justru memberikan dampak seribu kali lebih dahsyat daripada rayuan cowok-cowok seumuran sekolahnya. Clara menggigit bibir, memalingkan wajahnya cepat-cepat untuk menyembunyikan rona merah yang kini menjalar hingga ke telinganya.
"P-pokoknya aku gak suka bagian pinggangnya terlalu ketat!" kilah Clara asal-asalan, berusaha menutupi kegugupannya.
Arka hanya tersenyum tipis—sebuah senyuman langka yang membuat ketampanannya meningkat drastis hingga sang perancang busana di belakang mereka melengos kagum. "Sesuaikan sedikit bagian pinggangnya jika dia merasa kurang nyaman," perintah Arka pada staf butik, lalu menatap Clara kembali. "Setelah ini, kita ke Rumah Sakit. Ada berkas perjanjian medis yang harus kamu tandatangani."
Hari yang ditentukan akhirnya tiba. Sabtu Pagi.
Kediaman keluarga Nathan disulap menjadi tempat prosesi sakral yang dikelilingi bunga-bunga white lily dan jasmine segar. Tidak ada ribuan undangan atau pesta megah meriah, sesuai dengan kesepakatan tertutup. Hanya ada keluarga inti, saksi dari pihak kepolisian dan rekan medis kepercayaan Arka, serta Fani yang hadir sebagai pengiring pengantin Clara.
Di barisan keluarga Arka, tampak dua adik Arka yang ikut mendampingi. Ada Keynara, adik bungsu Arka yang tampak anggun dalam balutan busana formal berhijab Lilac. Di sampingnya berdiri Aryan, adik laki-laki Arka yang baru saja terbang dari luar negeri. Berbeda dari Arka yang bernuansa kaku khas dokter, Aryan memancarkan aura artistik dan elegan dengan setelan jas eksklusif seorang pengusaha muda yang mengelola rantai bisnis keluarga sekaligus galeri seni terbesar di Eropa.
Aryan memperhatikan sekeliling dengan pandangan penuh rasa ingin tahu. Karena bertahun-tahun menetap di luar negeri demi mengurus galeri dan perusahaan, ini adalah kali pertama Aryan akan melihat calon kakak iparnya secara langsung.
"Mas Arka seriusan nikah sama anak SMA?" bisik Aryan pelan pada Keynara di sampingnya. "Gue belakangan sibuk ngurus pameran di London sama meeting ekspansi bisnis, gue belain pulang, demi melihat akad nikah kak Arka"
"Ssst! Diem deh, Mas Aryan," bisik Keynara menepis lengan kakaknya. "Lihat tuh, Mbak Clara-nya udah turun. Cantik banget tau!"
Di dalam kamar pengantin tadi, Clara duduk di depan cermin rias dengan wajah pucat pasi. Riasan tipis yang natural makin menonjolkan kecantikan alaminya, namun jemarinya yang mendekap buket bunga mawar putih bergetar hebat.
"Ra... kamu beneran yakin mau ngelakuin rencana kamu?" bisik Fani khawatir dari belakang, memegangi bahu Clara. "dr. Arka kelihatan gagah banget di bawah, Ra. Suasana di bawah sakral banget, aku takut kamu malah kena masalah besar kalau nekat!"
Clara menatap bayangannya di cermin. "Aku gak punya pilihan, Fan. Kalau aku pasrah gitu aja, selamanya hidupku bakal disetir sama dia. Ini pertahanan terakhirku."
Di balik korset kebayanya, Clara telah menyembunyikan selembar kertas bertuliskan 'Syarat Pernikahan Tambahan' yang ia tulis sendiri semalam.
Suara ketukan pintu membuat kedua gadis itu melonjak. Pintu terbuka, memperlihatkan Hendra dengan setelan jas hitamnya. Pria paruh baya itu menatap putrinya dengan mata yang berkaca-kaca, sebuah pemandangan yang amat jarang dilihat oleh Clara.
"Clara..." suara Hendra serak. Ia melangkah mendekat, mengabaikan ketegangan yang selama bertahun-tahun membentang di antara mereka. "Sudah waktunya, Nak. Penghulu dan Arka sudah menunggu di bawah."
Clara berdiri perlahan. Tenggorokannya terasa tersumbat saat Papahnya meraih tangannya dan menuntunnya keluar dari kamar.
Saat menuruni tangga melingkar, pandangan Clara langsung tertuju pada meja akad di tengah ruangan. Di sana, dr. Arka Samudra duduk tegap membelakanginya. Saat mendengar langkah kaki, Arka berputar. Pria itu tampak sangat berwibawa dalam balutan pakaian pengantin serba putih, ketenangannya bagaikan samudra luas yang menyembunyikan gelombang besar di bawah permukaannya.
Mata mereka bertemu. Ada pesan tersirat dalam tatapan tajam Arka: Tidak ada jalan kembali.
Sementara itu, dari sudut area saksi, Aryan tertegun menatap sosok pengantin wanita yang berjalan mendekat. Sebagai kurator dan pemilik galeri seni yang terbiasa melihat estetika visual, Aryan tak bisa memungkiri bahwa aura calon kakak iparnya sangat unik—gabungan antara kecantikan yang rapuh namun menyimpan tatapan liar pemberontak.
"Wah... Mas Arka pinter banget nyari istri," gumam Aryan pelan, matanya meneliti kepribadian tersirat dari gestur Clara yang melangkah tegak namun kaku. "Pantesan Mas Arka kelihatan beda beberapa minggu belakangan."
Clara didudukkan di samping Arka. Aroma parfum sandalwood pria itu kembali menyeruak, menyelimuti indra penciuman Clara dan perlahan mengikis keberanian yang sudah ia kumpulkan sejak pagi.
Prosesi ijab kabul dimulai. Suara juru nikah menggemah tenang di dalam ruangan yang hening.
"Saudara Arka Samudra bin Leonathan Nugroho saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Clara Adelin Dewangga binti Hendra Dewangga, dengan mas maskawin berupa logam mulia sebesar lima puluh gram dan seperangkat alat sholat, dibayar tunai."
Tanpa jeda, tanpa keraguan sedikit pun dalam suaranya, Arka menjabat erat tangan wali nikah dan mengucapkan kalimat sakral itu dengan satu helaan napas yang tegas.
"Saya terima nikah dan kawinnya Clara Adelin Dewangga binti Hendra Dewangga dengan mas maskawin tersebut, dibayar tunai!"
"Bagaimana para saksi? Sah?"
"SAH!"
Kata "SAH" bertengger di udara, meruntuhkan seluruh dunia remaja Clara dalam hitungan detik. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes satu titik melintasi pipinya. Ia kini resmi menjadi seorang istri dari dr. Arka Samudra.
Arka memutar tubuhnya menghadap Clara untuk prosesi pemasangan cincin dan penyerahan mas maskawin. Ia mengambil cincin platina berdesain simpel namun elegan, lalu meraih tangan kanan Clara. Saat menyadari jemari istrinya gemetaran dan dingin bak es, Arka menggenggamnya lebih erat, memberikan kehangatan yang mantap.
Setelah cincin terpasang, Arka menyentuh dagu Clara, mengangkat wajah gadis itu agar menatapnya. Di depan semua saksi dan orang tua mereka, Arka mendekatkan wajahnya lalu mendaratkan sebuah kecupan lembut namun lama di dahi Clara.
Sentuhan bibir Arka di dahinya membuat mata Clara terpejam rapat. Ada sensasi aneh yang menjalar ke seluruh pembuluh darahnya—sebuah rasa hangat, terlindungi, namun sekaligus ketakutan akan kepatuhan yang harus ia serahkan.
"Selamat datang di dunia saya, Istriku," bisik Arka sangat pelan di ceruk telinga Clara sebelum melepaskan genggamannya.
Malam harinya, sebuah mobil meluncur membelah keheningan kompleks perumahan elit. Clara resmi diboyong ke rumah pribadi milik Arka, sebuah bangunan bernuansa minimalis modern dua lantai yang sangat sepi dan terisolasi dari keramaian kota.
Arka membukakan pintu utama, menyalakan lampu gantung kristal yang menerangi ruang tamu bernuansa abu-abu dan kayu gelap.
"Kamar utama ada di lantai dua. Semua barang-barangmu dari rumah Om Hendra sudah dipindahkan ke sana tadi siang," ujar Arka seraya melepas jas beskapnya dan melipat lengan kemejanya. Ia tampak lelah, namun auranya tetap terpancar kuat.
Clara berdiri kaku di tengah ruang tamu, memeluk tas kecilnya rapat-rapat. "Kamar utama? Maksudmu... kita tidur di kamar yang sama?"
Arka menghentikan langkahnya di tangga pertama, memutar tubuhnya menatap Clara datar. "Tentu saja. Kita sudah suami istri secara sah. Kamu mengharapkan kamar terpisah?"
"Tentu saja!" seru Clara panik. "Aku masih SMA, Arka! Kita punya kesepakatan!"
Arka berjalan mendekat, setiap langkahnya mengikis jarak di antara mereka hingga ia berdiri persis di depan Clara. Pria itu melepas kacamatanya, memijit pangkal hidungnya sebentar, lalu menatap Clara dengan matanya yang tajam tanpa penghalang kaca.
"Kesepakatan yang mana, Clara? Kertas yang kamu tanda tangani kemarin menyatakan bahwa kamu wajib menurut pada Aturan Rumah Tangga yang saya buat," kata Arka tenang namun menekan.
Inilah saatnya. Clara menarik napas panjang, merogoh bagian dalam kebayanya dan mengeluarkan selembar kertas lipat yang sudah agak remuk. Ia menyodorkannya tepat di dada bidang Arka.
"Ini! Ini syarat tambahan dari aku!" tegas Clara berusaha terdengar berani meski dadanya berdegup kencang. "Kalau kamu mau aku tinggal di sini dan menuruti aturan konyolmu, kamu harus tanda tangani ini dulu!"
Arka alisnya terangkat sebelah. Ia mengambil kertas itu, membukanya, lalu membacanya dalam hati.
Dilarang menyentuh atau meminta hak suami-istri sampai aku lulus SMA dan menginjak usia 18 tahun!
Kamar tidur harus dibagi dua wilayah (tidak boleh melewati batas tengah kasur)!
Urusan sekolah, geng balap, dan teman-temanku adalah hak pribadiku, Dokter dilarang ikut campur!
Jika Dokter melanggar poin nomor 1, aku berhak mengajukan cerai seketika!
Suasana ruangan mendadak menjadi sangat hening. Clara menahan napasnya, menunggu reaksi pria di depannya. Apakah Arka akan marah? Ataukah pria itu akan merobek kertas itu?
Arka perlahan melipat kembali kertas tersebut. Wajahnya yang biasa dingin tiba-tiba melunak. Sebuah senyuman tipis—kali ini senyuman yang benar-benar misterius dan penuh intrik—terukir di bibirnya.
Ia melangkah maju satu langkah lagi, membuat Clara terdesak mundur hingga punggungnya menabrak pilar kayu di belakangnya. Arka mengurung Clara dengan menyandarkan satu tangannya di pilar, menundukkan kepalanya hingga hembusan napas hangatnya menyapu pipi Clara.
"Poin nomor satu dan dua... sangat masuk akal. Saya seorang dokter, Clara, bukan binatang yang tidak bisa menahan diri," bisik Arka dengan suara berat yang terngiang rendah. "Tapi poin nomor tiga dan empat..."
Arka meremas kertas perjanjian itu pelan di tangannya, lalu memasukkannya ke dalam saku celananya.
"Kamu lupa satu hal, Clara," lanjut Arka, jemari tangannya merayap lembut menyentuh dagu Clara, memaksa gadis itu menatap matanya yang pekat. "Di dalam sirkuit balapmu, kamu mungkin ratunya. Tapi di dalam rumah ini... saya adalah satu-satunya aturan yang harus kamu patuhi. Dan soal kata 'cerai'..."
Arka mendekatkan bibirnya ke telinga Clara, berbisik dengan nada dingin yang sanggup membekukan darah. "...jangan pernah diucapkan lagi dari mulutmu, atau saya akan memastikan kamu tidak akan pernah bisa menyentuh sepeda motor atau melangkah keluar dari rumah ini lagi."
Clara meneguk ludah payah. Ketegangan di antara mereka membakar udara di sekitar. Namun sebelum Clara sempat membalas gertakan Arka, ketegangan yang pekat itu mendadak terpecah oleh suara ketukan pintu serta gelak tawa ramah yang memecah keheningan rumah.
Tok! Tok!
Pintu depan terbuka, memperlihatkan Aryan dan Keynara yang melangkah masuk sambil membawa beberapa kantong makanan dan tas dokumen.
"Permisi pengantin baru! Sorry nih mengganggu momen," goda Aryan santai, mengapit paper bag di tangannya.
Clara langsung mendorong dada Arka dengan panik untuk memberi jarak. Arka menghela napas panjang terlihat sangat terusik oleh gangguan adik-adiknya lalu berbalik menyilangkan tangan di dada.
"Aryan? Keynara? Kenapa kalian ke sini malam-malam?" suara Arka terdengar dalam dan penuh teguran.
"Mama yang suruh, Mas," sahut Keynara riang, berjalan menghampiri mereka tanpa rasa canggung. "Katanya nitipin makanan malam sama berkas medis Mas Arka yang ketinggalan di rumah utama tadi pas acara akad."
Keynara mendongak, matanya berbinar menatap Clara yang berdiri kaku di dekat pilar. "Halo Mbak Clara! Aku Keynara, adiknya Mas Arka yang paling imut! Tadi pas akad kita belum sempat ngobrol banyak. Pokoknya jangan mau ya dibikin stres sama kulkas 10 pintu ini!"
Clara berkedip bingung, terperanjat oleh keramahan Keynara yang 180 derajat berbeda dari Arka. "Ehh... halo, Keynara..."
Sementara itu, Aryan menaruh kantong makanan di meja lalu berjalan mendekat. Ia mengamati Clara dengan tatapan khas seorang pengamat seni meneliti detail dari calon kakak iparnya yang baru pertama kali ia temui secara dekat hari ini di acara pernikahan.
"Salam kenal ya, Clara. Gue Aryan, adiknya Mas Arka," ujar Aryan ramah seraya melempar senyum hangat. "Sori tadi pas akad belum sempat nyapa. Gue baru banget sampai dari luar negeri tadi pagi khusus buat akad kalian, soalnya urusan galeri sama bisnis di sana lagi padat-padatnya."
Aryan lalu melirik Arka dengan terkekeh geli. "Tapi jujur, gue kagum sama Mas Arka. Selama gue di luar negeri, gue pikir Mas Arka bakal selamanya jomblo kaku gara-gara sibuk di rumah sakit. Gak nyangka pas gue pulang, dia bisa naklukin cewek se-unik kamu."
"Aryan, cukup. Jangan mulai," potong Arka tegas dengan tatapan mata yang penuh peringatan.
Keynara memutar matanya malas menatap kakaknya. "Duh, kumat deh galaknya. Mbak Clara, kalau Mas Arka macam-macam atau bikin Mbak gak betah, bilang aku sama Mas Aryan ya! Kita siap jadi benteng pertahanan Mbak Clara!"
Melihat interaksi hangat dari kedua adik Arka—Keynara yang ceria dan Aryan yang santai meski berlatar pengusaha sukses luar negeri—ketegangan di dada Clara mendadak sedikit mencair. Di tengah cengkraman dominasi dr. Arka Samudra yang menakutkan, kehadiran Aryan dan Keynara tampaknya akan menjadi sekutu tak terduga bagi Clara di rumah dingin ini.
Arka hanya menghela napas gusar, melirik Clara yang kini menahan senyum tipis di balik keraguan matanya. Permainan di rumah ini baru saja dimulai, dan kali ini, papannya jadi semakin ramai.