NovelToon NovelToon
TAK TERTANDINGI

TAK TERTANDINGI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Serly Can

Bagi semua orang di SMA Nusantara, Rian hanyalah seorang yatim piatu miskin, pendiam, dan sasaran empuk perundungan. Tak ada yang tahu bahwa di balik lebam dan pakaian lusuhnya, sebuah Sistem Kultivator Tunggal baru saja bangkit dalam dirinya.

​Di era modern tempat hukum alam dikendalikan uang dan kekuasaan, Rian menjadi satu-satunya manusia yang menguasai seni kultivasi kuno. Tanpa perlu bersuara, ia mengasah kekuatannya di balik layar—menjadi sosok yang tak terlihat, namun tak tertandingi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serly Can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lorong Basah

Suara pecahan kaca botol minuman keras yang menghantam dinding sudut pos penjagaan terdengar nyaring, memecah kesunyian malam di sudut pasar induk yang basah oleh sisa hujan. Serpihan hijau berhamburan di atas lantai semen yang kotor, memantulkan cahaya kuning lampu neon dari atap seng.

Badrol berdiri tegak dengan dada bidangnya yang dipenuhi tato naga murah. Napasnya memburu, matanya melotot tajam menatap pemuda di hadapannya. Ia mengira remaja ingusan di depannya itu akan langsung berlutut, menangis histeris, atau setidaknya gemetar ketakutan seperti kebanyakan anak sekolah yang tidak sengaja masuk ke wilayah kekuasaannya.

Namun, yang terjadi justru di luar nalar.

Rian tidak bergeming sedikit pun. Serpihan kaca yang melayang dan jatuh di dekat sepatu ketsnya seolah tidak menarik perhatiannya barang sedetik pun. Ia bahkan masih memasukkan tangan kirinya ke dalam saku jaket hoodie hitamnya, sementara tangan kanannya menggantung longgar di sisi tubuhnya. Tatapan matanya lurus, dingin, dan kosong dari rasa takut.

"Wah, rupanya anak ini punya mental baja, ya?" desis salah satu anak buah Badrol yang berambut pelontos. Ia tertawa kecil sinis sambil meraih sepotong pipa besi pendek yang tergeletak di dekat sudut meja. "Atau mungkin otakmu sudah konslet karena terlalu banyak belajar, bocah? Sini, biarkan aku meluruskan kembali saraf-saraf di kepala kecilmu itu."

Ketiga anak buah Badrol yang lain ikut terkekeh pelan. Mereka berdiri dari tikar plastik tempat mereka duduk melingkar tadi, meregangkan otot-otot leher dan tangan dengan gestur meremehkan. Bagi mereka, Rian hanyalah seekor kelinci kecil yang tersesat ke sarang sekumpulan serigala lapar.

Rian tetap diam. Melalui kemampuan Mata Dewa Pengamat yang aktif di dalam retinanya, ia bisa melihat pergerakan otot mikro dari keempat pria di depannya. Ia melihat bagaimana si rambut pelontos menggeser tumpuan berat badannya ke kaki kiri, bersiap mengayunkan pipa besi dari arah samping, sementara Badrol sendiri bersiap melancarkan hantaman tinju langsung ke arah dada.

Terlalu lambat, batin Rian dingin. Di matanya, kecepatan gerakan mereka bagaikan rekaman video yang diputar dalam gerak lambat.

"Bocah," geram Badrol dengan suara berat, melangkah maju mendekati Rian hingga jarak di antara mereka tinggal satu meter. Bau napasnya yang bercampur alkohol dan tembakau murah langsung menusuk hidung Rian. "Dengar baik-baik. Kalau kamu datang kesini cuma buat jadi pahlawan kesiangan buat si tua Bi Inah, aku pastikan kamu tidak akan bisa berjalan keluar dari pasar ini dengan utuh. Siapa yang menyuruhmu datang? Apakah anak perempuan tua itu yang merengek padamu?"

Rian perlahan-lahan mengangkat wajahnya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang hambar.

"Tidak ada yang menyuruhku," jawab Rian pelan. Suaranya terdengar sangat jernih dan tenang, kontras dengan suasana pos yang tegang. "Aku datang atas kemauanku sendiri."

"Oh? Hebat sekali keberanianmu," cibir Badrol, menyeringai lebar memperlihatkan deretan giginya yang agak kekuningan. "Kalau begitu, siapkan dirimu untuk membayar harganya."

Sebelum kalimat Badrol sepenuhnya selesai, si rambut pelontos di sebelah kanan tidak sabar lagi. Ia langsung mengayunkan pipa besi di tangannya dengan sekuat tenaga ke arah kepala Rian, berniat memberikan pelajaran yang 'cukup' untuk membuat anak itu jera.

Whush! Angin berdesing kencang akibat ayunan pipa besi tersebut.

Bagi orang normal, serangan mendadak itu pasti akan menghantam kepala dan menyebabkan gegar otak berat. Namun bagi Rian, gerakan itu terbaca dengan sangat sempurna.

Rian tidak menghindar jauh. Ia hanya memiringkan kepalanya sedikit ke kanan—hanya berjarak beberapa milimeter dari ujung besi yang lewat mendadak. Pipa besi itu meluncur sia-sia menembus udara kosong.

Anak buah berambut pelontos itu terbelalak kaget. Meleset?! Padahal jaraknya sudah pas! pikirnya tidak percaya.

Belum sempat ia menarik kembali pipa besinya, Rian menggerakkan tangan kanannya yang tadi dibiarkan longgar. Jari telunjuk dan jari tengahnya dirapatkan membentuk tusukan ringan, dialiri oleh secercah energi Qi dasar dari tingkat Tempa Tubuh.

Prak!

Rian mengetukkan jarinya tepat ke titik persendian bahu kanan anak buah berambut pelontos tersebut. Sentuhan itu terlihat sangat ringan, seperti ketukan jari seorang guru di meja muridnya.

Namun seketika itu juga, suara retakan sendi yang cukup keras terdengar.

"Arghhhh—!"

Anak buah berambut pelontos itu menjerit histeris. Seluruh lengan kanannya mendadak lemas tak bertulang, pipa besi di tangannya terlepas dan jatuh menghantam lantai semen dengan bunyi dentang yang nyaring. Ia jatuh berlutut sambil memegang bahunya yang terkulai dengan sudut aneh, wajahnya pucat pasi dibanjiri keringat dingin dalam kurun waktu kurang dari satu detik.

Suasana di dalam pos penjagaan yang tadinya penuh tawa mendadak berubah menjadi sunyi mencekam.

Dua anak buah yang tersisa menatap temannya yang sudah terkapar kesakitan, lalu mengalihkan pandangan mereka ke arah Rian dengan mata melotot. Mereka sama sekali tidak melihat bagaimana Rian memukul. Yang mereka lihat hanya gerakan jari yang sangat sepele.

"Setan... Apa yang kamu lakukan pada tangannya, bajingan?!" maki salah satu anak buah berbadan gempal berambut gondrong, murka bercampur ngeri. Ia langsung mencabut sebilah pisau badik dari balik pinggangnya, lalu menerjang maju secara brutal ke arah perut Rian.

Rian melirik sekilas ke arah kilatan pisau badik tersebut. Di dalam pandangannya, lintasan pisau itu terlihat sangat kaku dan penuh celah fatal di bagian dada terbuka si penyerang.

Tanpa panik, Rian melangkah setengah langkah ke depan, merangsek masuk ke dalam jangkauan lengan si rambut gondrong. Sebelum pisau itu sempat mendekat, telapak tangan terbuka Rian mendarat dengan kecepatan kilat di tengah dada pria tersebut.

Bum!

Sebuah dentuman tertutup seperti ledakan angin kecil terdengar dari telapak tangan Rian. Itu adalah manifestasi pelepasan gelombang Qi internal tingkat awal.

Anak buah berambut gondrong itu merasa dadanya seperti dihantam oleh palu godam seberat seratus kilogram. Tubuhnya terlempar mundur seketika, menembus pintu kayu pos penjagaan, dan terbang keluar sejauh tiga meter sebelum akhirnya menghantam tumpukan keranjang plastik kosong di luar dengan suara benturan yang hebat. Ia langsung pingsan seketika, mulutnya mengeluarkan sedikit busa putih.

Dua orang lumpuh dalam waktu kurang dari tiga detik.

Badrol, yang tadinya berdiri angkuh, merasakan bulu kuduk di seluruh tubuhnya berdiri tegak. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa seperti mau meledak keluar dari rongga dadanya. Sebagai preman yang bertahun-tahun malang melintang di jalanan dan sering berkelahi menggunakan senjata, ia tahu persis perbedaan antara petarung jalanan biasa dengan sesosok monster.

Dan pemuda di hadapannya saat ini... bukanlah manusia biasa.

"Kau... Kau monster apa sebenarnya?!" suara Badrol bergetar hebat. Wajahnya yang garang kini pucat pasi, seluruh keberaniannya menguap seketika. Ia perlahan mundur ke belakang hingga punggungnya menempel pada dinding pos yang penuh coretan. Tangannya meraba-raba meja, mencari benda apa saja yang bisa digunakan untuk membela diri.

Anak buah terakhir yang tersisa sudah terduduk lemas di sudut ruangan, kedua kakinya gemetar hebat hingga ia tidak mampu berdiri untuk melarikan diri.

Rian melangkah perlahan mendekati Badrol. Langkah kakinya terdengar begitu pelan dan ritmis, namun setiap ketukan sepatu itu bagaikan ketukan lonceng kematian di telinga sang kepala preman.

"Tadi... kamu bilang apa tentang membayar harga?" suara Rian terdengar sangat datar, dingin, dan tidak menyisakan sedikit pun emosi manusiawi.

Badrol menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa sangat kering seperti tertelan pasir panas. Ia mencoba mengangkat tangan kanannya untuk menunjuk Rian, namun tangannya gemetar hebat.

"Jangan... jangan mendekat!" teriak Badrol histeris, rasa takutnya kini mengalahkan akal sehatnya. Ia menyambar sebilah parang besar yang tersandar di sudut dinding, lalu mengayunkannya secara membabi buta ke arah leher Rian dengan sisa-sisa tenaga dan keputusasaannya. "Mati kau, keparat!"

Sabetan parang itu meluncur cepat.

Rian berhenti melangkah tepat di depan tebasan parang tersebut. Dengan gerakan yang sangat tenang dan anggun, ia mengangkat dua jari tangan kanannya—jari telunjuk dan jari tengah—lalu menjepit bilah parang tajam itu secara langsung di udara.

Cling!

Suara dentingan logam berpadu dengan getaran energi Qi yang memancar terang di ujung jari Rian.

Bilah parang tajam yang terbuat dari baja itu berhenti total di udara, seolah terjepit di antara dua balok baja raksasa. Tidak peduli sekuat apa pun Badrol mendorong dan menarik gagang parang tersebut dengan kedua tangannya, bilah itu tidak bergeser satu milimeter pun dari jepitan dua jari Rian.

Wajah Badrol memerah padam karena mengerahkan seluruh tenaga fisiknya, sementara urat-urat di lehernya menonjol keluar. Namun Rian tetap berdiri tegak tanpa ekspresi, menatap Badrol dengan pandangan merendahkan dari atas ketinggian.

"Kekuatanmu hanya sebesar ini?" tanya Rian pelan, suaranya terdengar begitu menusuk harga diri sang kepala preman.

"Tida... Tidak mungkin... Ini tidak masuk akal!" geram Badrol dengan suara serak penuh keputusasaan.

Rian menyipitkan matanya sesaat. "Mulai hari ini, wilayah pasar induk ini bebas dari pungutan liar. Dan nama Bi Inah tidak boleh lagi disebut-sebut oleh mulut kotor kalian. Apakah kau mengerti?"

Sebelum Badrol sempat menjawab atau memohon ampun, Rian menyentakkan dua jarinya yang menjepit bilah parang.

Kring-crunch!

Bilah parang baja itu patah menjadi dua bagian dengan suara nyaring akibat getaran energi Qi yang disalurkan secara mendadak. Pecahan besi bagian atas melayang mental dan menancap secara vertikal ke dalam dinding kayu tepat di sebelah telinga Badrol, membuat pria bertato itu menjerit kaget sambil merosot jatuh berlutut di lantai.

Rian menurunkan tangannya, menatap Badrol yang kini sudah terduduk tak berdaya di lantai dengan air mata ketakutan yang mulai menetes di pipinya.

"Kalau aku mendengar kalian datang lagi ke warung Bi Inah, atau mengganggu siapa pun di pasar ini..." Rian membungkuk sedikit, mendekatkan wajahnya ke telinga Badrol yang sedang gemetar. "...maka pertemuan kita berikutnya bukan lagi tentang mematahkan tulang, tapi tentang mencabut nyawa kalian dari muka bumi."

Suara itu dibisikkan dengan nada yang begitu dingin, membuat seluruh jiwa Badrol seolah-olah ditarik ke dalam jurang kegelapan yang abadi. Pria bertato naga itu hanya bisa mengangguk dengan cepat secara berulang-ulang, air liurnya nyaris menetes ke lantai karena teror mental yang luar biasa dahsyat.

"Baik... baik, Tuan! Kami tidak akan berani lagi! Demi Tuhan, kami tidak akan pernah menginjakkan kaki ke sana lagi!" rintih Badrol memohon ampun dengan suara parau.

Rian berdiri tegak kembali. Ia tidak membuang waktu sedetik pun untuk melirik mereka lagi. Tanpa berkata apa-apa, ia berbalik badan, melangkah keluar dari pos penjagaan yang berantakan itu, dan berjalan menyusuri lorong pasar induk yang basah di bawah naungan malam yang kelam.

Di dalam retinanya, panel sistem tiba-tiba bercahaya terang dengan deretan teks ucapan selamat:

[ Misi Cabang Selesai dengan Sempurna! ] [ Evaluasi: Kemenangan mutlak tanpa meninggalkan jejak identitas kultivator di mata hukum publik. ] [ Hadiah Diterima: Peningkatan Energi Qi ke Tingkat Menengah (+30 Qi total 45/100) dan Teknik Mata Dewa Pengamat diperkuat permanen. ]

Rian menarik napas dalam-dalam, merasakan aliran energi hangat yang jauh lebih padat mengalir di dalam pembuluh darahnya. Perjalanan panjangnya baru saja dimulai, dan malam ini, ia telah membuktikan satu hal mutlak kepada dunia modern: di balik bayang-bayang seorang pemuda miskin yang kerap dihina, telah lahir seorang penguasa sejati yang tak terlihat namun tak tertandingi.

1
expant
lanjut
expant
bagus ceritanya
Serly Can
siap kk
Risman Caniago
kemampuan nya udah kaltiivor...... jagoan pasar... orang bayaran pada koit.....masa masih kontra sama anak SMA.... harus nya naik level genster....mafia..... belajar lagi yang lebih ya Thor....
Serly Can: iya kak ini baru belajar novel pertama jika ada salah alur atau membingungkan maaf
total 1 replies
Yossi Muliasa Permana
bagus cerita nya cuman cara penulisan nya agak sedikit bikin bingun
Serly Can: iya kak ini baru belajar novel pertama jika ada salah alur atau membingungkan maaf
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!