"Bagi dunia, aku anak dari sahabatnya. Bagi hatiku, dia pria yang harus kumiliki."
Aluna (20 tahun) menyembunyikan cinta rahasia pada Marko Janitra (45 tahun), sahabat karib ayahnya sekaligus CEO dingin Janitra Group. Demi mendekat, Aluna nekat magang di kantor Marko.
Marko membentengi diri rapat-rapat demi etika dan persahabatan. Namun di antara perbedaan usia 25 tahun dan godaan manis sang anak sahabat, sanggupkah benteng dingin sang CEO bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.J Lim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Suara deru motor sport Kenan
kembali terdengar riuh di depan gerbang rumah keluarga Raharja. Pagi itu, Luna
keluar dengan pakaian kantor yang rapi, menyunggingkan senyum tipis saat
melihat Kenan sudah bersiap menyodorkan helm cadangan.
"Pagi, Pren! Siap
meluncur?" sapa Kenan ramah, matanya berbinar menatap Luna.
"Pagi, Ken. Makasih ya udah
rutin jemput," balas Luna halus seraya menerima helm itu dan memakainya.
Hubungan Luna dan Kenan memang makin
dekat dalam dua minggu terakhir. Kenan dengan setia mengantar dan menjemput
Luna bekerja, mengajak makan siang, hingga mendengarkan keluh kesahnya. Luna
mencoba menikmati momen kebersamaan ini, berusaha membuka hatinya selebar
mungkin untuk pemuda itu.
Namun, jauh di lubuk hatinya yang
paling dalam, ada satu nama yang tetap bertengger kokoh dan tak tergoyahkan:
Marko Janitra. Setiap kali Kenan menggenggam tangannya, bayangan tatapan dingin
dan tegas milik Marko justru yang selalu berkelebat di benaknya.
Sementara itu, di Semarang, udara
sore terasa hangat. Marko baru saja menyelesaikan rapat koordinasi ekspansi
cabang baru Janitra Group. Pria matang itu melangkah masuk ke lobi hotel
bintang lima tempatnya menginap, berniat untuk langsung beristirahat.
Namun, langkah kakinya terhenti
begitu sosok wanita bergaun merah glamor berdiri anggun di dekat resepsionis,
menyambutnya dengan senyum merekah.
Jessi.
"Surprise, Marko!" sapa
Jessi manja, langsung mendekat dan melingkarkan tangannya di lengan kekar
Marko.
Marko berkerut dahi, refleks
menghentikan langkahnya. "Jessi? Kamu ngapain di Semarang?"
Jessi terkekeh pelan, makin
mempererat rangkulannya. "Kan produk kecantikan yang menjadikan gue brand
ambassador lagi ada acara promosi gede-gedean di mall Semarang malam ini!
Pas banget kan? Sekalian gue nyusul lu ke sini biar kita bisa makan malam bareng."
Marko menghela napas panjang,
mencoba menepis pelan tangan Jessi dari jalurnya. "Saya ke sini buat
urusan pekerjaan, Jessi. Bukan buat liburan."
"Ayolah, Ko... cuma makan malam
sebentar setelah acara gue selesai. Masa lu tega nolak gue yang udah jauh-jauh
ke sini?" bujuk Jessi dengan nada merayu yang kian berani.
Marko menatap wanita itu datar. Akal
sehatnya kembali berbisik kasar—memintanya memanfaatkan kehadiran Jessi agar ia
bisa benar-benar membunuh rasa sayangnya pada Luna. "Terserah kamu,"
balas Marko dingin pada akhirnya.
Malam harinya, di ruang keluarga
rumah Raharja, suasana terasa hangat. Ardi duduk santai di sofa sambil menonton
berita bisnis, sementara Sinta sibuk merajut di sampingnya. Luna yang baru saja
turun dari lantai dua berniat mengambil air minum di dapur.
"Oiya, Ma," panggil Ardi
mendadak, mengalihkan pandangan dari televisi. "Si Marko lagi di Semarang
dari kemarin."
Sinta menoleh, menaruh rajutannya.
"Oh ya? Sendirian dia ke sana, Mas?"
"Tadinya sama tim
direksi," jawab Ardi terkekeh pelan. "Tapi tadi sore Marko telepon
Papa, katanya Jessi nyusul ke sana. Ada acara promosi produk di Semarang juga
sekalian nemenin Marko."
Langkah kaki Luna yang baru sampai
di ambang ruang keluarga mendadak membeku seketika. Tangannya yang memegang gelas
kosong mengepal kaku.
"Wah, serius kamu, Mas?"
ujar Sinta dengan raut wajah berbinar senang. "Ya ampun, Mama ikut senang
denger kabar itu! Mudah-mudahan Marko beneran bisa membuka hatinya buat Jessi
ya. Kasihan dia, udah bertahun-tahun sendiri sejak almarhumah istrinya
meninggal."
"Iya, Ma. Papa juga berharap
gitu," sahut Ardi mengangguk setuju. "Jessi itu cantik, matang, dan
kelihatan telaten banget ngejar-ngejar Marko. Sudah saatnya Marko punya
pendamping hidup lagi. Nggak baik membujang terus di usia empat puluh lima
tahun."
"Bener banget, Mas. Moga-moga
pulang dari Semarang ada kabar baik dari mereka berdua," tambah Sinta
tersenyum hangat.
Setiap kata yang meluncur dari mulut
kedua orang tuanya bagaikan sembilu tajam yang menghantam dada Luna bertubi-tubi.
Sesak, panas, dan menyakitkan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun atau
melangkah ke dapur, Luna berbalik cepat dan setengah berlari menaiki tangga
menuju kamarnya.
Brak!
Luna menutup pintu kamarnya
rapat-rapat, lalu menguncinya dari dalam. Gadis itu melempar tubuhnya ke atas
tempat tidur, menyembunyikan wajahnya di balik bantal.
Rasa cemburu yang membakar hebat
mendadak menguasai seluruh tubuhnya. Usahanya selama dua minggu ini bersama
Kenan seolah runtuh tak berbekas hanya karena mendengar nama Marko dan Jessi
pergi bersama ke luar kota.
Dengan tangan gemetaran, Luna
menyambar ponsel pintarnya di atas meja. Tangannya refleks membuka aplikasi
media sosial dan mencari akun pribadi milik Jessi.
Hanya butuh beberapa detik sampai
postingan terbaru Jessi muncul di paling atas linimasa.
Sebuah foto berkualitas tinggi
diunggah sepuluh menit yang lalu. Di dalam foto itu, Jessi dan Marko tampak
duduk berhadapan di sebuah restoran rooftop mewah dengan latar belakang
gemerlap lampu kota Semarang. Jessi tersenyum sangat manis ke arah kamera
sambil memegang gelas anggur, sementara Marko—meski raut wajahnya tetap
kaku—duduk tegap dengan setelan kemeja yang kancing atasnya terbuka santai.
Keterangan foto (caption)
yang ditulis Jessi makin memperkeruh suasana:
"Romantic dinner after work in
Semarang with my favorite man @MarkoJanitra. Thank you for always being there
for me ❤️"
Crak!
Luna meremas ponselnya kuat-kuat.
Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes deras membasahi pipinya.
Dada Luna naik turun menahan isak tangisnya yang pecah dalam keheningan kamar.
"Kenapa harus sesakit
ini..." bisik Luna lirih dan parau, mengusap air matanya kasar.
"Kenapa gue nggak bisa hapus nama dia dari hati gue?!"
Rasa cemburu yang berlipat-lipat
membuat emosi Luna membuncah tak terkendali. Ia tak sanggup lagi berpura-pura
tenang. Luna membuka aplikasi pesan singkat, mencari nama kontak yang sangat
jarang ia hubungi secara pribadi.
Om Marko.
Dengan jemari yang gemetar hebat
akibat terbakar emosi dan cemburu, Luna mengetik sebuah pesan tajam lalu
menekan tombol kirim tanpa berpikir panjang:
[Selamat menikmati makan malam
romantisnya di Semarang sama Mbak Jessi ya, Om. Semoga cepat meresmikan
hubungannya biar satu kantor nggak penasaran lagi.]
Hanya dalam hitungan detik, dua centang
di samping pesan itu mendadak berubah menjadi biru.
Tanda bahwa Marko yang jauh di
Semarang sana... baru saja membaca pesannya secara langsung.
Tiba-tiba, layar ponsel Luna menyala
terang. Panggilan video (video call) masuk secara langsung dari nama Om
Marko.
Jantung Luna seketika berhenti
berdetak.