Di luar pagar sekolah, Affan dan Monisha adalah sepasang suami istri karena perjodohan wasiat keluarga.
Di dalam kelas, mereka adalah dua kutub yang berpura-pura tidak kenal. Affan si ketua OSIS yang harus menjaga reputasinya, sementara Mona hanya ingin lulus dengan tenang.
Mereka sepakat merahasiakan pernikahan ini rapat-rapat. Namun, menyembunyikan status pernikahan di lingkungan SMA tidaklah mudah. Hanya dalam waktu satu minggu, kecemburuan merusak segalanya. Kecurigaan teman-teman, teror dari siswa yang menyukai Mona, hingga kecerobohan mereka sendiri meledakkan rahasia besar tersebut ke seluruh sekolah.
Kini, mereka harus menghadapi konsekuensi sosial, aturan ketat sekolah, di atas perasaan sayang yang sudah tumbuh di antara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Diujung Tanduk? 19.
Bisa bertemu dengan saya di lokasi yang sudah saya kirim barusan? Tolong datang sendirian ya —jangan bawa suami kamu. Kalau kamu tidak datang atau bawa suami, saya pastikan bingkai foto pernikahan kamu dengan Affan yang sudah saya rekam tersebar seantero sekolah. Tak hanya Foto, saya juga punya bukti foto akta pernikahan kamu, foto kartu keluarga baru kamu bersama Affan sebagai kepala keluarga.
Begitu pesan WhatsApp yang terlihat dari layar hp Mona. Walau tidak ada nama kontak, tapi Mona tahu itu dari siapa. Rendy, teman masa kecil yang entah apa maksudnya, apa tujuan nya, dia mengejar Mona lagi setelah membuatnya patah hati terhebat.
Baik, saya akan segera kesana. Tolong jangan sebar foto itu!
Jawab Mona di sela-sela makan malam bersama Affan. Tanpa Affan menaruh curiga kalau istrinya dilanda masalah besar, sebab ia sedang menikmati masakan buatan Mona.
"Sayang, saya keluar sebentar ya" Izin Mona.
Affan mendongak kepala menatap Mona. "Kemana? Sama siapa?"
Mona terdiam sesaat, terlihat dimata Affan dia mendadak ragu sambil berpikir. "Saya mau ke rumah Andin sebentar, cuma mau minjem buku" Jawabnya penuh dusta.
Affan tersenyum tipis. "Minjem hp nya bentar"
Mata Mona langsung mendadak membola, mendadak pula ia memainkan hp hanya untuk menghapus pesan WhatsApp dari Rendy.
Setelah berhasil dihapus, Mona memberikan hp nya ke Affan. Affan mengutak-atik hp Mona yang disandingkan dengan hp Affan itu sendiri.
"Password Gmail utama kamu apa?" Tanya Affan yang kepalang santai.
"Sicantik2009, kenapa gitu kamu nanyain password gmail saya?"
"Mau main game yang sering kamu mainin akhir-akhir ini" Kata Affan kepalang santai. Affan kali ini juga berdusta, aslinya ia akan memantau pergerakan Mona di balik GPS yang sudah di tautkan akun gmail nya melalui fitur 'Temukan Perangkat saya'
Affan mengembalikan hp Mona, kemudian ia lanjut makan dengan santai, tanpa menaruh curiga ke Mona akan mengikuti nya secara diam-diam.
"Oh gitu, yaudah kalau gitu saya ke rumah Andin dulu ya sayang" Pamit Mona. Affan mengangguk kepala.
Tepat di depan rumah, Mona mendadak mematung —Rasanya ia ingin menghilang dari dunia ini saja. Sebab, dengan kepanikan yang tiba-tiba datang barusan— Tanpa sadar ia menghapus pesan Rendy yang berisi kiriman lokasi.
"Duh gimana ini? Mana chat nya kehapus lagi, saya ga bisa ke tempat Rendy dong?" Kata Mona panik sendiri. Mona mengetuk-ngetuk hp di telapak tangannya, gelisahnya makin menjadi-jadi.
Hingga di menit lima kemudian..
Udah berangkat?. Rendy mengirim pesan WhatsApp lagi.
Akhirnya, Mona bisa menghela nafas lega.
Belum, chat nya tadi kehapus. Saya sudah siap kesana, tolong kirimin lagi lokasinya.
Rendy langsung sharelock ulang. Sesaat itu, Mona langsung pergi ke tempat Rendy berada.
Di taman kota yang pernah menjadi saksi gimana patah hati nya Mona pada Rendy saat itu. Mona disiksa oleh selingkuhan Rendy, di tampar, dicakar, hingga dijambak. Lalu Rendy mendiamkannya dan pergi bersama sang selingkuhan —Tanpa peduli patah hati luar biasa Mona sambil nangis sesenggukan.
Tempatnya masih sama persis saat Mona sudah berdiri menatap Rendy dengan tatapan menantang. "Saya sudah datang, sendiri! Hapus semua foto itu Rendy!"
Rendy tertawa jahat. "Hapus? Setelah kamu ingkar janji kamu? Enak aja!"
Mona menggelengkan kepala, sekilas ada yang terlintas sebuah memori menyedihkan di otaknya. "Saya belum mengeluarkan suara untuk mengucapkan janji itu, seharusnya kamu yang ingkar janji kamu sendiri. Katanya mau menua bersama, tapi selingkuhan kamu tiba-tiba ngikutin kamu diam-diam. Lalu melabrak saya dengan makian, Jambak rambut saya, tampar pipi saya. Lalu kamu diam! Dan pergi sambil merangkul dia didepan mata saya yang lagi patah hati terhebat? Lucu ya hidup kamu!"
"Kamu tau kenapa saya ninggalin kamu? Papa bilang perusahaan keluarga kamu lagi banyak hutang, tunggakan gaji karyawan, jadi saya nurut apa kata papa— nyari cewek yang lebih tajir" Kata Rendy.
"Cuma karena harta doang ya? Hahaha" Mona lantas tertawa tak habis pikir.
"Ingat, kartu As kamu sudah saya pegang. Saya bisa aja tutup mulut, Mon. Kita kan temen masa kecil," Rendi menjeda kalimatnya, sengaja menggantung udara yang kian mencekam. "Tapi tentu aja, nggak ada rahasia yang gratis di dunia ini."
"Lalu? Kamu mau apa?" tanya Mona nantang, bersiap mendengar syarat terburuk.
Rendi tersenyum penuh kemenangan. "Simpel. Karena perusahaan papa saya udah bangkrut... Mulai besok, kamu harus turutin tiga syarat dari saya. Pertama, setiap hari kamu harus ngasih uang lima puluh ribu untuk tambahan jajan saya sampai lulus sekolah. Kedua, jauhi suami kamu selama di sekolah, jangan pernah kelihatan akrab sama dia. Dan yang ketiga..." Rendy mencondongkan tubuhnya ke telinga Mona, "...kamu jangan pernah berhubungan intim dengan Affan. Gimana? Deal, atau foto ini viral lima menit lagi di grup satu angkatan sekolah?"
Mona mengepalkan tangannya kuat-kuat di balik celana jenas panjangnya. Di satu sisi, ia membenci pemerasan ini. Namun di sisi lain, ia tahu betul bahwa Rendy tidak pernah main-main dengan ancamannya.
Masa depannya dan Rendy kini berada di ujung jari Rendi yang siap menekan tombol 'kirim'.
"KIRIM AJA!" Teriak Affan tiba-tiba datang yang tak jauh dari motor yang terparkir di bahu jalan, pria itu ternyata sudah mendekat, lalu menarik tangan Mona yang hampir saja menangis sesenggukan di tempat yang sama saat dulu Rendy mematahkan hatinya secara toxic.
"KAMU...." Rendy maju tanpa aba-aba ingin menonjok rahang Affan, hanya saja Rendy sepertinya salah pilih lawan.
Niat menonjok untuk menyakiti wajah suami teman masa kecilnya, justru Rendy sendiri yang tersakiti hingga tersungkur di tanah.
Dalam wajah babak belurnya yang abu dan darah tercipta di sudut rahang, Rendy melihat siluet punggung dua manusia berbeda jenis kelamin sedang berjalan merangkul tepat di depan matanya.
......................
...****************...
To be continue,
jujur aja mona sm sahabatnya
klo sudah menikah sm afan