Lusia Irene seorang dokter yang sedang sekolah spesialis onkologi di salah satu rumah sakit polisi. Karena dokter pembinanya adalah seorang polisi. Di usianya yang sudah dua puluh tujuh tahun Lusia belum perna membuka hatinya buat hadirnya seorang laki - laki. Karena traumanya atas rumah tangga orangtuanya yang berpisah karena adanya orang ketiga. Papanya berselingkuh di usianya sudah enam belas tahun. Apakah Lusia Irene bisa merasakan cinta hadir di kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Direktur Utama
Keputusan yang berat bagi Gio dia mengundurkan diri dari kedinasannya di kepolisian untuk melanjutkan usaha keluarganya. Saat ini pangkat Gio Abraham sudah Komisaris Polisi (Kompol) Intelejen. Dokter Lusi Irene Pong juga dimintai keterangan perihal pengunduran suaminya dari kesatuan polisi. Dua minggu merupakan hari yang melelahkan bagi Gio dan Lusi. Sahabat Gio, dokter Agus sangat menyesali keputusan Gio, karena kariernya di kepolisian sangat bagus. Namun dia tetap menghargai keputusan sahabatnya ini.
Hari senin dalam upacara disinilah Gio Abraham resmi menjadi warga sipil. Bukan karena indisipliner namun karena keinginan ingin mengurus usaha keluarganya. Semua letting serta perwira tinggi di kepolusian, tahu betul usaha keluarganya. Dan mereka salut kepada Gio meskipun dia terlahir sebagai anak orang kaya, namun dia tidak sombong.
Dengan resminya Gio Abraham di berhentikan secara terhormat, maka bersamaan dengan itu dokter Lusia Irene Pong atau disapa di organisasi dengan sebuatan nyonya Gio Abraham pun di non aktifkan sebagai pengurus ibu - ibu Bhayangkara. Baju seragam Gio di copot dan dia menggunakan seragam sipil biasa. Lusi melihat ada sepenggal tetesan air yang keluar dari mata suaminya. Biar bagaimana pun kecintaan Gio terhadap kesatuan ini besar.
Dari awal setelah selesai sekolah, papanya mau menyekolahkannya ke Amerika namun Gio menolak karena dia sudah lolos akademi kepolisian. Namun papanya memberi waktu kepadanya bahwa di kesatuannya hanya sampai dia menikah. Setelah itu harus fokus kepada usaha keluarga. Bukan Gio tidak perduli dengan usaha keluarganya, dia tetap aktif meskipun lebih banyak waktu asistennya Dio yang berperan di perusahaan. Hari ini, dia akan mempunyai banyak waktu di usaha keluarganya.
Selain kami berdua ada juga papi dan mami juga Lui saat upacara ini. Dan selesai semua acara kami pulang bersama.
"Kamu sedih sayang." Gio menatap istrinya, lalu dicium bibir itu.
"Sedikit cintaku. Tetapi akan menghilang rasa sedih itu. Karena ada kamu di sampingku."
"Adek senang, mas bisa antar jemput adek."
"Mas malah bisa gendong kamu sampai ruangan kamu sayang."
"Mas lebay." Gio tersenyum, lalu dia mencium bibir istrinya didepan mami dan papinya, juga Liu anaknya. Pikirannya adalah kebahagiaan keluarganya.
Posisi Direktur Utama hari ini akan dijabat langsung oleh Gio Abraham. Kami semua hadir dalam acara penyerahan jabatan baru di Adiguna Grup kepada Gio Abraham dihadapan para direksi. Yang diketuai oleh Samuel Abraham papinya sendiri. Bersama Mami Hany dan Kakak Rahel yang juga memiliki saham di perusahaan ini. Dan hari ini Gio resmi menjadi direktur utama Adiguna Grup. Posisinya dulu sebagai wakil kakaknya sekarang ditempati oleh Dion orang kepercayaannya.
Saat ini Gio sedang melihat ruangan kerja barunya. Ditemani istri tercinta. Orangtuanya sudah pulang, rencananya mau menjemput Lui disekolah. Papi Samuel memang sudah bertekat untuk pensiun dari perusahaan, semua tugasnya akan di ganti oleh Gio ditemani Rahel dan juga Dion mantan asistennya.
"Mas, ini ruangan apa??"
Lusi tidak sengaja mendorong pintu kamuflase yang disambarkan oleh lemari.
"Itu kamar buat istirahat."
"Kok ada kamar di ruangan mas."
"Kalau mas lembur, mas bisa gunakan." Lusi menatap suaminya. Tatapannya tajam ke arah Gio. Dan Gio tahu istrinya dalam mode curiga. Namun Gio lagi senang mengoda istrinya.
"Lembur.... Bisa digunakan. Maksudnya??"
"Mas kan ngak mungkin pulang subuh ganggu kamu." semakin digoda istrinya. Mata Lusi semakin melotot.
"Aku nyesal kamu berhenti dari kepolisian." Gio tertawa, langsung dia memeluk istrinya. Karena dia melihat mata istrinya sudah mulai berair maka dicium kedua mata itu.
"Ruangan itu, akan mas gunakan bersama kamu. Seperti sekarang." Gio langsung mengendong istrinya. Dan tadi dia sudah sempat mengunci pintu ruangannya. Gio meletakan tubuh istrinya di atas kasur itu. Kemudian dia melancarkan aksi mesumnya kepada istri tercinta.
"Mas ini di kantor loh."
"Terus... Masalah dimana?? Bukannya ade mau tahu fungsi ruangan ini buat mas."
"Mas...."
"Mas ngak bisa ditolak sayang. Junior mas sudah meronta."
Tidak menunggu waktu lama, Lusi tidak bisa menolak keinginan suaminya. Dia menolak kecuali kondisinya dia sedang datang bulan. Dan saat ini tubuh Lusi sudah tidak menggunakan alat kontrasepsi, semenjak suaminya berhenti secara terhormat dari kesatuannya dulu. Lusia Irena Pong sudah melepasnya. Gio dan Lusi sudah tidak menggunakan sehelai kain pub di tubuh mereka. Penyatuan sudah terjadi, Junior Gio sudah berada dalam posisi nyamannya. Suara tubuh menyatu sudah memenuhi ruangan dua kali dua setengah ini yang lengkap dengan kamar mandi didalamnya dan perlengkapan kamar tidur lux. Dua ronde Gio Abraham membuat istrinya dokter Lusia Irene Pong tertidur pulas. Gio ke kamar mandi membersihkan dirinya dan berganti dengan pakaian baru yang sudah tersedia. Tubuh polos istrinya yang tanpa berkain sudah dia selimuti. Gio tersenyum melihat banyak sekali tanda cinta di tubuh istrinya.
"Hallo deddy, mommy mana??'
"Mommy lagi bobok sayang."
"Dikantor deddy?? Kasihan mommy bobok di kursi."
"Ngak sayang, di ruangan deddy ada kamar khusus buat mommy dan Liu bobok."
"Seperti hotel dong."
"Iya, biar deddy kerja kalau lagi banyak ada kamu dan mommy temani."
"Oke deddy. Nanti kalau mommy bangun beritahu Liu telepon ya."
"Iya sayang."
"Soalnya Liu, opa, Oma, Antie dan Uncle mau ke Singapore, mas Kellen besok kan ulang tahun."
"Kapan berangkat??"
"Lima menit lagi mau ke bandara Halim deddy."
"Iya, besok deddy dan mommy nyusul."
"Oke."
Pesanan makanan yang Gio pesan sudah tiba. Sekertaris lama dari jaman papi menjadi direktur utama mengantar.
"Maaf pak, saya antar pesanan makanan bapak."
"Iya, terima kasih. Kamu taruh saja disitu."
"Apakah tidak saya bantu sajikan."
"Tidak usah. Kamu boleh keluar. Nanti biarkan istri saya saja." Susi kaget, waktu mendengar bahwa istri bosnya ada di ruangan ini.
Susi adalah mantan sekretaris papinya Gio. Apa yang dia lakukan bersama papinya Gio tahu. Dan Gio berencana mau mengantikan posisinya sekarang.
"Dion, kamu bisa cari sekretaris saya yang baru."
"Susi pak, dia sudah berpengalaman dari mengurus tuan besar."
"Kamu cari Lusi menghilang dari saya." Dion tertawa.
"Siap bos. Angga yang akan mengantikan posisi Susi, dan Susi akan di pindahkan ke bagian administrasi."
"Segera lakukan Dion, sebelum nyonya besar bangun tidur."
"Siap bos."
Angga adalah orang yang membantu Dion sebagai asisten Gio dulu. Dan Gio Abraham kenal betul dengannya.
Susi waktu menerima surat pindah tugas, merasa sedih. Namun dia sadar, bosnya bukan Samuel Abraham, melainkan Gio Abraham. Dia masih bekerja di perusahaan ini saja dia sangat bersyukur .
Lusi sudah bangun. Gio kaget begitu mendengar namanya di panggil oleh istrinya. Dia berlari ke kamar khusus itu. Ternyata Lusi kaget dengan tanda cinta berwarna merah diseluruh tubuhnya.
"Jadi apa tubuhku ini." Gio tertawa namun tetap memeluk istrinya.
"Jadi punya mas."
"Mas... Adek seperti macan." Gio tambah tertawa.
"Macan, Mama Cantik kan."
"Ah... Mas ini kalau disekitar tubuh ini bisa di tutup dengan baju, kalau leher di tutup pakai apa mas. Mana tandanya banyak lagi."
"Ngapain di tutup. Itu tanda cinta mas."
"Kalau staf kamu lihat atau staf rumah sakit lihat, mereka mengira aku baru melakukan hal mesum."
"Memang benar, kan baru selesai kita lakukan. Dua ronde malah. Kamu hebat sayang."
"Mas.......