Setelah kehilangan ayah dan melihat ibunya terbaring koma, Karissa justru dikhianati oleh Louis, kekasihnya sendiri, yang berselingkuh dengan sahabatnya.
Dalam amarah dan rasa kecewa, Karissa mengambil keputusan nekat—menikahi ayah Louis.
Kini Karissa bukan lagi kekasih Louis, melainkan ibu tirinya.
Namun tinggal serumah dengan pria yang pernah dicintainya ternyata jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan. Louis membencinya, tetapi di saat yang sama, ia juga tidak rela kehilangan Karissa.
Karissa ingin membalas dendam. Tapi tanpa sadar, ia justru terjebak dalam permainan cinta yang ia mulai sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tusya Ryma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Kecewa
Hari demi hari berlalu begitu saja. Karissa sudah bisa menerima kepergian ibunya dengan lapang dada. Ia tidak lagi melamun ataupun menangis. Karena ia sadar... takdir hidup dan mati tidak akan pernah bisa ditolak oleh siapapun.
Hari ini, Karissa akan bertemu dengan seseorang yang berminat membeli rumah peninggalan kedua orang tuanya.
Walau awalnya ia enggan menjual rumah tersebut, tetapi Karina memaksa untuk segera menjual rumah itu. Uang hasil penjualan rumah akan dibagi dua. Saat ini Karina sedang membutuhkan banyak uang, entah untuk apa.
Di sebuah restoran yang ada di pusat kota, Karissa, Karina, dan seorang pria paruh baya duduk bersama sambil berbincang membicarakan masalah rumah.
Kemarin, pria itu sudah melihat rumah yang memiliki tiga lantai dengan bangunan dan halaman yang sangat luas di kota H. Bukan rumah sederhana, melainkan rumah yang cukup mewah dan besar. Dulu, ayah Karissa adalah seorang pebisnis yang cukup sukses, dan mereka hidup sangat bahagia di Kota H.
"Jadi, apa harga itu masih bisa diturunkan?" tanya calon pembeli.
"Kalau bisa turun sedikit saja, aku akan langsung membayarnya!"
"Tidak!" tolak Karina dengan tegas. "Tiga puluh dua miliar! Itu harga mati yang kami berikan. Sudah tidak bisa diganggu gugat lagi!"
Karissa menendang kaki Karina yang duduk di sampingnya, lalu memberi kode dengan kedipan mata.
"Ssstt, diamlah!" bisik Karina sangat pelan. "Yang penting kau dapat bagian setengah dari harga penjualan rumah!"
"Bagaimana?" tanya Karina pada pria itu. "Tidak cocok juga tidak apa-apa! Masih banyak kok orang yang tertarik dengan rumah kami. Bukan hanya Anda saja," ucapnya dengan sombong.
"Ah, tidak! Aku sangat suka dengan rumah kalian. Hanya saja, kalau harganya masih bisa dikurangi, tentu akan lebih baik," jawab pria itu dengan sedikit bercanda.
"Baiklah! Aku permisi sebentar," ucap pria itu sambil bangkit berdiri. "Aku akan berdiskusi dulu dengan orangku agar pembayaran bisa diselesaikan hari ini juga!"
"Oh, silakan!" balas Karina dengan senang hati.
Pria itu segera menjauh sambil memegang ponselnya. Kemudian menghubungi seseorang.
Terdengar dia berkata pada orang yang ada di seberang telepon,
"Maaf, Tuan! Harganya tidak bisa ditawar lagi! Apa tidak masalah?"
"...."
"Oh, baiklah! Ya... saya mengerti!"
Klik!
Sambungan telepon ditutup.
Pria itu segera kembali ke meja makan.
"Oke, deal dengan harga tiga puluh dua miliar!"
"Bisa kita lakukan transaksinya sekarang?" tanyanya kepada Karina.
"Yah, tentu saja! Lebih cepat akan lebih baik!" jawab Karina dengan bersemangat.
Akhirnya, rumah peninggalan orang tua mereka laku dengan harga tinggi. Karina mendapatkan setengah dari harga penjualan rumah. Begitu juga dengan Karissa.
***
Malam hari, di sebuah klub malam yang ada di Kota A, Karissa duduk di salah satu meja sambil menunggu kedatangan Mona dan Davi.
Ia mengajak kedua temannya untuk merayakan keberhasilannya menjual rumah.
Lebih tepatnya, Karissa ingin menghilangkan rasa sedih karena harus melepas rumah yang selama ini mereka tinggali bersama kedua orang tuanya. Walau tahun lalu Karina dan Karissa merantau ke Kota A untuk mencari pekerjaan, tapi mereka masih pulang ke Kota H setiap akhir pekan.
Kalau rumah itu tidak dijual, Karina mengancam akan pergi dan meninggalkan Karissa.
Karissa tidak ingin itu terjadi.
Walau bagaimanapun, Karina adalah satu-satunya anggota keluarga yang ia miliki. Ia tidak ingin Karina menjauhinya. Karissa juga tidak ingin membuat ayah dan ibunya—di Surga—sedih melihat kakak beradik ini saling bermusuhan.
Karissa duduk di kursi sambil memegang gelas, menggoyangkannya, lalu meneguk minuman itu dalam satu gerakan.
Baru dua gelas red wine yang dihabiskannya, tiba-tiba terdengar suara seseorang dari arah samping.
"Kariss!"
Karissa segera menoleh.
Terlihat Mona dan Davi berjalan ke arahnya.
"Maaf, membuatmu menunggu! Malam Minggu seperti ini jalanan cukup padat, jadi agak macet! Kau tidak marah, kan?" tanya Mona dengan penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa! Duduklah!" jawab Karissa santai.
Lalu, mereka berdua duduk di meja itu.
"Tumben mengajak kami pergi ke klub malam! Apa suasana hatimu sedang buruk?" tanya Davi dengan curiga.
Biasanya, Karissa selalu susah kalau diajak pergi ke klub malam. Mereka harus membujuknya sedemikian rupa, barulah dia bersedia.
Tapi sekarang, justru Karissa yang terlebih dahulu mengajak mereka untuk bersenang-senang.
"Tidak!" Karissa menggelengkan kepala.
Ia meneguk satu gelas lagi, lalu menjawab,
"Justru karena suasana hatiku sedang bahagia, aku mengajak kalian untuk berpesta!"
"Aku baru saja dapat uang enam belas miliar dari hasil menjual rumah! Kita harus merayakannya," ucapnya lagi sambil tertawa.
Mulutnya tertawa lebar, tetapi hatinya terasa sakit.
Karissa terdiam sebentar, lalu melambaikan tangan kepada pelayan.
Ia memesan beberapa botol minuman dan beberapa hidangan untuk mereka makan.
"Ayolah! Jangan memasang wajah aneh seperti itu!" Karissa mencolek hidung Mona dan Davi.
"Malam ini kita harus kenyang dan bahagia!"
"Kariss! Kami kira kau masih marah karena jebakan malam itu!"
Tiba-tiba Mona membahas hal tersebut, membuat suasana sedikit canggung.
"Aku minta maaf sudah mengurungmu di ruangan itu! Kami lupa, malah pulang tanpa mempedulikanmu," tambah Davi dengan penuh penyesalan.
Karissa tahu, mereka semua disuruh oleh Louis untuk melakukan semua itu. Bukan karena mereka benar-benar ingin mengurungnya di ruangan itu.
"Sudahlah! Aku sudah melupakannya! Sekarang, ayo kita bersenang-senang! Jangan mengingat hal-hal yang tidak enak lagi!"
Namun, begitu membahas Louis, suasana hatinya tiba-tiba berubah.
Karissa menuangkan minuman ke dalam gelas, lalu segera meneguknya.
Karissa masih ingat dengan jelas. Terakhir kali bertemu dengan pria itu adalah di pinggir jalan, di depan Ratu Hotel. Louis meninggalkan dirinya hanya demi Marine. Karena marah dan kesal, Karissa pulang ke rumah dengan berjalan kaki.
Sesampainya di rumah, ia tidak melihat Louis lagi.
Hingga keesokan harinya, pelayan di rumah bilang kalau Louis dan ayahnya pergi ke rumah sakit. Di rumah sakit pun, pria itu tidak ada. Hanya ada Tuan Lee yang menemani Karissa sampai ke pemakaman.
Sampai detik ini, Karissa tidak pernah melihat keberadaan pria itu lagi.
"Aishhhh, sial!" makinya tiba-tiba.
'Kenapa aku jadi mengingat si bajingan itu?' gumamnya dalam hati.
Harusnya dirinya senang karena Louis sudah tidak ada lagi di hidupnya. Tidak ada lagi pria yang mengganggunya di malam hari. Tidak ada lagi pria yang mengatur ini dan itu.
Tapi...
Mengapa hatinya terasa sakit mengetahui Louis tidak ada di sisinya?
Apalagi ketika ibunya meninggal?
"Kariss! Kau kenapa?"
Tiba-tiba Mona menyadarkan Karissa.
"Apa kau menangis?"
Ada air mata di ujung mata wanita itu. Mona bisa melihatnya dengan jelas.
"Ah, tidak!" Karissa segera menyeka matanya. "Mana mungkin aku menangis? Haha!"
"Eh, ayo kita makan dulu!"
Karissa melihat pelayan membawa nampan berjalan ke arahnya.
"Itu, makanan kita sudah datang!"
Pelayan kemudian menyajikan semua makanan di atas meja. Tidak lupa dengan lima botol minuman dengan dua jenis yang berbeda.
"Waw... Kariss! Kau sungguh ingin kita berpesta?" ucap Mona dengan takjub melihat semua hidangan mewah di atas meja.
"Kau memesan hidangan termahal di klub ini! Kau baru dapat durian runtuh, ya? Dapat lotre dari mana kau?" canda Mona dengan mata membulat sempurna.
Air liurnya hampir saja menetes melihat semua makanan lezat yang tersaji di hadapannya.
"Aku menang lotre dari mana, itu tidaklah penting! Pokoknya malam ini, kita harus kenyang dan bahagia!"
Lagi-lagi Karissa mengatakan hal itu.
"Ayo makan!"
"Baiklah! Ayo kita habiskaaaannn!" teriak Davi sambil mengacungkan garpu dan sendok ke atas sebelum mulai menyantap semua makanannya.
Malam ini, mereka awali dengan menyantap berbagai hidangan makanan.
Mulai dari hidangan laut hingga makanan penutup yang sangat lezat.
"Kariss, makanan mahal ini memang sangat enak. Kenapa tidak setiap hari saja kau mentraktir kami seperti ini? Benar, kan, Dav?" ucap Mona dengan mulut penuh makanan sambil menyenggol Davi menggunakan sikunya.
"Ah, ya, kau benar!" Davi terkejut. Ia segera menyimpan ponselnya, lalu kembali menyantap makanannya.
"Kau sedang berkirim pesan dengan siapa?" tanya Karissa dengan curiga.
Sejak tadi, gelagat Davi terlihat sedikit aneh. Ia memegang ponselnya secara sembunyi-sembunyi.
"Ah, tidak! Aku hanya mengirim pesan pada kekasihku! Haha... ya, kekasih!" jawab Davi dengan gugup.
Tawanya terdengar sedikit dipaksakan. Membuat Karissa dan Mona membulatkan mata menatap Davi.
"Hei, sejak kapan jomblo sepertimu punya kekasih? Hah?" ejek Mona dengan tatapan tajam. "Paling-paling kekasih khayalan!"
"Iya, kan?"
Hahaha...