NovelToon NovelToon
SENOPATI TERAKHIR

SENOPATI TERAKHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perperangan / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Raden Jayengrana, seorang Senopati kepercayaan Kerajaan Mataram, dikhianati dan dibantai secara keji oleh sahabat karibnya sendiri, Wiradipa, demi sebuah intrik kekuasaan Dewan Perang. Namun, kematian bukannya menjadi akhir. Jayengrana bangkit kembali dari liang kubur setelah menyepakati sebuah kontrak darah kelam dengan entitas mistis misterius yang dijuluki (Senopati Terakhir).
​Terbangun dalam raga yang tak lagi sepenuhnya manusia dan ditandai oleh ukiran melingkar di dadanya, Jayengrana ditemani oleh Ki Jagabaya—mantan gurunya. Ia mempelajari kenyataan pahit bahwa kebangkitannya menuntut harga mahal: jiwanya perlahan terikat, kekuatannya meminjam milik entitas gaib, dan keadaannya memancarkan gelombang yang mulai menarik perhatian makhluk-makhluk misterius serta pusaka tuanya yang enggan mati.
​Di saat namanya dihancurkan oleh istana—dituduh sebagai pengkhianat negara dengan ganjaran kepala lima puluh keping perak—Jayengrana memulai perjalanannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Pria bernama Saka

Jayengrana memandangi pantulan dirinya di atas permukaan air. Ia memejamkan mata, membiarkan kehangatan tanda perjanjian di dadanya menyebar kembali. Saat kelopak matanya terbuka, wujud aslinya telah meresap pulang.

​Wajah Senopati Jayengrana kembali utuh.

​"Berarti wujud ini memang sanggup diatur," bisiknya.

​Ia mencoba sekali lagi. Kali ini ia tidak meniru rupa siapa pun yang pernah ditemui, melainkan merancang gambaran sesosok pria asing di dalam benak. Hidung sedikit lebih mancung, janggut tipis menutupi dagu, alis tebal, serta garis rahang yang lebih lebar. Wajah yang tergolong biasa—tidak tampan, tidak pula buruk rupa—tipe raut muka yang mudah dilupakan orang dalam sekali pandang.

​Begitu ia membuka mata, bayangan di genangan air mereplikasi sempurna bayangan tersebut.

​Jayengrana mengangguk puas. Paras bersahaja inilah yang ia butuhkan. Mulai malam ini, Raden Jayengrana harus lenyap ditelan bumi.

​Keesokan paginya, langkah kaki Jayengrana membawanya tiba di sebuah pasar riuh yang terletak di persimpangan jalan menuju Kotaraja.

​Atmosfer tempat itu teramat padat. Pedagang kain, penjual rempah, pandai besi, hingga penggembala kambing tumpah ruah menjajakan barang. Jayengrana memanfaatkan keramaian untuk membeli sekantung pakaian anyar. Zirah besi lamanya dibungkus kain tebal lalu disembunyikan di dasar karung.

​Kini ia berpenampilan layaknya jelata: mengenakan baju lurik sederhana, celana longgar, serta ikat kepala berwarna cokelat kusam. Tombak pusakanya diikat rapi hingga menyerupai tongkat bambu panjang penuntun jalan.

​Saat menerima pembayaran, sang pedagang pakaian melempar senyum ramah. "Baru pertama kali melintas di persimpangan ini, Mas?"

​Jayengrana mengangguk pelan. "Benar, Pak."

​"Kalau boleh tahu, siapa namanya?"

​Pertanyaan sederhana itu sempat menahan napas Jayengrana. Nama resminya tak boleh lagi terucap di muka umum.

​"Saka," sahutnya spontan.

​"Mas Saka, ya?" Pedagang itu menyerahkan bungkusan. "Semoga perjalanannya lancar dan diberi kemudahan rezeki."

​Jayengrana membalasnya dengan anggukan singkat. Ada pergolakan aneh di dalam dadanya. Belasan tahun ia menyandang nama besar Senopati Jayengrana, dan hari ini ia menyebut dirinya dengan identitas milik orang lain.

​Di lorong utama pasar, beberapa perwira Mataram tampak berdiri menyiagakan diri. Mereka meneliti setiap pengembara yang memikul barang.

​Namun kali ini, tak ada satu pun prajurit yang menaruh curiga pada Jayengrana. Seorang perwira bahkan sempat berpapasan dengannya dalam jarak selangkah, hanya saling melempar anggukan sekilas lalu mengalihkan pandangan.

​Topeng Jiwa bekerja sempurna tanpa celah.

​Menjelang tengah hari, ketenangan pasar mendadak pecah oleh teriakan riuh dari arah lapak sayur.

​"Copet! Tahan pemuda itu!"

​Seorang pria muda melesat menerobos kerumunan seraya mencengkeram kantong kain. Di belakangnya, seorang perempuan tua jatuh terduduk sambil menangis histeris.

​"Tolong! Itu uang untuk membeli obat suamiku!"

​Beberapa warga mencoba mencegat, namun si pencuri bertindak terlalu lincah. Jayengrana mengamati pemuda itu melompat memotong jalan menuju sebuah lorong sempit. Tanpa memicu perhatian, ia berbelok mengekor di belakangnya.

​Gangg sempit itu ternyata berujung pada tembok buntu. Langkah si pemuda terhenti. Saat menoleh dan menyadari hanya ada satu orang yang mengejarnya, senyum picik terukir di wajah pencuri itu.

​"Minggir," gertak si pemuda. "Jangan campuri urusanku kalau masih sayang nyawa."

​Jayengrana mengulurkan tangan dengan tenang. "Serahkan kantong kain itu."

​Pemuda itu mencibir, lalu mencabut sebilah pisau pendek dari balik pinggangnya. Gerakannya menunjukkan pijakan kaki yang kokoh—bukan sekadar penjahat jalanan biasa, melainkan seseorang yang pernah mengecap latihan bela diri.

​Jayengrana tetap bergeming di tempat, membiarkan tombak berbungkus kainnya tersandar di tembok.

​Pemuda itu menyerang lebih dulu, mengayunkan pisau lurus menuju dada. Jayengrana hanya menggeser poros tubuhnya beberapa sentimeter ke samping. Bilah pisau menerpa udara kosong.

​Dengan satu gerakan cepat dan terukur, Jayengrana mencengkeram pergelangan tangan lawannya lalu memuntirnya lambat.

​Krek!

​Cengkeraman pisau itu terlepas, jatuh berdentang ke tanah. Pemuda itu menggeram kesakitan saat Jayengrana mendorong bahunya secara teratur, membuatnya jatuh terduduk di atas tanah kotor. Kantong uang curian pun terlepas dari genggamannya.

​"Pergilah," ucap Jayengrana pendek.

​Pemuda itu memegangi pergelangan tangannya yang terkilir, menatap Jayengrana dengan mimik tak percaya. "Kau... tidak menyerahkanku pada prajurit pasar?"

​"Pergunakan sisa hidupmu untuk jalan yang lebih benar," sahut Jayengrana dingin. "Kesempatan kedua tak pernah datang berkali-kali."

​Si pencuri membisu sejenak, menatap pria di hadapannya sebelum akhirnya memungut pisaunya dan berlari kencang meninggalkan gang tanpa berpaling lagi.

​Jayengrana mengambil kantong uang tersebut lalu melangkah kembali ke tengah pasar. Perempuan tua yang kehilangan bekal obatnya menangis haru saat menerima kembali haknya, memanjatkan doa tulus bagi keselamatan sang penolong.

​Jayengrana hanya tersenyum tipis, lalu berbaur kembali di tengah lautan manusia.

​Tak satu pun orang di pasar itu menyadari bahwa pria bersahaja bernama Wira tersebut merupakan bekas Senopati besar yang tengah diburu oleh seluruh pasukan Mataram.

Dua hari menempuh perjalanan, benteng Kotaraja Mataram akhirnya membayang di pelupuk mata.

​Tembok batu tebal menjulang tinggi mengelilingi pusat pemerintahan tersebut. Panji-panji emas kerajaan berkibar megah di tiap menara jaga, memantulkan kemilau cahaya matahari sore.

​Jayengrana menghentikan langkah di puncak bukit kecil. Sudah teramat lama ia tidak memandang Kota Kerajaan dari kejauhan seperti ini.

​Di sanalah ia menumpahkan sebagian besar jalan hidupnya. Di sanalah sang putra belajar mengayunkan langkah pertama. Di sana pula sang istri setia menanti kepulangannya tiap kali ia bertaruh nyawa di medan laga.

​Namun sore ini, ia kembali sebagai seorang buronan yang dicabut kehormatannya.

​Memasuki Kotaraja rupanya tak serumit perkiraan awal. Para prajurit penjaga gerbang utama hanya fokus meneliti kereta barang serta rombongan pedagang luar daerah. Jayengrana yang mengenakan rupa "Saka" melenggang masuk tanpa menimbulkan curiga sedikit pun.

​Begitu kakinya berpijak di atas paving jalan kota, kenangan lama berhamburan kembali. Warung langganannya menyesap wedang jahe, bengkel pandai besi tempatnya merawat zirah, hingga lorong batu tempat ia biasa memacu kuda bersama pasukan senopati.

​Hampir tak ada yang berubah dari sudut kota ini. Hanya takdir dan rupanya yang kini terpisah jauh.

​Senja mulai meluruh tatkala Jayengrana menginjakkan kaki di kompleks kediaman para perwira kerajaan. Rumah miliknya berdiri di sudut paling ujung. Tidak terlalu megah, namun cukup luas dan tenang untuk membesarkan sebuah keluarga.

​Jayengrana memilih bersiaga di balik kerimbunan pohon asam, mengamati rumahnya dari kejauhan.

​Beberapa saat berlalu dalam keheningan. Tak ada sesosok pun yang melintas di pelataran. Tak ada kepulan asap dari dapur belakang, juga tak ada pendar lampu minyak yang menerangi jendela.

​Perasaan ganjil perlahan menggerogoti dadanya.

​Ia menanti hingga kegelapan malam benar-benar menelan lorong tersebut sebelum akhirnya mengikis jarak. Daun pintu utama rupanya sedikit renggang—tidak terkunci sama sekali.

​Jayengrana mendorongnya perlahan.

​Kriiik...

​Suara engsel besi tua memecah kesunyian malam.

​Ruang tamu tampak lengang. Meja dan kursi kayu masih berada di tempatnya, namun tikar pandan, tirai, serta barang-barang pribadi telah menguap tanpa sisa.

​Ia mengayunkan langkah menuju kamar utama. Pintu lemari pakaian terbuka lebar, kosong melompong. Hanya di sudut ruangan, matanya menangkap sebuah mainan kayu milik sang putra yang tercecer di lantai.

​Jayengrana berlutut lalu memungutnya. Ukiran kuda kayu kecil itu masih utuh. Jemarinya menggenggam mainan tersebut erat-erat, sementara pandangannya menyapu sekeliling sudut kamar.

​Tak ada jejak perkelahian. Tak ada bekas robekan senjata maupun bercak darah.

​Rumah ini tidak dihancurkan oleh serbuan paksa. Rumah ini sengaja dikosongkan. Seseorang telah membawa pergi anak dan istrinya sebelum tempat ini digerebek.

​Pertanyaan besar kini berkecamuk di kepalanya: apakah keluarganya bertindak atas kemauan sendiri, ataukah ada pihak lain yang mengamankan mereka?

​Jayengrana melangkah menuju halaman belakang. Di sana berdiri kokoh sebuah pohon mangga tua tempat anaknya biasa bermain.

​Langkahnya mendadak terhenti tatkala matanya tertuju pada batang pohon tersebut.

​Ada sebuah goresan kecil di kulit kayu: tiga garis lurus sejajar, disusul satu titik tunggal di bagian bawahnya.

​Dada Jayengrana berdesir. Itu bukan sekadar corat-coret asal, melainkan kode rahasia yang biasa dipergunakan oleh pasukan pengintai Mataram saat menjalankan misi senyap.

​Artinya teramat jelas: "Selamat. Jangan berupaya mencari ke sini."

​Jayengrana menghembuskan napas panjang, membiarkan kelegaan meresap perlahan. Goresan itu dibuat menggunakan ujung pisau yang sangat tajam. Permukaan kayunya masih segar, belum tertutup oleh lelehan getah pohon.

​Artinya, sosok yang mengukir pesan ini belum lama meninggalkan pelataran rumah.

​Ia mengusap perlahan guratan tersebut dengan ibu jarinya. Di dalam benak Jayengrana, secercah harapan kembali menyala. Istrinya masih sempat berpikir jernih di tengah kepungan bahaya.

​"Aku akan menemukan kalian," bisiknya lirih—sebuah ikrar mati yang ia pancangkan di dalam jiwa.

​Saat berbalik hendak meninggalkan halaman belakang, telinga tajamnya mendadak menangkap ayunan langkah kaki.

​Pelan. Teratur.

​Bukan gaya berjalan prajurit berzirah tebal, melainkan langsing dan amat ringan. Seseorang tengah mendekati area rumah dari lorong sempit di samping pagar bambu.

​Jayengrana merapatkan tubuhnya ke balik bayang-bayang dinding batu. Napasnya diatur serendah mungkin, sementara jemarinya menyentuh kain pembungkus tombak pusaka.

​Ia bersiaga penuh. Siapa pun sosok yang melangkah mendekat itu, bisa jadi membawa kunci jawaban yang selama ini ia cari.

1
Semoli Ginon
sedikit demi sedikit lama2 jadi bukit mantapp👍
Semoli Ginon
lanjut thor ...
Semoli Ginon
jut lanjut thor
Semoli Ginon
skill yang mantap mas saka..👍
Semoli Ginon
lanjut thor jangan kendor👍
Semoli Ginon
apakah ini ghostrider versi mataram? 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!