Setelah dikhianati dan meledakkan diri bersama musuhnya, Chongyue, kapten tim elit pemburu vampir, justru terlahir kembali di dunia kultivasi dalam tubuh Nona Kelima Kediaman Jenderal Kerajaan Dong—seorang gadis yang dianggap bodoh dan tidak berguna.
Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik tubuh lemahnya itu tersembunyi sebuah segel misterius.
Ketika segelnya terbuka, Chongyue berubah menjadi seorang jenius dengan kekuatan luar biasa. Dalam perjalanannya menjadi kuat, dia bertemu Bei Mingye, Pangeran Keenam yang dijuluki Raja Hantu—pria dingin yang ditakuti seluruh Benua Timur, tetapi justru rela menjadi pelindung Chongyue.
Bersama-sama, mereka menghadapi keluarga, sekte kuno, musuh dari alam atas, serta rahasia besar tentang asal-usul Chongyue.
Di tengah takdir yang terus mempermainkan mereka, mampukah dua hati yang telah dipertemukan itu bertahan hingga akhir?
Yuk ikuti kisah lengkapnya dalam sebuah kisah berjudul: TAKDIR KITA YANG BELUM SELESAI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita_001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 - Istana Shiyue dan Token Emas
Dia mencoba bangkit, tetapi tubuhnya sudah terluka parah. Baru saja mengangkat tubuhnya, kedua lututnya kembali jatuh menghantam tanah.
Satu tangannya menopang tubuhnya, sementara tangan lainnya mengusap darah di sudut bibirnya.
Perlahan, Chongyue mengangkat kepala. Tatapannya langsung tertuju kepada Xuan Yang.
Baru sekarang dia menyadari bahwa serangan yang menghantamnya tadi berasal dari pria itu.
Sorot matanya sedingin es, dipenuhi kebencian yang telah dipendam tubuh ini selama bertahun-tahun.
"Kalau hari ini aku tidak mati..." ucapnya lirih, tetapi suaranya tetap terdengar jelas oleh semua orang, "suatu hari nanti, aku akan membantai seluruh keluarga Xuan."
Kalimat itu membuat suasana seketika membeku.
Bahkan Xuan Yang ikut terdiam. Dia tidak menyangka kebencian Chongyue terhadap keluarganya sudah sedalam itu.
"Kakak keduamu hanya bertukar jurus denganmu, tetapi kau justru berniat membunuhnya!" bentak Xuan Yang dengan wajah muram. "Bagaimana mungkin aku memiliki putri yang berhati kejam sepertimu?"
Chongyue mendengus pelan. Dia meludahkan sisa darah di mulutnya sebelum menatap Xuan Yang tanpa rasa takut.
"Berhati kejam?" Senyum sinis perlahan muncul di wajahnya. "Putramu mengerahkan seluruh kekuatannya untuk membunuhku. Lalu kau sendiri menyerangku diam-diam dari belakang."
Tatapannya semakin tajam.
"Kalau aku disebut kejam... kalian jauh lebih kejam dariku."
Mendengar itu, Xuan Yang semakin marah. "Anak kurang ajar!"
Tatapannya dipenuhi niat membunuh yang tidak lagi disembunyikan.
"Sepertinya aku memang tidak bisa membiarkanmu tetap hidup! Hari ini, di hadapan Putra Mahkota, aku sendiri yang akan mengakhiri nyawamu!"
Ancaman Chongyue barusan bukan sekadar luapan emosi.
Xuan Yang tahu bahwa jika gadis itu dibiarkan hidup dan suatu hari benar-benar menjadi kuat, keluarga Xuan pasti akan menghadapi bencana besar.
Karena itu…
Dia harus mati hari ini!
Putra Mahkota?
Chongyue melirik sekilas ke arah pria berjubah biru yang berdiri di belakang Xuan Yang. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum mengejek.
Baru sekarang dia teringat.
Bukankah Xuan Qingqing tadi datang membawa dekrit pembatalan pertunangan sambil mengatakan bahwa Putra Mahkota bahkan tidak sudi menemuinya?
Namun, sekarang pria itu justru berdiri di sini.
Chongyue benar-benar tidak mengerti.
Apa istimewanya pria seperti itu?
Saat dia berusaha bangkit sekali lagi, Xuan Yang tiba-tiba mengangkat telapak tangannya.
Gelombang energi yang kuat langsung menyapu seluruh halaman.
Tatapan Chongyue membeku.
Tubuhnya sudah hampir tidak memiliki tenaga untuk bergerak. Xuan Yang adalah seorang seniman beladiri tingkat tujuh. Dalam kondisi seperti ini, mustahil baginya menghindari serangannya.
Jika telapak tangan itu mengenai tubuhnya, dia pasti akan mati.
Di atas dahan pohon yang rimbun, Bei Mingye baru saja selesai membaca seluruh isi surat yang ditinggalkan ibu Chongyue.
Dia melipat kembali kain tua itu dengan tenang, lalu memasukkannya bersama kotak kayu ke dalam cincin penyimpanannya.
Setelah itu, pandangannya kembali tertuju ke bawah.
Chongyue masih berlutut di tanah. Gaun putih yang dikenakannya telah dipenuhi bercak darah.
Namun, yang menarik perhatian Bei Mingye bukanlah luka-lukanya.
Liontin kristal biru yang menggantung di leher Chongyue memantulkan cahaya lembut di bawah sinar matahari.
Tatapan Bei Mingye langsung berubah.
Tanda teratai merah yang disebutkan dalam surat itu...
Kalung liontin kristal biru yang dikenakan gadis itu...
Dalam sekejap, seluruh potongan ingatan yang sebelumnya terasa tidak berhubungan akhirnya tersusun menjadi satu.
Wanita yang ditemuinya di pegunungan sebulan lalu...
Ternyata adalah Xuan Chongyue!
Tanpa berpikir panjang, Bei Mingye mengambil topi bambu hitam dari cincin penyimpanannya untuk menutupi wajahnya.
Detik berikutnya, tubuhnya melesat turun dari atas pohon.
BUK
Tepat ketika telapak tangan Xuan Yang hampir mengenai tubuh Chongyue, sesosok bayangan tiba-tiba muncul di hadapannya.
Tidak ada melihat bagaimana pria itu bergerak.
Yang mereka lihat hanyalah tubuh Xuan Yang tiba-tiba terpental ke belakang akibat sebuah tendangan yang begitu kuat.
BRAK
Tubuh Xuan Yang mundur beberapa meter sebelum akhirnya berhasil menjejakkan kakinya kembali di tanah.
Melihat kepala keluarga mereka terpukul mundur hanya dengan satu serangan, ketiga tetua langsung bergegas menghampirinya.
Sementara itu, Chongyue mendongak menatap sosok yang kini berdiri tepat di hadapannya.
Meskipun wajah pria itu tertutup topi bambu hitam, dia langsung mengenalinya.
Bei Mingye.
Sorot mata Chongyue sedikit berubah.
Bukankah pria itu tadi hanya berniat duduk di atas pohon sambil menonton?
Mengapa sekarang dia justru turun tangan menyelamatkannya?
Apa pun alasannya, dia baru saja menyelamatkan nyawanya.
"Siapa kau?" tanya Xuan Yang sambil menatap tajam pria di hadapannya. Nada suaranya dipenuhi kewaspadaan.
Hanya dengan satu tendangan, lawannya mampu memukul mundur dirinya.
Artinya, kekuatan pria ini setidaknya berada di tingkat yang sama dengannya, atau bahkan lebih tinggi.
Yang membuatnya semakin bingung adalah satu hal.
Bagaimana mungkin Xuan Chongyue mengenal orang sekuat ini?
Bahkan Putra Mahkota yang sejak tadi hanya menjadi penonton kini ikut mengalihkan pandangannya kepada Bei Mingye.
Tatapannya dipenuhi pertimbangan, seolah sedang berusaha menebak identitas pria misterius itu.
"Istana Shiyue." Suara Bei Mingye terdengar datar.
Setelah mengucapkan dua kata itu, dia mengeluarkan sebuah token emas dan melemparkannya ke arah Xuan Yang.
Xuan Yang menangkapnya.
Begitu melihat karakter ‘Shi’ yang terukir jelas di permukaannya, wajahnya langsung berubah. Tangannya bahkan sedikit gemetar.
"Istana Shiyue..." gumamnya pelan dengan wajah pucat.
Nama itu bagaikan petir yang menyambar di siang bolong.
Istana Shiyue merupakan organisasi pembunuh bayaran yang paling ditakuti di seluruh Benua Timur. Selama harga yang dibayarkan cukup, mereka bahkan berani menerima misi untuk membunuh seorang kaisar.
Di dalam organisasi itu, para pembunuh terbagi menjadi empat tingkatan, yaitu Emas, Perak, Perunggu, dan Besi. Semakin tinggi tingkatan token yang dimiliki seseorang, semakin tinggi pula kedudukannya di dalam Istana Shiyue.
Pemilik token emas memiliki status yang sangat tinggi. Jumlahnya juga sangat sedikit.
Adapun Pemimpin Istana Shiyue sendiri merupakan sosok yang sangat misterius. Tidak ada yang mengetahui identitas maupun keberadaannya.
Banyak tokoh besar pernah berusaha menemuinya, tetapi tidak ada yang berhasil.
Bahkan Putra Mahkota pernah beberapa kali berkunjung untuk meminta pertemuan. Namun, setiap kali datang, dia selalu pulang dengan tangan kosong.
Karena itu, siapa pun yang memiliki hubungan dengan Istana Shiyue bukanlah orang yang bisa diremehkan.
Xuan Yang kembali menatap pria bertopi bambu di hadapannya. Jantungnya berdegup semakin cepat.
Dia benar-benar tidak mengerti.
Mengapa seorang pembunuh bayaran tingkat Emas dari Istana Shiyue menampakkan diri hanya untuk menyelamatkan seorang gadis yang selama ini dikenal sebagai sampah?
"Maaf... bolehkah saya bertanya..." Nada bicara Xuan Yang berubah jauh lebih sopan. "...apa hubungan Anda dengan Xuan Chongyue?"
Chongyue menyunggingkan senyum tipis melihat perubahan sikapnya yang begitu jelas
Tadi, pria ini masih memanggilnya anak kurang ajar dan bahkan bersumpah akan membunuhnya. Sekarang, nada bicaranya berubah begitu sopan hanya karena sebuah token.
Di dunia ini, ternyata kekuatan memang lebih dihormati daripada hubungan darah.
"Apa hubungan dia denganku bukan urusanmu." Suara Bei Mingye tetap terdengar datar. "Namun, ada satu hal yang perlu kau ingat. Sekarang, dia berada di bawah perlindungan Istana Shiyue."
Kalimat sederhana itu membuat seluruh halaman kembali hening.
Semua orang membelalakkan mata.
Bahkan Putra Mahkota yang sejak tadi hanya mengamati situasi juga menunjukkan keterkejutan.
Xuan Xi menatap Chongyue dengan ekspresi tidak percaya. Dia benar-benar tidak memahami apa yang sedang terjadi.
Seorang sampah tak berguna seperti dia ternyata dilindungi oleh Istana Shiyue?
Apakah orang-orang Istana Shiyue sudah kehabisan pekerjaan sampai mau mengurusi sampah seperti dia?
Bukankah itu terlalu konyol?
Bukan hanya Xuan Xi.
Xuan Qing, ketiga tetua keluarga Xuan, bahkan Putra Mahkota juga memiliki pikiran yang sama.
"Kalau terjadi sesuatu padanya..." Suara Bei Mingye kembali terdengar. "...Istana Shiyue tidak akan membiarkan keluarga Xuan lolos begitu saja."
Mendengar itu, wajah Xuan Yang semakin pucat. Dia tahu itu bukan sekedar ancaman biasa.