Di usia 23 tahun, Intan yang introvert mulai cemas karena tak kunjung ada pria yang melamarnya. Desakan rasa takut itu membuatnya nekat mengunduh aplikasi pencari jodoh.
Di sana, ia terbuai manisnya perhatian seorang pria. Namun, setelah rasa percaya terbangun, Intan justru kena tipu. Uang tabungannya sebesar dua juta rupiah raib, dan pria itu menghilang begitu saja.
Bukan soal nominal uangnya, melainkan pengkhianatan yang meremukkan harga diri dan kepolosannya. Malam itu, di depan cermin, Intan menyapu sisa air matanya. Gadis lugu dan penakut dalam dirinya telah mati.
"Kamu salah pilih korban," bisiknya dingin.
Luka itu menjelma dendam. Intan bersumpah akan mengejar penipu itu ke mana pun demi menuntut balas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Rahasia Sang Penolong
Cahaya matahari pagi menembus kaca patri megah Restoran Gran Via, membiaskan kilau keemasan di atas meja perjamuan eksklusif hotel bintang lima tersebut.
Denting halus cangkir porselen dan alunan musik klasik instrumental menciptakan atmosfer kemewahan yang tenang—sebuah panggung sempurna yang disiapkan oleh Baskora Wijaya untuk mengeksekusi jebakan terbesarnya.
Baskora duduk anggun dengan setelan jas abu-abu buatan penjahit kelas atas.
Di sampingnya, dua draf dokumen berlogo Nusantara Development Group terikat rapi dengan pita emas.
Pria tua itu menyunggingkan senyum kemenangan saat melihat Intan Saputri melangkah memasuki area privat restoran.
Intan tampil sangat menawan sekaligus tegas. Ia mengenakan blus putih berbalut blazer blazer hitam bergaris halus, rambutnya terikat rapi ke belakang.
Di belakang Intan, Maya mendampinginya dengan membawa sebuah tas kerja kulit yang tampak tebal.
"Selamat pagi, Mbak Intan, Mbak Maya"
Sapa Baskora seraya berdiri dan mengulurkan tangannya dengan gaya seorang taipan yang amat dermawan.
"Senang sekali melihat tepat waktunya mitra bisnis masa depan kita."
"Selamat pagi, Pak Baskora."
Sahut Intan seraya menjabat tangan Baskora secara formal tanpa sedikit pun getaran ragu.
Mereka duduk berhadapan. Seorang pelayan menyajikan teh camomile hangat sebelum Baskora menyenggol pelan berkas dokumen di atas meja.
"Sesuai pembicaraan kita, Mbak Intan"
Ujar Baskora dengan intonasi berat yang menghipnotis dan teramat ramah.
"Di dalam dokumen ini tertera persetujuan uang muka lima puluh persen—sebesar satu koma lima miliar rupiah—yang akan langsung ditransfer ke rekening Katering Barokah begitu lembar adendum penjaminan ini ditandatangani."
Baskora membuka halaman terakhir dokumen, menyodorkan sebuah pena eksklusif berujung emas ke arah Intan.
Di balik meja, jemari Baskora mengetuk-ngetuk paha—sebuah gestur ketidakberkesabaran seorang predator yang sudah melihati mangsanya siap melangkah ke dalam jerat.
Namun, Intan tidak menyentuh pena emas tersebut. Ia menatap lurus ke dalam mata Baskora dengan binar ketenangan yang teramat dingin.
"Sebelum saya menandatanganinya, Pak Baskora."
Panggil Intan dengan suara yang mendadak membuat suasana meja menjadi hening.
"Saya ingin memastikan satu hal."
"Apakah draf adendum ini adalah draf yang sama dengan yang Anda diskusikan dengan pengacara Anda kemarin malam untuk menyedot aset operasional Zona Empat?"
Senyuman manis di wajah Baskora seketika membeku. Matanya membelalak kaget.
"Apa... apa maksud Mbak Intan?"
Tanya Baskora, mencoba tertawa kecil untuk menutupi riak panik yang mendadak muncul.
Sebelum Baskora sempat melanjutkan kebohongannya, Maya di samping Intan membuka tas kerjanya.
Ia meletakkan sebuah komputer tablet di atas meja dan memutar sebuah rekaman suara yang sangat jernih.
“Jangan cemas... Begitu dia lihat draft cek atas nama perusahaannya besok pagi, dia pasti langsung menandatangani pelimpahan aset proyek Zona Empat...”
Suara Baskora sendiri bergema keras dari pengeras suara tablet, membuat wajah pria tua itu berubah pucat pasi dalam hitungan detik.
"Kamu... dari mana kamu dapat rekaman ini?!"
Bentak Baskora, ketenangannya hancur luluh. Pria itu berdiri dari kursinya dengan amarah yang meledak.
Di saat yang bersamaan, empat petugas berpakaian dinas kepolisian dari Satuan Reserse Kriminal Pidana Khusus melangkah cepat memasuki area privat restoran, dipimpin langsung oleh Rendra Wijaya.
"Baskora Wijaya."
Tegas perwira polisi seraya menyodorkan surat perintah penangkapan.
"Anda ditahan atas tuduhan percobaan penipuan berskala besar, pemalsuan dokumen konsorsium, dan tindak pidana pencucian uang berdasarkan bukti audit forensik dan rekaman internal yang kami terima."
Baskora melangkah mundur, menatap Intan, Maya, dan Rendra dengan tatapan penuh kebencian dan kebingungan yang teramat sangat.
"Tidak mungkin... Siapa yang memberikan berkas internal itu pada kalian?!"
Dari balik pilar tinggi restoran, Dewi—sekretaris pribadi Baskora—melangkah keluar.
Wanita muda itu berdiri tegak di samping Rendra, menatap Baskora dengan keberanian yang tak lagi bisa dipatahkan.
"Saya yang memberikannya, Pak Baskora"
Ujar Dewi dingin.
"Untuk keadilan almarhum kakak saya, dan untuk semua orang yang pernah Anda hancurkan."
Baskora terdiam membatu. Kedua tangannya gemetaran saat petugas kepolisian memasangkan borgol di pergelangan tangannya.
Sang serigala tua akhirnya tumbang di atas panggung kemewahan yang ia ciptakan sendiri.
Sore harinya, suasana di kantor Katering Barokah terasa sangat hangat. Kemenangan mutlak atas runtuhnya jaringan penipuan Baskora Wijaya menjadi berita utama di portal media bisnis lokal.
Nama Intan Saputri kini diakui bukan sekadar sebagai pengusaha katering yang sukses, melainkan sebagai sosok wanita tangguh yang tak bisa digoyahkan oleh kejahatan korporasi.
Setelah Rendra dan Dewi pamit untuk menyelesaikan proses penyidikan di kantor kepolisian, tinggal Intan dan Maya yang tersisa di ruang kerja ruko.
Intan menuangkan cangkir teh hangat, menyodorkannya pada Maya yang sedang menatap keluar jendela kaca.
"Terima kasih untuk semuanya, Mbak Maya"
Ujar Intan tulus.
"Tanpa bimbingan dan taktik dingin dari Mbak Maya sejak hari pertama kita bertemu di stasiun bus, saya tidak akan pernah bisa sampai di titik ini."
Maya memutar tubuhnya, menyesap teh hangat itu seraya menyunggingkan senyuman tipis yang sarat akan makna mendalam.
"Kamu belajar dengan sangat cepat, Intan"
Kata Maya pelan.
"Tapi hari ini, karena semua ancaman besar sudah selesai... ada satu hal yang harus kamu ketahui."
Intan memicingkan matanya pelan, menangkap perubahan intonasi bicara Maya yang mendadak sangat personal.
"Hal apa, Mbak Maya?"
Maya melangkah mendekati meja kerja Intan. Ia meraih tas kulitnya, merogoh saku bagian dalam, lalu mengeluarkan sebuah foto tua bersudut agak kusam dan meletakkannya di atas meja di hadapan Intan.
Intan menunduk menatap foto tersebut.
Di dalam foto itu, tampak sosok ayah kandung Intan saat masih muda di Desa Sukamaju, berdiri bersampingan dengan seorang wanita muda yang mengenakan seragam kepolisian dengan senyuman hangat.
Wajah wanita muda di foto tua itu... sangat mirip dengan Maya.
Jantung Intan seketika berdesir hebat. Matanya membelalak menatap foto itu, lalu beralih menatap wajah Maya yang berdiri di hadapannya.
"Mbak Maya... ini..."
Suara Intan bergetar, tertahan di tenggorokan.
Maya mengembuskan napas pelan, mengulas rahasia sang penolong yang selama ini tersimpan rapat di balik ketegasan sikapnya.
"Wanita di foto itu adalah almarhumah ibu kandungku, Perwira Polisi Larasati"
Tutur Maya dengan suara yang mendadak berubah menjadi sangat lembut dan emosional.
"Dua puluh tahun lalu di Desa Lao-Lao, ayahmu adalah satu-satunya saksi kunci yang berani membantunya membongkar kasus perampasan tanah warga lokal, meskipun ayahmu harus menanggung ancaman dari para penguasa jahat saat itu."
Intan menahan napasnya, air mata mulai menggenang di sudut matanya saat mendengar potongan sejarah keluarga yang tak pernah ia ketahui sebelumnya.
"Pertemuan kita di stasiun bus waktu itu bukan sekadar kebetulan, Intan."
Lanjut Maya seraya menggenggam kedua tangan Intan dengan kehangatan seorang kakak kandung.
"Saat aku mendengar putri dari pria pemberani yang pernah menolong ibuku sedang berjuang sendirian di kota ini akibat ditipu Ardiansyah..."
"Aku berjanji pada diriku sendiri untuk berdiri di sampingmu, mengajarkanmu cara melawan, dan memastikan kamu tidak akan pernah dihancurkan oleh serigala mana pun di kota ini."
Air mata Intan menetes perlahan menyeberangi pipinya—bukan air mata kesedihan atau ketakutan, melainkan air mata keharuan dan rasa syukur yang teramat mendalam.
Ternyata, perjalanan panjangnya menuntut keadilan tidak pernah ia tempuh seorang diri.
Kebaikan dan keberanian ayahnya di masa lalu telah menabur benih perlindungan yang kini kembali padanya dalam wujud aliansi tak tergoyahkan bersama Maya.
Intan memeluk Maya dengan erat di tengah keheningan ruko yang hangat.
Takdir telah menuntaskan perburuan mereka, menyingkap seluruh kebenaran, dan mengukuhkan ikatan persahabatan mereka menjadi sebuah warisan keberanian yang abadi.
*
*
*
Jangan lupa like, komen dan subscribe😉
ceritanya bikin penasaran
rugi, mereka yg g baca karyamu
walau Maya aj belum bisa menguak siapa pelakunya