NovelToon NovelToon
Gadis Pemulung Ibu Dari Anakku

Gadis Pemulung Ibu Dari Anakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: yas23

Rayan Elvaro Wirajaya adalah pewaris tunggal sebuah perusahaan besar di Semarang. Dengan wajah tampan, kekayaan melimpah, dan masa depan yang telah tertata sempurna, hidupnya tampak nyaris tanpa cela. Namun, sebuah malam yang tak pernah ia ingat sepenuhnya menjadi awal dari perubahan besar yang mengguncang kehidupannya.
Di sisi lain, Alya hanyalah seorang gadis pemulung yang berjuang seorang diri menghadapi kerasnya kehidupan. Setiap hari ia bertahan di tengah himpitan kemiskinan, ditemani kenangan pahit yang terus menghantuinya. Dunia seolah tak pernah memberinya kesempatan untuk bermimpi lebih tinggi.
Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kejadian yang tak terduga. Sebuah malam kelam di jalanan sepi mengikat hidup mereka dalam hubungan yang rumit. Rayan tak menyadari apa yang telah terjadi malam itu, tetapi Alya mengingat setiap detiknya bersama air mata, ketakutan, dan luka yang membekas di hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Malam kian menua ketika Alya masih melangkah menyusuri deretan gang sempit yang lembap setelah diguyur hujan sore. Genangan air memantulkan cahaya lampu jalan yang redup, menemani perjalanannya yang terasa semakin berat.

Rasa mual yang belakangan sering datang membuat langkahnya tidak secepat biasanya. Sesekali ia menarik napas panjang untuk menenangkan tubuhnya yang mulai lelah. Namun, tekad yang tersimpan di dalam dirinya belum sedikit pun surut.

Tangannya menggenggam erat sebuah map yang sudah tampak usang. Di dalamnya tersimpan beberapa lembar fotokopi identitas dan surat keterangan domisili yang ia urus dengan susah payah. Berkas-berkas sederhana itu mungkin tidak berarti bagi orang lain, tetapi bagi Alya, semuanya adalah harapan harapan untuk mendapatkan pekerjaan tambahan dan memperbaiki hidup yang semakin sulit dijalaninya.

"Apa pun pekerjaannya, aku akan menjalaninya," gumam Alya pelan. "Yang penting jujur, dan masih ada tempat yang mau menerimaku."

Langkah Alya melambat saat matanya menangkap sebuah warung makan sederhana yang berdiri di tepi jalan raya. Dari balik tirai plastik yang menutupi area dapur, kepulan asap hangat terus membubung ke udara, membawa aroma masakan yang membuat perutnya terasa semakin kosong.

Pandangannya lalu tertuju pada selembar papan pengumuman yang ditempel di dekat pintu masuk. Ia membacanya perlahan, memastikan dirinya tidak salah lihat.

"Dibutuhkan karyawan wanita. Jujur, rajin, dan bersedia bekerja hingga malam."

Mata Alya seketika berbinar. Meski syaratnya sederhana, tulisan itu terasa seperti secercah harapan yang muncul di tengah hari-hari sulit yang sedang ia jalani.

Alya menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan debar gugup di dadanya. Setelah mengumpulkan keberanian yang tersisa, ia melangkah melewati ambang pintu dan masuk ke dalam warung itu.

Perempuan paruh baya yang sedang merapikan piring di dekat kasir menoleh ketika mendengar langkah kaki Alya. Celemek yang dikenakannya tampak mulai pudar karena sering dipakai bekerja.

"Ada yang bisa saya bantu, Nak?" tanyanya ramah sambil menghentikan aktivitasnya sejenak.

Alya melangkah mendekat sambil menggenggam map di tangannya. Ia berusaha tersenyum meski rasa gugup masih terasa di dadanya.

"Saya tadi melihat pengumuman di depan, Bu," ujarnya dengan sopan. "Kalau lowongannya masih ada, saya ingin mengajukan diri untuk bekerja di sini."

Wanita itu mengamati Alya beberapa saat, menelusuri penampilannya dari ujung kepala hingga kaki. Wajah gadis itu tampak letih, seolah telah melalui hari yang panjang dan melelahkan. Namun, ada kesan rapi dan terawat yang tetap terlihat.

Rambutnya diikat sederhana di belakang, sementara pakaiannya memang tampak usang dan jauh dari kata mewah. Meski begitu, sikapnya yang sopan dan cara berdirinya yang penuh kesungguhan memberi kesan bahwa ia datang bukan sekadar mencoba peruntungan, melainkan benar-benar membutuhkan pekerjaan.

Wanita itu mengusap kedua tangannya dengan lap yang tersampir di bahunya, lalu menatap Alya dengan serius.

"Pekerjaannya selesai cukup larut," katanya. "Kalau harus pulang menjelang tengah malam, apa kamu sanggup?"

Alya segera menganggukkan kepala tanpa ragu.

"Bisa, Bu," jawabnya cepat. "Saya tidak keberatan bekerja sampai malam. Kalau diperlukan, saya juga bisa membantu mencuci piring, membereskan meja, atau pekerjaan lain yang Ibu butuhkan."

Wanita itu menghela napas pelan sebelum memberi penjelasan.

"Gajinya tidak besar, Nak," katanya terus terang. "Hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan sedikit biaya transportasi."

Alya tersenyum tipis dan menggeleng pelan.

"Tidak apa-apa, Bu," ujarnya tulus. "Saya tidak terlalu memikirkan besar kecilnya upah. Yang penting saya bisa bekerja dan mendapatkan penghasilan yang jujur."

Raut wajah wanita itu perlahan berubah. Sikap waspada yang semula terlihat di matanya mulai tergantikan oleh rasa iba yang sulit disembunyikan.

Entah mengapa, ia merasa gadis yang berdiri di hadapannya membawa beban yang jauh lebih berat daripada yang tampak di permukaan. Ada kelelahan yang tidak hanya berasal dari tubuh, tetapi juga dari hati.

Sorot mata Alya menyimpan banyak hal yang tidak diucapkan. Seolah ada kisah panjang yang ia pendam rapat-rapat, luka-luka yang belum sempat sembuh, namun tetap ia tutupi dengan senyum tipis dan sikap sopan yang tak pernah lepas dari dirinya.

Wanita itu mengangguk pelan setelah beberapa saat mempertimbangkan.

"Kalau begitu, mulai saja malam ini," ujarnya. "Kita lihat bagaimana kerjamu. Jika semuanya berjalan baik, kamu bisa kembali besok."

Alya mengangguk berulang kali. Rasa lega yang sejak tadi ia tahan akhirnya menyeruak, membuat matanya tampak berkilau.

"Terima kasih, Bu," ucapnya tulus. "Saya benar-benar berterima kasih atas kesempatan ini."

Tak lama setelah itu, Alya sudah mulai bekerja di area belakang warung. Berdiri di depan bak cuci, ia membersihkan piring dan gelas yang terus berdatangan dari meja pelanggan.

Air yang dingin mengalir melewati jemarinya yang mulai kasar karena terbiasa melakukan berbagai pekerjaan. Tubuhnya masih terasa letih setelah seharian berkeliling mencari pekerjaan, sementara rasa tidak nyaman di perutnya sesekali datang mengganggu.

Namun, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hatinya terasa sedikit lebih ringan. Setidaknya malam ini ia memiliki sesuatu untuk dikerjakan, sebuah kesempatan untuk berjuang dan melangkah maju. Tidak lagi hanya duduk diam memikirkan nasib yang belum tentu berpihak padanya.

Di tengah kelelahan dan ketidakpastian, secercah harapan akhirnya kembali menemukan tempat untuk tumbuh.

Di tengah dapur sederhana yang dipenuhi aroma masakan dan hawa hangat yang menyesakkan, Alya tetap bertahan dengan satu keyakinan yang belum ingin ia lepaskan. Harapan itu mungkin kecil dan rapuh, tetapi masih cukup kuat untuk membuatnya terus melangkah.

*****

Tak terasa, sudah dua minggu Alya menjadi bagian dari warung makan sederhana milik Bu Sekar. Setiap sore, ia datang tepat waktu dan langsung membantu pekerjaan yang menunggunya hingga larut malam.

Mulai dari mencuci piring, mengelap meja, menyapu dan mengepel lantai, hingga membantu berbagai keperluan di dapur, semuanya ia kerjakan tanpa banyak mengeluh. Apa pun tugas yang diberikan, Alya selalu berusaha menyelesaikannya dengan sebaik mungkin.

Namun, hari demi hari tubuhnya terasa semakin mudah lelah. Tenaganya tidak lagi sekuat biasanya, dan ada kalanya ia harus menahan rasa tidak nyaman yang datang tanpa peringatan. Meski begitu, ia tidak membiarkan siapa pun mengetahuinya.

Alya terus melangkah dan memaksa dirinya bertahan. Baginya, pekerjaan itu bukan sekadar sumber penghasilan, melainkan kesempatan yang tidak boleh disia-siakan, apa pun kondisi yang harus ia hadapi.

Namun malam itu, tubuh Alya seolah tak lagi mampu menyembunyikan batas kemampuannya. Kelelahan yang selama ini ia abaikan perlahan mulai menuntut perhatian.

Saat sibuk mencuci piring di belakang warung, Alya mendadak merasa kepalanya ringan. Pandangannya perlahan mengabur, sementara suara-suara di sekitarnya terdengar semakin jauh.

Tangannya yang terendam air berhenti bergerak sejenak. Ia mencoba berkedip beberapa kali untuk mengembalikan fokus, tetapi bayangan di hadapannya tetap bergoyang.

Alya menarik napas dalam-dalam dan berusaha tetap melanjutkan pekerjaannya. Namun tubuhnya tidak lagi sepenuhnya patuh. Kakinya terasa lemas, dan lututnya mulai kehilangan tenaga untuk menopang tubuhnya dengan baik.

Rasa tidak nyaman yang muncul malam itu berbeda dari biasanya. Bukan sekadar mual yang datang dan pergi, melainkan sensasi tegang yang menjalar di perutnya, disertai nyeri samar yang perlahan menguras tenaganya.

Alya menggigit bibir bawahnya pelan dan mencoba mengabaikan rasa itu. Dalam keadaan seperti itu, yang paling ia inginkan hanyalah duduk sejenak dan memejamkan mata.

Namun ketika menoleh ke arah ruang makan yang masih dipenuhi pelanggan, ia mengurungkan niatnya. Warung sedang sibuk, dan masih banyak pekerjaan yang menunggu untuk diselesaikan.

Karena itu, ia kembali menegakkan tubuhnya dan memaksa diri untuk bertahan. Setidaknya sampai malam ini berakhir.

"Alya, bisa bantu ambil bawang yang di rak atas?" panggil Bu Sekar dari arah dapur. "Ibu sedang tidak sempat ke sana."

Alya mengangguk cepat meski tubuhnya terasa tidak stabil. Ia menarik sebuah bangku kecil dan menaikinya dengan hati-hati, lalu meraih tangan ke arah rak kayu paling atas.

Jarinya hampir menyentuh bungkusan bawang yang dimaksud, ketika tiba-tiba penglihatannya berkunang-kunang dan menggelap seketika. Dunia di sekitarnya terasa seperti berputar tanpa kendali.

Sebelum sempat menyeimbangkan diri, tubuhnya kehilangan kekuatan. Bangku yang ia pijak terasa bergeser, dan dalam sekejap ia terjatuh ke lantai.

Brakk!

"Ya Allah, Alya!" seru Bu Sekar panik ketika melihat kejadian itu, suaranya langsung pecah oleh rasa khawatir.

Bu Sekar langsung berlari dengan langkah tergesa-gesa, wajahnya pucat melihat Alya terkulai di lantai. Ia berlutut di samping gadis itu, yang tampak lemah sambil memegangi perutnya dan meringis menahan sakit.

"Astaghfirullah… kamu kenapa, Nak?" tanya Bu Sekar panik sambil menatap Alya penuh kekhawatiran.

"Aku… pusing," gumam Alya lirih, suaranya hampir tak terdengar. Napasnya tersengal, matanya masih tampak kabur.

"Maaf, Bu… saya tidak sengaja jatuh," lanjutnya dengan suara bergetar, penuh rasa bersalah meski tubuhnya sendiri masih berjuang menahan sakit.

Bu Sekar menahan napasnya, antara panik dan cemas yang bercampur jadi satu. Baru malam itu ia benar-benar melihat Alya dalam kondisi selemah itu.

Dengan gerakan hati-hati, ia membantu menopang kepala gadis tersebut agar sedikit terangkat. Namun seketika, pandangannya tertuju pada perubahan di tubuh Alya yang tak bisa ia abaikan.

Perlahan, ekspresi Bu Sekar berubah. Keraguan yang tadi ada di wajahnya mulai berganti dengan kesadaran yang pelan-pelan menyusup masuk.

Dan dalam diam yang singkat itu, ia akhirnya mulai memahami sesuatu yang sebelumnya tidak ia perhatikan.

Bu Sekar terdiam cukup lama sebelum akhirnya berbicara pelan, suaranya terdengar ragu namun tegas.

"Kamu… hamil, Nak?" tanyanya hati-hati, seolah takut melukai perasaan Alya dengan kata-kata itu.

Alya tidak mengucapkan sepatah kata pun. Bibirnya bergetar, tetapi tak ada suara yang keluar.

Air mata perlahan mengalir di pipinya tanpa ia sadari, jatuh satu per satu dalam diam yang berat. Ia bahkan tidak memiliki kekuatan untuk mengangguk, terlebih untuk membantah ucapan itu.

"Ya Allah, Al…" suara Bu Sekar terdengar bergetar penuh penyesalan. Ia ikut berlutut di samping Alya, wajahnya tampak cemas dan sedih sekaligus. "Kamu masih memaksakan diri bekerja dalam keadaan seperti ini?"

Ia menatap Alya lama sebelum melanjutkan dengan nada pelan namun penuh keprihatinan.

"Kenapa kamu tidak bilang dari awal, Nak? Kenapa harus kamu tahan sendiri?"

Alya menunduk dalam, suaranya bergetar saat akhirnya berbicara.

"Saya… takut ditolak, Bu," ucapnya pelan. "Saya benar-benar butuh pekerjaan. Saya harus tetap bertahan hidup."

Suasana warung tiba-tiba terasa hening. Riuh pelanggan di luar seolah meredup, berganti dengan keheningan yang menekan di dalam dapur.

Yang tersisa hanya isak pelan Alya yang tertahan, berpadu dengan bunyi detik jam tua yang tergantung di dinding, berdetak lambat seakan ikut menahan waktu.

Bu Sekar mengusap bahu Alya dengan lembut, berusaha menenangkan gadis itu yang masih terguncang.

"Tenang ya, Nak," ucapnya pelan. "Kamu tidak sendirian. Selama Ibu bisa membantu, Ibu akan bantu."

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada lebih tegas namun tetap lembut.

"Kamu masih boleh bekerja di sini, tapi jangan memaksakan diri. Malam ini kamu istirahat saja dulu, ya."

Alya hanya bisa mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya sejak ia meninggalkan rumah angkatnya, ada seseorang yang tidak memaksanya terus berlari dalam hidup yang melelahkan ini.

Sebuah kesempatan untuk berhenti sejenak, menarik napas, dan merasakan sedikit ketenangan yang sudah lama tidak ia miliki.

Malam itu, di tengah tubuh yang masih terasa sakit dan kelelahan yang menumpuk, Alya akhirnya menangis. Bukan lagi karena putus asa, melainkan karena sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.

Sedikit perhatian, sedikit penerimaan, dan rasa bahwa keberadaannya masih berarti bagi seseorang.

*****

Di sebuah ruang kerja mewah di lantai tertinggi gedung Wirajaya Corp, Rayan duduk di balik meja besar yang dipenuhi berkas-berkas penting. Ia menandatangani dokumen satu per satu dengan gerakan teratur dan penuh konsentrasi.

Sorot matanya tajam, sepenuhnya terfokus pada pekerjaan yang ada di hadapannya. Tangannya bergerak cepat, seolah tidak ingin ada waktu yang terbuang.

Namun di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang tersembunyi. Wajahnya tampak sedikit pucat, menyiratkan kelelahan yang ia paksa untuk tidak terlihat. Meski begitu, ia tetap melanjutkan pekerjaannya tanpa menunjukkan tanda ingin berhenti.

Tok.. Tok.. Tok..

Rayan mengangkat pandangannya dari tumpukan berkas di meja, lalu bersuara singkat tanpa mengalihkan fokus terlalu lama.

"Masuk." ucapnya datar.

Pintu ruang kerja terbuka perlahan, dan Arka melangkah masuk dengan sebuah map coklat di tangannya. Langkahnya mantap, namun raut wajahnya menunjukkan keseriusan yang tidak biasa.

Ada sesuatu yang jelas bukan sekadar laporan rutin sesuatu yang membawa bobot penting di baliknya.

"Tuan," ujar Arka sambil melangkah mendekat. Ia meletakkan map coklat itu di atas meja dengan hati-hati. "Ini hasil penyelidikan kami terkait kejadian di malam itu… empat bulan yang lalu."

Rayan segera menghentikan pekerjaannya. Dengan gerakan cepat, ia menarik map cokelat itu ke arahnya dan mulai membuka satu per satu lembar di dalamnya.

Matanya menelusuri setiap detail dengan fokus penuh, sementara Arka berdiri di seberang meja dan mulai memberikan penjelasan.

"Dari rekaman CCTV yang berhasil kami dapatkan," jelas Arka dengan nada serius, "terlihat seseorang mengenakan jaket hitam dan menutupi kepalanya dengan tudung. Orang itu mendekati meja Anda dan memasukkan sesuatu ke dalam minuman Anda."

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, memastikan setiap kata tersampaikan dengan jelas.

"Berdasarkan gejala yang Anda alami malam itu, besar kemungkinan zat yang diberikan adalah jenis stimulan. Sesuatu yang memengaruhi kesadaran dan kondisi tubuh dan bisa di bilang perangsang seksual, Tuan."

Rayan mengangkat pandangannya tajam ke arah Arka. Sorot matanya mengeras, sementara di dalam kepalanya, potongan-potongan ingatan yang selama ini kabur mulai ia susun kembali satu per satu.

Ada sesuatu yang terasa semakin jelas, meski belum sepenuhnya utuh.

Arka terdiam sesaat, seolah menimbang kata-kata yang hendak ia lanjutkan. Ada keraguan yang tampak jelas di raut wajahnya sebelum ia kembali membuka suara.

Rayan akhirnya memecah keheningan. Suaranya rendah, namun tegas dan penuh tekanan.

"Lalu… siapa orang itu?" tanyanya, matanya tak lepas dari Arka.

Arka menarik napas dalam sebelum akhirnya menjawab dengan hati-hati, seolah memilih setiap kata agar tidak keliru.

"Dari rekaman video, wajahnya tidak terlihat jelas," ujarnya pelan. "Tapi dari postur tubuh, tinggi badan, dan cara bergeraknya… dia tampak seperti seseorang yang cukup dekat dengan Anda."

Rayan menyipitkan mata, sorotnya langsung mengeras.

"Maksudmu… dia?" tanyanya pelan, namun penuh tekanan.

Arka menundukkan kepalanya sedikit, menjaga sikap tetap hormat di hadapan Rayan.

"Kami belum bisa memastikan, Tuan," ujarnya tenang. "Selama belum ada bukti yang benar-benar kuat, saya tidak bisa menyebutkan nama secara langsung."

Rayan kembali mengajukan pertanyaan dengan suara rendah namun tajam.

"Lalu… bagaimana dengan yang di jalan itu?" tanyanya, matanya tetap tertuju pada Arka.

Arka menghela napas pelan sebelum menjawab, nadanya tetap tenang namun hati-hati.

"Untuk itu… kami juga kesulitan mendapatkan informasi tentang perempuan tersebut, Tuan," jelasnya. "CCTV di area jalan sudah lama rusak dan belum diperbaiki."

Rayan menghela napas panjang, berusaha meredam amarah yang mulai naik ke permukaan wajahnya. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal pelan di atas meja.

"Lanjutkan penyelidikannya," ucapnya dingin. "Jangan sampai ada satu detail pun yang terlewat. Aku ingin tahu siapa yang berani melakukan ini padaku malam itu. Dan kalau sudah ketemu… aku tidak akan memberi ampun."

Belum sempat suasana kembali tenang setelah ucapan itu terucap, pintu ruang kerja tiba-tiba terbuka lebar tanpa ketukan, memecah keheningan yang baru saja tercipta.

Seorang wanita melangkah masuk dengan percaya diri yang berlebihan. Gaun merah ketat membalut tubuhnya, dipadukan dengan riasan wajah yang tebal dan mencolok. Aroma parfumnya langsung memenuhi ruangan, terasa tajam dan mendominasi.

Dia adalah Zahra Pramudita wanita yang selama ini berada di sisi Rayan dalam sebuah hubungan yang tampak sempurna di mata orang lain, namun sejatinya dibangun atas kesepakatan bisnis antara keluarga mereka.

"Selidiki apa maksud kalian?" tanya Zahra cepat. Sorot matanya langsung berubah curiga, berpindah dari Rayan ke Arka secara bergantian, seolah mencoba membaca situasi yang baru saja ia masuki.

Rayan menoleh tanpa menunjukkan ekspresi berarti. Tatapannya datar, namun ada ketegasan yang sulit diabaikan.

"Orang yang menjebakku malam itu di klub malam." jawabnya tenang, meski hawa dingin terasa mengiringi setiap kata yang ia ucapkan.

Zahra terdiam sejenak. Ekspresinya kaku, pandangannya kosong, seolah sedang mencoba memahami sesuatu yang tidak ingin ia dengar.

Namun dalam waktu singkat, ia kembali menguasai dirinya. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyum tipis yang sulit ditebak maknanya.

"Hmm, sudah empat bulan berlalu. Kenapa masih dipikirkan?" ucap Zahra dengan nada yang dibuat santai. "Mungkin kamu hanya terlalu mabuk malam itu, Rayan. Bisa saja itu cuma halusinasi."

Ia melangkah mendekat, lalu meletakkan tangannya di pundak Rayan, seolah berusaha menenangkan sekaligus mengalihkan arah pembicaraan.

Rayan menepis tangan itu perlahan, tanpa gerakan berlebihan, namun tegas. Matanya tetap tertuju lurus pada wajah Zahra, tidak bergeser sedikit pun.

Ia tahu betul, di balik senyum manis yang selalu ditunjukkan wanita itu, ada sesuatu yang tidak pernah benar-benar bisa dipercaya selalu ada maksud lain yang tersembunyi.

Dan kali ini, Rayan sudah memutuskan dalam hati bahwa ia tidak akan lagi mudah dibutakan oleh kata-kata maupun sikap yang tampak meyakinkan di permukaan.

1
Ratu Anjani
lah kelanjutan ny mana min
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!