NovelToon NovelToon
Gitaris Cantik Bertato Pujaan Ku

Gitaris Cantik Bertato Pujaan Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Arni Arlinawati

Meloudy Tanuwirama, pemilik tato mencolok yang menutupi seluruh lengan kanan hingga pundak, adalah seorang gitaris metal dan kreator konten dengan 100 juta lebih pelanggan. Di balik kesuksesannya di dunia maya, ia berjuang keras menafkahi sekaligus membiayai pengobatan ibunya yang sakit — menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga tanpa ayah. Namun penghasilannya belum cukup menutupi biaya yang terus menumpuk.

Sementara itu, Vano S. Viandra — pemilik perusahaan S Group yang berpengaruh di seluruh Benua Asia, berparas tampan luar biasa namun berhati sedingin es — terkejut luar biasa saat menyadari siapa wanita itu sebenarnya.

"Tato itu… Kau Loudy? Gitaris metal yang punya seratus juta lebih pelanggan? Kau?!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 — Rahasia yang Tak Bisa Diucapkan

Ibunya menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar sejenak, lalu kembali menatap putrinya.

"Pria itu mungkin terlihat dingin di mata orang lain, Meloudy. Tapi hatinya baik. Ibu merasakannya dari caramu bercerita." Ia meremas tangan putrinya pelan.

"Berjuanglah, Nak. Bekerjalah dengan sebaik-baiknya. Jadilah alasan beliau bersyukur pernah membantumu."

"Aku akan berusaha, Bu. Aku janji." Meloudy mendekatkan wajahnya, mencium kening ibunya lembut.

"Terima kasih sudah mengingatkan aku. Aku akan bekerja lebih giat lagi saat kembali."

Ia mengeluarkan uang itu dari saku dalam tasnya, meletakkannya di meja kecil di samping tempat tidur, seakan benda itu adalah jimat pelindung. Bukan nilainya, melainkan niat tulus di baliknya yang membuatnya terasa begitu berharga.

"Kita bisa beli makanan yang Ibu suka sekarang… dan obat yang belum sempat terbeli," gumamnya pelan, matanya berbinar penuh harapan.

"Ibu akan sembuh. Kita akan melewati ini bersama."

Ibunya tersenyum, menariknya ke dalam pelukan lemah namun hangat.

"Iya… kita melewati ini bersama."

...***************...

Suasana di ruangan sunyi itu masih terasa hangat oleh sisa alunan nada yang perlahan memudar. Vano belum beranjak dari tempatnya duduk, menatap layar yang kini gelap, pikirannya masih tertinggal di sosok yang tak pernah ia kenal wajahnya — bayangan yang kini terasa semakin dekat, semakin nyata. Namun ketenangan itu terpecah seketika. Bunyi ketukan keras, tak sabar, membelah keheningan ruangan yang tak seharusnya diketahui siapa pun letaknya.

Belum sempat ia berdiri, pintu itu terdorong terbuka paksa.

Masuklah sosok pria tua bertubuh tegap, pakaiannya rapi dan berharga, wajahnya penuh kerutan yang bukan sekadar tanda usia — melainkan tanda puluhan tahun memerintah, menuntut, tak pernah dibantah. Di tangannya, tongkat kayu berukir gagang emas ia genggam erat, seakan senjata yang tak pernah diturunkan.

Itu Kakeknya. Darman Susilo S. Viandra — pendiri Viandra Group, konglomerat raksasa yang namanya bergema di seluruh benua Asia. Sosok yang tak terbiasa mendengar kata 'Tidak'.

"Kau!" bentak pria tua itu, suaranya menggelegar, memantul di dinding ruangan yang kedap suara itu. Ia melangkah mendekat tanpa diundang, mengangkat ujung tongkatnya tepat di depan wajah cucunya, nyaris menyentuh hidung Vano.

"Kau pikir kau bisa bersembunyi di sini selamanya?!"

Vano berdiri perlahan, rahangnya mengeras, tangan mengepal erat di sisi tubuh. Ada alasan — sungguh-sungguh mendasar, tertanam begitu dalam, begitu menyakitkan — sehingga tak mungkin diucapkan kepada siapa pun, bahkan kepada kakeknya sendiri. Setiap kali dipanggil ke kediaman utama, bayangan masa lalu itu kembali menghantui: kebenaran yang tak boleh terungkap, rahasia yang bisa meruntuhkan nama baik keluarga, dan bukan hanya dirinya yang akan hancur — ada orang lain, orang yang sangat ia sayangi juga akan terluka. Orang yang tak pantas disakiti.

"Kakek seharusnya tidak ada di sini," ucapnya dingin, berusaha menutupi kegelisahan di balik wajah yang tak terbaca.

"Siapa yang memberi izin masuk?"

"Izin? Apa aku butuh izin ke rumah cucuku sendiri?!" Kakeknya tertawa sinis, lalu wajahnya kembali mengeras.

"Berbulan-bulan aku menyuruhmu datang ke kediaman utama! Berbulan-bulan aku memanggilmu, dan apa jawabanmu? Selalu saja sibuk! Selalu saja urusan kantor! Kau kira aku tak tahu apa yang kau sembunyikan di belakang punggungku?!"

Vano menelan ludah pahit. Kau benar, Kakek. Ada sesuatu yang aku simpan. Tapi itu bukan hal yang bisa kukatakan.

"Tidak ada yang perlu diketahui Kakek," jawabnya tegas, menatap lurus ke mata tua itu tanpa mundur selangkah pun, meski dadanya terasa sesak.

"Aku mengurus perusahaan. Itu tugasku."

"Tugas? Atau alasan agar tak pernah menampakkan wajahmu di hadapan keluarga?!" Ujung tongkat itu bergerak maju lagi, nyaris menekan dada Vano.

"Kau lupa siapa yang membesarkanmu? Siapa yang mendirikan kekaisaran ini sebelum kau lahir? Dan sekarang kau berani menolak panggilanku berulang-ulang?!"

Vano menarik napas panjang, menahan getar di suaranya.

"Aku tidak menolak. Aku hanya…" Ia terhenti. Kata-kata itu tertahan di kerongkongan, terasa berat dan tajam, seakan darah sendiri yang mengalir di sana.

"Ada hal yang membuatku tak bisa datang dengan mudah. Hal yang tak bisa kubicarakan."

Kakeknya mengerutkan kening, tak mengerti.

"Hal apa? Katakan padaku sekarang!"

Vano membuang muka, menatap ke jendela yang gelap. Jika ia membuka mulutnya, keseimbangan seluruh keluarga bisa runtuh. Nama baik yang dijaga puluhan tahun akan hancur seketika. Itulah sebabnya ia memilih diam — menanggung beban ini sendirian, meski dicap sebagai cucu yang tak tahu diri, meski dibenci, dimarahi, dituduh. Lebih baik ia yang disalahkan daripada kebenaran itu terungkap.

"Itu rahasia yang bukan hakku untuk diungkapkan," ucapnya pelan namun teguh.

"Maaf, Kakek. Aku tak bisa mengatakannya."

"Rahasia?" Kakeknya menatapnya tak percaya, suaranya kembali meninggi.

"Kau menolak kakekmu sendiri demi sebuah rahasia yang tak berani kau ucapkan?!"

"Bukan begitu," jawab Vano cepat, namun tak bisa menjelaskan lebih lanjut.

"Aku hanya… belum siap. Dan mungkin tak akan pernah siap."

Bukannya tenang, wajah kakeknya justru semakin merah padam. Ia mengangkat kembali tongkat itu, menunjuk tepat ke arah wajah cucunya.

"Kau anak tak tahu diuntung! Aku sudah memutuskan. Besok pagi, kau harus datang ke kediaman utama. Jangan sampai aku datang lagi sendiri ke sini, karena kali ini aku takkan segan-segan!"

Ia menurunkan tongkatnya perlahan, namun tatapannya tetap tajam, penuh ancaman.

"Pikirkan baik-baik, Vano. Siapa yang memberimu kedudukan ini. Dan siapa yang bisa mencabutnya kapan saja."

Dengan itu, ia berbalik, melangkah pergi meninggalkan ruangan itu, membanting pintu di belakangnya. Suara langkah kakinya perlahan menghilang, namun tekanan yang ditinggalkannya terasa menekan dinding-dinding ruangan itu.

Vano jatuh kembali ke kursinya, menutup wajah dengan kedua tangan. Dadanya terasa perih — campuran antara rasa bersalah karena membentengi diri sendiri, dan ketakutan yang semakin nyata: bahwa suatu hari nanti, rahasia itu akan terungkap dengan sendirinya, tanpa ia bisa mengendalikannya lagi.

Besok… pikirnya getir, jantungnya berdebar cemas.

Aku akan pergi.

^^^Bersambung...^^^

1
ginevra
iya, terima aja.... biar jadi jariah si vano
ginevra
aku takut kalau sang ibu malah diambil duluan sama authornya 🥹🥹
ginevra
awww ... terharu aku tuh 🥹🥹... melodi emang anak yang manis
ginevra
itu pas melodi melipat bajunya .. ingat ingat donk
ginevra
ternyata udah fans lama ini mah....
ginevra
cuma nampilin tangan aja loh... udah buat Vano terpana .. hebat kamu melodi mehehe
Nona Cloe
wuohhh mulai serius nih, ada apa?😄
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana
itu kan rencanamu. tapi rencana author seharusnya ga begitu. betul ga?😄
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana
wah wah, berharga di hatimu ya😄
My_Lucia
aduh... 🫣 melody di jadiin fantasi
My_Lucia
kasian banget sih... kerja capek-capek tapi gak bisa menikmatinya
Myz Pena
benar2 membuatmu terkesan ya vanno sampai hati mu susah melupakan suasana dengan meloudy walau hanya sebentar 🤭
Myz Pena
kehadiran vano bisa saling melengkapi dengan meloudy 👍
Myz Pena
ya harusnya pulang nggak usah lama2 kecuali vano udah demen pada meloudy 🤭
Myz Pena
yuhuuu vano udah muali terdekteksi ada rasa pada meloudy 🤣
Myz Pena
ya ibu mu benar ,, di cocok jadi calon suami mu di masa depan lagi pula dia adalah fans sejatimu meloudy 🤣
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
gila sih si vano. kok aku ngeri ya.
ah cowok kan emang begitu
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
duh ternyata si vano begitu ya🤧
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
dia di dekat kamu
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
pengemar melody lain nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!