Rusaknya beberapa hektar tanaman padi yang tiba-tiba menguning, membuat penduduk desa yang khawatir akan gagal panen menyerbu balai desa. Mereka menuntut kelompok tani yang dipimpin Anneke Van Beek untuk bertanggung jawab.
Keadaan semakin pelik saat masa lalu sang ibu—Sulastri yang dianggap sebagai gundik kembali merebak, ditambah kedekatannya dengan Hans Williams, membuat Anne terjebak dalam pusaran tuduhan keji itu.
Mampukah Anne menyelesaikan kemelut ini dan membongkar dalang di balik terancam gagal panennya pertanian desa?
“Putra mu memanglah tampan paras rupa, bersahaja dalam tutur kata, tapi dia tak lebih dari keledai dungu yang bersembunyi di balik ketiak ibunya.” Anneke Van Beek.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AVB 3
“Mobil butut mu itu sudah waktu nya masuk rongsokan, ditimbang campur besi tua sekalian pemiliknya,” seru suara berat pemuda berkulit pucat.
Anne memutar bola mata malas, napas berat berhembus dari bibir merah alaminya.
“Jangan membuat gara-gara, Hans! Kepalaku sedang pusing tujuh keliling,” geramnya, tanpa menoleh sudah tau pasti siapa pemilik suara berat yang sedari kecil gemar menjahilinya.
Hans Williams, putra tunggal Williams sahabat karib Petter Van Beek. Ayahnya asli orang Belanda sedang sang ibu keturunan Indo-Belanda, wajahnya kental Eropa dengan kulit pucat dan sepasang mata beriris biru muda.
Pemuda baru kembali dari mengenyam pendidikan di negeri kincir angin itu memang tak pernah absen membuat kesal Anne—sahabat masa kecilnya. Hari-hari nyaris ia habiskan untuk mengikuti kemanapun Anne pergi, berdalih ingin mengetahui jalanan serta seluk-beluk desa.
Dengan langkah tenang, senyum jahil tersungging di bibir, Hans menghampiri gadis ayu memasang wajah galak ke arahnya. Kaki terbungkus sepatu boot mahal, menendang tanah merah menempel pada ban mobil.
“Kapan kau itu tak pusing tujuh keliling?” balas Hans, tangan panjangnya dengan ringan menjitak pelan dahi Anne. “Maka nya berteman itu jangan hanya dengan wereng dan tikus sawah, sekali waktu berkumpul juga dengan manusia.”
“Ck, aku sedang tak ada waktu meladeni ocehanmu,” decak Anne sambil menepis tangan Hans yang menggantung di pucuk kepalanya.
“Apa ada masalah?” tanya Hans, bisa menangkap jelas wajah muram sang sahabat bukan disebabkan oleh ulahnya.
“Beberapa hektar sawah yang berada di pinggir desa tiba-tiba menguning daunnya—”
“Penyebabnya,” potong Hans.
“Belum tahu pasti, pakde Broto sedang memeriksa dan aku …,” Anne menjeda ucapannya, menatap malas sang sahabat sudah duduk lebih dulu di kursi penumpang. “Pergilah, Hans. Aku benar–benar sedang pusing hari ini.”
“Aku tau, tapi juga ingin tau penyebab daun padi memilih menguning sebelum waktunya itu,” sahut Hans, satu tangan mengganjal kepala bersandar pada jok terbungkus bahan kulit imitasi.
Anne menggeleng pasrah, malas berdebat, memilih tancap gas menuju pinggir desa bagian utara, berbatasan dengan desa kelahirannya—Joglo Punjer.
Di pematang sawah telah layu daunnya, Broto berkacak pinggang, sesekali menghisap kretek terselip diantara telunjuk dan jari tengahnya. Beberapa petani duduk berjejer, membiarkan terik membakar kulit terlindung baju panjang dan caping anyaman bambu.
“Bagaimana ini pak Jagabaya, sudah lewat tengah hari belum juga ada kepastian penyebab padi-padi ini menguning,” seru salah seorang petani, ia yang pertama kali membawa kabar rusaknya tanaman padi, namanya Sugi.
“Betul. Tadi saja di balai desa bilangnya mau tanggung jawab, tapi tak juga kunjung datang sampai tenggorokan kami kering kerontang, kehausan.” Pria muda sedari di balai desa menggebu-gebu menyampaikan protes ikut menimpali.
Sambil bersungut-sungut, ia mengambil kendi air, meneguk hingga menetes di sepanjang leher dan dada dibiarkan terbuka. “Iki lah alasan kita itu perlu milih pimpinan dari masyarakat biasa, yang ndak mengandalkan harta warisan turun temurun. Jelas paham kebutuhan wong cilik, karena terbiasa hidup susah, pas-pas’an. Kalo turunane wong sugeh karena warisan … yo begini, nyepelekne.”
Broto enggan menimpali, memilih diam, memperhatikan hamparan sawah tak sesegar saat dia mengecek kemarin lusa. Pria paruh baya diangkat sebagai kamituwo atau jagabaya yang bertugas untuk pembangunan irigasi, jalan, juga keamanan desa atau biasa disebut juga kaur pembangunan itu dulu nya adalah orang kepercayaan Petter Van Beek, telah berkutat di dunia pertanian puluhan tahun lamanya.
Alis tebal pria cukup disegani itu mengerut, tatapan tajam pada padi-padi yang bergerak tersapu angin. Ia sudah mengamati puluhan kali, namun tak juga menemukan penyebabnya, tak ada tanda-tanda wereng atau hama lainnya seolah ada kesengajaan dalam rusaknya hamparan sawah milik penduduk desa.
“Kamituwo, ojo gur ita-itu karo ngeses. Pikirno nasib masyarakatmu!” celetuk petani pemilik lahan paling parah kerusakannya. (Kamituwo, jangan hanya kesana-kemari sambil merokok. Pikirkan nasib masyarakatmu!)
“Iyo. Ndak kamituwo ne, lurah, ulu-ulu, sampek ketua kelompok tani bisane cuma obral janji, tenang … tenang, tok ndak mik—”
“Kalau kowe punya solusi coba sampaikan, biar semua orang mendengar, manatau terus kowe dipilih jadi ketua menggantikan aku,” sergah Anne, berjalan tanpa alas kaki, mendekat kerumunan tak sebanyak di halaman balai desa.
“Sedari tadi mulutmu itu paling berisik menyampaikan keluhan, berapa banyak kowe dapat sawah garapan?” lanjutnya, bertanya sambil menatap tajam raut yang seketika blingsatan.
“Sudah tak sampaikan saat di halaman balai desa tadi, biarkan kami mencari tau dulu apa penyebabnya baru kami beri solusi. Kalian pikir menyelamatkan sawah menguning tanpa ada gejala terserang hama mudah?!” Ia terpancing amarah, pada dasarnya memang tak suka orang banyak bicara tapi kosong isinya. “Kalau di antara kalian punya solusi silahkan sampaikan, aku siap mendengar, jika yang kalian sampaikan masuk akal, kalian boleh menggantikan posisi ku di kursi kepemimpinan.”
Para petani menunduk, tak berani membuka suara sebab tak tau juga penyebab apalagi solusi untuk sawah mereka. Sepanjang kepemimpinan Anne menggantikan sang papa, baru kali ini pertanian mereka mendapat masalah, menguning daunnya.
“Kenapa podo diam. Tadi saja begitu lantang menyampaikan keluhan, sekarang ciut giliran di tantang.” Anne menunduk, mencabut satu batang padi harusnya dua minggu lagi mulai berisi. “Kalian lihat, tak ada tanda-tanda serangan wereng, hawar atau bahkan tungro. Batang ini sehat, akarnya pun masih begitu kuat dan segar. Hanya ada satu kemungkinan penyebab menguningnya mereka yaitu kesalahan kalian dalam memberikan pestisida.”
Begitu tegas Anne memberikan analisisnya, pengalaman selama ia masih dibawah pengawasan Petter Van Beek serta bekal pendidikan yang didalami saat menimba ilmu di H.B.S (Hoogere Burger School) sekolah menengah atas bergengsi sebelum melanjutkan ke jenjang Universitas ternama di negara asal sang papa—Belanda.
“Kang Dasim,” panggilnya pada ulu-ulu atau juru pengairan.
Yang dipanggil langsung mendekat, menunduk penuh hormat.
“Aliri semua sawah, keringkan dulu, lalu ganti dengan air baru untuk mengurangi sisa bahan kimia dalam tanah. Kerjakan secepat mungkin agar tak keburu meresap pada akar dan membuat kerusakan semakin parah. Aku akan menemui Maria untuk meminta supply pupuk demi mendukung pemulihan,” titahnya dengan suara tegas.
“Baik, Nduk, segera saya kerjakan sekarang juga,” sahut Dasim, tanpa menunggu lama langsung bertindak, bergerak gesit.
Ia kemudian berbalik, menatap tajam para petani masih menunduk. Sudut bibir terangkat tipis saat sudah berhadapan dengan si pria muda.
“Namamu Rusli bukan? Penerima bantuan satu hektar garapan, itu pun tak kau kerjakan sendiri, mengandalkan buruhan orang, memilih bermalas–malasan tenimbang mencangkul galengan.” Sangat tepat sasaran ucapan gadis yang menyibak kain jariknya hingga sebatas lutut, tangan masih memegang padi ia kibaskan tepat di depan wajah Rusli.
“Kowe lihat, penikmat warisan turun-temurun ini bisa menyelesaikan masalah kurang dari satu hari. Terbukti bukan? Otakku isi nya tak hanya janji apalagi omong kosong belaka, tapi kepintaran yang nantinya bisa digunakan membantu mu dan juga penduduk desa.” Dipindahkannya satu batang padi ke telapak Rusli seraya berlalu, tanpa berpamitan.
Di kejauhan Argono memperhatikan dengan senyum tersungging, mata berbinar kagum.
“Pantas ibumu begitu mudah mengakali bapakku, turunannya saja ….”
Bersambung
❤️❤️❤️❤️❤️
ada saat nya Anne jatuh cinta pada mu
ada info apa
saudara tiri anne duduu ?
di gelitik pakee jariii too,
🤣🤣
apa ngga muall kamu maria
harus akting bermanis2 di depan anne
wis eruh kedok asli mu topeng mu wujud Rahwana
licik juga kau
apa iyaa anne bakal tunduk padamu
jgn2 malah kena seruduk
makin ruwett
siap mobat mabitt Maria