"Jika waktu bisa kuhentikan, aku ingin selamanya berada di sisimu, menjaga hubungan kita hingga garis terakhir."
Banyak yang berkata jika masa remaja adalah masa yang menyenangkan. Sepertinya kalimat itu berlaku juga untuk Izang, pemuda 17 tahun yang menyukai adik kelasnya, Ara. Meskipun awalnya bersama karena terpaksa, hal itu tidak menyurutkan rasa cinta Izang pada Ara.Bahagia? Harusnya. Namun, cobaan mulai menimpa bertubi-tubi. Mulai dari perceraian orang tua, kepindahan ke Bandung, hingga hubungan jarak jauh (LDR).Di saat mereka berjuang mempertahankan cinta, takdir justru mendatangkan badai yang jauh lebih kejam—sebuah vonis sakit yang mengancam sisa usia Izang. Akankah mereka yang memulai hubungan dengan tertatih, bisa bertahan hingga akhir? Ataukah perpisahan selamanya menjadi ujung dari kisah ini?
💔 Kisah Romantis Melankolis - POV Pria (Siapkan Tisu!)
🕒 Update Setiap Hari!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni Reisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB TIGA: Arah Angin (Bagian 3)
“Bapak ada di rumah?”
“Hm,” kuanggukkan kepalaku sekenanya. Ara mengelus bahuku lembut. Dia paham aku sebenarnya sangat malas mengikuti kemauan ibuku untuk makan siang bersama hari ini. Lebih tepatnya aku malas satu meja dengan bapak.
“Ayo! Aku udah nggak tahan lama-lama di sini. Makin cepat kita makan, makin cepat kita pulang,” kusahut tangan Ara agar mengikuti langkahku.
Setelah cekcok tempo hari, aku memang tidak pernah tinggal di rumah. Aku menumpang di rumah teman-temanku. Beralasan ada tugas kelompok yang mengharuskanku untuk menginap. Ketiga temanku yang lain sih, tidak ambil pusing untuk menanyakan alasan kepergianku dari rumah. Mereka bahagia-bahagia saja ketika aku menginap di rumah mereka barang sehari hingga dua hari. Bahkan aku sempat menginap di rumah Ara, tapi aku tidak enak dengan tetangga sekitar Ara. Meskipun ayah Ara tidak mempermasalahkan, tetap saja aku sadar diri. Aku pun akhirnya pergi ke rumah Ario. Dan hanya Ario, yang peka jika ada yang tidak beres.
“Jangan keras kepala! Orang tua kan wajar kalau khawatir,” kalimat itu terlontar dari mulut Ario seusaiku bercerita. Ah, aku tidak butuh penghakiman. Aku hanya butuh tempat tumpangan untuk tidur. Saat itu aku hanya diam dan merangsek ke selimut Ario. Dia pun tidak mengoceh lebih jauh dan membiarkanku tidur begitu saja.
“Oh, sudah datang? Ayo masuk!” ibu tersenyum menyambut kami di depan pintu. Entah mengapa raut ibu terlihat menua ketimbang saat terakhir kali aku berkunjung ke rumah. Kantung matanya juga semakin jelas. Great. Sekarang aku terlihat seperti anak durhaka.
“Izang!!!” mbak Senja menghambur memelukku. Aku tak tahu jika kedatanganku bisa membuatnya sebahagia ini. Aku menepuk punggungnya sebagai balasan.
“Langsung makan, yuk! Mbak udah kelaperan banget tahu nunggu kalian,” mbak Senja menarik tanganku sesaat setelah mendaratkan pelukannya di tubuh ramping Ara. Aku berjalan mengikutinya. Kulihat bapak sudah duduk di ujung meja, menunggu. Ada raut was-was di mata gelap itu.
“Di sini aja!” kutarik lengan Ara agar dia duduk di sampingku. Ara hanya mengangguk.
“Pak, kenalkan ini Ara! Pacarnya Izang,” ibu membuka pembicaraan. Ara berdiri sebentar menyalaminya.
“Aduh, aduh! Izang pintar ya kalau cari pacar, cantik sekali,” bapak melemparkan godaan khasnya padaku. Ibu dan mbak Senja lantas tertawa, membuat Ara bersemu merah muda. Aku hanya diam saja, sibuk mengambil nasi di tengah meja makan. Pura-pura tak mendengar. Aku baru akan mengambil sayur bayam saat bapak tergerak mengambilkannya untukku. Bukannya menyodorkan piringku, aku malah membanting piringku ke meja. Aku kehilangan nafsu makan.
“Chan, mau kuambilin yang mana?” Ara dengan segera mengambil piringku.
“Terserah, yang penting bukan bayam,” jawabku sambil mengalihkan pandangan. Ibu terlihat menahan napas. Ibu tahu betul bahwa aku sangat suka sayur bayam buatannya. Dan hari ini, aku menolak masakan favoritku itu mentah-mentah hanya karena bapak ingin menyendokkan sayur itu untukku.
“Eh, Dik! Minggu depan aku ada libur panjang lho,” mbak Senja mengalihkan perhatian.
“Oh ya? Tumben.”
“Iya. Ujianku selesai lebih awal. Jadi, ada banyak waktu buat liburan,” tutur mbak Senja masih antusias. Aku mengangguk-anggukkan kepalaku.
“Kita main, yuk! Kan udah lama nggak liburan bareng. Mumpung kantor bapak sama sekolah ibu libur juga.”
“Pergi aja bertiga. Aku sibuk, jadwal balapanku penuh minggu depan,” tukasku singkat.
“Kan perginya siang, Dik,” mbak Senja masih berusaha membujukku.
“Siang kupakai tidur. Balapanku kan malem, Mbak. Lupa?” tanyaku cuek.
“Ya masa nggak bisa absen sehari sih, Dik?” aku menarik napas panjang mendengarnya.
“Udahlah. Kalau mau pergi, pergi aja. Aku nggak butuh liburan sama orang asing.”
“Tapi...”
“Senja, sudah. Nanti saja kita bicarakan lagi ya?” bapak menggenggam tangan mbak Senja. Pertanda halus untuk menghentikan usahanya dalam membujukku.
“Chan, udah selesai makan? Ayo, pergi! Aku ada janji latihan buat balapan nanti malam,” aku berdiri dari kursiku tanpa menunggu jawaban dari Ara.
“Oh, oke.”
“Lho nggak dihabisin dulu, Nak?” ibu ikut-ikutan berdiri dari kursinya.
“Udah untung aku mau datang dan duduk semeja, Bu. Aku permisi dulu,” aku pergi tanpa mencium tangan ibu. Menolehkan kepalaku ke arahnya saja tidak kulakukan. Kudengar samar Ara meminta maaf pada bapak, ibu, dan mbak Senja atas ketidaknyamanan yang aku timbulkan. Seketika itu juga aku merasa asing di rumahku sendiri.
“Jangan melamun!” Ara menepuk halus lenganku. Oh, dia sudah selesai berpamitan rupanya. Semua anggota keluargaku juga sudah di depan rumah.
“Udah?” tanyaku pada Ara. Suaraku jadi parau karena helm full face ini. Ara membenahi letak duduknya beberapa kali. Yah, motor sport selalu sedikit kurang bersahabat dengan rok Ara.
“Oke, done!” Ara melingkarkan tangannya di pinggangku, pertanda dia sudah menemukan posisi yang aman. Dia sempat melambaikan tangan beberapa kali ke arah ibu dan mbak Senja yang melambai lebih dulu. Jujur saja, aku rindu ibu. Rindu sekali. Ingin rasanya aku berlari dan memeluknya. Mendengar celoteh dan omelannya. Tapi sebelum aku sempat merasa sedih, egoku sudah terlebih dulu membuncah di kepala. Dengan segera kututup kaca helmku, menarik napas dalam, dan melajukan motorku keluar area kompleks.
...***...