NovelToon NovelToon
OBSESSION SANG TUAN MUDA

OBSESSION SANG TUAN MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Obsesi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nurfazilah Cell

Gadis polos yang dunia nya hancur, saat kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tua nya, di saat paling rapuh ia jatuh kedalam pelukan pria berkuasa sekaligus pemimpin gelap

Bagis pria itu gadis kecil ini adalah hak mutlak , satu satu nya obsession yang tak pernah ia lepas kapan pun

"Kau milik ku gadis kecil, selama nya semua yang ada padamu itu milik ku tidak akan pernah menjadi milik orang lain, sayang, " ucap nya dengan penuh obsession

Gimana kah cerita nya ,dari pada penasaran kuy baca novel aku 😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurfazilah Cell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13. Obsesif

Hari-hari berlalu lambat seperti mengalirnya getah pohon, namun bagi Alesha rasanya setiap detik terasa berat dan penuh tekanan. Sudah sebulan lebih sejak operasi itu, dan perban di kakinya masih terpasang rapat — kaku, terasa panas sesekali, dan menjadi pengingat terus-menerus bahwa ia tidak lagi menguasai tubuhnya sendiri.

Pagi itu, seperti biasa, Aiden masuk ke kamar tanpa mengetuk terlebih dahulu. Langkahnya tenang, membawa nampan berisi sarapan, obat, serta minuman hangat. Begitu matanya menangkap sosok Alesha yang duduk termenung menatap jendela, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang terasa salah tempat.

Ia meletakkan nampan di meja samping tempat tidur, lalu berlutut tepat di depan kursi roda gadis manis nya itu, meraih kedua tangannya dan menggenggamnya erat seolah takut Alesha akan lenyap begitu saja.

“Selamat pagi, gadis manisku… Tidur nyenyak semalam?” tanyanya lembut, tapi genggamannya tidak melonggar sedikit pun.

Alesha memalingkan wajah, berusaha melepaskan tangannya pelan.

“ Kak Aiden… lepaskan,Alesha tidak butuh digenggam terus begini, ucap Alesha kesal

Namun bukannya melepaskan, genggaman Aiden malah makin kuat. Ia menarik tangan itu ke dadanya sendiri, membiarkan telapak tangan Alesha menempel di jantungnya yang berdetak cepat dan tidak teratur.

“Kenapa bicara begitu dingin, sayang? Ini hak Aku. Setiap inci tubuhmu, setiap hembusan napas mu, semuanya milik Aku. Ingat apa yang dikatakan dokter? Kakimu butuh waktu bertahun-tahun… bahkan mungkin tidak akan sembuh sepenuhnya. Siapa lagi yang akan menjagamu selain aku?”

Alesha mengangkat wajah, matanya merah karena menahan tangis, dan untuk pertama kalinya ia memberanikan diri menatap lurus ke mata Aiden.

“Kak Aiden senang, kan? kak Aiden diam-diam senang melihat kaki Alesha menjadi begini… Sekarang Kak Aiden punya alasan untuk mengurungku selamanya, bukan?” suaranya bergetar, penuh amarah yang tertahan.

Reaksi Aiden berubah sedikit — senyumnya tidak hilang, tapi tatapannya menjadi lebih tajam, lebih dalam, dan penuh keyakinan yang menyimpang. Ia mengangkat satu tangan, mengusap pipi Alesha dengan lembut yang berubah menjadi cengkeraman halus yang tidak bisa dihindari.

“Senang? Tentu saja Aku senang, Alesha… Jangan berbohong kalau kau tidak melihatnya sendiri. Dulu kau terus mencari celah untuk pergi, terus melirik ke luar sana seolah dunia di luar itu lebih baik daripada pelukan Aku Dan apa hasilnya? Kau jatuh, terluka, hampir menghancurkan dirimu sendiri. Dunia luar itu hanya akan melukaimu, tapi Aku ? Aku hanya ingin memelukmu sampai kau tidak bisa bergerak ke tempat berbahaya itu lagi, ujar Aiden tajam

“Tapi ini hidup Alesha, Aku ingin berjalan, ingin belajar, ingin melihat hal lain selain dinding kamar ini!” bentak Alesha, air matanya akhirnya tumpah deras. “Ini bukan cinta, Kak Aiden! Ini penjara!, Teriak Alesha iya sungguh sudah muak mendengar kata kata itu terus yang keluar dari mulut Aiden, Kali ini Alesha sudah tidak takut lagi hanya ada kebencian yang datang terus menerus

Kata-kata itu seolah memicu sesuatu di dalam diri Aiden. Napasnya memendek sebentar, lalu ia mendekatkan wajahnya sampai jarak antar hidung mereka hanya beberapa senti saja — udara yang keluar dari mulutnya terasa panas dan membebani wajah Alesha.

“Bukan cinta? Kalau bukan cinta yang sebesar ini, lalu apa namanya hmm gadis manis ku?!” suaranya naik sedikit, namun tetap terkontrol, berubah menjadi bisikan yang bergetar karena emosi yang meluap. “Kau pikir kenapa Aku rela menghentikan semua urusan bisnis hanya untuk duduk di sampingmu siang dan malam? Kenapa Aku bayar dokter sebesar itu dan larang siapa pun berbicara? Karena Aku tidak bisa hidup jika ada kemungkinan sedikit saja kau lepas dari pandangan Aku, ujar Aiden tegas penuh Emosi iya tidak suka Alesha berteriak pada nya, ingin sekali iya menghukum gadis manis nya itu tapi kondisi Alesha sekarang tidak bisa Aiden juga takut Alesha nya kenapa napa karena nya , jadi iya berusaha untuk menahan nya sebisa mungkin

Ia memegang kedua sisi kursi roda, mengunci posisinya agar Alesha tidak bisa bergerak sedikit pun.

“Dengar baik-baik, Alesha… Mulai saat kakak melihatmu tumbuh menjadi gadis, dunia kakak berhenti berputar pada hal lain selain dirimu. Dulu kakak masih menahan diri, masih memberi ruang bodoh itu supaya kau merasa ‘bebas’. Tapi lihat akibatnya? Kebebasan hanya membuatmu mencoba lari menjauh dari satu-satunya orang yang benar-benar mengerti betapa berharganya dirimu!”

“Jadi menurutmu… merusak kakiku adalah cara untuk mencintaiku?” tanya Alesha dengan suara tercekik, tubuhnya gemetar hebat.

Aiden menggeleng pelan, lalu kembali mengusap rambutnya dengan tatapan yang tampak seperti memuja.

“Bukan kakak yang merusaknya, sayang… ini takdir yang membantu kakak. Takdir yang mengerti bahwa gadis selembut ini tidak boleh punya kaki yang bisa membawanya pergi dari sisiku. Sekarang semuanya jadi lebih sederhana: kau tidak bisa berjalan \= tidak bisa lari. Tidak bisa lari \= harus tetap di sini. Dan kalau kau tetap di sini, kakak bisa menjagamu, mengajari, memberi makan, memakaikan baju, bahkan memikirkan setiap nafas yang kau ambil — sampai tidak ada satu pun keinginan dalam hatimu yang tidak melalui kakak terlebih dahulu.”

Ia menunduk, mencium dahi Alesha lama sekali sebelum melanjutkan, suaranya menjadi lebih halus tapi jauh lebih berbahaya:

“Kau mau percaya atau tidak, ini adalah anugerah terindah yang pernah dikirimkan Tuhan untuk hubungan kita. Dulu kakak hanya bisa memilikimu secara hati… sekarang kakak memilikimu secara seutuhnya. Kau bergantung pada kakak untuk berdiri, untuk makan, untuk mandi, untuk tidur nyenyak… dan lama-kelamaan, hatimu pun akan belajar bergantung juga. Kau akan sadar: tidak ada yang bisa melayani mu sebaik kakak, tidak ada yang akan tahan melihatmu selemah ini selain aku, ujar Aiden, tegas, kemudian iya meninggalkan Alesha yang terisak pelan

................

Beberapa hari kemudian, saat Aiden sedang membantu Alesha menggerakkan kaki yang masih kaku sesuai saran dokter, Alesha memberanikan diri bertanya dengan suara hampir berbisik:

“Kalau Alesha sembuh dan bisa berjalan lagi suatu hari nanti… apa yang akan Kak Aiden lakukan padaku?

Gerakan tangannya berhenti seketika. Ruangan itu terasa hening dan dingin. Perlahan-lahan Aiden mengangkat wajahnya, dan kali ini tatapannya tidak lagi berusaha menyembunyikan kegelapan yang mendalam di balik matanya.

“Kalau? Sayang lupakan kata ‘kalau’ itu. Dokter sendiri bilang peluangnya sangat kecil. Tapi biar Aku jawab saja agar hatimu tenang… Jika — dan hanya jika — keajaiban itu terjadi dan kakimu bisa melangkah lagi… maka Aku akan memastikan ada alasan baru yang lebih kuat, lebih meyakinkan, supaya kau tetap merasa tidak sanggup melangkah ke mana pun selain mendekat ke arah Aku, jawab Aiden

Ia meremas pelan bagian paha yang masih terasa sakit itu, tatapannya tidak lepas sedikit pun dari wajah Alesha.

“Karena ,dengar janji Aku baik-baik sayang ? Selama jantung ini masih berdetak, selama otak ini masih bisa berpikir… satu hal yang pasti: kau tidak akan pernah, tidak akan pernah bisa lepas dari genggamanku. Entah dengan kakimu yang tidak bisa berjalan, atau dengan hatimu yang tidak bisa berhenti mencintaiku — salah satu dari keduanya harus terikat erat, sampai darah kita terasa mengalir di satu nadi yang sama.”

“Kenapa harus begini, kak Aiden? Kenapa tidak biarkan Alesha mencintai kak Aiden dengan cara Alesha sendiri, tanpa harus diikat begini?” isak Alesha, matanya terpejam rapat menahan rasa sakit di hati dan tubuh.

Aiden tersenyum lebar, senyum yang paling tulus yang pernah ia tunjukkan — namun justru menjadi tanda obsesinya yang mencapai puncak. Ia mendekatkan mulutnya tepat di telinga gadis manis nya itu, berbisik dengan nada lembut namun penuh kepemilikan mutlak:

“Karena cara mencintaimu yang ‘sendiri’ itu artinya masih ada ruang untuk memilih pergi dan mendekat kepada lelaki laik selain Aku Dan Aku tidak bisa, tidak akan pernah membiarkan gadis kesayanganku punya pilihan lain selain menjadi milikku sepenuhnya. Cinta yang sempurna itu bukan yang memberi kebebasan pergi… tapi cinta yang membuatmu sadar bahwa tempat paling aman dan paling dibutuhkan hanyalah di dalam penjara yang dibangun khusus hanya untuk kita berdua ini. Mengerti sekarang, Alesha?”

Sejak hari itu, setiap percakapan mereka selalu berjalan dengan pola yang sama: Alesha mencoba membantah, memohon, atau sekadar bertanya tentang kebebasannya dan Aiden akan menjawabnya dengan kata-kata manis yang memutar logika, mengubah setiap rasa sakit menjadi bukti kasih sayang, setiap keterbatasan menjadi alasan untuk makin dekat.

Ia bahkan mulai membuat aturan baru yang diucapkannya seolah janji suci:

✅ “Setiap kata yang keluar dari mulutmu harus didengar dan disetujui Aku terlebih dahulu.”

✅ “Tidak ada pertanyaan tentang sekolah, teman, atau dunia luar lagi — itu hanya membawa luka.”

✅ “Saat kau merasa sedih atau kesakitan, satu-satunya obat adalah pelukan dan kata-kata Aku saja.”

.................

Malam itu, setelah selesai menyuapi Alesha minum obat penenang, Aiden tidak segera pergi. Ia mendorong kursi roda itu ke sisi tempat tidur, lalu mengangkat tubuh Alesha dengan hati-hati dan berbaring bersamanya, menarik selimut menutupi mereka berdua rapat sekali.

Alesha mencoba menjauh, namun tubuhnya yang lemah tidak bisa melawan. Aiden melingkarkan kedua tangannya erat di tubuh gadis manis nya yang memiliki tubuh mungil itu, menempelkan kepalanya Alesha di dada nya

“Tenang saja… tidurlah, sayang. Besok pagi Aku akan membawamu ke taman belakang yang sudah ditutup rapat pagar dan dikelilingi tembok tinggi. Hanya ada bunga yang Aku tanam sendiri, tidak ada jalan keluar ke jalan raya. Itu dunia barumu sekarang — indah, tertutup, dan hanya milik kita berdua.”

Ia mengecup ubun-ubunnya, lalu berbisik sebagai penutup yang membuat tulang punggung Alesha terasa dingin:

“Selamat terikat, gadis manisku. Mulai hari ini sampai ke hari terakhir kehidupan kita, kau tidak akan pernah merasakan apa lagi selain kehadiran Aku… dan Aku pun tidak akan pernah membiarkan udara lain selain nafasmu yang masuk ke paru-paruku. Kita adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan lagi, selamanya.”

Di luar sana, bintang bersinar terang menerangi jalan-jalan yang luas dan bebas, namun di dalam kamar itu, bintang terakhir yang bisa dilihat Alesha hanyalah sorot mata Aiden yang tak pernah lepas mengawasinya penuh obsesi yang tumbuh makin besar, makin gelap, dan mengikatnya tanpa sisa jalan keluar lagi.

Bersambung

Thank you yang sudah baca cerita oyen 😊

1
🦊 Ara Aurora 🦊
Gue jadi keingat dulu pas gue kecil dulu ayahku pasti jarang pulang gimana mau pulang eh jauh sekali tempat kerjanya yah maklumlah namanya juga cari nafkah ayah ku 😅 sorry yah gue nggak tahu mau komen apa nih
Nurfazilah Cell: iya gak papa kak 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!