Raisa meninggalkan rumah mertuanya di malam hujan, pernikahan yang kata suaminya "tanpa cinta" itu harus kandas setelah kedatangan saudara tirinya yang bernama Arni yang mana sebelumnya adalah mantan kekasih suaminya. Lima tahun bertahan dengan lelaki lumpuh yang memiliki temperamen buruk itu bahkan membuat Raisa kehilangan dirinya sendiri, malam itu disaat ia mengajukan perceraian pada Angga, ia pergi ke makam ayahnya untuk meluapkan seluruh isi hatinya sebab jika ia kembali kerumah ia hanya akan mendapat cacian dari ibu sambungnya. Namun seiring berjalannya waktu Raisa tak lagi mampu bertahan dengan semua penderitaannya. Apakah pada akhirnya suaminya akan mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Askararia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
"Ide apa, Ma?"
Wanita paruh baya ini tersenyum licik, ia kembali duduk disamping anak gadisnya itu dan menyuruhnya mendekatkan telinganya agar pembantu rumah tangga mereka tak mendengar percakapannya.
"Kamu harus memaksa Steven untuk mempercepat acara pernikahan kalian, setelah kamu resmi menjadi istrinya Steven kamu harus tetap berada dirumah itu bersama Raisa dan Angga. Buat Angga tergila-gila padamu, kau harus tidur dengannya, kamu harus mengandung anaknya. Laluna tidak mungkin memintamu untuk menggugurkan anak itu, jadi otomatis anak yang kamu kandung akan mendapatkan harta warisan yang sama dengan anak yang dikandung oleh Raisa juga!" Usul wanita licik itu.
Arni terdiam untuk beberapa saat mencerna perkataan Tina.
"Tapi bagaimana jika Steven menceraikan ku karena hamil anaknya Angga, Ma?"
"Dasar bodohhh!" Ucap Tina kesal sembari menuding kepala Arni, gadis itu memanyunkan bibirnya lalu memukul pelan lengan ibunya.
"Kamu harus membuat cerita seolah-olah Angga memperkosa mu, ya kalau pun Steven menceraikan mu, minta Angga untuk menikahi mu dan menjadikanmu istri mudanya. Gampang kan?"
"Eummmm, Mama pintar. Kenapa aku tidak memikirkan hal ini dari kemarin? Lagipula apa yang dinikmati Raisa selama ini memang millik ku, aku hanya meminjamkannya!"
Kedua wanita ini tertawa licik dengan kedua tangan di lipat didada, namun sayangnya telinga pembantu rumah tangga mereka masih dapat mendengar rencana buruk mereka, segera ia meraih ponselnya lalu menghubungi seseorang dari sana.
***
Kringggg kringggg kringggg
"Raisa, ponselnya berbunyi. Mungkin itu suamimu!"
Raisa bangkit dari atas tempat tidur untuk menerima panggilan telepon di ponselnya Nisa, semula mereka telah tidur sambil menunggu sopir yang dimaksud Angga menghubungi mereka kembali.
"Halo!" Sapanya.
"Halo, ini aku Angga. Kami sudah sampai di perkampungan yang kamu maksud, tapi kami tidak tahu kau ada dirumah yang mana"
Kedua alis Raisa terangkat tinggi, mendengar suara Angga memulihkan kembali semangatnya.
"Aku, aku akan keluar dari rumah, kalian terus saja berjalan masuk ke dalam desa, nanti di pertigaan belok ke kiri, aku berada dirumah Pak RT, rumah dengan dua pohong mangga didepannya. Tapi, apakah kau ikut menjemput ku?" Suara wanita itu terdengar begitu bahagia, namun sama seperti hari sebelumnya, Angga hanya menanggapi dengan gumaman pendek, tanpa sebuah ekpresi yang menunjukkan kebahagiaan.
"Oke!" Ucap lelaki itu lalu mematikan telfonnya.
Sopir pribadinya bahkan menggelengkan kepala tak percaya kalau Angga tetap bersikap cuek, sementara itu kini Raisa memberitahu Nisa kalau suaminya sudah sampai di perkampungan, mendengar kabar tersebut keduanya segera keluar dari dalam kamar untuk menemui pasangan suami istri yang masih terjaga itu.
"Pak, suaminya Raisa sudah tiba di pintu masuk perkampungan, sebaiknya kita keluar agar mereka melihatnya!" Usul Nisa.
"Benarkah? Kalau begitu ayo kita ke teras depan, mungkin mereka sudah dekat" jawab pak RT.
Keempatnya berjalan beriringan keluar rumah, terutama Raisa yang sejak tadi memutar-mutar cincin ditangannya sambil tersenyum. Beberapa menit kemudian dari kejauhan terdengar suara mobil dari kejauhan, Raisa segera berlari menuju pohon mangga dihalaman tanpa menggunakan alas kaki. Melihat hal tersebut keluarga kecil itu terkejut sekaligus ikut senang karena pada akhirnya Raisa bisa bertemu kembali dengan keluarganya.
Tak lama mobil yang begitu dikenalinya masuk ke halaman rumah, sopir itu segera berlari membuka pintu mobil untuk Angga juga membawakan kursi rodanya. Raisa menghampiri keduanya sambil sesekali menoleh pada keluarga yang merawatnya tersebut.
"Angga, lihat. Aku berhasil menemukannya!"
"Bicarakan nanti, aku kelelahan!"
Angga dibawa oleh sopirnya menemui pak RT juga istrinya, tak lupa ia menjabat tangan ketiganya.
"Saya Angga, suaminya Raisa. Terimakasih sudah menolong dan merawat istri saya dengan baik"
Raisa memanyunkan bibirnya sambil mengikuti suaminya menemui ketiga orang diteras rumah.
"Ternyata dia bisa tersenyum juga?" batinnya.
"Owhh iya Nak Angga. Kami memang merawat istrimu, tapi ada orang lain yang lebih berjasa daripada kami, yaitu Pak Suparmin dan anaknya, Indra!" Ucap istri pak RT.
"Lalu, dimana mereka sekarang?"
"Mereka sudah pulang kerumahnya, besok pagi baru mereka datang kesini, kalau begitu ayo masuk kedalam, sudah malam, tidak bagus berlama-lama diluar"
"Ohhh, baik Bu!"
Mereka kemudian masuk kedalam rumah dan duduk bersama diatas karpet, wanita paruh baya itu memperhatikan Angga dan Raisa yang duduk di antara lelaki berseragam sopir itu.
"Nak Raisa, duduknya disebelah suaminya dong. Memangnya tidak rindu pada Nak Angga?" Tanyanya membuat pasangan suami istri itu saling menatap satu sama lain.
"Owhh iya, benar Bu Raisa. Ayo, duduk disini, disebelah suaminya, hehehe" timpal sopir pribadi Angga menukar tempat duduknya dengan Raisa.
Wajah Raisa berubah kemerahan saat ia duduk disamping Angga, sementara Angga melirik sopir pribadinya tersebut dengan tajam.
"Dasar sopir kurang ajar, dia sudah berani menggodaiku sekarang, bahkan dihadapan orang banyak" batinnya kesal.
"Aku yakin, Pak Angga pasti sedang mengumpat ku dalam hatinya sekarang, hahaha, tapi apa wajahku terlihat peduli? Tentu saja tidak!" Batin sopir itu membalas lirikan Angga sambil tersenyum.
"Permisi, Pak silahkan diminum tehnya!"
Nisa yang baru saja menawarkan secangkir teh pada lelaki itu ikut tersenyum melihat kedua lelaki itu melirik satu sama lain, setelah Nisa membagikan teh dan kembali duduk bersama semua orang di ruang tengah yang tak seberapa luas itu, Pak RT memperhatikan kaki Angga yang tampak kaku.
"Maaf, Nak. Apa kakinya sedang sakit?"
"Ehh, iya Pak. Karena kecelakaan beberapa tahun lalu!" Jawab Angga ramah.
"Owhhh, bukan saat terjatuh bersama Raisa ya?" Tanya wanita paruh baya itu lagi.
Angga menoleh pada Raisa, wanita itu kemudian segera melambaikan kedua telapak tangannya.
"Tidak Bu, kecelakaannya sudah lama, bahkan sebelum kami menikah. Iya, kan Angga?"
"A, Angga?" Pasangan suami istri itu menatap Angga dan Raisa kebingungan, bagaimana tidak, Raisa memanggil suaminya dengan namanya.
"Itu, kami memang biasanya memanggil nama satu sama lain, sudah seperti sahabat. Ia, sahabat" jawab Angga gugup.
"Hahaha, sahabat" lagi-lagi sopirnya menggodainya hingga membuat suasana didalam rumah menjadi kikuk.
Raisa dan Angga menggaruk belakang leher mereka yang tak gatal bersamaan membuat Nisa menyatukan kedua telapak tangannya lalu menutupi mulutnya.
"So sweet!" Serunya ikut tersipu malu.
Untuk kali pertama wajah Angga memerah karena menatap wajah Raisa, jantungnya juga bergerak tak karuan seolah sedang menari dengan gila, ia segera menyeruput teh dicangkirnya, namun siapa kira kalau istrinya juga melakukan hal yang sama dengannya, bahkan keduanya sempat melirik satu sama lain.
"Tuhkannn, kalian memang pasangan yang serasi. Cantik dan tampan"
Tergambar seutas senyum di raut wajah Angga, namun dalam hatinya ia sedang mengejek istrinya tersebut tanpa ampun.
"Hah? Cantik? Cantik apanya? Dekil, pendek, lelet, cengeng. Semua yang minus diborong olehnya"
Melihat Angga yang tengah diam disertai ekspresi yang tak biasa, lelaki yang duduk diantara Raisa dan Nisa itu juga ikut bergumam dalam hati, ia mengejek bosnya tersebut.
"Dasar kulkas lima pintu. Sudahlah Pak Angga, akui saja kalau sebenarnya Bapak setuju dengan perkataan gadis itu, tidak usah bermuka dua, lain di kiri lain di kanan. Ehhh, kok kiri kanan? Maksudnya lain di depan lain dibelakang"
"Kalian ini kenapa sih? Senyum-senyum sendiri, apa jangan-jangan sebenarnya yang suami istri itu kamu dan kamu?"
Sontak Nisa membuat kedua lelaki itu terlonjak kaget, wanita paruh baya itu mencubit pelan punggung tangan anaknya. Takut Angga maupun laki-laki yang satunya marah atau kesal.
"Nak Angga dan Nak Raisa boleh tidur di kamar belakang malam ini, tapi maaf jika kamarnya tidak sebagus kamar kalian di kota, yahh maklum saja, dikampung ini semua rumah isiannya memang sederhana"
"Terimakasih Bu, tapi saya akan tidur dengan Pak Angga malam ini" ucap sopir itu memotong perkataan wanita paruh baya itu.
Kesalahpahaman mulai tercium, ketiga orang itu mengerutkan kening mereka saat lelaki itu meminta untuk tidur bersama Angga.
"Ta, tapi kan istrinya Nak Angga itu, Raisa!" Ucap pak RT menaikkan sedikit nada suaranya, sebab itu berfikir kalau lelaki yang bekerja sebagai sopir itu penyuka sesama jenis.
"Astaga, maksud saya!"
"Kamu homo?" Tanya Nisa menggeser tempat duduknya dari lelaki itu, dan kini Raisa juga ikut menatap aneh pada lelaki tersebut.
"Astaga, bukan!"