"Mas Akball itu mobilan Aqil balikin ngga!" teriak sebuah suara cempreng dari arah ruang tengah.
"Bukan! Ini punya Mas Akbar! Kemarin Aqil udah main yang warna merah, sekarang Mas yang biru!" balas Akbar
Sejak perceraiannya tiga tahun lalu, Abi memang mantap untuk tidak mempekerjakan ART. Ia ingin merawat dan membesarkan kedua buah hatinya dengan tangannya sendiri, meski statusnya sebagai duda beranak dua sering kali menguras energi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Dinda mematung di tengah ruang tamu, matanya bergantian menatap Abi dan pintu keluar yang terbuka lebar. Rasa malu, marah, dan gengsi berbaur menjadi satu di dadanya. Tanpa sanggup mengucap sepatah kata pun untuk membela diri, ia merogoh tas bermereknya, mengambil kacamata hitam, lalu memakainya untuk menutupi sorot matanya yang bergetar.
Dengan langkah terhentak-hentak dan dada membusung panik, Dinda berjalan keluar menuju mobil mewahnya. Suara deru mesin mobil yang dinyalakan kencang hingga decitan ban yang meninggalkan debu di halaman rumah menjadi tanda berakhirnya kekacauan pagi itu.
Di dalam kamar, suasana perlahan kembali tenang. Bu Marni mengelus dadanya yang naik turun, mencoba menenangkan amarahnya.
"Alhamdulillah... akhirnya keluar juga wanita tidak tahu diri itu," gumam Bu Marni pelan.
Kayla duduk di samping Akbar dan Aqil yang masih kelihatan syok. Ia mengusap punggung Akbar pelan sambil menyendokkan kembali sup hangat. "Sudah ya, Mas Akbar... Tantenya sudah pulang kok. Jangan takut lagi, ya?"
Akbar menatap Kayla lalu mengangguk pelan, menyandarkan kepalanya sejenak di lengan Kayla sebelum akhirnya mau menerima suapan sup itu lagi.
Tak lama setelah suasana berangsur membaik, Bu Sulastri dan Kayla pun berpamitan. Abi dan Bu Marni mengantar mereka hingga depan teras rumah dengan menguncapkan terima kasih yang tak terhingga atas bantuan dan makanan yang dibawakan.
Dalam perjalanan pulang menyusuri jalan setapak desa, Kayla berjalan beriringan di samping ibunya sambil menenteng rantang kosong.
"Bu..." panggil Kayla pelan, memecah keheningan.
"Opo, Nduk?" sahut Bu Sulastri sambil menoleh.
"Sing tadi iku... beneran mamanya Mas Akbar karo Aqil ta, Bu?" tanya Kayla penasaran.
Bu Sulastri menghela napas panjang lalu mengangguk. "Iyo, Nduk. Iku Dinda, mantan bojone Abi."
"Kok tega ya, Bu?" gumam Kayla pelan. "Bertahun-tahun ditinggal gitu aja, begitu balik malah bikin anak-anaknya ketakutan."
"Ya gimana ndak takut, Wong Dinda itu ninggalin mereka dari kecil pas masih bayi," ujar Bu Sulastri menggeleng-gelengkan kepala. "Ya mana kenal anak-anaknya sama dia sekarang. Heboh dulu sekampung dengar kabar dia kabur ninggalin Abi sama anak-anaknya demi laki-laki lain."
Bu Sulastri mengibaskan tangannya pelan. "Wis lah, Nduk... Ndak usah terlalu dipikirin atau dijadike masalah kehidupan rumah tangganya orang lain. Ora elok."
Kayla mengangguk pelan. "Iya, Bu."
"Nanti sampai rumah, kamu langsung berangkat ke warung ya," suruh Bu Sulastri kemudian. "Tolong belikan bawang merah sama cabe buat bumbu masak siang nanti."
"Mana uangnya, Bu?" jawab Kayla sambil mengulurkan telapak tangannya.
Bu Sulastri merogoh saku daster sederhananya, mengambil dompet kecil, lalu menyerahkan beberapa lembar uang kertas kepada Kayla. "Iki duwite. Kembaliane catet yo, ojo digawe jajan."
"Siap, Bu," sahut Kayla menyunggingkan senyum.
Sesampainya di rumah dan menaruh rantang, Kayla langsung berjalan menuju warung Bu Yati di ujung gang desa. Suasana warung pagi itu cukup ramai.
"Eh, Kayla! Mau belanja opo, Nduk?" sapa Bu Yati ramah.
"Beli bawang merah seperempat sama cabe rawit lima ribu, Bu Yati," jawab Kayla sopan.
Saat Bu Yati sibuk menimbang bawang, beliau mendadak menghentikan tangannya. Dengan senyum dikulum dan kerlingan mata menggoda, wanita paruh baya itu menatap Kayla.
"Tak perhatikan... kamu belakangan ini rajin banget ya ke rumahnya Abi. Gimana, Nduk? Sudah siap mau jadi mamanya Akbar karo Aqil ta?" goda Bu Yati disambut tawa kecil beberapa ibu-ibu yang ikut mengantre.
Wajah Kayla seketika merona merah. Ia buru-buru menggelengkan kepala pelan, mencoba meluruskan prasangka Bu Yati.
"Nggak, Bu... kebetulan saja itu," sahut Kayla canggung sambil tersenyum tipis. "Bapak kan kerja di sawahnya milik Mas Abi."
Melihat respons Kayla yang terlihat malu-malu meski mencoba mengelak, Bu Yati terkekeh pelan sambil melanjutkan membungkus cabenya.
"Halah... udah, ndak usah malu gitu, Nduk," tambah Bu Yati tersenyum hangat, lalu menyerahkan plastik belanjaan itu ke tangan Kayla. "Kembaliannya pas ya, Nduk."
Kayla menerima plastik belanjaan tersebut sambil mengucapkan terima kasih, lalu berburu-buru jalan pulang dengan dada yang berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya.