Satu Atap Bersama Mantan
Aira seorang gadis yang hobi berbelanja menggantungkan hidupnya pada pundi-pundi kekayaan keluarganya terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan rekening banknya yang terancam diblokir papinya.
Namun di hari pernikahannya niatnya untuk kabur justru malah bertemu mantan pacarnya yang 8 tahun lalu mencampakkannya dengan alasan dingin.
Devan, cinta pertama Aira sekaligus mantan Aira yang sangat ia benci ternyata adalah calon suaminya.
Dua orang yang masih sama-sama sayang, tapi sangat gengsi dalam mengakui perasaannya.
Bagaimana kehidupan rumah tangga mereka kedepannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 : Saran Devan
Aira membeku di tempatnya. Kalimat Papi Surya kali ini bukan sekadar ancaman belaka. Matanya mulai panas, air mata yang sedari tadi ditahannya mulai menumpuk di sudut mata. Aira merasa begitu terpojok, begitu kerdil di hadapan kekuasaan ayahnya sendiri.
Papi Surya merapikan jasnya, membuang napas kasar, lalu berbalik menuju pintu. "Ingat kata-kata Papi. Perbaiki sikap kamu sebelum resepsi dimulai."
Brak!
Pintu ruang ditutup oleh Papi Surya dari luar, meninggalkan Aira yang terduduk diam di sofa dengan napas tersengal-sengal menahan tangis.
Namun, belum sempat Aira meluapkan tangisnya... suara dehaman pelan dari balik tiang dekorasi di dekat kamar mandi ruangan itu memecahkan kesunyian.
Aira tersentak kaget, mendongak cepat.
Dari balik tiang itu, Devan keluar dengan santai. Pria itu sudah memegang satu botol air mineral dingin yang baru diambilnya dari kulkas. Ternyata, Devan sudah ada di dalam ruangan itu sejak sebelum Aira dan Papi Surya masuk.
Aira yang kaget langsung mengusap sudut matanya dengan kasar, menyembunyikan jejak air matanya. Wajahnya makin memerah karena malu luar biasa. Pertengkarannya dengan sang papi... dimaki-maki dan diancam... disaksikan secara penuh oleh Devan!
Devan berjalan pelan mendekati sofa, memutar tutup botol air mineral di tangannya, lalu menyodorkannya ke arah Aira.
Aira menepis botol itu dengan kasar hingga airnya sedikit terpercik ke lantai. "Nggak usah sok perhatian! Lu seneng kan lihat gue dimarahin Papi?!"
Devan tidak marah botolnya ditepis. Pria itu menarik kembali tangannya, menyandarkan pinggulnya di tepi meja di depan sofa Aira. Tatapannya meneliti wajah Aira yang penuh rasa frustrasi.
Dan bukannya merasa iba, cengiran khas menyebalkan milik Devan mendadak kembali terukir di bibirnya.
"Ternyata semburan Om Surya masih sepedas dulu ya," cetus Devan santai, mengamati Aira dengan pendar geli di matanya. "Legendaris banget. Kirain kamu udah kebal, ternyata masih bisa bikin kamu mau menangis begini."
Aira mendelik tajam, rasanya ingin melemparkan heels-nya tepat ke muka Devan. "Diam lu, Devan! Mending lu keluar dari sini sebelum gue cakar muka lu!"
"Aduh, takutnya..." Devan berpura-pura mengelus dadanya dengan ekspresi drama yang luar biasa konyol. "Lagian lagak kamu tadi pas acara sok keras banget. 'Gue nggak mau nikah', 'gue bakal bikin hidup lu kayak neraka'... eh, pas diomelin Papi langsung mati kutu cuma gara-gara diancam kartu kreditnya disita."
"Devan!" jerit Aira frustrasi, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Bisa nggak sih lu sehari aja nggak ngeselin?! Gue lagi capek banget! Gue muak lihat muka lu!"
Devan terkekeh rendah. Suara tawanya terdengar sangat renyah di dalam ruangan yang sepi itu. Devan menundukkan tubuhnya sedikit, mendekatkan wajahnya ke arah telapak tangan Aira yang menutupi muka.
"Pilihan kamu cuma dua buat resepsi nanti, Calista," bisik Devan dengan intonasi mengejek yang amat sangat tajam. "Satu, kamu turuti kata Papi kamu: pasang muka lembut, senyum manis, dan pura-pura jadi istri paling bahagia se-Indonesia di samping aku."
Aira menurunkan tangannya pelan-pelan, menatap Devan dengan tatapan sengit. "Pilihan kedua?"
Devan tersenyum kusam, matanya berkilat penuh kemenangan. "Pilihan kedua... kamu tetep pasang muka judes kamu itu, biarkan Papi kamu mencabut semua fasilitas kamu, dan hidup miskin seumur hidup kamu. Gimana? Pilihan yang gampang, kan?"
"Lu bener-bener iblis ya, Devan," desis Aira dengan suara gemetar menahan kesal.
"Aku cuma realistis, Istriku," Devan berdiri tegak kembali, menepuk-nepuk pundaknya sendiri dengan gaya angkuh. "Jadi, saran aku... persiapkan otot-otot muka kamu sekarang. Latihan senyum di depan cermin. Soalnya dua jam ke depan, kamu kudu berdiri di samping aku sambil pura-pura mencintai aku setengah mati di depan orang-orang."
Setelah mengucapkan kalimat yang super menohok itu, Devan berbalik dan melangkah santai menuju pintu keluar, meninggalkan Aira yang menjerit histeris tanpa suara sambil memukuli bantal sofa dengan liar.
"GUE BENCI DEVAN ARGAWINATA! GUE BENCI BANGET SAMA DIA!" jerit Aira melampiaskan kekesalannya.
Di luar pintu, Devan yang mendengarkan teriakan frustrasi Aira dari balik pintu menyunggingkan senyuman tipis. Rasa rindunya selama delapan tahun ini... setidaknya terbayar tuntas oleh kepribadian Aira yang tidak pernah berubah sedikit pun.
semangat thorr💪💪😍
siapa ya yang di ruangan itu🤔