Tidak update harian!!
Zalina Asyara, seorang gadis muda yang harus menelan pahit kehidupan setelah ayahnya jatuh bangkrut dan terlihat hutang pada seorang rentenir. Ibunya memilih lari, meninggalkan ayahnya yang sudah jatuh bangkrut itu juga dirinya.
Zalina terpaksa bekerja sebagai pelayan restoran, untuk membantu ayahnya membayar hutang.
Namun, suatu hari, sepasang suami-istri kaya membawa sebuah lamaran pernikahan untuk Zalina.
mereka adalah kenalan lama ayahnya. Dulu, ayahnya pernah membantunya di saat mereka sedang kesulitan. Kini, saatnya mereka datang untuk membalas Budi.
Apakah Zalina akan menyetujui lamaran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyusun rencana
Hari demi hari berlalu begitu saja tanpa ada yang berubah. Kesehatan Reyhan perlahan juga berangsur membaik. Ia tidak lagi menggunakan kursi roda untuk bergerak, melainkan dengan bantuan sebuah tongkat. Gerakannya juga tidak lagi terbatas.
Ia mulai berlatih berjalan dan menggerakkan tangganya agar tidak lagi terasa kaku. Walaupun terkadang ia masih merasa nyeri ketika menggerakkan bagian tubuhnya.
Zalina tampak menjemur pakaian di halaman depan rumahnya. Sementara Reyhan duduk di halaman sekalian berjemur di bawah cahaya matahari pagi yang cukup terik pagi itu.
Tatapan Reyhan seketika beralih menatap putrinya. Gadis itu melakukan semua pekerjaan rumah tanpa sedikit pun mengeluh.
Kalau dipikir-pikir, Zalina bahkan hampir tidak pernah keluar rumah, selain untuk pergi berbelanja kebutuhan rumah. Ia tidak pernah terlihat meminta izin untuk pergi bersama teman-temannya, seperti yang biasa ia lakukan dulu saat mereka masih hidup berkecukupan.
"Nak." panggil Reyhan tiba-tiba.
Zalina lalu menoleh dan menatap ayahnya itu. "Ayah butuh sesuatu?"
Reyhan menggeleng pelan. "Tidak, Nak. Ayah cuma ingin tanya. Apa kau tidak ingin pergi jalan-jalan hari ini? Bersama Diandra atau temanmu yang lain?"
Zalina lalu tersenyum. "Tidak, Yah. Aku sedang tidak ingin pergi kemana pun."
Jawaban itu terdengar santai, seolah tidak ada sedikit pun beban di dalamnya. Reyhan tahu betul bagaimana sifat putrinya itu.
Gadis itu terlalu memendam perasaannya sendiri.
"Pergilah, Nak. Kau pasti merasa jenuh berada di rumah terus. Ayah sudah bisa menjaga diri, kok." bujuk ayahnya dengan penuh harap.
"Tapi..." Zalina malah tampak ragu melihatnya.
"Sudah, jangan khawatir. Pergilah dan bersenang-senang. Kau masih punya uang, kan?" tanyanya, memastikan.
"Ada, Yah. Tapi, itu untuk membeli keperluan rumah." jelas Zalina jujur.
Reyhan lalu merogoh saku celananya, dan mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu dari dalamnya. "Pakai saja uang ini." ia menyerahkan uang itu kepada Zalina.
"Ini uang dari mana, Yah?" tanya Zalina curiga. Mengingat jika selurih gajinya bulan lalu sudah ia serahkan pada Zalina.
Bulan ini tentu saja ia tidak mendapatkan gaji karena sedang cuti bekerja. Lalu, dari mana uang itu berasal.
Zalina memicingkan matanya, menatap lurus ke arah ayahnya yang kini tampak salah tingkah. "Apa paman Zafran memberikan uang pada Ayah?" tebaknya.
Reyhan terlihat semakin gugup, bahkan memalingkan wajahnya, sengaja untuk menghindari tatapan menyelidik putrinya.
"Ayah!" seru Zalina, menuntutnya.
Zafran lalu tersenyum canggung. "Mereka memaksa Ayah, Nak. Jadi, terpaksa Ayah menerimanya."
Zalina menghela napas panjang sejenak. "Tapi, Ayah..."
"Sudah, jangan dipikirkan. Ini yang pertama dan terakhir kita menerima pemberian dari mereka. Lain kali ayah akan langsung menolaknya dengan tegas. Oke?" bujuk Reyhan, berusaha menenangkan putrinya.
Gadis itu lalu mendengus pelan. "Baiklah. Tapi, janji ini yang terakhir." tuntutnya penuh ketegasan.
"Iya, Ayah janji." sahut Reyhan tegas. "Pergilah sekarang! Jangan pikirkan yang lainnya." pintanya, membujuk putrinya itu.
"Iya." sahut Zalina akhirnya setuju. "Tapi, kalau ada apa-apa, segera hubungi aku." perintahnya tegas.
"Siap, Nona." ucap Ayahnya penuh keyakinan.
Akhirnya Zalina segera menyelesaikan pekerjaannya dan bersiap-siap untuk pergi.
Ia lalu berpamitan pada ayahnya setelah selesai berdandan. Ia juga sudah menyiapkan makan siang untuk ayahnya dan berjanji akan segera pulang sebelum sore.
Kalau sudah begini, ia lebih mirip seperti seorang istri dari pada seorang anak.
Setelah benar-benar memastikan semua aman terkendali, akhirnya Zalina pergi dengan menaiki taksi online yang sudah ia pesan sebelumnya.
Sementara itu, di pusat kota, tepatnya di gedung Velora Foods Group, Kaiden dan ayahnya sedang rapat dengan beberapa jajaran direksi untuk membahas masalah pembelian pabrik tekstil milik Reyhan Aditya dan cara untuk membangunnya kembali.
Pabrik itu kini telah resmi di akuisisi oleh Velora Foods group. Yang tersisa sekarang, hanya satu hal : bagaimana menghidupkan pabrik itu kembali?
Aluna, sekertaris Kaiden, berdiri di dekat layar presentasi, menampilkan data kondisi pabrik saat ini.
"Struktur bangunan masih sangat layak, mesin produksi sekitar 80% bisa digunakan kembali, hanya perlu sedikit pengecekan karena sudah lama tidak beroperasi." jelasnya tenang. "Masalah utama ada pada manajemen lama yang tidak efisien dan distribusi yang kacau."
Direktur operasional tampak mengangguk. "Kalau begitu, fokus pada revitalisasi, saya sarankan kita tidak langsung menjalankan produksi penuh. Mulai dari satu lini dulu, produk yang paling cepat menghasilkan."
"Tekstil dasar?" tanya Zafran.
"Bukan," Kaiden langsung menyela. Ia menatap layar laptopnya, lalu beralih menatap semua orang yang ada di ruangan itu. "Kita tidak akan bermain di pasar murah lagi. Pabrik itu gagal karena bersaing di harga. Kita akan ubah posisinya, masuk ke tekstil premium."
Beberapa orang tampak merasa terkejut.
"Premium?" ulang direktur keuangan. "Itu artinya biaya awal lebih besar."
Zafran tampak tersenyum tipis dari kursinya. "Namun margin keuntungan jauh lebih tinggi." sahutnya santai.
Kaiden mengangguk. "Kita rebranding total. Mesin baru untuk kualitas kain yang lebih halus, kerja sama dengan desainer lokal maupun internasional. Dan distribusi kita alihkan ke pasar ekspor."
Direktur pemasaran mulai mencatat dengan cepat. "Kalau begitu kita perlu identitas baru untuk pabriknya. Nama lama sudah melekat dengan kegagalan."
"Velina Prime Textile."
Suara bariton Kaiden bergema dengan tegas dan jelas, memecah kesunyian yang sempat berlangsung beberapa detik. Semua orang seketika menoleh ke arahnya.
Zafran yang duduk di sampingnya, merasa familiar dengan nama itu. Ia lalu tersenyum tipis, nyaris tidak terlihat.
"Ya, itu nama yang bagus. Terdengar memberi kesan keunggulan dan nomor satu."
Para jajaran direksi tampak mengangguk cepat, penuh keyakinan dan harapan bahwa pabrik ini akan sukses dan menjadi nomor satu ke depannya.
Pembahasan terus berlanjut hingga akhirnya mencapai kesepakatan yang baru.
"Dalam satu tahun, pabrik ini harus kembali beroperasi penuh. Kita bisa memanggil kembali semua pekerja yang sebelumnya untuk menghemat waktu. Beberapa di antara mereka mungkin masih belum mendapatkan pekerjaan yang baru." lanjut Kaiden dengan suara rendah, namun penuh kendali.
Pria berkacamata itu tampak tersenyum tipis, dingin namun penuh keyakinan. "Kita tidak akan gagal untuk kedua kalinya."
*
*
Kaiden dan ayahnya kembali ke ruang kerja. Ia duduk di kursi kerjanya, sementara ayahnya duduk di sofa.
Pria berkacamata itu kembali tenggelam dalam pekerjaannya, namun tidak dengan Zafran. Sedari tadi ia tampak penasaran pada satu hal. Namun, ia ragu untuk bertanya.
"Kenapa menatapku begitu? Apa yang mau Papa tanyakan?" Kaiden tiba-tiba bertanya setelah melihat ayahnya hanya duduk diam sembari menatapnya tajam.
Anak ini memang sangat teliti.
"Jadi..." pria paruh baya itu mulai bertanya. "Kenapa kau memilih nama itu sebagai nama pabrik yang baru?"
"Tidak ada alasan apa-apa. Nama itu muncul begitu saja dalam kepalaku." jelas Kaiden tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya.
Zafran tentu saja tidak langsung percaya pada perkataannya. Mengingat jika ada nama "Zalina" di dalamnya.
"Kau menyukai gadis itu?"
Kaiden menoleh sejenak, lalu kembali fokus pada tumpukan kertas di tangannya. "Tidak." jawabnya tegas, tidak terlihat sedikit pun keraguan di dalamnya.
"Lantas?"
"Aku hanya menghargai paman Reyhan, Pa. Bagaimana pun pabrik itu adalah hasil kerja kerasnya. Setidaknya kita bisa mengapresiasi dengan mencantumkan nama putrinya di sana."
Hal itu memang terdengar masuk akal. Tapi, Zafran masih penasaran dengan satu hal.
"Kau... benar-benar tidak mau menikah dengan gadis itu?" tanyanya, seolah hendak memastikan keputusannya sekali lagi.
Zafran memang belum tahu kalau Kaiden sudah merubah keputusannya. Ia sudah setuju menikah dengan Zalina. Hanya saja gadis itu belum sepenuhnya setuju pada tawarannya.
"Tidak." jawab Kaiden datar. "Aku menginginkan pernikahan itu."
🥀🥀🥀
ini ya si pria yang merangkul kaiden kemarin ☺ centil juga orangnya...