NovelToon NovelToon
Hi My Lord

Hi My Lord

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Ibu susu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Aku punya segalanya, kecuali izin untuk mencintaimu." — Arthur
______

"Hi, Mr. Lord! Aku bukan siapa-siapamu, tapi mulutku masih hafal cara memanggilmu." — Snow
_______

Benedictus Arthur Blackwood, pewaris tunggal kerajaan yang dingin dan tegas, terpaksa menikahi sahabatnya—Dixie Savea Lopez—akibat ancaman bunuh diri yang manipulatif.
Meski terikat pernikahan tanpa cinta dan tanpa sentuhan, takdir kembali mempermainkannya saat sang putra butuh asupan ibu susu.

Lima tahun berlalu sejak malam terlarang di Hampshire, wanita tanpa nama yang pergi meninggalkan Arthur tanpa patah kata kini hadir di hadapannya sebagai "Snow"—ibu susu yang dipillih oleh istrinya sendiri.

Di tengah intrik politik istana, kecurigaan Savea, dan rahasia masa lalu yang membakar, Arthur harus berjuang menahan diri dari Rasa kepemilikan mendalam pada Snow.

Sebuah kisah romansa terlarang tentang takdir, dominasi, dan rasa cinta yang terperangkap di balik dinding emas kehormatan kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#12

Kamar berukuran luas itu masih diselimuti remang dan dinginnya sisa malam. Aroma percintaan yang pekat bertaut tipis dengan wangi esensial lavender serta kehangatan tubuh manusia. Di atas ranjang berukur super besar, Arthur menyelesaikan simpul terakhir dari pakaian yang dikenakannya.

Jemari tangannya yang kekar bergerak cekatan merapikan kemeja dan celana panjangnya, menyembunyikan kembali bekas-bekas gejolak gairah yang beberapa saat lalu melahap seluruh akal sehatnya.

Setelah merapikan kembali pakaiannya, pandangan mata Arthur tertuju lurus pada pemandangan di hadapannya. Di sudut kasur, Snow tampak sedang menyusui Ocean. Gaun sutra abu-abu yang dikenakannya sedikit terkuak di bagian dada, membiarkan si kecil terlelap nyaman dalam kehangatan napas dan asupan alaminya.

Suara cegukan pelan serta tegukan teratur dari bibir kecil Ocean menjadi satu-satunya melodi yang memecah keheningan fajar.

Arthur bergerak mendekat tanpa suara. Ada getaran aneh di dalam dadanya—sebuah kombinasi antara rasa memiliki yang primitif dan dorongan perlindungan yang amat pekat. Ia berlutut pelan di atas kasur, lalu melingkarkan kedua lengan tegapnya mengelilingi pinggang halus Snow, memeluk wanita itu dari belakang.

Arthur menyandarkan dagunya di bahu mulus Snow, menatap intens bagaimana bibir mungil sang bayi menyapa sumber kehidupan yang sama dengan yang baru saja ia cecap beberapa jam lalu.

"Apakah itu sakit?" tanya Arthur berbisik tepat di samping telinga Snow, suaranya terdengar amat serak dan hangat.

Snow tidak bergerak, tetap fokus menatap wajah Ocean yang terpejam damai. "Tidak sakit sama sekali," jawabnya singkat dan tenang.

Arthur mengangguk-angguk pelan. Pandangan matanya mengunci paras sang bayi yang terlihat begitu nyaman dan aman dalam buaian wanita di pelukannya. Namun, kilasan memori tentang perbincangan mereka sebelumnya mendadak menyeruak kembali, membangkitkan rasa cemburu dan penasaran yang membakar ulu hatinya.

"Bayimu... seorang laki-laki atau perempuan?" tanya Arthur lagi, suaranya memudar dalam ketertekanan yang sengaja ia sembunyikan.

Snow mengusap lembut pipi gempal Ocean dengan ujung jarinya. "Seorang laki-laki yang sangat tampan dan sempurna," jawabnya lurus, menatap dalam-dalam pada binar wajah Ocean tanpa menoleh sedikit pun.

Walaupun dadanya masih terasa kesal dan panas mendengar jawaban Snow yang seolah menegaskan kehadiran anak lain dari pria asing, Arthur memaksakan dirinya untuk bertanya lebih jauh. Ia butuh kejelasan tentang masa lalu wanita yang amat dicintainya ini selama lima tahun menghilang.

"Kapan kau menikah?" tanya Arthur lagi dengan rahang menegang. "Apa dia... pria yang baik?"

Snow menahan napas sejenak sebelum melempar tanya balik, "Siapa?"

"Suamimu, tentu saja," desis Arthur, cengkeraman tangannya di pinggang Snow sedikit mengetat secara tak sadar. "Dan putramu... apa dia bersamanya sekarang?"

Snow mengangguk pelan, tatapannya tak pernah lepas dari Ocean. "Selama ini... putraku berada bersama ayahnya."

Mendengar kalimat yang terucap dari bibir Snow, pikiran Arthur langsung berputar cepat merangkai asumsi. Sebuah kesimpulan gila mendadak terbentuk di dalam kepalanya: wanita di dalam pelukannya ini telah ditinggalkan, dibuang, atau mungkin diceraikan oleh pria brengsek yang pernah memilikinya.

"Kau... tidak lagi bersama suamimu? Begitu?" tanya Arthur lagi, berusaha menyelidiki secara mendalam langsung dari sumbernya, menuntut kepastian status wanita itu.

Snow menggelengkan kepalanya pelan, masih menatap penuh kasih pada Ocean yang makin pulas menyusu.

"Dia sudah menikah lagi," ucap Snow dengan nada suara yang sengaja dibuat datar namun menyisarkan getaran terselubung. "Dia telah hidup bahagia bersama istrinya... dan putraku dibesarkan olehnya di dalam rumah mereka."

Snow mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia sengaja tidak berani membalikkan badannya, menahan tawa sinis dan geli yang mendesak di tenggorokannya melihat betapa tidak peka dan bodohnya pria perkasa yang sedang memeluknya ini.

Arthur terdiam kaku. Penjelasan Snow bagai palu godam yang menghantam ulu hatinya dengan rasa kasihan dan amarah berlipat ganda. Dalam logikanya, pria asing yang menjadi mantan suami Snow adalah sesosok manusia paling bajingan karena telah menelantarkan wanita seindah ini dan merenggut putranya.

"Lupakan pria bajingan tidak bertanggung jawab itu," bisik Arthur tegas, mendekatkan wajahnya ke leher Snow. "Ada aku di sini. Dan putraku... juga akan menjadi putramu."

Snow tersenyum samar yang sangat tipis, lalu mengangguk pelan. "Dia memang putraku... aku yang menyusuinya."

Rasa bersalah yang teramat sangat mendadak menyeruak memenuhi dada Arthur. Pria itu mempererat pelukannya, merengkuh tubuh Snow seolah-olah ia bisa melindungi wanita itu dari seluruh kepahitan dunia yang telah menimpanya.

"Maafkan aku..." bisik Arthur, suaranya bergetar hebat penuh penyesalan. "Maafkan aku karena tidak menyelidikimu lebih cepat dan membiarkanmu menderita. Kenapa... kenapa kau menghilang saat itu, Snow?"

Pertanyaan yang menyiksa jiwanya selama lima tahun akhirnya lolos begitu saja dari bibir sang calon penguasa.

Snow menghela napas panjang, tatapannya membentang menembus kegelapan dinding kamar. "Aku dibawa pergi oleh Ayahku..." jawabnya pelan, merangkai alasan yang terstruktur rapi. "Aku dipindahkan ke tempat yang sangat jauh... karena rumah di tengah hutan itu sudah tidak lagi aman untukku."

Arthur menghembuskan napas berat, merasakan kepedihan atas kenyataan bahwa mereka berdua pernah menjadi korban dari situasi yang tak terkendali. Ia memendam wajahnya di antara leher dan bahu Snow, menghirup dalam-dalam aroma tubuh yang selalu menjadi candunya.

"Maafkan aku, honey..." gumam Arthur amat lembut, mengulang panggilan kesayangan masa lalu mereka. "Maafkan aku... aku sungguh menyesal, Snow..."

Snow tidak memberikan jawaban verbal atas permohonan maaf itu. Ia hanya membetulkan posisi pakaiannya karena Ocean mulai melepaskan isapannya dan kembali tertidur lelap.

"Keluarlah sebelum istrimu terbangun dan datang kemari," ucap Snow dengan nada suara dingin dan rasional. "Dan jangan lupa untuk mengurus CCTV di sudut ruangan sana."

Arthur mengangguk patuh. Ia menyapu wajah Snow dengan pandangan penuh kerinduan sebelum akhirnya melonggarkan pelukannya. "Aku akan kembali ke kamarku."

Cup.

Arthur mendaratkan sebuah kecupan hangat dan lama di dahi Snow, memberikan kecupan kecil di pipi Ocean, lalu berdiri dari kasur. Pria itu melangkah perlahan menuju pintu kamar, memastikan gerakannya tidak menimbulkan suara yang sanggup membangunkan penghuni istana lainnya.

Namun, tepat sebelum langkah kaki Arthur benar-benar menghilang di balik pintu yang terbuka tipis, suara pelan Snow kembali memanggilnya dari kegelapan kamar.

"Sejak kapan... kau tidur berpisah dari istrimu?" tanya Snow, sebuah pertanyaan sederhana yang menggantung berat di udara.

Langkah Arthur terhenti seketika. Tanpa menoleh kembali, sang calon raja menjawab singkat dengan suara tercekik yang sangat jujur.

"Sejak kami menikah."

Klek.

Pintu kamar kayu tebal itu tertutup rapat, menyisakan keheningan sempurna di dalam ruangan.

Jawaban jujur dari mulut Arthur menghantam dada Snow bagai sentuhan kehangatan yang tak terduga. Air mata yang sejak tadi ia tahan perlahan menetes, melintasi pipinya yang pucat, jatuh menimpa tangan mungil Ocean. Beban rasa cemburu, tuduhan bahwa Arthur telah membagikan tubuhnya pada wanita lain selama tiga tahun terakhir, runtuh dan menguap tanpa bekas dalam sekejap.

Snow perlahan berbalik. Matanya menatap daun pintu yang telah tertutup rapat dengan kilatan tekad yang amat tajam dan mematikan. Kesedihan dan keraguan yang sempat membayangi jiwanya kini sepenuhnya berganti menjadi kobaran ambisi yang tak terhentikan.

"Dixie Savea Lopez..." desis Snow amat pelan, suaranya begitu dingin menembus kegelapan fajar. "...aku benar-benar akan menyingkirkanmu. Dari putraku... dan juga dari Lord-ku."

Snow merengkuh tubuh mungil Ocean yang kini sudah kembali terlelap pulas dalam dekapannya. Pangeran kecil yang baru berusia dua bulan itu tampak begitu tenang; napasnya halus teratur, dadanya naik-turun seirama dengan detak jantung Snow yang perlahan mulai stabil.

Ditatapnya lekat-lekat paras bayi yang baru enam puluh hari melihat dunia tersebut. Setiap inci garis wajah Ocean—mulai dari bentuk alisnya yang tegas, lengkung hidung mungilnya, hingga bibir bahagian atasnya yang tipis—adalah tiruan sempurna dari pria yang baru saja melangkah keluar dari kamar ini.

Jemari Snow yang bergetar lembut mengusap jemari mungil Ocean yang terkepal erat di atas selimut. Ada kehangatan ajaib yang menjalar dari kulit bayi dua bulan itu langsung ke relung jiwanya yang hampa.

Rasa tak percaya masih sering menyergap dadanya. Bayi yang kini berada di pelukannya adalah bukti nyata dari khayalan yang pernah ia tanam bersama Arthur lima tahun lalu, sebuah keajaiban yang dipisahkan oleh takdir rumit namun kembali disatukan melalui jalan yang tak terduga.

"Dua bulan, Sayang..." bisik Snow amat lirih, mengarahkan bibirnya ke puncak kepala Ocean untuk menghirup dalam-dalam aroma khas bayi yang menyegarkan. "Baru dua bulan kau bernapas di dunia yang penuh kebohongan ini, tapi kau sudah dipaksa menjadi bagian dari permainan."

Setetes air mata Snow yang tersisa kembali jatuh, mendarat lembut di dahi halus sang bayi. Snow dengan cepat menyapunya menggunakan ujung jarinya, tidak ingin hawa dingin air matanya mengusik tidur lelap sang putra. Membayangkan bagaimana selama dua bulan ini Ocean harus dibesarkan di bawah sebutan "anak kandung Savea" membuat dada Snow serasa dihantam sembilu.

Namun, menatap Ocean yang menyusu begitu lahap darinya malam ini memberikan Snow sebuah kekuatan baru yang melimpah. Naluri seorang ibu yang sempat tersiksa oleh kerinduan kini bangkit sepenuhnya menjadi perisai yang kokoh. Ocean adalah alasannya untuk tetap berdiri tegak, alasan untuk bertahan melewati hidup setelah kepergian Sang Ibu Empat Tahun yang lalu.

Snow menunduk lebih dalam, mendaratkan kecupan hangat beruntun di kedua pipi gempal Ocean yang merona tipis. Bayi dua bulan itu mengeliat kecil dalam tidurnya, menyunggingkan senyum refleks yang amat menggemaskan sebelum kembali tenggelam dalam lelap yang makin dalam.

"Mommy tidak akan membiarkan tangan kotor itu menyentuhmu lagi," gumam Snow penuh penekanan, matanya berkilau oleh tekad yang tak tergoyahkan di tengah remang malam. "Mulai detik ini, setiap helai napas Mommy hanya untuk melindungimu dan merebut kembali apa yang memang seharusnya menjadi milik kita."

1
Astrid Kucrit
ocean minta adik tuhh 😂😂
Rosdianah 🌷: hahah🤣
total 1 replies
Astrid Kucrit
menikah jugaaaa 👏👏
Rosdianah 🌷: yeayyy🥳
total 1 replies
Yusry Ajay
akhirnya snow menikah jg🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Astrid Kucrit
keren raja
Astrid Kucrit
yukk nikah yukk
Astrid Kucrit
yeeaayyyyyyy akhirnyaaaaaa 👏👏
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Astrid Kucrit
di tunggu besok
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
ya kk lanjut besok ditunggu up nya kk Thor 🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Ranita Rani
q kurang paham waktu mundur dlm crta ini,,,,
Ranita Rani
ocean umur brp sih
Rosdianah 🌷: Ocean umur dua bulan sebelumnya ya kak
total 1 replies
Astrid Kucrit
siap2 kaget tur arthur
Rosdianah 🌷: Gedubrak dia🤣
total 1 replies
Astrid Kucrit
jangan berpikir buruk dulu arthur
Astrid Kucrit
silahkan bermimpi savea
Leo
Bener2 cerita yg keren, selalu bikin penasaran
Rosdianah 🌷: ikutin terus cerita nya kak🤭
total 2 replies
Yusry Ajay
savea ga waras..🤔
Rosdianah 🌷: author silent 🤭🤣
total 1 replies
Leo
Bener2 gila nihh savea
Rosdianah 🌷: mau digetok 🤭
total 1 replies
Astrid Kucrit
jangan termakan bualan istrimu
Rosdianah 🌷: nah kasih tau 🤭
total 1 replies
Astrid Kucrit
tunggu tanggal mainnya wanita gila
Rosdianah 🌷: wkwkw🤭
total 1 replies
Hotmayanti Yanti
semoga ocean tidak jadi tumbal,kasian Thor 😭
Rosdianah 🌷: tenang kak🫶
total 1 replies
Leo
Ceritanya keren gak sabar nunggu lanjutnya
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!