Seorang gadis 14th merelakan masa remajanya demi bisa masuk ke organisasi Phantom agar bisa membalas dendam kematian kakaknya. Misi pertama mendekati empat cucu Alexander Starling Gruop.
Demi keberhasilan misi Irish menggunakan apa saja termasuk mempermainkan perasaan targetnya.
Dendam nomer satu, perasaan nomer sekian!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Usu dedek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
malam yang mengubah segalanya
Jakarta, Desember 2012.
Malam tahun baru.
Duar.. duar .... duaarrrr....
Dentuman suara letusan kembang api bersautan saling sambar di langit malam. Kilauan pecahan kemercik sinaran api yang cantik silih berganti di udara malam yang sangat meriah.
Begitu ramai. Alun-alun kota Jakarta di penuhi lautan manusia yang berdesakan. Parkiran kendaraan roda dua dan roda empat memenuhi area. Berbagai macam manusia dengan rupa, warna kulit, agama dan suku, berbaur menjadi satu. Alun-alun kota di penuhi lautan manusia dari berbagai penjuru.
Banyak di antaranya pasangan sejoli, anak muda, pasutri, bahkan anak-anak yang tampak ceria menyaksikan pemandangan tersebut sambil bersorak.
Malam ini, aku ingin sekali bebas, tanpa ada yang mengatur, atau mencegahku pergi.
Namun, keramaian dan meriahnya malam tahun baru itu malah menjadi malam yang penuh kepahitan untukku. Malam itu, benar-benar mengubah segalanya dalam hidupku.
******
Saat itu, aku hendak menyaksikan malam puncak tahun baru bersama teman-temanku di bundaran HI kota Jakarta. Aku sudah bersiap berangkat. Pakaian serba rapi, rok pendek selutut motif kotak-kotak dengan balutan kemeja putih dan rambut hitam panjangku terurai cantik. Aku duduk di pinggir teras sambil memasang sepatu putih.
Tiba-tiba sebuah panggilan telpon dengan bertuliskan nomer asing di layar, masuk. Handphoneku di atas tas bergetar hebat. Aku hanya melirik ke layar dari jauh. Panggilan entah dari siapa tak begitu ku hiraukan. Tidak ada namanya, pikirku itu hanya panggilan spam atau iseng saja. Aku kembali memasukan hp kedalam tas kecil yang ku letakkan di atas ubin.
Truuurrrrttt ... Truuurrrrrttt ... Truuurrrrrttt...
Handphone ku bergetar kuat lagi, memang sengaja aku silent, hanya mode getaran. Niatku ingin bebas malam ini, tanpa ada satupun gangguan. Namun, panggilan itu tak henti, handphoneku terus berdering. Aku mulai risih dan berniat membanting ponsel itu.
*****
Aku, seorang remaja berusia 14th yang baru beberapa bulan lulus SMP, aku tidak punya orang tua lagi. Saat usiaku 8 tahun, kedua orang tuaku mengalami kecelakaan kerja di salah satu kantor pemerintah. Keduanya tidak selamat, kini aku hanya hidup berdua dengan seorang kakak perempuan, yang kini bekerja di luar negeri sebagai seorang konsultan ahli gizi di salah satu perusahaan makanan instan di New York.
Dreeeeetttt .... Dreeettt ... Dreeetttt ...
Handphone ku kembali bergetar.
Aku mengangkat hp tersebut dan melihat ke arah layarnya.
Keningku mengkerut, "Siapa sih yang nelpon malam-malam begini?"
Aku sedikit risih dengan panggilan itu dan menggerutu halus.
Setelah berkali-kali panggilan tersebut ku abaikan, aku jadi penasaran. Hatiku terbesit, apa jangan-jangan itu panggilan penting. Aku buru-buru mengangkat panggilan itu.
"Halo ... "
Tanpa jeda, suaraku langsung di sambut oleh suara berat seorang pria.
"Apa benar ini Irish vanderick?"
Pertanyaan itu membuat jantungku berdebar. Aku berhenti bernafas beberapa detik. Suaranya terdengar berat dan serius. Tiba-tiba seseorang yang tak ku ketahui siapa, mengetahui namaku. Dari nada bicaranya menggunakan bahasa asing. Aku mencoba menjawab sebisanya.
"Ya benar,"
"Kami sudah mengirimkan email, dan tiket ke Los Angeles, pesawat anda akan terbang dalam waktu 2 jam lagi. Segera bersiap untuk menjemput jenazah saudara anda, Isha Vanderick."
"Je ... jenazah ... A ... apa yang ... " aku tergagap setelah mendengar kabar mengejutkan tersebut. Begitu tiba-tiba, tanpa aba-aba.
"Ya ... Isha Vanderick.. ditemukan meninggal dunia empat hari yang lalu, dalam keadaan yang kurang baik. "
"A.. apa ... maksudnya? Bagaimana mungkin? Siapa yang meninggal? Tolong jelaskan!"
Nada bicaraku meninggi, aku ingin kejelasan, tapi penelpon itu hanya menyampaikan sedikit dari informasi yang bisa ku cerna.
"Setengah jam lagi akan ada yang menjemput anda untuk ke bandara, bersiaplah nona!"
Kata-kata itu lebih tepatnya adalah perintah, bukan informasi. Aku masih terkejut. Otakku berhenti berfikir.
"Hei ... katakan ... apa ... "
"Jangan sampai terlambat, jika anda ingin bertemu jenazah."
Tuuutttt ....
Secara sepihak panggilan itu di matikan. Belum sempat aku bertanya lebih lanjut. Hatiku seketika kacau. Tak sempat bertanya apapun atau tau kejelasan apapun lagi, panggilan itu mengubah seluruh rencanaku. Aku panik, memikirkan menjemput jenazah kakakku sendiri.
"Apa yang terjadi ...?"
Dadaku penuh sesak, pikiranku tak karuan, air mataku perlahan jatuh berlinang. Aku bingung, apa yang harus aku persiapkan secara mendadak ini.
Aku buru-buru masuk ke kamar dan mengemas beberapa pakaian. Pikiranku benar-benar berantakan, entah apa yang ku dengar barusan. Bagaimana mungkin tanpa kabar apapun, tiba-tiba saudaraku satu-satunya meninggal? Dan aku di minta untuk menjemput jenazah kakakku di LA.
Ya tuhan, aku kacau sekali. Aku terburu-buru mencari koper. Aku isi dengan beberapa pakaian dan perlengkapan mandi. Aku juga membawa beberapa document penting, sekiranya nanti akan di perlukan. Saat menata pakaian di dalam koper, aku tak lupa membawa fotoku bersama kakak saat di taman hiburan.
Itu adalah foto saat aku berusia sepuluh tahun. Satu-satunya kenangan terakhir bersama saudara perempuanku. Hampir empat tahun kakak tidak pernah pulang ke Jakarta, setiap di tanya dia hanya mengatakan kalau tidak bisa cuti. Aku yang hanya anak kecil baginya, harus percaya dengan semua bualan itu.
Beberapa detik memandangi foto tersebut, tiba-tiba air mataku berderai. Aku teringat akan kebersamaan kami. Hatiku benar-benar hancur. Aku sungguh tidak tau apa-apa. Kenapa tiba-tiba kakak meninggalkan aku selamanya. Aku tak ingin percaya perkataan orang tersebut, tapi tidak mungkin itu bualan.
Aku terduduk sambil memeluk foto itu, benakku hanya terbayang saat terakhir kakak pergi ke bandara sambil melambaikan tangan dan tersenyum. Selama ini aku hidup di biayai kakak, dan aku menumpang di rumah tante sebelah ibu.
Aku menangis tersedu-sedu, bayangan wajahnya selalu ada di pikiranku.
"Kakak, apa ... apa yang terjadi? Aku tidak percaya.. .. tidak mungkin kakak pergi meinggalkan aku sendiri."
Air mataku jatuh membasahi lantai. Aku masih tersedu-sedu. Antara ingin percaya dan syok, panik, semua menjadi satu. Wajahku berantakan. Hanya air mata yang tampak membasahi pipi.
Titiit .... titit ..... Sebuah klakson mobil terdengar nyaring dari lantai bawah.
"Iris ... jemputannya sudah siap. Segera turun, nak ... !" panggil tanteku dari lantai bawah.
Rupanya tante sudah di beri tahu oleh penelpon tadi tentang kabar duka itu. Aku yang sempat tak percaya akan kabar itu jadi semakin bingung dan panik.
"Apa ... jemputan? Secepat itu?"
Benar saja, belum sempat aku merapikan wajahku yang kusut, jemputan dari telpon tadi sudah datang dan menunggu di bawah beberapa menit yang lalu. Aku bergegas. Tanpa bertanya apapun aku langsung masuk ke dalam mobil dan kendaraan itu melesat di jalan.