NovelToon NovelToon
Gadis yang Terbuang

Gadis yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Kirana

Delapan belas tahun yang lalu, seorang gadis kecil bernama Taotao hilang di tengah keramaian festival lampion. Keluarga Wijaya — salah satu dinasti paling berkuasa di Jakarta — tidak pernah berhenti mencari.

Seline tidak ingat apa-apa tentang malam itu. Yang dia tahu: orang tua angkatnya sudah meninggal, adiknya butuh sekolah yang layak, dan satu-satunya pilihan adalah menumpang di rumah besar keluarga Hartono — bibi jauhnya yang ternyata punya agenda tersembunyi.

Di rumah itu, Seline belajar bertahan. Dari tatapan merendahkan sepupu-sepupu, dari jebakan bibinya yang ingin menjodohkannya dengan anak tiri, dari rivalnya yang cantik dan licik. Tapi juga — dari tatapan Kevin Hartono yang tidak pernah bisa dia baca.

Kevin adalah pewaris utama. Dingin. Tidak tersentuh. Semua orang takut padanya.

Tapi dia yang pertama menyadari surat palsu di kamar Seline. Dia yang berlari menembus api saat festival meledak. Dan dia yang diam-diam menyimpan lukisan karya "Tao" — tanpa tahu pelukisnya tidur di sayap rumahnya sendiri.

Ketika kebenaran akhirnya terungkap — siapa Seline sebenarnya, siapa yang mencurinya dulu, dan mengapa Kevin bersikeras mempertahankannya — seluruh Jakarta akan tahu:

Gadis yang mereka buang... adalah pewaris yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 012

Surat

"Tenang saja, Seline. Tante akan memberi kamu masa depan yang baik."

Kalimat Tante Chen masih menempel di telinga Seline bahkan setelah perempuan itu pergi. Masa depan yang baik, di mulut Tante Chen, tidak terdengar seperti pintu yang dibuka. Lebih seperti kotak yang sudah disiapkan ukurannya, lalu ia tinggal dimasukkan ke dalamnya.

Seline kembali ke kamar belakang dengan langkah tenang, tetapi Darren langsung tahu ada yang tidak beres.

"Kakak dimarahi?" tanyanya.

"Tidak."

"Kalau tidak, kenapa wajah Kakak seperti habis minum obat pahit?"

Seline hampir tertawa, tapi tidak jadi. Ia duduk di tepi ranjang dan mengambil surat penerimaan sekolah Darren dari meja.

"Mulai besok kamu akan ikut kelas penyesuaian. Kita harus beli beberapa buku."

Darren tidak mudah dialihkan. "Tante Chen ngomong apa?"

"Hal orang dewasa."

"Aku benci kalau orang dewasa bilang begitu."

"Kakak juga dulu benci."

Jawaban itu membuat Darren diam. Ia duduk di sofa, memainkan ujung kertas penerimaan. Beberapa detik kemudian, ia berkata lebih pelan, "Kalau ada yang mau bikin Kakak susah, aku bisa pura-pura sakit supaya kita pulang ke Surabaya."

Hati Seline menghangat sekaligus sakit.

"Surabaya sudah tidak punya rumah untuk kita."

"Kita bisa sewa kamar kecil."

"Dan sekolahmu?"

Darren menggigit bibir.

Seline mendekat dan merapikan kerah bajunya. "Kita sudah sampai di sini. Kita tidak pulang hanya karena ada orang yang membuat kita tidak nyaman."

"Kalau lebih dari tidak nyaman?"

Seline tidak langsung menjawab. Di rumah ini, ancaman jarang datang dengan wajah marah. Ancaman datang dengan teh hangat, senyum, dan kata masa depan.

"Kalau lebih dari itu," katanya akhirnya, "Kakak akan cari cara."

Cara itu ternyata harus ia cari lebih cepat dari perkiraannya.

Keesokan siang, setelah mengantar Darren ke kelas penyesuaian pertama dengan bantuan Jason, Seline pulang ke rumah Hartono lewat pintu samping. Jason berhenti di teras karena harus menerima telepon. Seline masuk lebih dulu membawa daftar buku sekolah Darren.

Ruang tengah tidak sepi.

Tante Chen sedang duduk bersama Vivian dan Tante Liu, menikmati teh. Jessica ada di ujung sofa, tampak bosan sambil membolak-balik majalah. Wilson berdiri dekat meja, wajahnya dingin, memegang sebuah amplop putih.

Begitu Seline masuk, pembicaraan berhenti.

Seline menunduk sopan. "Siang, Tante."

Tante Chen tersenyum. "Baru pulang dari sekolah Darren?"

"Iya."

"Bagus. Sekolahnya cocok?"

"Darren masih menyesuaikan, tapi dia senang."

"Syukurlah." Tante Chen meletakkan cangkirnya. Matanya bergerak ke tangan Wilson. "Wilson, bukankah kamu punya sesuatu untuk Seline?"

Wilson tidak segera bergerak.

Seline melihat rahangnya mengeras, sama seperti saat Oma mengumumkan aturan pernikahan. Ia tidak tampak senang berada di sana.

"Ini," katanya akhirnya, menyodorkan amplop putih kepada Seline. "Dititipkan untukmu."

Seline tidak langsung mengambilnya. "Untuk saya?"

"Namamu tertulis di depan."

Memang ada namanya di sana. Seline. Hanya satu kata, ditulis dengan tinta hitam yang sedikit miring. Tidak ada alamat lengkap. Tidak ada nama pengirim. Tidak ada cap pos. Lebih aneh lagi, bagian perekat amplop itu sudah terbuka. Bukan terbuka rapi karena lupa dilem, melainkan seperti pernah ditutup lalu dibuka lagi.

Jari Seline berhenti di udara.

Vivian bersandar pada sofa. "Kok diam? Mungkin surat penting."

Jessica mengangkat mata dari majalah. "Kalau penting, kenapa lewat Ko Wilson?"

"Karena satpam memberikannya pada saya," jawab Wilson datar. "Saya kebetulan lewat pos depan."

Tante Chen tersenyum lembut. "Mungkin dari teman lama Seline di Surabaya."

Kalimat itu tidak salah, tetapi cara Tante Chen mengucapkannya membuat ruangan berubah. Teman lama. Dari Surabaya. Untuk gadis muda yang baru beberapa hari tinggal di rumah konglomerat.

Seline merasakan jebakan itu seperti benang tipis di bawah kakinya.

"Saya tidak tahu siapa yang mengirim," katanya.

"Tidak tahu?" Vivian mengulang, suaranya dibuat heran. "Aneh. Kalau seseorang sampai berani mengirim surat ke rumah Hartono, pasti dia cukup dekat."

Wilson melirik Vivian. "Jangan menambah cerita."

"Aku tidak menambah cerita. Aku cuma bertanya." Vivian mengangkat kedua tangan dengan wajah polos. "Sekarang kan jarang orang kirim surat. Biasanya kalau bukan penting, ya sangat pribadi."

Kata pribadi sengaja dibiarkan jatuh di tengah ruangan.

Tante Liu yang sejak tadi diam mulai menatap Seline dengan rasa ingin tahu. Salah satu pelayan yang menuang teh juga bergerak lebih lambat. Seline menyadari betapa cepatnya sebuah amplop bisa berubah menjadi cerita, bahkan sebelum isinya dibaca.

Di luar, suara mobil Jason terdengar berhenti di teras. Beberapa detik kemudian, Jason masuk sambil memegang ponsel.

"Kenapa ramai?" tanyanya, lalu matanya jatuh pada amplop di tangan Wilson.

Vivian tersenyum lebih lebar. "Ada surat untuk Seline. Katanya dari luar."

Jason mengerutkan kening. "Kalau surat untuk Seline, kenapa semua orang harus tahu?"

Untuk pertama kalinya, senyum Vivian hampir retak.

Tante Chen berkata lembut, "Tidak ada yang memaksa. Kami hanya khawatir. Seline anak perempuan yang baru datang. Kalau ada orang luar menghubungi tanpa jelas, tentu keluarga perlu tahu."

Keluarga.

Kata itu dipakai seperti selimut, tetapi Seline merasakan ujungnya menutup napas.

"Buka saja," Vivian berkata cepat. "Kalau tidak tahu, justru harus dilihat."

Jessica menutup majalah. "Surat orang lain tidak perlu dibuka di depan umum."

"Kita semua keluarga," Vivian membalas. "Apa yang harus disembunyikan?"

Seline menatap amplop itu. Kalau ia menolak mengambilnya, ia terlihat takut. Kalau ia membuka di depan mereka, apa pun isi surat itu bisa langsung menjadi bahan cerita. Kalau ia mengambil dan pergi, mereka tetap bisa berkata ia menyembunyikan sesuatu.

Wilson masih menyodorkan amplop itu. Matanya bertemu dengan mata Seline hanya sebentar. Di sana ada sesuatu yang tidak ia duga. Bukan simpati. Bukan pula permintaan maaf. Lebih seperti peringatan yang tertahan.

Jangan buka di sini.

Entah Seline membacanya benar atau hanya berharap begitu, ia memutuskan mengikuti nalurinya.

Ia mengambil amplop dengan dua tangan.

"Terima kasih, Ko Wilson. Saya akan membacanya di kamar."

Vivian langsung berkata, "Kenapa harus di kamar?"

Seline menoleh padanya. "Karena namanya surat untuk saya."

Ruangan hening sebentar.

Jessica menunduk, menyembunyikan senyum. Tante Liu pura-pura minum teh. Tante Chen tetap tersenyum, tetapi jari telunjuknya mengetuk cangkir satu kali.

"Tentu," kata Tante Chen. "Privasi anak perempuan harus dijaga."

Kalimat itu terdengar baik, tetapi justru membuat Seline semakin yakin bahwa surat ini memang bukan sekadar surat.

Ia membungkuk singkat dan berjalan keluar. Setiap langkah menuju lorong belakang terasa seperti melewati lantai kaca. Ia bisa merasakan mata Vivian mengikuti punggungnya. Ia juga tahu Tante Chen tidak akan membiarkan adegan itu berhenti begitu saja.

Di tikungan dekat taman, Jessica mengejarnya.

"Seline."

Seline berhenti.

Jessica melihat amplop itu. "Kamu tahu pengirimnya?"

"Tidak."

"Aku juga merasa aneh." Jessica merendahkan suara. "Vivian terlalu ingin kamu membukanya."

"Aku tahu."

"Mau aku ikut?"

Seline ingin mengatakan iya. Namun menyeret Jessica ke dalam masalah yang belum ia pahami bisa membuat gadis itu ikut terkena. Di rumah ini, satu saksi bisa menjadi pelindung, tapi juga bisa menjadi korban berikutnya.

"Tidak perlu. Tapi kalau nanti ada yang bertanya, kamu dengar sendiri tadi. Aku tidak tahu pengirimnya."

Jessica mengangguk. "Aku dengar."

Itu cukup untuk sementara.

Seline kembali ke kamar belakang. Darren belum pulang, sehingga ruangan kosong. Ia menutup pintu, menguncinya, lalu meletakkan amplop di atas meja seperti meletakkan benda tajam.

Ia tidak segera membukanya.

Pertama, ia memeriksa bagian luar. Tidak ada debu dari pos. Tidak ada bekas lipatan perjalanan. Amplopnya terlalu bersih untuk surat yang benar-benar dikirim dari luar. Tinta namanya juga belum terlalu kering sempurna, jika dilihat dari sedikit noda di sisi huruf terakhir.

Kedua, ia mencium samar aroma parfum yang sama dengan ruang teh Tante Chen.

Seline menahan napas.

Di rumah kontrakan Surabaya, ia pernah membantu ibu angkatnya memilah tagihan dan surat. Ia tahu bagaimana tampilan surat yang datang lewat pos. Ini bukan itu.

Sebelum menyentuh isi amplop, Seline mengambil ponsel dari laci dan memotret bagian depan, bagian perekat yang sudah terbuka, serta noda tinta di sisi namanya. Baterainya tinggal sedikit, tetapi tiga foto itu tersimpan. Ia juga mengambil satu kertas kosong dari buku catatan dan menyelipkannya di bawah amplop agar tidak ada bekas baru dari meja.

Ia tidak tahu apakah bukti kecil seperti itu akan berguna. Namun satu hal ia pelajari sejak kecil: orang miskin tidak bisa hanya mengandalkan kata "saya tidak bersalah". Kata-kata mudah kalah oleh suara orang yang lebih berkuasa. Benda yang diam kadang lebih jujur daripada manusia.

Setelah itu, baru ia duduk tegak.

Ia mengambil pisau kecil pemotong kertas dari kotak alat gambarnya. Perekat amplop sudah terbuka, tetapi ia tetap menyelipkan pisau di sisi samping agar tidak merusak bukti. Di dalamnya ada selembar kertas putih, dilipat dua.

Tangan Seline berhenti.

Ia membayangkan beberapa kemungkinan. Kata-kata cinta palsu. Janji bertemu. Nama pria yang tidak ia kenal. Kalimat yang cukup untuk membuat Oma kecewa, Tante Chen pura-pura sedih, Vivian menyebarkan cerita, dan Wilson didorong menjadi penyelamat yang “mau menerima” gadis bermasalah.

Dadanya sesak.

Namun ia tidak boleh takut pada sesuatu yang belum ia lihat.

Seline membuka lipatan kertas itu.

Kosong.

Tidak ada satu huruf pun.

Ia membalik kertas, memeriksa bagian belakang, mendekatkannya ke lampu meja. Tetap kosong. Hanya ada bekas lipatan halus dan satu titik kecil tinta hitam di sudut, seperti kertas ini pernah berada dekat sesuatu yang ditulis terburu-buru.

Seline duduk perlahan.

Jebakan itu nyata. Tetapi isi yang seharusnya menjebaknya sudah tidak ada.

Seseorang sudah mengganti isi surat itu lebih dulu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!