perkenalkan namaku Jasmine. Usiaku 34 tahun. aku sudah menikah dan mempunyai dua orang anak yang berusia 7 tahun dan 4 tahun. Kegiatanku hanya seorang Ibu rumah tangga.
Suamiku bekerja sebagai PNS di kelurahan desa.
Simak kisahku yang begitu berat aku jalani . Hanya karena ingin mendapatkan surga dari ridho suamiku.
Tapi ternyata aku tak lebih hanya dijadikan seorang babu berkedok istri.
Simak kisah lengkapku ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirly Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi yang selalu sibuk
"Mana kopi ku yang?"
Suara teriakan Rama terdengar nyaring hingga ke dapur. Hari ini aku lupa untuk membuatkan nya kopi terlebih dahulu. Karena aku bangun kesiangan. Semalaman sangat sulit memejamkan mata.
Aku menghela napas panjang. Menghentikan aktifitasku sejenak.
"Iya, Mas sebentar. Air nya belum mendidih." Jawab ku memberikan alasan agar Ia tak marah.
Kemudian tangan ku bergerak cepat ,segera aku merebus air sedikit supaya cepat mendidih dan bisa menyuguhkan kopi untuk suamiku.
Namaku Jasmine, Usiaku 33 tahun. Aku sudah menikah selama 10 tahun dengan seorang laki-laki bernama Rama. Dari pernikahan ku ,aku di karuniai dua orang anak. Anak pertamaku laki-laki bernama Aldi berusia 7 tahun , dan anak kedua ku perempuan bernama Aira yang berusia 4 tahun.
Tak butuh waktu lama. Air yang ku rebus sudah mendidih. Langsung ku tuangkan ke dalam cangkir yang sudah ku isi dengan bubuk kopi dan juga gula. Setelah mengaduknya, segera aku membawanya kepada suamiku yang sedang duduk santai bermain ponsel di meja makan dengan pakaian kerja yang sudah rapi.
"Ini mas kopi nya." Ucapku sambil meletakkan secangkir kopi di hadapannya.
"Lama sekali."
"Maaf, Mas . Aku lupa, hari ini aku bangun kesiangan." ucapku mencoba menjelaskan.
"Hm..ya sudah." Jawab nya singkat sambil matanya terus melihat ke layar ponselnya.
hanya itu. Tidak ada ucapan terimakasih. Apalagi senyuman.
Tanpa berlama-lama, aku langsung pergi menuju ke arah dapur lagi untuk melanjutkan aktifitas memasak ku yang belum selesai. Sebelum lanjut ke dapur , aku sekilas melihat ke arah jam dinding yang tergantung di sudut tembok dapur. Jam sudah menunjukkan pukul 6 , segera aku berbelok arah ke kamar Aldi untuk membangunkannya.
"Aldi, ayo bangun sayang. Sudah waktunya mandi." Aku segera membuka tirai supaya cahaya masuk kedalam ruangan.
Tidak ada jawaban. Aku segera mendekati putraku, di sampingnya Aira masih tertidur lelap.
Aku membelai kepala Aldi , membangunkannya perlahan.
"Ayo sayang cepat bangun. Nanti kamu terlambat berangkat sekolah."
Terlihat Aldi menggeliat di balik selimutnya. Kemudian membuka matanya perlahan, menatapku dengan senyuman kecil di bibir mungilnya.
"Iya, Mama." Ucap nya, sambil bangkit dari tempat tidurnya.
Saat aku melangkah keluar kamar bersama Aldi, tiba-tiba terdengar suara Aira memanggilku.
"Mama."
Aku langsung menoleh. Lalu berjalan mendekati Putri ku.
"Anak Mama yang cantik ikut bangun juga, ya." Ucapku sambil mencium pipinya yang gembul.
Gadis kecil itu mengangguk, lalu memelukku.
"Yasudah, kalau gitu ayo ikut mandi sama abang."
Kemudian aku langsung menggendong Aira, lalu berjalan menuju kamar mandi.
"Abang sama adik mandi berdua dulu, ya. Mama mau lanjut masak dulu buat sarapan. Abang bantu adik ya, jangan main air." Ucap ku.
"Siap, Mama." Jawab Aldi dengan senyuman manis diwajahnya.
Kemudian aku segera kembali ke dapur melanjutkan masakanku yang belum selesai.
Kedua tanganku bergerak cepat. menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anak ku. Setelah itu membuatkan bekal untuk mereka. Semua aku kerjakan sendiri. Hanya seorang diri. Setiap hari.
pagi ini, kaki ku rasanya tidak berhenti melangkah. Dari dapur kekamar mandi. Dari kamar mandi menuju dapur. Memastikan Aldi dan Aira mandi dengan baik.
Saat kembali ke dapur, tanganku langsung sibuk memasukkan lauk pauk ke dalan wadah bekal milik suamiku. Setelah itu beralih ke wadah bekal milik Aldi. Semuanya aku tata rapi di wadah tupperware. Ada nasi, sayur, ayam goreng.
Setelah itu aku mengambil dua buah piring. Masing-masing piring aku sendokkan nasi yang masih panas. Untuk persiapan sarapan.
Tak berapa lama terdengar suara ribut dari arah kamar mandi. Aldi dan juga Aira memang sering bertengkar karena hal-hal kecil. Kali ini mereka terdengar sedang merebutkan gayung.
"Yang!!!!" Seru Mas Rama.
"Iya, Mas?" Jawab ku.
"Itu kenapa lagi anak-anak di kamar mandi? Apa tidak bisa ya, pagi-pagi suasana damai, tanpa ada suara ribut." Ucap Ma Rama tmyang terdengar sedang kesal.
Benar dugaan ku, pasti Mas Rama merasa terganggu.
Aku segera mematikan kompor yang masih menyala. Setelah itu aku bergegas menuju kamar mandi.
Begitu sampai dikamar mandi. Aku melihat Aldi dan Aira sedang berebut gayung.
"Ya ampun, Nak. Ada apa ini? Kenapa selalu berebut gayung." Ucap ku, sambil mengambil gayung yang mereka perebutkan.
"Ini, Mah Adik gak mau gantian pakai gayungnya." Ucap Aldi.
"Ya sudah jangan bertengkar."
Aku berjongkok di depan mereka.
"Aldi sayang, kan kamu sebagai abang harus ngalah sama adiknya." Ucap ku pelan.
"Tapi Aldi belum selesai mandi, Ma." Jawab Aldi.
"Kalau begitu sekarang abang mandi dulu. Terus Aira biar Mama yang mandiin."
Segera aku memandikan Aira. Supaya cepat selesai dan tidak menimbulkan keributan lagi yang akan membuat mas Rama marah.
Aku memandikan Aira sampai selesai. Setelah itu Aldi dan Aira langsung berjalan menuju kamar untuk berganti pakaian.
"Abang bisa kan pakai seragam sekolah sendiri? Seragam nya sudah mama siapin di atas tempat tidur. terus jangan lupa tempat tidur nya di rapikan sekalian, ya sayang." Ucapa ku kepada Aldi.
"Siap , Mama.." Seru Aldi dengan semangat.
"Anak pintar. Aira juga ya bisa kan pakai baju sendiri? Kalau nanti kesulitan minta tolong sama Abang." Kata ku kepada Aira.
"Siap, kapten." Jawab Aira.
Aku tersenyum melihat mereka. Rasa lelah sedikit hilang jika sudah melihat kedua anakku.
Kemudian aku langsung kembali ke dapur. Menyiapkan sarapan untuk Mas Rama dan juga Aldi. Bekal mereka sudah selesai aku siapkan.
Setelah aldi dan Aira selesai memakai baju. Mereka pun langsung menuju ke meja makan untuk sarapan bersama. Karena takut terlambat aku segera menyuapi Aldi sekaligus Aira.
Selesai sarapan, aku bergegas berganti pakaian dan juga kerudungku. Karena aku harus mengantarkan Aldi ke sekolah. Setelah selesai ganti baju. Dengan tergesa-gesa, aku mengeluarkan sepeda motor ke teras untuk memanasinya.
"yang, Sekalian sepeda motorku juga di panasi, ya. Aku mau mengecek laporan dari kelurahan masih ada yang kurang di ruang kerja." Teriak suamiku dari dalam rumah.
Tanpa menjawab. Aku langsung mengeluarkan sepeda motor milik Mas Rama kemudian memanasinya.
Tak butuh waktu lama aku segera memanggil Aldi dan juga Aira.
"Abang, ayo berangkat, nak. Sudah siang." Ucapku memanggil Aldi.
Dari arah dalam Aldi berjalan bersama sang adik. Aku pun langsung memakaikan helm ke kepala Aldi. Begitupun kepada Aira ku pakaikan jaket.
Aira belum sekolah. Tapi setiap pagi aku selalu mengajaknya mengantar Abangnya kesekolah. Karena dirumah tidak ada yang menjaganya. papa nya juga berkerja.
Setelah Aldi berpamitan kepada Papa nya. Kami pun berangkat. Aldi duduk di boncengan belakang. Sedangkan Aira aku dudukan di depanku.
"Mas Rama, nanti kunci rumah taruh di bawah pot saja, ya seperti biasanya. Bekal makanmu sudah aku siapkan di meja ruang tamu. Jangan lupa dibawa. Aku berangkat dulu nganter Abang ke sekolah." Seru ku dari teras rumah.
"Ya, hati-hati." Jawab Mas Rama singkat.
Aku pun langsung mengendarai sepeda motorku dengan kedua anakku menyusuri jalan yang lumayan padat di pagi hari, karena aktifitas orang-orang yang kesekolah dan berangkat kerja.
...****************...
Terima kasih sudah membaca..
Maaf jika ada penulisan yang salah, karena ini karya pertamaku 🙏
Jangan lupa follow, yaa 😘