Lin Xuan, seorang pemuda modern penyuka novel web, tiba-tiba bertransmigrasi ke Benua Langit Surgawi. Sialnya, ia terbangun dalam tubuh Ketua Sekte termuda dari "Sekte Bintang Jatuh"—sebuah sekte yang dulunya merupakan penguasa benua, namun kini hanya menyisakan dirinya dan sebuah gunung usang karena diserang oleh aliansi musuh. Di saat musuh datang untuk mengambil alih tanah sektenya, Lin Xuan membangkitkan "Sistem Pembangunan Sekte Abadi".
Mulai dari merekrut murid jenius yang dibuang klan, membangun paviliun ajaib, hingga memanggil naga penjaga, Lin Xuan memulai perjalanannya untuk mengubah sekte bobroknya menjadi kekuatan nomor satu di seluruh alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Lautan Darah di Kota Angin Hitam
Langit di atas Kota Angin Hitam tidak lagi berwarna biru cerah, melainkan tertutup oleh selubung awan merah pekat yang berbau anyir. Hawa murni di sekitar kota telah sepenuhnya tercemar, digantikan oleh kabut iblis yang merayap di tanah layaknya ular berbisa.
Dua garis cahaya, satu merah keemasan dan satu biru kristal, membelah langit dan mendarat di atas gerbang kota yang telah hancur separuh.
Ye Chen menatap pemandangan di bawahnya dengan napas tertahan. Jalanan yang dulunya ramai oleh pedagang kini dipenuhi oleh penduduk yang berjalan terseok-seok. Mata mereka sepenuhnya putih, urat-urat kemerahan menonjol di leher mereka, dan mereka terus menggumamkan kata-kata pemujaan yang tidak masuk akal dalam bahasa kuno.
Setiap beberapa menit, setetes darah murni akan merembes dari pori-pori kulit penduduk kota, melayang ke udara, dan tersedot menuju pusat kota—Reruntuhan Kediaman Keluarga Ye.
"Mereka dijadikan ternak darah," ucap Su Yue'er dingin. Wajah mungilnya menegang. Sebagai mantan Permaisuri, ia telah melihat kekejaman, tetapi sihir iblis selalu membuatnya jijik. "Kabut ini tidak hanya menyerap darah, tapi juga menguras esensi jiwa mereka. Dalam tiga hari, seluruh kota ini akan berubah menjadi tumpukan tulang kering."
Tangan Ye Chen yang menggenggam gagang Pedang Bintang Merah bergetar tipis. Bukan karena takut, melainkan karena amarah dan penyesalan yang membakar dadanya. Jika saja ia mendengarkan instingnya saat itu dan memenggal kepala Ye Kuang, mimpi buruk ini tidak akan terjadi.
"Adik Seperguruan," suara Ye Chen terdengar sangat dalam, menekan seluruh emosinya. "Bantu aku melindungi penduduk. Jangan biarkan kabut ini menyedot sisa nyawa mereka. Aku akan masuk ke pusat kota dan mengakhiri kesalahanku."
Su Yue'er melirik Ye Chen, lalu mengangguk pelan. Tidak ada ejekan di matanya hari ini. "Pergilah. Aku akan membekukan aliran darah di udara. Tapi ingat, iblis tidak memiliki belas kasihan. Jangan ragu lagi."
Ye Chen mengangguk. Ia memacu Qi elemen apinya, melesat bagai meteor lurus ke arah pusat pusaran darah di tengah kota.
Su Yue'er mengambil napas dalam-dalam. Ia menutup matanya dan merentangkan kedua tangannya.
"Sutra Reinkarnasi: Teratai Salju Pengunci Nadi!"
Ratusan bunga teratai yang terbuat dari es kosmik biru mekar di udara di seluruh penjuru kota. Hawa dingin yang absolut menyapu jalanan. Penduduk yang terkena hawa dingin itu langsung jatuh pingsan, suhu tubuh mereka diturunkan hingga titik hibernasi paksa, menghentikan aliran darah dan mencegah iblis menyedot esensi mereka lebih jauh.
Di Reruntuhan Keluarga Ye.
Ye Kuang, yang kini telah bermutasi menjadi monster bersisik merah dengan sayap kelelawar robek di punggungnya, sedang duduk bersila di atas tumpukan tulang belulang. Ia sedang menikmati aliran darah yang masuk ke tubuhnya, merasakan kultivasinya terus membengkak hingga menyentuh batas Puncak Inti Emas.
Tiba-tiba, aliran darah di udara membeku dan hancur menjadi debu es merah.
Mata hitam legam Ye Kuang terbuka lebar. "Siapa yang berani memotong makananku?!"
"Orang yang datang untuk mencabut nyawamu, Paman."
Sebuah suara dingin dari atas membuat Ye Kuang mendongak.
Sebilah pedang api melesat turun dari langit. Namun, berbeda dengan api Ye Chen yang dulu meledak-ledak dan menghancurkan segalanya, api kali ini terkondensasi sepenuhnya pada bilah pedang, membentuk satu garis cahaya keemasan setipis rambut yang memancarkan panas melebihi magma bumi.
CRASH!
Ye Kuang menyilangkan kedua tangannya yang berlapis sisik iblis untuk menangkis.
Gelombang kejut termal meledak. Ye Kuang terdorong mundur hingga menabrak sisa-sisa dinding aula Keluarga Ye. Sisik di lengannya hangus terbakar, memancarkan bau daging gosong yang memuakkan.
"Ye Chen!" Ye Kuang meraung, suaranya bercabang ganda antara manusia dan iblis. Ia berdiri, lukanya menyembuh dalam hitungan detik berkat kemampuan regenerasi Iblis Darah. "Kau berani kembali?! Hahaha! Bagus! Dewa memberiku kesempatan untuk membalas dendam dengan cepat!"
Ye Chen mendarat dengan ringan di atas pilar yang patah. Matanya setajam ujung pedang.
"Dulu aku memberimu belas kasihan, meninggalkanmu hidup agar kau merenungi dosamu," ucap Ye Chen datar. "Hari ini, aku telah belajar bahwa gulma yang beracun tidak pantas dibiarkan memiliki akar."
"Sombong!" Ye Kuang merentangkan sayapnya dan melesat maju dengan kecepatan yang meninggalkan bayangan merah. Cakar iblisnya merobek udara, mengarah ke jantung Ye Chen. "Kekuatanku sekarang setara dengan Puncak Inti Emas! Kau yang hanya berada di tahap awal akan menjadi santapanku!"
TRANG! CLANG! BOOM!
Dalam sepuluh tarikan napas, keduanya telah berbenturan puluhan kali di udara. Cakar merah dan pedang emas saling bersilangan. Ye Kuang mengandalkan kekuatan fisik iblis dan regenerasi gila-gilaan, sementara Ye Chen menggunakan ketenangan yang baru ia pelajari dari Paviliun Pencerahan Dao.
Setiap kali Ye Chen menangkis serangan, ia memadatkan Niat Pedang Matahari Terik-nya, menahan suhu tinggi untuk dilepaskan hanya pada momen benturan.
"Mati! Mati! MATI!" Ye Kuang mengamuk, melepaskan puluhan tebasan darah dari sayapnya.
Ye Chen tidak mundur. Ia memutar pergelangan tangannya. "Perisai Bintang Padam."
Pusaran api emas berputar di depannya, menelan dan membakar seluruh tebasan darah itu menjadi uap.
"Kultivasimu mungkin setara dengan Puncak Inti Emas," ucap Ye Chen, melesat menembus pusaran apinya sendiri. "Tapi fondasimu dipaksakan. Gerakanmu lebih liar dari babi hutan di Hutan Terlarang!"
Ye Chen menusukkan pedangnya langsung menembus dada Ye Kuang.
BZZZZT!
Api emas meledak dari dalam, melubangi dada monster itu. Namun, Ye Kuang hanya tertawa iblis. Darah di sekitarnya tiba-tiba merayap naik, menutupi luka berlubang itu dan menjahitnya kembali secara instan.
"Aku abadi selama ada darah di kota ini, Bocah!" Ye Kuang mencengkeram bilah pedang Ye Chen dengan tangan kosongnya yang berdarah, berniat mengunci senjata pemuda itu.
"Seni Kutukan Darah: Jaring Lintah Neraka!"
Tubuh Ye Kuang tiba-tiba meledak menjadi ribuan tentakel darah lengket yang menembak ke arah Ye Chen, berniat membungkus dan mengisapnya kering. Jaraknya terlalu dekat, Ye Chen tidak punya ruang untuk menghindar.
Tiba-tiba, suhu di reruntuhan itu anjlok hingga mencapai titik embun kosmik.
"Esensi Titik Nol: Beku Absolut."
Su Yue'er muncul melayang di belakang Ye Chen. Mata birunya menyala terang.
Dalam sekejap mata, seluruh tentakel darah yang hampir menyentuh wajah Ye Chen membeku menjadi es merah yang rapuh. Su Yue'er tidak menggunakan teknik besar; ia hanya memfokuskan hukum es mutlak pada darah yang keluar dari tubuh Ye Kuang, memutus sirkulasi elemen air di dalamnya.
"S-Sialan! Kekuatan apa ini?!" Suara iblis Ye Kuang terdengar panik saat ia menyadari darahnya berhenti mengalir. Regenerasinya terhenti paksa!
"Sekarang, Pelayan!" teriak Su Yue'er dengan napas sedikit terengah.
Ye Chen tidak menyia-nyiakan celah sepersekian detik itu. Ia menarik napas dalam-dalam, menarik seluruh elemen api di udara sekitarnya masuk ke dalam Dantian-nya, lalu mengalirkannya ke titik terkecil di ujung Pedang Bintang Merah.
Niat Pedang Matahari Terik digabungkan dengan pemadatan maksimal!
"Seni Pedang Pelebur Bintang: Tusukan Inti Matahari!"
Ye Chen melesat maju, meninggalkan jejak vakum hampa udara di belakangnya. Ujung pedangnya menusuk tepat ke tengah dahi Ye Kuang, menembus tengkorak iblisnya.
Tidak ada ledakan besar. Tidak ada gelombang kejut yang meratakan kota.
Hanya sebuah cahaya keemasan yang sangat menyilaukan merembes keluar dari mata, hidung, dan mulut Ye Kuang. Api yang suci dan menghancurkan itu menyebar dari dalam tubuh sang monster, membakar esensi iblis darah tanpa sisa.
"T-tidaaaaaak!" Jeritan Ye Kuang perlahan memudar seiring tubuh mutasinya mengering, retak, dan akhirnya hancur menjadi debu abu berwarna putih yang tersapu angin malam.
Seekor bayangan roh iblis kecil berwarna merah mencoba melesat kabur dari tumpukan abu tersebut, berniat kembali ke segel bawah tanah untuk menyelamatkan diri.
Mata Ye Chen berkilat dingin. Ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama dua kali. Ia menjentikkan jarinya, mengirimkan percikan api emas yang langsung menyambar roh iblis itu, membakarnya hingga jeritan terakhirnya lenyap dari muka bumi.
Karma telah diputus bersih.
Kabut merah di atas Kota Angin Hitam perlahan memudar, digantikan oleh cahaya bulan yang kembali menyinari jalanan.
Ye Chen menyarungkan pedangnya dan menghela napas panjang, beban berat di dadanya akhirnya terangkat. Ia menoleh pada Su Yue'er yang kini mendarat di tanah sambil memegangi kepalanya yang sedikit pusing karena memaksakan batas Qi esnya.
"Kerja bagus," ucap Ye Chen, menawarkan tangannya untuk membantu gadis itu berdiri.
Su Yue'er menepis tangan Ye Chen dengan dengusan angkuh khasnya, meski wajahnya sedikit merona. "Aku hanya tidak ingin Guru marah karena kau mati di tangan sampah. Ayo kembali. Tempat ini berbau sangat menjijikkan."
Di waktu yang sama, Puncak Gunung Bintang Jatuh.
Lin Xuan sedang duduk di teras paviliun, memandangi bintang-bintang saat suara notifikasi sistem mengalun merdu.
[Ding! Murid Inti 'Ye Chen' telah menebus karmanya, membunuh mutasi Iblis Darah (Puncak Inti Emas)!]
[Ding! Sinergi Murid tercapai! Keduanya telah mempelajari kerja sama taktis sempurna.]
[Hadiah Diberikan: 4.000 Poin Sekte!]
[Hadiah Diberikan: Pil Pembersih Jiwa (10 botol).]
"Bagus," Lin Xuan tersenyum bangga. "Anak-anak itu akhirnya tumbuh dari anak ayam menjadi burung elang yang mematikan."
Namun, senyum Lin Xuan perlahan memudar saat rentetan peringatan berwarna merah darah tiba-tiba membanjiri layar antarmuka sistemnya.
[🚨 PERINGATAN BAHAYA TINGKAT TINGGI! 🚨]
[Matinya wadah Iblis Darah (Ye Kuang) telah memutus segel lapisan luar di bawah Kota Angin Hitam!]
[Leluhur Iblis Darah Purba yang tertidur di kedalaman bumi mulai terbangun dari hibernasinya. Energi iblis yang sangat pekat terdeteksi sedang memancar keluar, mencoba merusak segel utama!]
[Kultivasi Entitas Terdeteksi: Ranah Transformasi Dewa Tingkat Puncak (Sedang memulihkan diri)!]
[Misi Darurat Terpicu: Pembersihan Akar Iblis!]
Lin Xuan perlahan meletakkan cangkir tehnya. Pandangannya menjadi setajam pisau bedah, menembus kegelapan malam menuju wilayah Kota Angin Hitam.
"Leluhur Iblis Purba tingkat puncak? Dan dia mencoba mendobrak pintu dari bawah kota yang kini menjadi bagian dari perlindunganku?"
Lin Xuan berdiri. Jubah Ketua Sekte Abadi-nya berkibar tanpa angin, memancarkan cahaya yang membuat udara di sekitar gunung bergetar penuh antisipasi.
"Sepertinya sudah lama aku tidak meregangkan otot secara langsung," gumam Lin Xuan, bibirnya menyunggingkan senyum yang sangat berbahaya. "Aku baru saja mencapai Setengah Langkah Transformasi Dewa... Kurasa Leluhur Iblis tua ini akan menjadi samsak latihan yang sempurna untuk membantuku menembus batasan."