Saat membuka matanya, Clarissa Wilson tidak mengingat, kapan dia telah menikah dengan Stephen Sylvester, lelaki yang sudah lama ia suka.
Clarissa ingat, kalau ia baru saja menyatakan rasa sukanya pada Stephen, di acara kelulusan Sekolah mereka, tapi.. kenapa tiba-tiba saat membuka mata, ia sudah memiliki seorang putri berusia lima tahun bersama Stephen?
Apa yang sebenarnya terjadi? Clarissa merasa ada yang ia lewatkan, begitu ia terjatuh saat ingin memeluk Stephen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 35.
"Jangan-jangan dia... !"
"Diam!!" Stephen tidak ingin mendengar apa yang akan dikatakan Bastian selanjutnya.
Stephen membuka sabuk pengamanannya dengan gerakan sedikit di sentak.
Raut wajahnya mengeras memandang ke arah Clarissa yang telah melangkah pergi.
Ia kemudian membuka pintu mobil.
"Eh! mau kemana kamu?!" tanya Bastian, "Apa kamu tidak jadi dinas ke luar kota lagi?!"
Stephen tidak menjawab Bastian, ia pergi dengan langkah kaki lebar dengan geraham terkatup dengan erat.
Sementara itu Clarissa melangkah sendirian di jalan pulang, berpikir dan bergumam sendiri.
"Apa aku perlu memberitahu Stephen, kalau aku sudah dapat kerja, ya?"
Clarissa memandang lurus ke depan sembari berpikir, "Mm.. sudahlah! tidak usah dulu! kalau nanti sudah ada hasilnya, baru aku beritahu padanya!"
Tiba-tiba ia berpikir untuk melakukan sesuatu, "Aku mau beli hadiah dulu untuknya, biar dia senang!"
Clarissa mempercepat langkahnya tidak sabaran untuk segera membeli Stephen sebuah hadiah.
Malam hari di kediaman Stephen.
Stephen masih bekerja menghadap laptopnya, duduk di kursi kerjanya sedang menerima panggilan telepon.
"Kamu setuju? baik! besok aku ke sana!" jawab Stephen pada seseorang dalam ponselnya.
Clarissa mengendap-ngendap di belakangnya sembari tersenyum, melangkah mendekatinya membawa sepiring buah yang sudah dipotong bersih.
"Nanti aku kabari kamu, ya!" Stephen menutup panggilan ponselnya, lalu meletakkan ponsel ke atas meja kerjanya.
Clarissa berdiri di sampingnya sedari tadi sembari memperlihatkan senyumannya.
"Ada apa?" tanya Stephen datar melirik Clarissa.
"Ta da!" Clarissa memperlihat sesuatu, yang sedari tadi ia pegang di belakang punggungnya ke hadapan Stephen.
Sebuah kotak jam tangan, dan Stephen dengan wajah datarnya acuh tak acuh melihat apa yang diperlihatkan Clarissa padanya.
"Ini hadiah untukmu, yang aku beli waktu jalan-jalan sore tadi!" kata Clarissa tersenyum senang, lalu membuka kotak jam tangan untuk diperlihatkan nya kepada Stephen.
Stephen memalingkan wajahnya, tidak begitu tertarik dengan hadiah yang diberi Clarissa.
Pikirannya masih teringat siang tadi, saat Clarissa bertemu dengan Sekretaris Ethan Grayson.
Dan ia merasa Clarissa hanya berpura-pura telah berubah.
"Kenapa tiba-tiba terpikir memberi aku hadiah!" dengan suara datar, dan tidak memandang hadiah yang diperlihatkan Clarissa, Stephen bertanya acuh tak acuh.
Melihat Stephen begitu dingin, tidak tertarik dengan hadiah yang ia beri, senyum Clarissa seketika menghilang.
Raut wajahnya berganti menjadi cemberut melihat sikap acuh tak acuh Stephen.
"Memangnya kalau memberi hadiah, harus ada alasan tertentu? aku hanya senang ingin beli hadiah untuk kamu!" jawab Clarissa.
Wajah Stephen yang berpaling menoleh memandang Clarissa, "Apa tidak ada yang ingin kamu katakan kepada ku?"
Clarissa memandang Stephen lekat, ia merasa sikap Stephen terlalu cepat berubah, dan sangat menyebalkan.
Ia merasa mereka sudah berbaikan, tapi kenapa sekarang sikap Stephen membuatnya menjadi kesal.
Mereka saling menatap tidak berkedip.
Clarissa mengedipkan matanya, lalu menutup kotak jam tangan itu dengan kesal.
"Tidak ada yang ingin ku katakan! kalau kamu mau terima hadiah yang kuberikan, ambil saja! tapi, kalau kamu tidak mau terima, buang saja!!"
Clarissa membanting kotak jam tangan itu ke atas meja kerja Stephen, dengan menaikkan suaranya, dan dengan wajah yang terlihat marah.
Stephen diam saja melihat apa yang dilakukan Clarissa.
Begitu ia membanting kotak itu ke atas meja kerja Stephen, Clarissa dengan langkah cepat pergi dari sana.
Tapi kemudian ia berbalik lagi mengambil piring buah, yang tadi ia berikan untuk Stephen, dan membawanya kembali pergi dari sana.
Stephen tetap diam saja melihat Clarissa membawa piring buah itu pergi.
Wajahnya datarnya menjadi dingin, dengan sorot mata dingin tidak perduli apa yang dilakukan Clarissa.
Ia melihat kotak jam tangan itu, lalu meraihnya, dan kemudian melemparnya jauh dari hadapannya.
Bersambung.......
ihhh gemesss deh kenapa gk saling jujur gtu. atau komunikasi kek bir gk salah paham... 😭
memang benar sekertaris nya ettan berbohong.baru aj mulai baikan udah mau salah paham lagi...