Demi uang Rp 2 miliar, Karina menceraikanku dan "meminjamkanku" untuk menikahi sahabatnya. Aku pikir hidupku hancur—ternyata pernikahan itu justru menyeretku pada wanita yang diam-diam mencintaiku selama 17 tahun.
Arya Wibowo, karyawan biasa yang baru kena PHK, tiga tahun jadi suami yang diperas habis-habisan. Ketika mantan istrinya, Karina, dengan enteng menukar pernikahan mereka demi uang, Arya memilih pergi tanpa menoleh. Yang tak ia duga, "istri kontrak"-nya, Anindya Kusuma, adalah pewaris tunggal Grup Kusuma—kerajaan asuransi bernilai puluhan triliun—dan gadis yang sudah memendam cinta padanya sejak umur sepuluh tahun.
>
Saat Karina akhirnya menyesal dan merengek minta rujuk, Arya cuma tersenyum: "Cerai kamu yang minta. Sekarang mau balik? Nggak akan pernah." Dari pria yang dulu dihina "nggak berguna", Arya bangkit dengan tangannya sendiri—sementara satu per satu kebohongan Karina terbongkar di depan umum, dan karma datang menjemput.
Vila mewah, mobil belasan miliar, cinta yang tulus, dan pembalasan yang manis. Tapi Karina belum menyerah—dua bulan lagi, katanya, ia akan membongkar semuanya ke internet…
Siapa sebenarnya yang akan menyesal seumur hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Aditama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12: Kabar dari Kampung
Namun untuk pertama kalinya, Arya berharap sahabatnya benar.
Harapan itu belum sempat ia periksa lebih jauh ketika ponselnya berdering sore hari.
Nama Bapak muncul di layar.
Arya segera meninggalkan permainan. Ia memberi isyarat kepada Anindya, lalu menerima panggilan di balkon.
"Assalamualaikum, Pak."
"Waalaikumsalam, Le." Suara Pak Warno terdengar berat. Di belakangnya ada bunyi ayam dan ember, suara yang langsung membawa Arya pulang ke Desa Sumberarum. "Kamu sehat?"
"Sehat. Bapak dan Ibu?"
"Sehat. Ibumu di sini. Ada kabar dari keluarga Karina. Katanya Pak Suryanto akan ke Surabaya untuk operasi."
Arya menutup mata sebentar. "Saya sudah tahu beliau sakit, tapi bukan saya yang mengurus."
"Kenapa? Biasanya kamu yang paling sibuk kalau keluarga sana ada masalah."
Bu Lastri mengambil alih telepon. "Le, ada apa dengan kalian? Karina bilang kamu sulit dihubungi."
Arya menggenggam pagar balkon. Ia sudah berjanji akan bicara jujur, tetapi kata-katanya tetap berat.
"Kami sudah cerai, Bu. Akta cerainya sudah terbit."
Di seberang, tidak ada suara selama beberapa detik.
"Cerai?" bisik ibunya. "Sejak kapan?"
"Beberapa hari lalu. Prosesnya ternyata sudah diajukan lebih awal tanpa dijelaskan benar kepada saya."
"Ya Allah, Le. Kenapa baru bilang?"
"Saya tidak mau Bapak dan Ibu cemas sebelum semuanya selesai."
Pak Warno kembali mengambil telepon. "Dia yang minta?"
"Iya."
Arya belum menceritakan pernikahan barunya. Lewat telepon, kisah itu akan terdengar seperti kebohongan atau kegilaan. Ia ingin pulang dan menjelaskannya langsung ketika waktunya tepat.
"Kalau begitu urusan operasi Pak Suryanto bagaimana?" tanya ayahnya.
"Itu tanggung jawab keluarga Karina. Saya bukan menantunya lagi."
Bu Lastri terdengar menangis pelan. "Tapi dulu Bapak sampai menjual sapi, kita juga pinjam sana-sini hampir seratus juta supaya pernikahanmu jadi."
"Saya ingat, Bu."
Arya tidak mungkin lupa. Utang itu dicicil dari gajinya selama dua tahun. Setiap bulan ia mengirim sedikit uang ke kampung sambil menahan kebutuhan sendiri. Karina tidak pernah bertanya bagaimana orang tuanya hidup setelah menjual ternak.
Dalam tiga tahun, Karina juga tidak pernah bersedia pulang ke Desa Sumberarum. Jalan terlalu panas, rumah terlalu sederhana, jaringan internet terlalu lambat—selalu ada alasan.
"Maaf," kata Arya. "Saya membuat Bapak dan Ibu berkorban untuk pernikahan yang gagal."
"Jangan bicara begitu," ujar Pak Warno tegas. "Uang bisa dicari. Yang penting kamu tidak diperlakukan buruk. Kamu aman? Punya tempat tinggal?"
Arya melihat taman Vila Kusuma dari balkon. Lamborghini terparkir di bawah. Di ruang belakang, Anindya menunggu tanpa menguping.
"Saya aman. Tempat tinggal juga ada."
"Kalau kesulitan, pulang," kata ibunya. "Rumah kita kecil, tapi kamarmu masih ada."
Dada Arya menghangat.
"Soal utang dulu, masih ada yang belum lunas?" tanyanya.
Pak Warno berdeham. "Sedikit. Jangan dipikirkan sekarang. Cari kerja dulu."
"Berapa, Pak?"
"Arya," tegur ayahnya.
"Saya perlu tahu. Itu utang untuk pernikahan saya."
Bu Lastri menjawab pelan, "Tinggal sekitar dua puluh juta kepada pamanmu. Bapak mencicil dari hasil panen."
Arya memejamkan mata. Setelah dua tahun mengirim uang, rupanya orang tuanya masih menanggung bagian yang mereka sembunyikan agar ia tidak cemas.
"Besok saya transfer dan lunasi semuanya."
"Jangan!" Pak Warno langsung meninggikan suara. "Kamu baru kehilangan kerja. Simpan uangmu."
"Saya punya cukup. Ini bukan uang Karina dan bukan utang baru."
"Dapat dari mana?"
Arya menatap buku nikah yang sempat diletakkan Anindya di meja jauh di dalam ruangan. "Ceritanya panjang. Saya jelaskan saat pulang. Tapi percayalah, Pak, saya tidak melakukan hal melanggar hukum."
Pak Warno diam, lalu berkata, "Bapak percaya kamu. Jangan memaksakan diri."
"Kali ini bukan memaksakan diri. Saya sedang membereskan sesuatu yang seharusnya sudah lama selesai."
Bu Lastri menarik napas bergetar. "Pulanglah kalau sempat, Le. Biar Ibu masak makanan kesukaanmu. Tiga tahun ini Ibu selalu menyiapkan kamar, siapa tahu kamu dan Karina mau datang."
Arya menelan rasa pahit. Karina tidak pernah datang, tetapi harapan ibunya terus menunggu di kamar kosong.
"Iya, Bu. Nanti saya pulang."
Setelah telepon berakhir, Anindya datang membawa teh. Ia tidak bertanya sampai Arya sendiri bicara.
"Orang tuaku sudah tahu soal perceraian."
"Mereka marah?"
"Nggak. Mereka malah menyuruhku pulang kalau tidak punya tempat."
Anindya menyerahkan cangkir. "Mereka belum tahu soal kita?"
"Belum. Aku mau menjelaskannya langsung."
"Aku ikut?"
Pertanyaan itu keluar terlalu cepat. Anindya segera menambahkan, "Kalau diperlukan untuk meyakinkan soal wasiat."
Arya tersenyum tipis. "Nanti aku pikirkan."
Di tempat lain, Karina sedang menunjukkan foto perjalanan kepada Sherly.
"Kalau sisa uang masuk, gue pesan hotel ini," katanya. "Pemandangannya langsung laut."
Sherly menggeser layar. "Lo yakin sisa uangnya satu koma empat miliar?"
"Jelas. Totalnya dua miliar, uang muka enam ratus juta."
"Lo baca kontraknya?"
Karina mendengus. "Pengacara Anindya yang buat. Buat apa dibaca semua? Intinya dua miliar."
Sherly mengangkat bahu. "Terserah. Tapi orang tua lo jadi datang kapan?"
"Lusa. Papa harus operasi lambung. Biayanya bisa dua ratus juta. Arya yang bayar."
"Bukannya dia sudah blokir lo?"
"Dia boleh marah sama gue, tapi Papa tetap mantan mertuanya. Lagi pula gue hamil. Begitu gue bilang, dia pasti kembali."
Sherly menatap perut Karina yang belum terlihat membesar. "Lo yakin anaknya Arya?"
Wajah Karina menegang. "Jangan tanya begitu."
"Gue cuma memastikan. Lo kan sempat dekat sama beberapa orang."
"Kemungkinannya tetap Arya."
"Kemungkinan bukan kepastian."
Karina berjalan ke jendela. "Kalau gue bilang ini anaknya, dia harus percaya."
Sherly tertawa pendek. "Laki-laki gampang diarahkan kalau sudah bawa nama anak."
"Bram percaya semua anak lo miliknya, kan?"
Tawa Sherly berhenti.
Karina menoleh. "Kenapa?"
Sherly mengambil ponselnya dan merendahkan suara. "Jangan pernah bicara soal itu di depan orang lain."
"Soal apa?"
"Tiga anak gue." Sherly mendekat. "Nggak satu pun anak Bram."
Karina menatapnya tidak percaya. "Lo serius?"
"Gue tahu cara menjaga rumah tangga tetap utuh. Yang penting jangan pernah mengaku, jangan biarkan dia curiga, dan buat dia merasa bersalah kalau bertanya."
"Kalau ketahuan?"
"Nggak akan. Bram terlalu percaya sama gue."
Sherly tersenyum percaya diri, lalu menunjuk perut Karina.
"Jadi dengar gue. Jangan beri Arya kesempatan meminta bukti. Ulangi terus bahwa anak itu miliknya sampai dia sendiri takut menyangkal."
Karina mengangguk perlahan.
Mereka berdua tidak tahu bahwa di Vila Kusuma, Arya sedang berdiri di depan foto keluarganya dan mengingat setiap rupiah yang pernah dibayar orang tuanya untuk pernikahan tersebut.
Ia meletakkan foto itu di meja kerja, di samping daftar rencana hidup barunya.
Utang lama akan ia lunasi.
Namun keluarga yang sudah membuangnya demi uang tidak akan ia tanggung lagi.