NovelToon NovelToon
Suamiku yang "Gila" Ternyata CEO Dingin

Suamiku yang "Gila" Ternyata CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Reinkarnasi / CEO / Identitas Tersembunyi / Psikopat itu cintaku / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Keira Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam sebelum pernikahannya, dia akan memergoki tunangannya sendiri — Brandon Liem, pewaris Liem Group — sedang tidur dengan adik tirinya, Celine.
Tapi Keira bukan wanita yang bisa diinjak dua kali.
Alih-alih menangis dan memohon, dia mengambil ponselnya, merekam segalanya, dan memberikan ultimatum pada kedua keluarga:
*"Ganti pengantin prianya, atau ganti pengantin wanitanya."*
Pilihan jatuh pada Reynard Liem — kakak Brandon yang dikenal seluruh Jakarta sebagai pewaris yang "sudah gila" setelah kecelakaan mobil yang menewaskan kakeknya. Dia duduk di kursi roda, tidak bisa berbicara dengan benar, dan menghabiskan hari-harinya bermain Rubik sendirian di pavilion belakang rumah.
Semua orang menertawakan Keira. *"Menikahi orang gila demi balas dendam? Kasihan sekali."*
Tapi Keira tahu sesuatu yang tidak diketahui siapa pun.
Dia tahu bahwa tiga tahun dari sekarang, Reynard Liem akan bangkit kembali — lebih kuat, lebih kejam, dan lebih berkuasa dari sebelumnya. Yang perlu dia lakukan hanyalah menjaganya sampai saat itu tiba. Setelah itu, cerai, dan mereka berdua bebas.
Rencananya sempurna.
Sampai dia mulai jatuh cinta pada suaminya.
Sampai dia menyadari bahwa di balik tatapan polos dan kata-kata cadel itu, ada sepasang mata gelap yang mengawasinya — dengan obsesi yang tidak pernah dia sangka.
*"Kei mau pergi dariku? Tidak boleh."*
*"Selain di sisiku, kamu tidak boleh ke mana pun."*
Ternyata, Reynard Liem tidak pernah gila.
Dan dia tidak pernah berencana untuk melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20: Billboard

Kali ini, Reynard tidak berkata jelek.

Keira melihatnya lewat cermin. "Akhirnya ada yang lolos?"

Reynard menatap pantulan mereka berdampingan. Hitam dan putih. Kursi roda dan langkah tegak. Pria yang tampak polos dan perempuan yang mencoba terlihat tidak terlalu senang.

"Bagus," katanya pelan.

Naomi memekik kecil. "Aku dengar itu. Koh Rey bilang bagus!"

"Beli saja," kata Keira, cepat-cepat melepas outer putih sebelum wajahnya ikut berubah hangat. "Nao, jangan berlebihan."

"Aku tidak berlebihan. Ini sejarah."

Reynard memeluk jaket hitamnya seperti barang penting. "Kei beli?"

"Iya, aku beli."

"Untuk Rey?"

"Untuk siapa lagi?"

Matanya langsung melengkung sedikit. Keira pura-pura tidak melihat.

Pegawai butik membawa belanjaan mereka ke kasir. Naomi masih sibuk memilih aksesori kecil, sementara Reynard menolak semua topi yang ditawarkan Keira. Setiap kali Keira mengangkat satu topi, ia berkata jelek sebelum topi itu mendekati kepalanya.

"Kamu sangat sulit dimanjakan," keluh Keira.

"Rey mudah."

"Tidak."

"Kei beli, Rey senang."

Jawaban itu membuat Keira diam sebentar. Ia baru sadar Reynard tidak benar-benar peduli barangnya apa. Yang ia pedulikan adalah siapa yang memberikannya.

Setelah membayar, Naomi meminta membeli minuman. Keira melewati area atrium lantai dasar menuju toko kue kecil di dekat eskalator. Ia ingat Reynard belum makan banyak saat makan siang. Jika nanti mood pria itu turun, kue masih menjadi senjata sementara, meski sejak kemarin ia dengan dramatis bilang tidak mau kue.

Atrium mall cukup ramai. Ada panggung promosi skincare, beberapa banner tinggi, dan sebuah billboard digital besar yang dipasang di rangka metal dekat jalur utama. Seorang teknisi berdiri di tangga lipat, mengutak-atik kabel di sisi atas, sementara petugas mall meminta pengunjung melewati sisi lain.

Keira baru memesan dua potong cake ketika suara besi berderit terdengar.

Awalnya kecil.

Lalu keras.

"Minggir!" seseorang berteriak.

Keira menoleh.

Rangka billboard besar itu miring.

Di bawahnya, Naomi sedang kembali sambil membawa tiga gelas minuman. Reynard berada beberapa meter di belakangnya dengan kursi roda, tampak menunggu karena jalurnya terhalang stroller pengunjung.

Billboard itu jatuh ke arah mereka.

Semua terjadi terlalu cepat.

Keira berlari.

Ia tidak memikirkan tas, kue, atau rasa takut. Tubuhnya bergerak lebih dulu. Ia mendorong kursi roda Reynard ke samping dengan seluruh tenaga, lalu menarik lengan Naomi. Minuman tumpah ke lantai. Naomi terjatuh ke arah etalase, selamat dari rangka utama.

Ujung rangka metal tetap menyambar.

Keira mengangkat lengan untuk melindungi kepala Naomi. Sisi tajamnya menggores lengan bawah Keira sebelum rangka itu menghantam lantai dengan suara keras.

Jeritan memenuhi atrium.

Keira merasakan panas di lengannya, lalu basah.

"Kak Keira!" Naomi berteriak.

"Aku tidak apa-apa." Keira menggigit bibir, menekan luka dengan tangan lain. "Rey?"

Kursi roda Reynard berhenti miring di dekat pot tanaman. Ia menatap darah di lengan Keira.

Wajah polosnya kosong.

Sangat kosong.

Seorang petugas mall berlari mendekat. "Maaf, Bu! Kami akan panggil keamanan, kami..."

"Tutup area ini."

Suara itu membuat semua orang berhenti.

Reynard sudah berada sedikit lebih tegak di kursi roda. Tangannya mencengkeram lengan kursi. Matanya dingin, tidak seperti tadi di butik, tidak seperti di depan Keira, tidak seperti pria yang baru saja minta dibelikan jaket.

"Ambil rekaman CCTV. Jangan biarkan teknisi pergi. Panggil manajer mall, tim medis, dan polisi jika perlu. Siapkan laporan pemasangan rangka tiga bulan terakhir."

Petugas itu membeku. "Pak?"

"Sekarang."

Satu kata itu keluar rendah, tetapi lebih menakutkan daripada bentakan.

Naomi menatap Reynard dengan mata membesar. "Koh Rey..."

Reynard berkedip.

Seolah baru sadar siapa yang berada di sekitarnya, ia menunduk lagi. "Kei berdarah."

Naomi masih terpaku. Selama ini, Koh Rey dalam ingatannya adalah sepupu yang duduk diam di pojok keluarga, tersenyum lambat, dan dianggap tidak paham pembicaraan orang dewasa. Barusan, suara itu bukan suara orang yang tidak paham. Itu suara orang yang terbiasa ditaati.

"Nao," Keira memanggil sambil menahan luka. "Kamu terluka?"

Naomi tersentak. "Tidak. Aku tidak apa-apa."

"Jangan berdiri dekat rangka."

"Kakak yang berdarah masih sempat mengatur aku?"

"Karena kamu berdiri di tempat yang salah."

Keira tidak punya tenaga untuk mencurigai lebih jauh. Lukanya tidak dalam, tetapi cukup panjang. Darah mengalir ke pergelangan dan menetes ke lantai mall.

Manajer mall datang dengan wajah pucat. "Nyonya, kami benar-benar minta maaf. Kami akan bertanggung jawab penuh."

Keira menatapnya. "Pastikan orang yang memasang itu tidak hilang sebelum laporan selesai."

"Baik, Nyonya."

Reynard menatap manajer itu sekali lagi. Manajer tersebut langsung mengangguk dua kali, lebih cepat daripada saat menjawab Keira.

Mereka dibawa ke klinik mall lebih dulu, lalu atas desakan Naomi dan Reynard, ke RS Permata untuk pemeriksaan lengkap. Dr. Wahyu Tanoto datang sendiri setelah menerima telepon dari Evan, meski Keira belum sempat bertanya siapa yang memberi tahu Evan.

"Luka sayat dangkal," kata Dr. Wahyu setelah membersihkan luka. "Tidak perlu jahitan besar, tapi harus dijaga kering. Saya beri salep dan perban. Kalau demam atau bengkak, hubungi saya."

Naomi duduk di samping Keira, wajahnya masih pucat. "Ini salahku. Kalau aku tidak beli minuman..."

"Nao," Keira memotong lembut. "Itu bukan salahmu. Yang salah orang yang memasang rangka tanpa pengaman."

Reynard duduk diam di sisi lain. Sejak masuk rumah sakit, ia hampir tidak bicara. Matanya terus tertuju pada perban di lengan Keira.

Dr. Wahyu melirik Reynard, lalu cepat menunduk menulis resep. Sikapnya terlalu hati-hati untuk dokter yang katanya hanya dipanggil mendadak.

Keira menyimpan catatan itu di kepala.

"Dokter kenal Rey?" tanya Keira tiba-tiba.

Pulpen Dr. Wahyu berhenti sepersekian detik. "Saya pernah menangani beberapa pemeriksaan keluarga Liem."

"Begitu."

Jawaban itu masuk akal, tetapi terlalu siap. Keira tidak mengejar. Luka di lengannya berdenyut, Naomi masih gemetar, dan Reynard tampak seperti akan menggigit siapa pun yang bicara terlalu lama.

"Rey," panggil Dr. Wahyu pelan, "Nyonya Muda perlu istirahat malam ini."

Reynard mengangguk tanpa menatapnya. "Rey jaga."

Dr. Wahyu menunduk. "Baik."

Sebelum pulang, manajer mall menelepon tiga kali untuk meminta penyelesaian damai. Keira hanya meminta laporan tertulis, rekaman CCTV, dan bukti pemeriksaan instalasi. Suaranya tenang, tetapi Naomi yang duduk di sebelahnya tahu ketenangan itu lebih menakutkan daripada marah.

"Kakak mau menuntut?"

"Kalau mereka berbohong, iya."

Reynard menatap ponsel Keira. "Jangan maafkan."

"Kita lihat dulu."

Malamnya, mereka kembali ke Pavilion. Christina mengirim pesan lewat Pak Hendra, menanyakan apakah insiden itu akan masuk berita. Tidak ada pertanyaan apakah Keira sakit. Keira membaca pesan itu, lalu meletakkan ponsel tanpa membalas.

"Duduk," kata Reynard.

Keira menoleh. "Aku?"

"Kei duduk."

Ia duduk di sofa kamar. Reynard sudah membawa kotak obat dari meja. Gerakannya agak canggung di permukaan, tetapi terlalu rapi saat membuka salep, mengambil kasa steril, dan menuang cairan pembersih.

"Kamu bisa?"

"Bisa."

"Pelan-pelan."

Reynard mengangkat matanya. "Rey tidak akan sakiti Kei."

Keira terdiam.

Ia membiarkan Reynard membuka perban lama. Udara dingin menyentuh luka, membuatnya meringis sedikit. Reynard langsung berhenti.

"Sakit?"

"Sedikit."

Alisnya berkerut dalam. "Jelek."

"Lukanya?"

"Orang yang buat Kei sakit."

Nada itu membuat Keira teringat suara di atrium. Tutup area ini. Ambil rekaman CCTV. Jangan biarkan teknisi pergi. Kata-kata itu terlalu tersusun, terlalu dingin.

"Rey," panggilnya pelan. "Tadi di mall..."

Reynard menunduk mengoleskan salep. "Mall jahat."

"Kamu memberi perintah pada petugas."

"Rey marah."

"Kamu terdengar..."

"Kei sakit."

Jawaban itu sederhana, tetapi menghentikan pertanyaan Keira. Ia menatap wajah Reynard yang fokus pada perban. Bulu matanya turun, bibirnya menipis, dan ada amarah yang masih belum hilang di antara alisnya.

Setelah perban baru terpasang, Reynard tidak langsung melepaskan tangannya.

Ia menunduk.

Bibirnya menyentuh kulit di dekat luka, sangat ringan.

Keira membeku.

"Tiup-tiup," bisik Reynard, napasnya hangat di lengan Keira. "Biar tidak sakit lagi."

Cara itu seperti cara orang dewasa membujuk anak kecil. Namun bibir Reynard di kulitnya sama sekali tidak terasa seperti permainan anak kecil.

Keira menarik napas terlalu cepat.

"Rey..."

Ia mengangkat kepala, mata polos kembali. "Masih sakit?"

Keira tidak bisa menjawab dengan jujur.

"Tidak," katanya akhirnya.

"Bagus."

Malam itu, setelah Reynard tertidur di kursi roda dekat tempat tidur, Keira masuk kamar mandi untuk memeriksa perban. Wajahnya di cermin masih sedikit merah. Ia membuka ujung perban dengan hati-hati, memastikan tidak ada darah baru.

Lalu ingatan di atrium muncul tiba-tiba.

Saat billboard jatuh, setelah ia mendorong kursi roda Reynard, sebelum petugas datang, ia sempat melihat bayangan bergerak di lantai mengilap.

Reynard tidak hanya duduk.

Ia seperti sempat berdiri.

Keira menatap cermin, napasnya tertahan.

Tidak.

Tidak mungkin.

Pasti ia salah lihat.

1
aku
bro rey apa yg di belakang layar nnti jd pendampingmu key 😁😃
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!