Evita Desniati adalah seorang wanita yang sudah menikah selama 6 tahun lamanya dengan Xander Wiryawan. Kehidupan rumah tangga mereka mendadak hancur saat Evita memergoki Xander tengah bermesraan dengan seorang wanita bernama Viola Sanustika di atas ranjang yang biasa ia dan Xander gunakan! Evita menjadi trauma dengan ranjang hingga seorang pria asing dari Tiongkok bernama Ma Yong Hua muncul dan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika Suster Palsu Kembali
Dokter Hartono mengangguk puas, lalu tersenyum lebar. "Luar biasa! Pemulihan fisik Anda sungguh di luar perkiraan medis, mengingat benturan yang Anda alami kemarin cukup keras. Organ tubuh dan tekanan darah Anda stabil sempurna."
Mendengar laporan medis tersebut, Pak Santoso dan Bu Yekti yang duduk di sofa samping ranjang langsung memancarkan ekspresi kelegaan yang luar biasa. Bu Yekti bahkan mengangkat kedua tangannya sambil mengucapkan syukur berulang kali.
Dokter Hartono melanjutkan dengan nada ceria, "Karena perkembangan kondisi Anda sangat positif, jika tren penyembuhan ini bertahan stabil sampai sore nanti, insya Allah besok pagi Anda sudah diizinkan untuk pulang dan melanjutkan pemulihan di rumah."
"Benar begitu, Dok? Syukurlah ..." ucap Bu Yekti dengan mata berkaca-kaca penuh haru, segera beranjak dari sofa dan menghampiri ranjang putrinya untuk merangkul pundak Evita penuh kasih sayang.
Pak Santoso turut berdiri, mengangguk hormat kepada sang dokter. "Terima kasih banyak, Dokter Hartono, atas seluruh perawatan terbaik yang diberikan kepada putri kami."
"Sama-sama, Pak Santoso. Itu sudah menjadi tugas kami. Oh ya, Tuan Ma Yong Hua tadi sempat menelepon pihak rumah sakit, beliau menyampaikan bahwa siang nanti beliau akan datang langsung untuk menjenguk sekaligus mengurus administrasi kepulangan Anda," tambah Dokter Hartono sebelum pamit meninggalkan ruangan bersama sang perawat.
****
Evita tersenyum kecil mendengar nama pria itu disebut. Kehadiran Ma Yong Hua dalam hidupnya selama badai cobaan ini telah memberikan arti perlindungan yang begitu nyata.
Namun, di luar kamar perawatan VIP tersebut, di sepanjang koridor rumah sakit yang tampak sibuk oleh lalu-lalang tenaga medis dan keluarga pasien, ancaman maut yang mengerikan sedang merayap mendekat secara diam-diam.
Di balik dinding pembatas lift lantai tiga, sesosok wanita berdiri mematung dengan kepala tertunduk rendah. Ia mengenakan seragam putih perawat rumah sakit berukuran sedikit longgar, lengkap dengan topi perawat bergaris merah dan masker medis tebal yang ditarik tinggi menutupi sebagian besar wajahnya. Rambut panjangnya disembunyikan rapat-rapat di balik penutup kepala medis.
Wanita itu adalah Viola Sanustika.
Meskipun kemarin ia sempat lari terbirit-birit dan bersembunyi di kolong jembatan kumuh, tekad gilanya untuk menghabisi Evita Desniati tidak pernah surut sedikit pun. Dengan kecerdikan kriminal yang luar biasa dan kenekatan seorang psikopat yang kehilangan kewarasan, Viola kembali menyusup ke dalam rumah sakit setelah memastikan satu hal krusial dari informan bayaran di area parkir: Ma Yong Hua sedang tidak berada di tempat.
Taipan Ma Group itu dikabarkan sedang memimpin rapat darurat pemegang saham di kantor pusat Sudirman dan baru akan tiba di rumah sakit pada siang hari nanti.
Bagi Viola, celah waktu inilah kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan.
Viola melangkah pelan dengan postur kaku menyamar sebagai tenaga medis. Di tangan kanannya, ia membawa sebuah nampan besi steril yang berisi botol obat cair biasa dan dua buah jarum suntik medis berukuran besar. Di dalam botol kaca tersebut memang tidak berisi racun seketika, melainkan cairan udara bertekanan tinggi yang jika disuntikkan langsung ke dalam pembuluh darah vena (emboli udara), akan menyebabkan kematian mendadak dalam hitungan menit tanpa meninggalkan jejak racun yang mencurigakan.
Di balik masker medis putihnya, seringai sadis dan mengerikan terukir jelas di bibir Viola. Matanya melotot liar, menatap lurus ke arah pintu kamar VIP bernomor 308 di ujung koridor.
****
"Hari ini... tidak ada lagi malaikat pelindung bernama Ma Yong Hua yang bisa menyelamatkanmu, Evita..." bisik Viola dalam hati, suaranya bergetar penuh kegirangan yang tidak wajar. "Kau akan mati di tanganku secara perlahan... Ha-ha-ha... Kematianmu adalah awal dari kebebasanku!"
Halusinasi gila berputar-putar di dalam kepala Viola. Ia membayangkan pintu kamar terbuka, ia akan menyuntikkan jarum itu ke leher Evita di hadapan kedua orang tuanya yang tak berdaya, lalu menyaksikan wanita itu meregang nyawa dalam kesakitan. Kegilaan itu membuat langkah kaki Viola semakin cepat menyusuri koridor sepi.
Di dalam kamar perawatan VIP 308, suasana masih terasa hangat. Pak Santoso dan Bu Yekti sedang membereskan beberapa barang pribadi Evita ke dalam tas jinjing persiapan pulang esok hari.
"Evita, nanti kalau Nak Yong Hua datang, kamu bilang terima kasih ya sama beliau. Beliau sudah banyak sekali menolong keluarga kita," ucap Bu Yekti sambil melipat selimut kecil di sofa.
Evita tersenyum tipis mengangguk. "Iya, Ibu... Evita pasti akan berterima kasih."
Tiba-tiba, suara ketukan pintu kamar terdengar pelan dari arah luar.
Tok... tok... tok...
Ketukan itu tidak terlalu keras, khas suara tenaga medis yang hendak melakukan pemeriksaan rutin tambahan.
Pak Santoso yang berdiri paling dekat dengan pintu segera menoleh. "Ah, mungkin itu suster yang mau mengecek ulang infus atau memberikan obat siang," gumam sang ayah, lalu melangkah maju untuk memutar gagang pintu.
Evita menatap ke arah pintu dengan pandangan biasa, tanpa ada secercah pun kecurigaan di benaknya bahwa di balik pintu tersebut, malaikat maut berwujud wanita iblis sedang berdiri menanti kepalanya.
****
Suasana hangat dan penuh kelegaan di dalam kamar VIP 308 Rumah Sakit Santa Carolus mendadak membeku seketika dalam hitungan detik.
Ketika Pak Santoso memutar gagang pintu dan menariknya terbuka untuk menyambut perawat yang datang membawa obat siang, sepasang mata lelaki paruh baya itu menangkap sorot mata yang sangat familiar di balik masker medis putih seorang wanita berpenampilan tenaga medis di hadapannya.
Meskipun sebagian besar wajah perawat itu tertutup masker dan topi medis, tatapan mata melotot liar, tajam, dan penuh dendam kesumat itu tidak mungkin salah. Otak Pak Santoso langsung mengenali sosok iblis betina yang beberapa hari lalu hampir membunuhnya di koridor rumah sakit.
"V-Viola...!" teriak Pak Santoso terperanjat kaget setengah mati, darahnya mendadak berdesir ketakutan.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, kesadaran seorang ayah untuk melindungi putrinya membangkitkan tenaganya. Pak Santoso langsung mendorong sekuat tenaga daun pintu kamar itu untuk membantingnya kembali dan menguncinya dari dalam!
"Ibu! Evita! Ada wanita iblis itu!" seru Pak Santoso panik luar biasa.
****
Namun, Viola Sanustika yang sudah sepenuhnya kehilangan kewarasan bergerak jauh lebih beringas. Menyadari penyamarannya terbongkar, jiwa psikopat wanita itu meledak seketika.
Brak!
Viola dengan kejam menyelipkan nampan besi steril berukuran besar di antara celah kusen pintu, menahan daun pintu agar tidak bisa tertutup rapat oleh dorongan Pak Santoso.
"Mau lari ke mana kau, pak tua bangka?!" jerit Viola histeris dengan suara melengking penuh kemarahan yang mengerikan.
Bruk!
Tanpa ampun, Viola menghantamkan tendangan telak menggunakan sepatu ketsnya ke arah daun pintu. Hantaman keras itu membuat Pak Santoso yang menahan pintu dari dalam terpental jatuh terjengkang ke lantai keramik dengan posisi punggung membentur sudut sofa.